Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Dia yang telah dibohongi



Aria memandang Suan yang telah berdiri di depannya.


Ragu-ragu wanita itu menundukan kepala dan menelan Saliva.


Suan tersenyum lembut memandang tingkah Aria di bawahnya. Ia meraih kedua pipi wanita itu dan menengadahkannya kembali dengan kedua tangan.


“Eum,”


Di dalam kamarnya, Suan meraih bibir Aria untuk yang ke sekian kali.


Mereka berdua terlihat berdiri dan saling berciuman.


Gigi-gigi mereka saling beradu dan terkadang suaranya terdengar berbunyi.


Malam itu, setelah kembali dari acara perayaan kesuksesan perusahaan Dikintama, kedua orang tersebut tidak mengistirahatkan diri dan lebih memilih menghabiskan malam bersama.


“Eum,”


Sesekali Aria dibuat terkejut dengan ciuman bibir Suan yang terkadang liar memenuhi bagian bibirnya.


Terkadang ia membalas bibir Suan dan membiarkan laki-laki itu membalas dan mengigit pelan.


Tangan Suan mulai merayap ke arah dada,


“Akh," Aria hanya bisa merasakan sensasi gerakan cepat tangan Suan di dada dan memainkan bagian ujungnya wanita itu.


Setelah membersihkan diri, mereka tidak lagi mengenakan sehelai pakaianpun.


Mereka memasuki ruang kamar dengan hasrat hati yang begitu membara. “ Ah,,” wajah Suan merambat ke arah leher Aria, dia mengecup dan membuat tanda merah di sana berkali-kali.


Aria yang berdiri, membiarkan Suan untuk melakukannya.


Bagian rawan mulai terasa basah, ia yakin bahwa saat itu, ia sungguh menginginkan Suan untuk bersatu.


“Emm,”Aria menutup mulut dengan kedua tangan ketika Suan bermain dengan ujung dada.


Ia yang tak lagi kuat berdiri, mulai menjatuhkan diri untuk duduk di tepian kasur.


“Kau menyerah?”


Suan yang berdiri mulai duduk di samping Aria.


“Hm,” Aria menggelengkan kepala sembari memandang Suan. “Aku ingin tahu rasanya.” Ucap Aria begitu berani, hingga Suan yang gugup hanya bisa menelan salivanya, “bukankah kau pernah melakukannya dengan Harry?” gumam Suan merasa sedikit sedih malam itu.


“Apa?”


“Tidak, aku hanya bercanda.” Dengan cepat Suan meraih bibir Aria dan menciuminya lagi.


Aria yang tadinya kebingungan terpaksa melupakan kebingungan hatinya lalu tubuhnya kini terbaring di atas kasur.


Tangan Suan merayap hingga ke bagian paling bawah, “ Basah?” Suan tersenyum lucu memandang wajah malu Aria, lalu mulai memainkan bagian wanita itu kembali sembari memasukan satu jari ke dalam.


“Emm,” Aria menutup mulutnya, “Ah,” ia tidak dapat menahan rasa lagi, “Ha, sampai kapan kau akan membuatku menunggu?” Aria duduk, ia merasa kesal saat itu.


Suan hanya bisa menelan saliva, lagi-lagi ia sedang menahan kegugupannya.


Ia melepaskan jari tangannya, “tenanglah, aku pasti akan melakukannya!” Suan mencium pipi Aria, lalu membaringkan wanita itu kembali ke atas kasur.


“Ah Suan,” Tangannya bermain pada dada Aria berkali-kali bersamaan dengan mulut yang telah berada pada bagian rawan Aria hingga membuat Aria mulai terengah-engah dan


Suan mulai melipat ke dua kaki Aria lalu melebarkannya.


“Aku akan melakukannya, kau bisa menahannya, bukan?"


“Hm,” Aria menganggukan kepala, ia melihat tubuh Suan telah berada di bawah.


Perlahan-lahan ujung inti, Suan masukan ke dalam.


“Ah,”


“Suan mendorongnya masuk,”


“Ah,” dan Aria membelalak mata karena merasa kesakitan yang tak biasa, “sakit sekali,"


“Sakit?, aku akan mengeluarkan...”


“Jangan, terus lakukan Suan!” Pinta Aria menggelengkan kepala berkali-kali.


“Tapi wajahmu pucat sekali Aria,” Suan mulai ragu untuk mendorong kembali.


“Suan, tolong lakukan!”


Permintaan Aria benar-benar tidak dapat Suan tolak, Suan merasakan sendiri bagaimana kenikmatan itu membakar hasratnya dan ia ulangi dorongannya.


“Akh, akh,” lalu mencium bibir Aria agar wanita yang kesakitan itu terdiam.


Aria memeluk tubuh Suan, ia menahan rasa sakit. Ia ingin sekali buang air, tapi ia tetap menahan diri dan membiarkan Suan terus bermain.


“Eum,” Suan melepaskan bibir dari bibir Aria, “Aku sangat menyukainya.”


“Suan, kau menyukainya?, Aku juga akhh, sangat menyukainya bila itu denganmu.” Suan terus bermain bahkan lebih mempercepat gerakannya. Hal itu membuat Aria menggenggam tangan erat dan mengerang hingga erangannya semakin membuat Suan bertambah ingin menyakiti Aria dengan dorongan yang lebih cepat.


“Ah, ini sangat aneh."


“Maka tahanlah, aku akan melakukannya lebih lama.”


Suan mendorong lebih cepat, ia terus kesenangan menyaksikan erangan kesakitan Aria yang entah mengapa mampu membuat laki-laki itu semakin tergoda.


Ia yang masih ingin melihat Aria berteriak, melepaskan ujung miliknya dan membalikan tubuh wanita tersebut lalu berniat melakukannya dari posisi lain, namun matanya terbelalak, ketika ia melihat sesuatu.


“Suan, kenapa berhenti?”


Tanya Aria sembari menoleh ke arah Suan di belakangnya.


“Aria, kau masih perawan?”


Suan segera berdiri dan meraih jubah handuk yang tergantung lalu laki-laki itu mulai melangkah pergi.


“Suan, kau mau kemana?, kau akan meninggalkanku hanya karena aku masih perawan?” Aria berdiri, ia melangkah meraih tangan Suan saat itu, “Suan,”


“Haa,” Suan memeluk tubuh Aria, ia merasakan detak jantung luar biasa dan berjuta pertanyaan di dalam hati.


“Tunggu aku!"


Suan melepaskan pelukan dari tubuh Aria.


“Tidak!" Aria menggelengkan kepala, “ aku tidak mau!"


“Sebentar saja.”


“Aku tidak mau, kubilang!" Aria memeluk Suan kembali, ia tidak ingin melepaskannya malam itu, “hiks hikss aku ini salah apa padamu?, aku berusaha berubah tapi tolong jangan tinggalkan aku!"


Suan mengalah, ia tidak mampu pergi meninggalkan Aria.


Laki-laki itu segera mengangkat tubuh wanita tersebut ke atas kedua tangannya dan membawa wanita itu ke atas kasur kembali.


Selaput darah Aria terlihat pada sprei warna coklat di atas kasur, “kau tidak salah, Aria,” Suan membaringkan tubuh Aria lalu menyelimutinya kemudian ia berbaring di samping wanita itu dan memeluknya. “ Akulah yang salah karena tidak pernah percaya padamu.” Suan mengeratkan pelukannya hingga Aria hanya bisa membenamkan tubuh di dada laki-laki tersebut.


“Lalu kenapa kau akan pergi meninggalkanku?” gumam Aria mulai menitihkan air mata, ia takut malam itu Suan akan berlalu darinya.


Suan melepaskan pelukannya, “berhentilah menangis!” lalu meraih bibir Aria kembali.


“Eum, haa,” Suan melepaskan bibirnya dan memandang wajah Aria dengan seksama.


“Aku akan menikahimu, aku tidak peduli jika kau tidak ingin melakukannya.”


“Suan, Eum,” Suan tidak mempedulikan getaran tubuh Aria, laki-laki itu mulai membuka jubah handuknya kembali lalu merayapkan tangan pada kulit tubuh waanita itu. “ Ah, Suan,”


“Bertahanlah, kita akan ulangi lagi!"


“Hm,” Aria mengangguk, ia memandang Suan yang telah membuka kaki kembali, “ Akh,” dan merasakan kembali laki-laki itu menjamahnya.


**********


Suan membiarkan kepala Aria terus berada di lengannya, ia memeluk wanita itu sembari sesekali memandang wajahnya yang belum kunjung menutup mata.


Ia menunggu wanita yang berada di dalam selimut yang sama dengannya untuk tertidur lalu menemui seseorang.


Seseorang yang telah membohonginya, seseorang yang telah memisahkan mereka berdua hingga wanitanya kini berubah menjadi sangat aneh dan membingungkannya.


Perlahan-lahan mata Aria tertutup, wanita itu terlihat sangat kelelahan hingga nafasnya masih terdengar terengah-engah.


Pelan-pelan Suan melepaskan tangannya dari bawah kepala Aria, “ Kau mau kemana?” tapi ia mengurungkan niat kembali lalu memeluk tubuh Aria.


“Hanya sedikit kesemutan.” Ucap Suan berbohong hingga Aria mengangkat kepala.


“Begitukah?”


“Tidak masalah, aku laki-laki.” Suan meletakan kembali kepala Aria di lengannya lalu memeluk erat kembali tubuh wanita itu sembari mencium salah satu mata Aria.


Dia terlihat begitu menyayangi Aria hingga wanita tersebut merasa nyaman dan mulai memejamkan mata kembali, sembari mendekatkan tubuhnya semakin menempel ke arah Suan.


“Suan, aku sangat menyukaimu.” Gumam Aria sebelum jatuh terlelap dalam tidurnya.


“Aku juga begitu,” balas gumam Suan yang terlihat mulai memandang ke langit-langit atap dengan tatapan penuh kemarahan.


***********


Setelah memastikan Aria terlelap dalam tidurnya.


Suan bergegas pergi menuju ke perusahaan Anderston.


Ia tahu, laki-laki itu pasti berada di sana karena memang itulah tempat tinggalnya sedari dulu.


Laki-laki itu sangat jarang kembali ke rumah, tetapi ketika 2 tahun Suan terpisah dengan Aria, laki-laki tersebut mulai berubah dan bahkan kedua keluarga mereka sering menghabiskan makan malam bersama.


“Kenapa?”


Suan menghentikan langkah di depan laki-laki paruh baya yang sedang duduk di atas kursi, depan meja kerjanya.


“Kenapa kau mengatakan Aria melakukan malam pertamanya dengan Harry dan membohongiku, Paman?” Suan masih berusaha untuk menenangkan diri, ia melihat Asisten ayah Aria berlalu dari sana sembari menutup rapat pintu ruangan tersebut.


“kenapa kau melakukannya?”


“Jadi kalian sudah melakukannya, ya?” Ayah Aria berdiri dan melangkah memandang ke arah dinding kaca.


Tatapan matanya begitu sedih memandangi kota di malam menjelang pagi.


Ia masih belum tidur, dan Suan mengetahuinya.


Ia sangat sibuk, karena hanya dialah satu-satunya orang yang memegang kendali perusahaan besar miliki ayahnya.


“Katakan paman!”


Suan masih bisa berbicara tenang, ia tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya, ia memandang punggung laki-laki di depannya dengan perasaan penuh kekecewaan.


“Kau memang seharusnya disingkirkan, Suan.”


“Apa?”


“Tapi itu dulu, sekarang aku sangat membutuhkanmu untuk Aria.” Ayah Aria berbalik dengan tatapan penuh kesedihan dan aliran air mata yang jatuh membasahi pipi.


Mengejutkan Suan dengan detak jantung yang terpacu kencang.


Suan mulai takut, ia merasakan ketakutan yang hebat saat itu ketika melihat sikap ayah Aria.


“Apa?, “ perlahan-lahan ia berbicara, “ apa yang terjadi pada Aria, paman?”