
“Aaaahhh,” Praannkkkkk... semua benda-benda di ruangan tersebut berjatuhan pecah dan berserakan di atas lantai.
“Nona, nona,” kaki Aria terlihat berdarah ketika wanita itu melangkah mendekati kasur lalu duduk melipat kedua kaki dan memeluknya.
Tubuh wanita itu menggigil hebat, dia tidak mendengarkan suara kekhawatiran pelayannya yang hanya bisa berdiri memandang perilaku aneh Aria saat itu. “Ahhh, aku tidak membunuhnya, aku tidak melakukannya, “ berkali-kali wanita itu menggelengkan kepala dengan mata memerah dan wajah pucat sementara air matanya jatuh bercucuran membasahi wajah.
“Aria,”
Ayah wanita itu datang bersama ibunya, “Aria, tenang saja, tenang saja Laudia masih selamat.”
“Ahh,,” Aria terus menggigil sembari memandangi wajah ayahnya yang baru saja mengucapkan kata, “Aku tidak ingin melihatnya, haaa hiksss..” Aria memegangi dadanya yang terasa sangat sakit, “ uweeekkk uweeekk,” tubuhnya yang menggigil membuat wanita itu muntah-muntah, “aku tidak ingin melihatnya lagi, Ahhh, uweeekk..” Seorang dokter datang dan menemui Aria untuk melihat kondisi wanita itu.
“Tuan,”
“Tolong periksa keadaan putriku,” Ayah Suan mulai datang mendekati Aria bersama dokter tersebut.
“Tolong putriku, tolong putriku,” tangisan ibu Aria tidak terbendung lagi, ia tidak lagi mampu menahan rasa khawatir melihat kondisi putrinya.
Kaki Aria dipenuhi luka yang berdarah hingga membuat sprei di sana ternodai aliran darah tersebut.
“Uweekk..”
“Nona,”
“Minggir!” Aria mendorong dokter tersebut hingga jatuh, “aku tidak bersalah, kenapa tubuh mereka yang sekarat muncul selalu di mataku? Ahhhh aaahhh aahhh,” seluruh benda yang berada di atas kasur, ia lempar menjauh,” Aku takut sekali, Suan, kakek, aku takut sekali, tolong aku, tolong aku, aku takut sekali.”
“Panggil Suan, panggil!” pinta ibu Aria pada ayah wanita tersebut, “ panggil brengsek!” paaaakkk... ayah wanita itu hanya diam menahan rasa sakit tamparan ibunya. Ia yang telah berhasil menjauhkan Aria dari Suan saat itu merasa bimbang untuk melakukannya.
“Jangan panggil Suan, jangan panggil!” Aria membaringkan tubuhnya yang menggigil, ia memeluknya karena merasa sangat kedinginan, “uweeekkk.” Lalu sekali-kali muntah karena tidak kuat menahan rasa takutnya.
“Panggil Suan!”
“Jangan panggil Suan!” bentak Aria lalu berdiri, tidak peduli dengan kaca-kaca yang melukai kakinya, “kalau dia tahu aku telah membunuh kekasihnya, dia akan membenciku selamanya, Aahh Aahhh..” Aria terduduk kembali, ia melipat kaki lalu memegangi kepalanya, “Aahhhh aaahhh,” dan berteriak ketakutan.
Kondisi Aria Semakin parah, setiap kali ia terbangun dari kasur pasien, ia menggigil kembali dan muntah-muntah.
“Bagaimana kondisi putriku?, aku mohon hikss hiks aku janji tidak akan mengabaikannya lagi, haa haa hikkss.. hikss,” ibu Aria menangis memohon, ia terlihat jatuh terduduk sembari memegangi tubuh seorang dokter yang berdiri di samping ayah Aria saat itu. “Aku mohon, selamatkan putriku!” pinta wanita itu menangis sesenggukan.
“Aaahh Ahhhh.. Ahhh.. Aku tidak ingin melihatnya, aku tidak ingin melihat orang sekarat mati lagi, aku tidak ingin melihat wanita itu lagi, aaaahh aaah..” Aria membuang semua bantal di atas kasurnya, berkali-kali ia meronta-ronta melepaskan tubuh dari penahanan dua orang perawat di ruangan tersebut.
“Dia berada pada titik puncak ketakutannya, mungkinkah dia sering sekali melihat orang akan mati?”
Pertanyaan itu membuat ayah Aria hanya bisa terdiam dan tidak menjawab. Ia menyadari kesalahannya, ia tahu bahwa dirinya telah salah memberikan Aria pada ayahnya. Ia tahu bahwa ayahnya sendirilah yang telah memperlihatkan kengerian itu pada putrinya.
**********
“Apa ini?”
Perlahan-lahan kaki Suan melangkah,
Laki-laki itu berjalan begitu lunglai sembari melepaskan map-map di tangan hingga jatuh bertaburan.
Sekretaris ayah Aria segera berlalu cepat dari sana meninggalkan pemimpinnya yang hanya bisa menangis diam, memandang Suan.
“Apa itu paman?” bentak Suan marah sembari terus menghampiri.
“Benar,” tubuh ayah Aria gemetaran, air matanya terus mengalir deras sementara kepalanya terlihat telah menunduk, “ Aria sudah gila.”
“Bangsat,” bukkkkkkk...” kau tidak lihat dia baik-baik saja,haa?” bukkkk.. ia memukul wajah ayah Aria berkali-kali, “ bisa-bisanya kau bilang putrimu gila, ayah macam apa kau ini, bangsat,” Baaaaakkk... tubuh laki-laki itu jatuh terbaring, menerima pukulan keras dari tangan Suan.
“Itu karena ada kau di sampingnya, ia kembali normal karena ada kau di sampingnya,”
“Brengseeekk, kalau tahu seperti itu, kenapa kau tidak segera memanggilku?” Baaakk baaakk baakkk, Air mata Suan terus jatuh membasahi pipi, ia menendangi tubuh ayah Aria hingga laki-laki itu terbaring miring dan menahan rasa sakit.
“Tuan!”
“Biarkan saja!” Asisten ayah Aria yang tadinya masuk ke dalam saat itu hanya bisa berdiri dan melihat atasannya terluka karena pukulan dan tendangan Suan.
Suan mengangkat tubuh laki-laki itu yang lemah, “karena kau pasti akan membuangnya kalau tahu dia gila,” Baaakkk...
“Kau kira aku seperti kau yang takut kehabisan harta dan bisa kapan saja membuang siapapun yang tidak kau suka?”
Kemarahan Suan telah memuncak hingga pukulannya mampu membuat laki-laki paruh baya itu hanya terbaring lemah, “karena kau tidak bisa menjaga istri dan putrimu dengan benar, maka dari itu Orion mempercayakan Aria padaku lalu kau, “Baaaaakkkk...” kalau haaa hiks,” Suan jatuh berlutut, “kalau saja waktu itu aku tidak menuruti saranmu, pasti, Aria masih baik-baik saja saat ini, haaa... hikss kenapa?, kenapa aku tidak pernah tahu kalau selama ini Aria selalu menahan ketakutannya?, Haaaa... hikss hikkss.. Aaahhhh.”
***********
“Paman, kenapa kau menangis?” Suan memandang laki-laki di depannya begitu kebingungan. Lalu ketika pelukan dilepaskan, laki-laki yang takut terjadi sesuatu pada Aria segera memasuki ruangan.
“Suan, hikss Suan kau datang?”
Wajah pucat ibu Aria semakin menambah kekhawatiran di dalam hati Suan saat itu.
“Bibi, kenapa kau menangis?, dimana Aria?”
Suan mengernyitkan dahi, ia yang tidak mendengarkan jawaban dari ibu Aria segera bergegas pergi menuju kamar wanita itu yang ia ketahui.
Langkah kakinya cepat menaiki anak tangga, detak jantungnya memacu cepat, ia pikir saat itu Aria mungkin sedang koma karena kecelakaan.
Pintu kamar telah Suan buka, detak jantungnya yang memacu cepat membuat nafasnya terengah-engah.
Suan memandang Aria duduk di tepian kasur dan hanya diam di sana.
Hal itu membuat hati Suan merasa sedikit lega.
Laki-laki itu segera mendekat lalu membungkuk memandang mata Aria yang tampak kosong, “Aria, kau baik-baik saja?”
PAaaakkkk..
“Kau selingkuh, berani sekali kau menyelingkuhiku, Suan!” Bentak Aria marah mengejutkan semua penghuni ruangan yang langsung datang ke ruangan tersebut.
“Aku baru datang lalu kau memukulku dan menunduhku selingkuh, kau benar-benar gila, Aria,”
Taaaarrr... paaakk.. Aria melemparkan gelas ke arah Suan dan memukul laki-laki tersebut kemudian berdiri.
“Aria!”
“Kau selingkuh masih tidak mau mengaku, kau itu yang sebenarnya gila,”
Suan geram, ia masih berusaha keras untuk menahan diri saat itu, “ lalu kemana saja kau selama ini, kenapa kau tidak ingin menemuiku?” bentak Suan marah sembari memandang wajah Aria.
“Itu karena,” Aria tertegun, ia membuang wajah dan enggan melihat ke arah Suan, “ itu karena kau selingkuh hikkss hikkss..”
“Aria kau benar-benar gila,”
Paaakkk paaaakk.. Aria memukuli tubuh Suan secara membabi buta hingga ayahnya datang lalu menahan tubuhnya.
“Kau selingkuh, ayah Suan telah selingkuh ayah, Suan Selingkuh,” bentak Aria marah ketika ayah wanita itu menangis memeluknya sementara ibu wanita tersebut terlihat berdiri menutup mulutnya, merasa bersyukur saat itu.
“Aku baru datang sudah dituduh selingkuh, Brengsek, dia bahkan terlihat baik-baik saja, kenapa aku harus kembali kemari?, membuang-buang waktuku saja, sialan.”
Sindir tajam Suan terasa teramat kesal dan marah lalu pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh ke arah siapapun karena emosinya begitu memuncak saat itu.
*********
Suan kecil meraih tangan laki-laki tua dan membalas genggamannya.
Mereka berdua terlihat berdiri di atas atap sebuah rumah mewah di atas puncak bukit.
Sepoi-sepoi angin menerpa tubuh mereka. Pandangan mereka berdua tertuju pada satu arah yaitu lengkungan langit berwarna biru nan jauh dipandang mata.
“Jaga Aria untukku, aku ingin kau melindunginya. Aku akan memberikan sebagian hartaku untukmu serta membantu keluargamu dan kau juga bebas menerima apapun pemberian dari Aria.”
Laki-laki itu menoleh ke arah Suan kecil, lalu ia menerima balasan tatapan dari wajah Suan yang penuh dengan luka dan memar.
“Tenang saja kakek, aku pasti akan menjaga Aria untukmu. Tapi bisakah aku meminta satu permintaan padamu?”
Mata Suan kecil tampak begitu sayu, ia sangat berharap laki-laki di sampingnya menyetujui keinginannya tersebut.
“Katakanlah!”
“Bisakah aku tidak selalu menuruti perintah Aria?, terkadang perintahnya sangat sulit untuk aku lakukan.”
Suan kecil menundukan kepala, ia tidak ingin membuat laki-laki tua di sampingnya marah saat itu.
Laki-laki tua tersenyum kecut, dia memandang ke arah depannya kembali, “ hahaaha tentu saja Suan, hahaha.” Tawanya memantul, hingga terdengar tidak hanya dia seorang saja yang tertawa di sana saat itu.
*********
“Aku tidak bisa memenuhi janjiku, maafkan aku kakek,” Suan menghapus air matanya dengan telapak tangan cepat.
Taaaakkkk...
Ia membuka pintu lalu dengan langkah kaki gontai berjalan mendekati ruang kamar tempat dimana tadinya ia meninggalkan Aria tertidur.
Cahaya lampu menerangi wajah pucat Suan, aliran air mata laki-laki itu juga tak berhenti melewati pipi dan jatuh saking perihnya hati yang ia rasakan.
“Aria,” Suara lirihan Suan terdengar, ia kacau dan kalut dalam kesalahan dirinya.
Ia tidak pernah menyangka bahwa hati Aria jauh lebih ketakutan ketika mereka berdua melihat pemandangan kematian yang sama, meskipun dari luar wajah gadis kecil tersebut tampak biasa saja.
Ia tidak pernah tahu bahwa Aria selalu bergantung padanya dan mengejar kemanapun dirinya pergi karena hati wanita itu ketakutan jauh darinya.
Dia salah, dia tidak pernah menyadari semua tingkah Aria.
Dia tidak mengerti kenapa dirinya bisa menjadi laki-laki sebodoh itu.
Suan membuka pintu lalu matanya terbelalak.
“Aria!” karena dia tidak menemukan Aria di sana.
Dia berusaha untuk tetap tenang lalu melangkah ke segala penjuru ruangan namun tidak menemukan wanita yang ia cari.
Suan meraih ponselnya lalu menghubung Elbram, “ Cari Aria!” perintah laki-laki itu pada temannya lalu melangkah keluar apartemen.
“Aria, hm, baiklah. “ Tidak ingin bertanya, Elbram langsung mematuhi perintah Suan.
Suan yang berusaha untuk tetap tenang, menghubungi kembali temannya.
“Cari Aria, Harry!”
Perintah Suan pada Harry yang telah mengangkat panggilannya.
“Aria menghilang!, Aria...”
“Harry!” Suan mendengar suara Aria di sana,
“Aria di sana?”
“Benar Suan, Aria di si..”
“Tahan dia, tunggu aku di sana!” Suan melangkah kaki dengan cepat menuju pintu lift yang tidak jauh dari sana.