
Sudah hampir seminggu Suan telah mengambil alih perusahaan keluarga Harry. Selama itu pulalah, para Dewan Direksi terlihat sangat berterima kasih karena kepemimpinannya tersebut mampu meningkatkan penjualan produk ponsel mereka.
Sebagai seorang Direktur utama sementara, Suan terus-menerus mendapatkan paksaan dari beberapa dewan Direksi begitupula pemilik perusahaan untuk menambah waktu masa jabatannya. Karena hal tersebut, Suan sempat berpikir untuk mengeluarkan desain produk terbaru hingga masa jabatan sementaranya berakhir.
Pagi itu, akan diadakan rapat.
Para karyawan pada bagian divisi perencanaan ditugaskan untuk mengeluarkan pendapat mereka.
Mereka juga dituntut untuk menuangkan ide.
Ketika para karyawan memasuki ruangan rapat, mereka dikejutkan dengan informasi akan kehadiran Suan yang secara langsung turut ikut serta memimpin rapat tersebut.
Sebenarnya bagi mereka, hal itu sangatlah tidak biasa, mengingat bahwa Direktur Utama merupakan seorang yang sangat sibuk.
Hingga mereka mulai berpikir, pasti hal itu karena Aria yang menurut anggapan mereka adalah seorang wanita simpanan dari pimpinan perusahaan tersebut.
“Bagaimana ini?, aku tidak tahu kalau ternyata Direktur Suan yang memimpin rapat.” Keluh seorang karyawan wanita terlihat gelisah sembari menoleh ke arah Aria yang tampak telah duduk di atas kursi rapat dengan santai.
“Bukan hanya kau saja yang takut, aku juga begitu.” Tambah seorang karyawan laki-laki yang tampak ragu-ragu untuk duduk di kursinya.
Suan masuk diikuti oleh Elbram.
Ia tersenyum tipis ketika melihat Aria tampak serius menghafal sesuatu.
“Wahh aku tidak menyangka ternyata Aria bisa serius juga.” Gumam pelan Elbram terdengar hingga ketika Suan saat itu.
Laki-laki itu terus melangkah lalu duduk di samping Aria setelah Suan duduk pada kursi bagian ujung meja panjang untuk memimpin rapat.
Proyektor telah dinyalakan.
Semua karyawan telah duduk di depan laptop mereka masing-masing.
Satu persatu dari mereka membagikan lembaran ide pada masing-masing anggota rapat begitu juga pada Suan.
Lalu satu persatu dari mereka berdiri dan menjelaskan ide masing-masing di samping Proyektor ketika Laptop mereka telah terhubung pada perangkat sistem optik tersebut.
Saat tiba giliran Aria,
Semua mata mulai memperhatikannya dengan seksama.
Mereka bertanya-tanya di dalam hati.
Mungkinkah kedatangan Direktur Suan bergabung pada rapat pagi hari itu karena Aria?, ataukah pemimpin mereka tersebut memang berniat meluangkan waktu padatnya hanya untuk mengurusi rapat yang seharusnya dipimpin oleh seorang manajer dan setelah rapat selesai, manajer tersebut akan memberitahukan pada seorang Direktur biasa.
Semua orang tampak tidak sabar lagi,
Mereka ingin sekali melihat cara kerja Aria,
Mereka juga sangat ingin mengetahui bagaimana penilaian Direktur Utama mereka.
Anggapan mereka, jika Aria memberikan ide yang buruk lalu ide tersebut terpilih untuk menjadi ide produk terbaru perusahaan maka sudah dapat dipastikan bahwa pemimpin mereka hanya datang untuk melihat wanita itu saja.
Sruuutt..
Kabel USB telah dipasang,
Data-data pada layar proyektor milik Aria telah tertera.
Semua mata terpasang dengan baik.
Sebagian dari mereka berpikir bahwa ide Aria tidak jauh berbeda dengan ide dari karyawan-karyawan lainnya.
Aria yang akan membuka lembaran data tampak mengernyitkan dahi karena untuk pertama kalinya ia mengikuti rapat hingga dirinya merasa sedikit gugup dan bingung meskipun ia sangat mengenal Suan saat itu.
“Ada masalah?”
Semua mata memandang hanya ke satu arah.
Yang di depan memandang lurus, yang di samping menolehkan kepala.
Itu semua karena Direktur utama mereka tiba-tiba datang mendekati Aria yang sedang duduk dan berdiri di belakang wanita itu.
“Suan, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Aria masih memandang ke arah layar laptopnya, merasa sedikit segan pada para karyawan di sana.
“Kau tidak melihat ada yang salah dengan bahan dan materimu ya?”
Pertanyaan Suan sontak membuat Aria kebingungan lalu memperhatikan dengan seksama layar laptopnya.
Karena dia tidak pernah mengikuti rapat, pagi itu, ia merasa sangat bimbang sekali dengan ucapan Suan.
“Dimana letak kesalahannya?” tanya Aria mencari-cari keanehan pada data-data yang telah ia persiapkan namun tidak menemukannya.
“Di sini?”
“Dimana?” tanya Aria berusaha keras untuk menemukan kesalahan pada pekerjaannya, “kenapa kau tidak menunjukannya saja?”
“Di sini, lihatlah ke arah proyektor!”
“Eum,”
Semua orang sontak menutup mata.
Wajah Aria memerah ketika Suan berhasil mencium bibirnya saat tadinya ia menoleh, hingga wanita itu kini sangat malu dan salah tingkah.
Ia melirik ke sekitarnya namun tidak seorangpun dari karyawan di sana melihat ke arahnya.
Mereka semua bahkan berusaha untuk berpura-pura tidak tahu hingga membuat Aria semakin malu, taaakkk.. dan menutup laptopnya lalu melangkah keluar ruangan dengan terburu-buru.
“Dia lucu sekali,” gumam Suan sembari tersenyum senang,
Paaaakk...”Kau sudah gila, ya?” maki Elbram yang telah memukul Suan hingga Suan mengelus kepala bagian belakangnya yang sakit.
“Mau bagaimana lagi, aku tidak dapat menahannya.”
Begitulah jawaban yang dilontarkan Suan hingga membuat para karyawan melirik ke arah laki-laki tersebut dengan ragu-ragu, “ Ah, dia dan aku akan segera menikah.” Tegas laki-laki tersebut memahami pandangan para karyawan di sana yang hampir tidak menyangka mendengar pernyataan terang-terangan dari Direktur mereka.
“Suan,”
Elbram semakin dibuat resah dengan tingkah Suan saat itu hingga ia membentaknya.
“Hm, maaf, maaf.” Ucap Suan begitu santai namun tatapannya tiba-tiba berubah menjadi dingin, “.. tidak ada satupun ide yang menarik, pikirkan ulang ide lain dan kita akhiri rapat hari ini.” Lanjut Suan pada semua karyawan di sana lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan rapat dan para penghuninya diikuti oleh Elbram.
Para karyawan mulai berbisik, mereka membicarakan ucapan pemimpin mereka tentang menikah dengan Aria.
Hari itu semua orang dibuat tidak menyangka bahwa wanita biasa seperti Aria, menurut anggapan mereka mampu membuat Direktur Suan yang sangat terkenal, mengejar cintanya hingga berita tersebut dengan cepat, melesat dan menyebar ke seluruh penghuni perusahaan bahkan hingga sampai ke luar perusahaan juga.
*******
Semua orang mulai berbuat baik pada Aria.
Hal itu karena kabar berita tentang cinta pemimpin mereka padanya.
Ada begitu banyak orang yang datang dan kadang mencari Aria hingga wanita tersebut tidak memiliki banyak waktu untuk menemui Arkas dan melihat keadaan laki-laki tersebut karena diberi banyak lontaran pertanyaan.
Bagi Aria, rasanya tidak menyenangkan.
Menurutnya, semua orang tampak berpura-pura baik padanya.
Hal itu juga membuat Aria, enggan lagi untuk bekerja.
Ia mulai merasa lelah dan juga bosan.
“Sudahlah kita tidak usah memikirkan ide baru lagi, sekeras apapun usaha kita, tetap saja idenya yang akan dipilih oleh Direktur Suan nanti.”
Suara seorang karyawan laki-laki terdengar hingga ke telinga Aria ketika wanita itu sedang dikelilingi oleh karyawan wanita baik yang bekerja pada divisinya maupun divisi lain.
“Benar,” tambah karyawan laki-laki lain menyetujui, “ Seburuk apapun idenya, Direktur Suan pasti akan memilihnya lalu ia akan memperbaikinya demi wanita itu.” Lanjutnya lagi hingga Aria mulai kesal saat itu,
Takkk lalu melempar sebuah pena dan mengejutkan orang-orang yang mengelilinginya begitupula dengan dua orang yang tadinya sedang membicarakan tentangnya.
“Apa yang kau lakukan?” teriak seorang laki-laki mulai berdiri dan memandang ke arah Aria yang masih duduk lalu melipat kaki begitu santai.
“Kalian berdua seperti benalu, tidak berguna.”
Hina Aria mengejutkan semua orang di sana.
“Hanya karena kau wanita yang disukai Direktur Suan, bukan berarti kau bisa begitu bebas menghina kami.”
Seorang laki-laki lain mulai membuka suara, turut serta membela temannya.
“fuuhhh,” Aria meniup ujung-ujung kukunya, “kalian tahu tidak, kenapa aku begitu dicintai oleh Direktur Suan?”
“konyol, kau pasti menggunakan mantra untuk melakukannya, bukan?, kecantikanmu bahkan sangat kalah jauh dengan nona Anderston, kau juga tidak sekaya dia, bagaimana mungkin kau mampu membuat Direktur Suan jatuh cinta padamu kalau bukan karena kau menggunakan mantra.” Lanjut laki-laki yang baru saja berdiri tersebut, begitu terlihat sekali ia membenci Aria saat itu.
Aria tersenyum remeh, “ Aku sangat cantik, maka dari itu aku mampu merebut Suan dari nona Anderston yang kalian maksud, dan lagi otakku ini sangat cerdas. Aku bahkan bisa membuat ide produk yang sangat menarik nantinya. Setelah itu, akan kubuat kalian para benalu ditendang keluar dari perusahaan ini.”
Aria memberikan ancaman,
Ia berdiri lalu melangkah meninggalkan semua orang yang mengerumuninya.
“Dasar sialan, bukankah kalian melihatnya sendiri?, ide wanita itu bahkan terlihat biasa saja. Ia hanya akan menggunakan direktur Suan untuk menendang kita semua keluar dari perusahaan ini, lalu memasukan semua saudara-saudaranya untuk menggantikan posisi kita.”
Tuduh seorang dari mereka membuat orang-orang di sana mulai khawatir saat itu.
“Wah dia sudah sombong, sekarang mulai tega lagi.” Seorang wanita yang tadinya duduk di samping Aria mulai mengeluarkan suara. Ia terlihat menyesal mendekati Aria saat itu.
“Lebih baik kita terus mendekati dia saja, daripada ditendang keluar dari sini, Mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah.” Tambah seorang karyawan lain yang tadinya juga ikut berkumpul mendekati Aria.
“Benar, ayo kita kejar dia.” Lanjut karyawan lainnya ketika tidak lagi melihat Aria di sana.
“Brengsek, bekerja di sini juga sangat tidak adil.” Keluh seorang karyawan laki-laki yang tadinya berdebat dengan Aria.