
Dia sudah sangat yakin bahwa dirinya telah mengerjakan tugas yang diberi sebaik-baiknya.
Tapi meskipun demikian, dia merasa dirinya selalu saja disalahkan.
Paaaaakkkk
“Ulang!”
Lembaran kertas berhamburan jatuh ke atas lantai.
“Kali ini di bagian mana lagi kesalahanku?”
Aria berjongkok, ia mengumpulkan satu persatu lembaran kertas di atas lantai.
“Baca ulang pekerjaanmu sebelum kau memberikannya padaku!, ada begitu banyak kesalahan pengetikan yang kau buat dan kau tidak teliti tentangnya.”
Laki-laki yang berdiri, melangkah mendekati kursi kerjanya lalu duduk dan memulai pekerjaan kembali.
Dia membiarkan Aria mengumpulkan kertas dan tidak sedikitpun menoleh ke arahnya.
Dia meraih kopi yang telah Aria buat, lalu menyeruputnya dan mengembalikan gelas keramik tersebut di tempatnya.
Hal itu sedikit mengejutkan Aria karena tadinya ia mengira bahwa atasannya mungkin akan membuang kopi dan memecahkan gelas seperti sebelumnya.
Aria tersenyum, ia berpikir bahwa dia telah mengalami sedikit perubahan dan mulai bersemangat kembali untuk mengulang pekerjaannya yang salah.
Aria yang telah selesai mengumpulkan berkas-berkas yang berserakan kini telah kembali ke kursi kerjanya, ia menyalakan komputer yang tadinya berada pada mode Sleep dan mengulangi pekerjaannya kembali.
Matanya terus berkutit pada layar komputer hingga tak terasa waktu istirahat telah tiba dan dia berhasil mencetak ulang dokumen yang tadinya salah.
“Ah,”
Aria mengeluh, pangkal pahanya terasa sangat sakit. Mungkin karena luka di kedua lutut kaki menjalar hingga ke bagian tersebut.
Dia mengingat bahwa dirinya tidak pergi ke dokter dan tidak menyangka bahwa hal tersebut bisa berdampak buruk pada bagian tubuh lain yang tidak terluka.
Setelah dokumennya tercetak, Aria mulai berdiri untuk memberikan kembali pekerjaan tersebut pada atasannya.
Langkahnya tertatih, ia tidak ingin lemah namun seolah-olah dipaksa lemah.
Hingga ia tidak lagi kuat berjalan dan berakhir jatuh terduduk di atas lantai.
“Maaf Direktur.”
Aria menyelonjorkan kaki yang sakit, ia menunduk ketika atasannya melihat dirinya terduduk.
Ia memijat pelan kedua pahanya yang sakit, lalu terkejut ketika atasannya datang dan meraih lengan wanita itu lalu melingkarkannya di atas bahu laki-laki tersebut kemudian membantu Aria berdiri dan melangkah perlahan-lahan.
“Aku tidak tahu alasannya, tapi kau pasti sedang kesakitan bukan?”
Dia meletakan Aria ke atas sofa lalu meraih lembaran kertas dari tangan Aria.
“Aku tidak tahu ternyata efek luka bisa menjalar ke bagian lain, rasanya sakit sekali.”
Aria menundukan kepala, ia menghela nafas begitu berat sembari membuka kacamata lalu meletakan benda itu ke atas meja kemudian memijat kembali kedua pahanya yang sakit.
Atasan Aria mulai duduk di atas sofa yang sama tapi ia terlihat menjaga jarak lalu membuka lembaran pekerjaan Aria, “ Ini sudah bagus,” dan memberitahukan hasil usaha Aria yang akhirnya terakui.
“Syukurlah,” mata Aria berkaca-kaca memandang lantai keramik di bawahnya.
Ia menghela nafas lega seolah-olah bebannya telah sirna.
“Bagaimana menurutmu menjadi pegawai biasa?”
Pertanyaan laki-laki itu mengejutkan Aria.
Aria menoleh ke arahnya, “ Maaf Direktur,” lalu memberitahukan bahwa dirinya tidak mampu menjawab pertanyaan laki-laki tersebut karena dia tahu, bahwa kelelahan yang ia alami tidak dapat diucapkan hanya dengan kata-kata belaka.
“Saat di luar kantor, semua orang beranggapan kami ini beruntung, mereka iri pada kami, mereka cemburu, padahal mereka tidak tahu bahwa beban kami berat. Terkadang kami dihina, harga diri kami jatuh sejatuh-jatuhnya, belum lagi menerima amukan karena kesalahan kami yang bahkan kadang tidak terlalu fatal.”
Laki-laki itu mulai mengemukakan pemikirannya, ia tersenyum lembut memandang wajah Aria yang menundukan kepala, “waktu kami tersita hanya untuk bekerja, beruntung jika kami memiliki atasan pengertian tetapi kalau tidak, kami seperti seorang pekerja paksa yang mau tidak mau berjuang, hanya demi hidup lebih baik dari yang lainnya.”
Dia mulai berdiri lalu melangkah meraih kopinya di atas meja kemudian duduk kembali ke atas sofa.
“aku memahaminya Direktur.”
“Dulu aku sangat iri pada Suan, tetapi sekarang aku mengaguminya.”
Ucapan laki-laki itu membuat Aria terkejut dan menoleh kembali ke arahnya.
Tatapan mereka saling beradu dan Aria menerima senyuman lembut dari laki-laki yang mulai menyeruput kembali kopinya.
“Kau sudah sangat lama mengenal Suan, ya?”
Itulah yang Aria pikirkan saat itu. Dia sangat ingat bahwa Suan tidak memiliki banyak teman karena mereka selalu bersama.
“Haa.” Aria menutup mulut dengan kedua tangan, “ jadi itu kau?”
“Benar, Akulah orang yang berlutut padamu dan kakekmu bersama Suan di depan panti asuhan kami.”
Laki-laki itu memandang ke arah depan sementara itu mata Aria terlihat berkaca-kaca, Aria menunduk merasa sangat bersalah.
“Kau tahu, di panti Asuhan, makanan kami terbatasi, kami kekurangan asupan gizi lalu Suan datang dan memberikan bantuan untuk kami. Tapi ia ketahuan olehmu, dan kau menghancurkan rumah kami.”
“Maafkan aku,..”
Air mata Aria menetes jatuh, ia sungguh merasa sangat bersalah.
“Hm,” laki-laki itu menggelengkan kepala, “dibalik musibah ternyata ada kebaikan di dalamnya, waktu itu kami mengira bahwa hidup kami telah hancur lebur tetapi ternyata setelah kejadian itu, kami semua bisa hidup lebih baik meskipun tidak bersama lagi.”
Laki-laki itu menghela nafas sembari meletakan gelas di atas meja lalu menatap langit-langit ruangan, “kami mendapatkan makanan yang layak, kami juga mendapatkan pendidikan yang layak di panti asuhan lain, karena ternyata tidak semua panti asuhan memiliki pengasuh yang kejam.”
Dia memandang ke arah Aria yang menghapus air mata lalu mengeluarkan sapu tangan dari dalam kantung celana dan memberikannya pada wanita itu.
Aria menerimanya, “aku,”
“Aku iri padanya,”
Laki-laki itu menyela cepat kalimat Aria sebelum terlontarkan. “Sebelumnya aku pikir Suan sangat beruntung mendapatkan keluarga kaya dan disukai oleh gadis kaya sepertimu tapi setelah aku bertemu kembali dengan Suan, aku baru menyadari bahwa dia sungguh-sungguh berusaha dan menderita bersama kalian, tapi dia tidak mengeluhkannya.”
Mata laki-laki itu berkaca-kaca, ia terlihat mulai membenci Aria dan enggan melihatnya tetapi sebentar saja, lalu ia menghela nafas untuk menghilangkan rasa benci itu, “dia selalu bilang, ‘tidak masalah aku laki-laki’ padahal saat itu tubuhnya penuh dengan luka dan aku pernah melihatnya sendiri di tepi jalan bagaimana kakekmu melatih Suan, dia memukul Suan ketika salah mengerjakan sesuatu tapi Suan lagi-lagi berkata bahwa dia menganggumi kakekmu, dan sekarang aku tahu kenapa Suan bisa berada jauh di atasku.”
Laki-laki itu mulai berdiri, ia memandang wajah Aria yang terus menunduk dan menangis karena merasa sangat bersalah saat itu. “Yang kau rasakan ini, hanya sebagian kecil dari yang Suan rasakan selama hidupnya.”
“Hikss hiks..”
Aria tidak kuasa lagi untuk menahan tangisan diamnya.
“Berhentilah menangis!, kau tidak mendengar ponselmu bergetar ya dari tadi.”
Laki-laki itu mulai melangkah ketika seorang Direktur tiba-tiba datang dan masuk, mendekatinya.
Aria yang masih menyeka air mata dengan sapu tangan, meraih ponsel dari kantung setelan jas kerjanya.
“Mereka membawa banyak Klien datang, wah padahal belum sebulan tapi dia telah menyelesaikan pekerjaannya.”
“Begitulah cara orang cerdas bekerja, Bagaimana dengan bandara?”
“Sudah di booking khusus untuk kepulangannya.”
Aria terkejut mendengar percakapan kedua Direktur di hadapannya, segera ia mengaktifkan layar ponselnya dan membaca pesan.
Sebentar lagi aku sampai, tunggu aku di bandara.
Ada belasan pesan yang sama tampak mengisi kotak aplikasi komunikasi di layar Ponsel milik Aria.
“Suan,”
Tangisan Aria jatuh kembali, ia sungguh-sungguh tidak dapat menahan kerinduan.
“Kau masih bisa berjalan?, kami dan semua pegawai IT akan pergi ke bandara untuk menyambut kepulangan Suan. Bagaimana denganmu?, kau mau ikut atau tidak?”
“Hm,” Aria menganggukan kepala cepat, sembari menghapus air mata yang terus mengalir.
“Kalau kau ingin ikut maka berhentilah menangis dan cuci wajahmu yang berantakan itu.”
Atasan Aria mulai melangkah diikuti oleh Direktur lainnya, “ aku akan menunggumu di Basement.” Ucapnya dari kejauhan membiarkan Aria sendirian untuk menyelesaikan tangisannya.
“Aku baru tahu wanita itu sangat lemah.”
“Yaaaa mereka memang mudah sekali menangis. Semua saudara wanitaku juga begitu, mereka cengeng sekali.”
“Bagaimana dengan calon istriku nanti ya?, aku pikir aku harus bersiap-siap menghadapi kecengengannya.”
“Haha orang sekejam dirimu mana mungkin laku.”
“Waah brengsek sekali kau ini.”
Suara obrolan kedua Direktur perlahan-lahan menghilang dari pendengaran Aria.
Aria mulai berdiri, ia menguatkan kaki agar dapat melangkah karena berpikir bahwa tidak hanya dirinya yang pernah menderita di dunia.
Sembari berjalan, ia mengetik pesan dari layar ponselnya.
“Pasti, aku akan menunggumu Suan.”
Ucapannya sesuai dengan pesan yang telah ia ketik lalu ia kirimkan.