
“Harry!”
“Aria, kenapa kau di sini?”
Harry yang diberitahu bahwa seorang tamu telah datang dan mencarinya, telah berdiri di depan pintu utama rumah sebelum pergi bekerja. saat itu laki-laki tersebut terlihat terkejut dengan kedatangan Aria di sana.
“Masuklah!”
“Hm,” Aria menolaknya, wanita yang memakai celana olahraga panjang dan jaket hoodie bertopi milik Suan tersebut, menolak untuk masuk ke dalam. “Aku harus cepat sebelum Suan kembali.”
“Tapi Suan akan datang kemari.”
Ucap Harry yang telah menurunkan ponsel di genggaman tangan dari sisi telinga, ke bawah.
“Apa?” Aria menggigit bibir bawahnya, ia mulai merasa khawatir jika Suan akan marah dan membencinya.
“kalau begitu aku harus pulang,” Aria berbalik lalu melangkah namun terhenti ketika Harry berhasil meraih lengan wanita yang ditutupi jaket longgar tersebut dan menghadapkan tubuh wanita itu kembali ke arahnya.
“Katakan padaku tujuanmu datang kemari!”
Harry yang penasaran tidak membiarkan Aria pergi begitu saja tanpa menyampaikan maksud kedatangan dari wanita tersebut.
Harry memerintahkan seluruh pelayan yang berada di sana untuk menjauhi tempat lalu membawa Aria berjalan menuju ke sebuah pohon besar di depan rumahnya.
Perkarangan rumah itu luas dan sebagian besar di tumbuhi rerumputan hias sementara bagian kecil lain terdapat jalanan pavling blok.
Di perkarangan rumah tersebut terdapat sebuah pohon besar yang tergantung sebuah kursi rotan ayunan.
“Duduklah!” perintah Harry tetapi Aria menggeleng, ia menolaknya lagi.
Wanita itu lebih memilih untuk tetap berdiri dan menengadah, memandang wajah Harry dari bawah.
“Huh,” Harry menyerah untuk meminta Aria menuruti keinginannya, “katakanlah tujuanmu!”
“Apa yang kulakukan padamu?”
Harry mengernyitkan dahi, dia kebingungan dan Aria memahaminya, “Apa yang pernah kita lakukan berdua sampai Suan akan pergi meninggalkanku?”
Aria memandang Harry dengan tatapan begitu sedih ketika mengingat perkataan Suan dengan dirinya malam tadi.
“Suan salah paham, kita tidak pernah..”
“Apa yang terjadi 12 tahun yang lalu, Harry?, katakan padaku.” Aria masih mengangkat kepala, ia sangat berharap Harry akan mengatakan kebenarannya pada wanita itu.
Sementara itu, Harry hanya bisa menghela nafas, saat itu dirinya sangat takut jika salah berbicara dan akan menyebabkan Suan berada dalam masalah.
“Harry!”
Panggil Aria ketika ia hanya melihat wajah Harry menundukan kepala, “jadi kau tidak ingin memberitahukannya.”
Suara mobil terdengar memasuki jalanan pavling blok di depan rumah Harry, Baakkk..
Lalu mobil terhenti dan seorang laki-laki telah keluar dari sana sembari menatap wajah Aria yang telah berbalik memandangnya.
“Suan!” panggil Harry dan Aria merasa terkejut ketika melihat wajah pucat Suan dialiri air mata.
“Suan, apa yang terjadi padamu?”
“Suan, kau baik-baik saja?”
Harry melihat Aria segera berlari menuju ke arah Suan yang tampak berjalan dengan langkah gontai dan terlihat tidak bertenaga.
Lalu terbelalak ketika laki-laki tersebut jatuh berlutut di hadapan Aria.
“Maaf Aria,” Suan memeluk tubuh Aria yang berdiri di depannya, “Haaa.. Maafkan aku Aria.”
“Suan, kenapa kau menangis?” pinggang Aria yang mendapati pelukan Suan tidak dapat ia turunkan ke bawah.
“Maafkan aku Aria haaa hiksss hikks, “ tangisan Suan semakin mengeras, hal itu membuat Harry tidak menyangka bahwa dirinya akan melihat tangisan Suan di depan matanya sendiri.
“Harry kau melihat..”
Elbram menghentikan langkah larinya ketika melihat Suan menangis memeluk tubuh Aria, “ Suan, kenapa dia menangis?” Elbram terkejut melihat keadaan kacau Suan, sementara itu Aria ikut turut menangis tanpa mengetahui sebabnya sembari memeluk kepala Suan.
“Suan, jangan menangis lagi, hatiku sakit sekali melihatmu menangis, Suan, Haaa hikkss hikss, Suan.” Suara tangisan Aria tak kalah ikut menggema di udara terbuka.
Harry dan Elbram yang menyaksikan tangisan mereka, saat itu mulai merasa khawatir dan juga bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
********
Aria tampak terbaring di samping Suan yang telah memeluknya. Getaran tubuh Suan yang memeluknya membuat wanita itu merasa bahwa Suan seperti orang yang tidak ingin melepaskannya.
“Suan, kau baik-baik saja?” pertanyaan Aria yang dilontarkan berulang kali, tidak terjawabkan oleh laki-laki yang terus memejamkan mata dan berbaring semakin mempererat pelukan di tubuh Aria.
“Suan!” panggilan Aria juga tidak kunjung mampu untuk membuka mata Suan saat itu.
Tookk tokkk.
Suara ketukan pintu kamar terdengar. Ketika Aria akan bangkit, Suan tidak memberikan izin untuknya.
“Suan, aku telah memanggilnya.”
Suara Elbram terdengar dari luar pintu, membuat Suan membuka mata.
Wajah Suan masih tetap pucat, detak jantungnya terus terpacu kencang dan ia berusaha keras untuk menenangkan dirinya.
“Suan, kau sudah bangun?”
Aria tersenyum senang, ia yang khawatir saat itu mulai menengadah kepala.
“Katakan saja!”
“Apa?” Aria kebingungan dengan perintah Suan saat itu.
“Ada aku Aria, Katakan saja apapun yang kau pikirkan di depan dokter nanti agar aku tidak bersedih lagi, kau mengerti?”
Suan mulai duduk, membawa Aria dipelukannya untuk ikut duduk.
Aria yang telah terlepas dari pelukan Suan mulai tertegun.
Ia mengernyitkan dahi, tanda ia sama sekali tidak mengerti namun dirinya hanya bisa menganggukan kepala, menuruti perintah Suan.
Perlahan-lahan ia berdiri lalu meraih tangan Suan, “Suan sebenarnya...”
“Kau hanya perlu percaya bahwa aku ada di sampingmu, Aria, dan kau tidak perlu takut pada apapun lagi.” Sela Suan cepat sebelum Aria melanjutkan perkataannya.
Di ruang keluarga, Aria melihat dua orang dokter terlihat duduk menunggu kedatangan mereka.
Seorang dari mereka adalah dokter wanita dan seorang lagi adalah dokter yang biasa merawat Aria ketika tubuh wanita itu terluka.
Di dalam ruangan tersebut juga terlihat Elbram dan Harry berdiri, begitu pula dengan Arkas yang hanya tertegun karena ia diminta untuk datang ke tempat tersebut tanpa mengetahui hal yang harus dikerjakannya.
“Duduklah!” Suan mendudukan Aria tepat di depan dokter wanita, lalu laki-laki itu mulai duduk di belakang Aria dengan kursi lain dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
“Suan,” Aria menoleh ke belakang, ia mulai merasa takut dengan wanita di depannya.
“Tenanglah, aku ada di sisimu.” Suan menyandarkan kepala di atas bahu Aria, setelah mengembalikan pandangan mata wanita itu ke arah dokter yang duduk tepat di hadapan mereka.
“Hm,”
“Nona Aria!” panggil dokter wanita itu dengan sangat lembut.
“Ahh, Kenapa?” tanya Aria ketus karena ia tidak menyukainya.
“Bisakah anda mengatakan perasaan yang anda alami kepadaku?”
Pinta dokter tersebut sembari memandang wajah Aria yang mulai pucat saat itu.
Aria mulai berdiri namun ditahan oleh Suan, “kenapa aku harus memberitahukannya padamu?” bentak Aria mulai marah lalu menoleh ke arah Suan tetapi Suan menghadapkan wajah wanita tersebut kembali pada dokter di hadapannya.
“Katakan Aria, bukankah kau melihat aku di sisimu?”
Pinta Suan hingga tubuh Aria mulai menggigil saat itu.
“Haa hikkss haaa hikkss...” Aria tertegun, ia berusaha keras untuk mengatakan perasaan yang ia alami saat itu, “Aku..........”
“Aku mendengarnya,”
“Kau mendengarnya?” Aria mulai tersenyum senang saat itu, ia mengira bahwa dokter di hadapannya telah mengetahui apa yang dia rasakan.
“Benar, aku mendengarnya tapi kurang jelas, bisakah anda mengulanginya sekali lagi?”
Pinta dokter di depan Aria, berusaha untuk meyakinkan wanita itu berbicara, meskipun ia sendiri sebenarnya tidak mendengar ucapan wanita tersebut.
“Ulangi Aria!, aku ingin mendengarnya lebih jelas.”
“Suan, kau juga bisa mendengarnya?” Wajah Aria mulai ceria, ia menangis bahagia menoleh ke arah Suan di sampingnya.
“Hm,” Suan tak kalah ikut menangis melihat keadaan Aria saat itu, “ jadi katakan ulang pada kami, agar kami bisa mendengarnya lebih jelas!” pinta Suan dengan tubuhnya yang gemetaran, ia masih memeluk tubuh Aria dari arah belakang.
“Hmm,” Aria menganggukan kepala pelan, lalu menghadap ke arah dokter wanita itu kembali, “ Aku bisa.....”
“Kurang jelas, bukan!, sebenarnya sudah jelas tapi kenapa telingaku terasa sakit?” Dokter wanita itu mulai memegangi telinganya berpura-pura, “tolong nona ulang lagi,”
“Kau kira kau bisa menipuku?” bentak Aria marah dan akan berdiri tetapi Suan menahan tubuh wanita itu kembali.
“Ulangi Aria!, kau tahu, aku sangat terkejut mendengarnya jadi aku tidak dapat menyampaikan perkataanmu padanya.” Ucap Suan berbohong sembari menggertakan gigi-giginya geram dan menangis di bahu Aria saat itu.
“Aahhh berhentilah menangis Suan, kalau kau ingin aku mengatakannya.” Aliran air mata Aria deras jatuh ke atas pipi, wanita itu mengusapnya dengan punggung telapak tangan berkali-kali.
“Aku akan berhenti menangis jika kau mengatakannya.”
Suan masih membenamkan wajahnya di bahu Aria sementara itu, orang-orang di sana tak kalah turut sedih melihat keadaan Aria saat itu.
“Sudahlah lupakan saja!, Biarkan saja tuan Suan menangis dan kita tidak perlu mengetahuinya.”
“Aku akan mengatakannya, brengsek,” Ucap Aria mulai marah hingga gigi-giginya gemetaran dan dia ingin sekali memukul wanita di sampingnya andai saja Suan tidak menahannya.
“Ya sudah katakan untuk terakhir kalinya nona, jika kau tidak mengatakannya, aku takut tuan Suan akan menjadi gila..
“Aku bisa melihat Kesialan Arkas dan masa depanku sendiri, haaa hikkss hikk hikkss.” Ucapan Aria mengejutkan semua orang di sana, wanita itu menangis memegangi dadanya yang sakit ketika telah berhasil mengucapkan kebenarannya pada dokter wanita di hadapannya, “ Ahhh hikss hikss, Suan, jangan gila!”
Aria membalikan tubuhnya ketika tangan Suan telah terlepas dari tubuhnya, “Aku takut mati Suan, aku melihat sendiri, aku akan mati bunuh diri karena kau berselingkuh.” Tubuh Aria menggigil hebat, wanita itu mulai mengangkat kaki dan memeluknya, “ Ahhh, aahhh aku takut sekali.”
Suan dan semua orang di sana terkejut dengan pernyataan yang di lontarkan Aria,
“Aria,”
“Ahhh, aku takut sekali,”
Dengan segara Suan bergerak cepat mengangkat kepala wanita itu.
“Lihatlah!, aku ada di sini, aku ada di depanmu.”
“Haa hikss hiks, “ Aria melihat Suan dengan tatapan mata penuh kesedihan dan berkaca-kaca, Paaakkk... lalu memukul laki-laki tersebut dan mengejutkan semua orang di sekitar mereka, “ Kau akan selingkuh, iyakan?, kau telah berselingkuh di belakangku, iyakan?” bentak Aria keras sembari memukuli tubuh Suan saat itu.
“Kalau aku selingkuh, kau boleh menghukumku mati, Aria.”
Aria berhenti memukuli tubuh Suan,
Tubuhnya yang gemetaran segera memeluk leher laki-laki yang berjongkok di hadapannya tersebut.
“Tidak, aku tidak ingin Suan mati, hiks hiks, haaa..”
Dokter lain yang biasa merawat Aria ketika wanita tersebut terluka mulai datang dan membius lengan wanita itu dengan obat penenang hingga Aria merasa lelah lalu menutup mata dipelukan Suan saat itu.
Suan mengangkat tubuh Aria dengan hati yang begitu kesakitan.
Ia memandang Arkas dan saat itu mulai memahami sesuatu kemudian melangkah untuk membawa Aria masuk ke dalam kamarnya.
Semua orang menundukan kepala, mereka masih tertegun dan merasa sangat terkejut dengan apa yang dialami oleh Aria saat itu.
Lalu dokter wanita di sana meraih beberapa lembar dokumen tentang keadaan Aria dari tangan Elbram dan memeriksanya.
******
Hallo terima kasih sudah setia membaca.
baca juga y karya terbaru Author.
judulnya : Ya Boss, Kupatuhi perintahmu!
Dapatkan hadiah poin senilai 2000 untuk 3 orang pemenang.
poin bisa digunakan untuk menjadi VIP agar membaca lebih nyaman tanpa iklan