
Suan duduk di sebuah kursi antik berkaki empat yang mewah.
Ia tampak melipat kaki lalu memandang seorang wanita yang sedang duduk di atas lantai berkarpet merah di depannya.
Ruangan itu sangat menakutkan, remang-remang dan sangat sunyi.
Di ruangan tersebut terdapat beberapa jendela kaca yang ukurannya lumayan besar dan di kaca jendela-jendela itu, terukirkan gambar-gambar hewan dengan bentuk yang aneh dan menyeramkan.
Ruangan yang sangat luas itu mungkin di masa lalu merupakan milik pendiri perusahaan Anderston yang kini telah tiada lagi di dunia, dan sekarang, ruangan tersebut telah jatuh ke tangan Suan Dikintama.
“Kenapa kau melakukannya?” tanya Suan dengan nada penuh tekanan hingga tubuh menggigil wanita yang terduduk itu, semakin bertambah kencang.
“Aku,..” ragu-ragu wanita itu membuka suara terlebih lagi dengan kedatangan dua orang laki-laki bertubuh kekar di sampingnya, “aku minta maaf.”
“Kau tidak dengan pertanyaanku?, perlukah aku mengulanginya kembali?”
Tatapan Suan sangat tajam, wanita di hadapannya bahkan tidak sedikitpun berani untuk mengangkat kepala.
“Sekali saja, aku hanya ingin melihatnya terluka sekali saja.” Ucap wanita itu mulai mengutarakan isi hatinya, “dulu dia selalu menyakitiku hanya karena aku pernah meminjam buku darimu, selama itu hidupku tidak pernah tenang dan aku terpaksa keluar dari sekolahku.” Lanjut wanita tersebut mengingat rasa pahit masa lalunya dan tampak sangat membenci Aria saat itu.
“Hmmmm,” Suan tersenyum remeh, “Aneh sekali,” begitulah katanya “bukankah seharusnya kau tidak akan mungkin berani menyerang Aria karena kau sendiri mengetahui bahwa dia sangat kejam padamu di masa lalu?, tapi sepertinya kau memang sangat ingin diperlakukan kejam hingga berani menyakiti wanita kejam sepertinya.”
“Itu karena...”
“Itu karena?” tanya Suan dengan cepat ketika wanita tersebut menghentikan kalimatnya, “Katakan!”
“Itu karena Aria sudah bertaubat.”
Jawab wanita tersebut melanjutkan perkataannya.
“Hm konyol,” Suan semakin dibuat tersenyum remeh, “... meskipun dia sudah taubat, dia masih tetap nona Anderston yang sangat kaya dan harusnya kau tidak mungkin berani menyerangnya begitu saja karena kau pasti akan mengetahui akibatnya.”
Suan mulai berdiri, lalu melangkah di atas karpet merah, menghampiri wanita yang berada di pertengahan kedua laki-laki bertubuh besar.
“Katakan siapa yang menyuruhmu?” Ucap Suan yang telah berjongkok lalu memaksa wanita di depannya untuk memandang mata tajam laki-laki tersebut.
“Haaa..”
***********
Berkali-kali Rena menghela nafas kesal karena kulit kuaci jatuh berserakan di atas lantai sementara ia telah membersihkan lantai tersebut dari tadi.
“Aria, kumpulkanlah kulitnya!” dengan geram Rena mendekati Aria yang tampak sedang duduk sembari memegang bungkus kuaci lalu menyentak-nyentakan sapu yang ia pegang di hadapan Aria saat itu.
Aria menengadah kepala, “mau kukumpulkan dimana?, tidak ada meja di depanku, tanganku juga hanya dua. Lihatlah!, satu aku gunakan untuk memegang bungkus ini, satu lagi kugunakan untuk memakan kuaci.” Dengan santai Aria menjawab lalu membuang kulit kuaci ke atas lantai lagi seenaknya.
“Terserahlah, kau adalah nona besar, hanya tinggal perintahkan saja Cleaning Service untuk membersihkan sampahmu itu nanti.” Ucap Rena tidak lagi ingin berdebat dengan Aria yang ia anggap begitu menyebalkan.
“Hm, oke.” Jawab Aria santai lalu menurunkan kepala dan menghadap ke arah depannya kembali sembari menggigit kulit kuaci.
“Aria, bukankah kau sedang sakit?”
“Hm,” angguk Aria tanpa melihat ke arah Rena yang telah meletakan sapu pada tempatnya dan bergerak menuju loker pribadinya.
Mungkin saat itu, mereka sedang berada di ruangan karyawan Cleaning Service.
“Kalau kau sakit, kenapa kau tetap datang ke kantor ini?, lihatlah wajahmu masih memerah!, dan lagi, sebenarnya apa tujuanmu datang ke kantor ini?”
Rena terus bertanya-tanya,
Ia pikir, pertanyaan tersebut terus-menerus mengganjal dalam benaknya karena Aria selalu saja datang ke perusahaan Harry tanpa bekerja dan juga tidak melakukan hal apapun kecuali hanya mengikutinya, juga mengikuti Suan dan sesekali melihat ke ruangan kerja Arkas.
“Di jelaskanpun percuma saja,” jawab Aria yang telah berdiri lalu meletakan bungkus kuaci yang masih tersisa banyak di atas kursi, “kau ingin pulang?”
“Hm, kau ingin ikut ke rumahku?”
Ajak Rena sedikit mengejutkan Aria yang mulai merasa senang di dalam hati karena untuk pertama kalinya, seorang teman wanita mengajak Aria datang ke tempat tinggalnya.
“Hm,” Aria menggelengkan kepala, ia menolaknya sembari mulai melangkah mengikuti Rena yang telah berganti pakaian menuju pintu lift untuk turun ke lantai pertama. “Aku hanya akan menunggu Suan selesai kerja saja.”
“Lalu kenapa kau mengikuti ke bawah?” tanya Rena bersamaan dengan pintu lift yang telah terbuka dan dia mulai melangkah masuk diikuti oleh Aria.
“Tidak ada maksud tertentu,” Lift mulai bergerak menuruni lantai-lantai bangunan, “ kau ini cerewet sekali,” ucap Aria sedikit kesal “aku hanya berpikir bahwa setiap waktu bersama saat ini mulai berharga.” Lanjut wanita itu mengutarakan pemikirannya ketika pintu lift telah terbuka dan kedua wanita tersebut mulai keluar secara bersama.
“Bulan ini mungkin cuaca akan sering hujan,” ucap Aria memberitahukan keadaan cuaca di kota mereka, “Kau bawa payung?” tanya Aria ketika mereka telah berdiri di depan pintu masuk utama.
“Aahh tidak ada payung.”
“Nona, kau butuh payung?” suara penjaga keamanan tiba-tiba terdengar hingga kedua wanita tersebut menolehkan kepala, menghadap ke arahnya.
“Hm,” angguk keduanya secara bersamaan lalu tersenyum senang ketika penjaga keamanan tersebut memberikan dua payung untuk kedua wanita tersebut.
“Satu saja cukup!” Ucap Aria namun mengurungkan niatnya kembali, “berikan saja ini padaku!” karena melihat Arkas tiba-tiba muncul dari dalam gedung sembari membawa tas ransel.
“Aria, aku pulang ya?” teriak Rena mulai melangkah kaki memasuki derasnya air hujan ketika ia telah menerima payung dari penjaga keamanan.
“Oke,” jawab Aria lalu menoleh ke arah Arkas, “ Kau butuh payung?” dan menawarkan payung pada laki-laki tersebut.
“Kemarin,...”
“Bisakah kau tidak membahasnya?” pinta Aria tidak ingin mengingat kejadian malam di pesta pertunangan Harry.
“Hm, terima kasih payungnya.” Arkas meraih payung dari tangan Aria lalu mengembangkan benda itu kemudian bergegas pergi dari sana.
Taaaangggg... tapi tanpa sadar, ia telah menjatuhkan sesuatu di atas semen yang tergenangi air hujan.
“Arkas, barang milikmu jatuh.” Teriak Aria keras sembari berjongkok meraih sebuah bandul yang tadinya telah jatuh dari gantungan tas di ransel milik Arkas.
Bandul itu berbentuk bulat, lalu ketika Aria membukanya, terdapat foto Arkas dan Rena berdua.
“Arkas!” teriak Aria kembali tetapi Arkas tidak mendengarnya, laki-laki tersebut masih terus berjalan keluar dari gerbang perkantoran.
“Ada payung lagi?” tanya Aria pada penjaga keamanan di sana.
“Tidak ada nona, “ jawab seorang penjaga keamanan, “ Bang woii,,” lalu membantu Aria memanggil Arkas yang telah menjauh, “berikan saja pada saya...” belum sempat penjaga keamanan menawarkan bantuan, Aria telah terlebih dahulu berlari menerjang derasnya hujan untuk mengejar Arkas saat itu.
Ia berlari kencang hingga berhasil menemukan Arkas dan Rena berdiri terpisah di halte bus.
“Aria!” panggil keduanya terkejut ketika melihat tubuh basah Aria sore itu.
“Kau meninggalkan ini,” Aria memberikan bandul yang Arkas jatuhkan, lalu ketika Arkas menerimanya, wanita tersebut segera pergi dari sana, membiarkan Arkas dan Rena berdua saja.
“Aria!”
“Wahhh jangan panggil aku, dingin sekali, astaga.” Teriak Aria dari kejauhan ketika Rena memanggilnya hingga langkah Aria terhenti ketika melihat Suan telah berdiri di tengah-tengah derasnya hujan dengan menggunakan payung.
“Suan!”
“Kau tahu, kau masih belum sepenuhnya sembuh?, kenapa malah nekad hujan-hujanan?”
Sembari berjalan, Suan mengungkapkan kekesalannya.
Laki-laki tersebut kini telah datang dan memayungi Aria.
“Dingin sekali.” Ucap Aria sembari menengadah kepala, memandang mata memerah Suan di hadapannya.
“Maaf Suan,” lalu menundukan kepala ketika laki-laki yang ia cintai tak kunjung membuka Suara.
“Tadi pagi kau memaksaku untuk datang ke kantor, sekarang kau malah...” Suan menarik tangan Aria lalu membawa masuk wanita tersebut masuk ke dalam mobilnya yang telah tiba mendekati mereka setelah membuang payung yang mengembang begitu saja.
“Sudahlah lupakan.”
Suan berusaha keras untuk menahan emosi saat itu,
“Keluar!” lalu memerintahkan Supir yang berada di kursi kemudi keluar dari sana.
“Maaf, tuan.”
“Keluar!, kau tidak dengar?”
Supir Suan hanya tersenyum pahit karena terpaksa harus keluar saat air hujan masih deras jatuh dari atas langit.
Dengan segera Suan membuka kancing kemeja yang dikenakan Aria, “ Suan, kenapa kau membuka...”
“Kau tidak kenal rasa sakit ya?” bentak Suan tidak lagi dapat menahan emosinya hingga Aria terpaksa membiarkan laki-laki tersebut membuka pakaiannya yang basah.