Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Piluh



Keadaan menegangkan mengisi pagi yang cerah hari itu.


Beberapa pengendara mulai melanjutkan aktivitas mereka kembali namun sebagian lainnya tampak masih menyaksikan kemarahan yang menjadi pusat utama ketegangan di jalanan kota saat itu.


Tubuh Aria lemah,


Darah terlihat mengalir di lutut kaki dan juga dahi kepala yang terluka.


Wanita itu masih tampak terduduk di depan Arkas yang sangat marah.


“Kau benar-benar keterlaluan, sekarang kau bahkan menuduh orang sembarang, kau gila ya?” bentak Arkas penuh emosi dengan matanya yang memerah dan penuh amarah.


“Tenanglah!” Supir Harry yang tadinya mendapati pukulan keras Aria, saat itu berusaha untuk menenangkan Arkas yang marah dengan menepuk-nepuk punggung laki-laki tersebut.


“Akuilah kau memang ingin membunuh Arkas, brengsek!” maki Aria tidak mempedulikan kemarahan Arkas lalu ia berusaha berdiri meskipun sangat menyakitkan untuk mendekati laki-laki yang berada di samping Arkas tersebut.


“Tidak nona, tidak ada sedikitpun niatku untuk melukai Arkas apalagi sampai membunuhnya.”


Wajah Supir Harry terlihat pucat. Saat itu, ia sedikit terkejut dengan kemarahan Aria yang datang tiba-tiba.


Pernyataan yang ia buat juga terdengar panik dan bertambah panik ketika Aria telah mendekatinya dan berniat untuk melayangkan pukulan kembali.


“Aku melihatnya sendiri, kau bahkan sengaja mendorongnya ke tengah jalan tadi, brengse...”


“Berhentilah Aria!” bentak Arkas sungguh ia tampak tidak lagi kuat menahan sikap Aria yang menurutnya semakin memuakan, “Sekarang aku bahkan ingin sekali memukul wajahmu dan membuktikan pada semua orang bahwa kau itu sebenarnya sudah gila.”


Aria yang terdorong mundur mulai terduduk.


Hatinya sangat sakit ketika mendengar ucapan Arkas tersebut hingga ingin sekali ia berlalu dari tempat tersebut.


“Aku hanya tidak ingin dia membunuhmu.” Lirih Aria mulai meneteskan air mata karena sangat sedih dan mengingat bahwa Ia pernah mendengar ucapan Arkas tersebut keluar dari mulut Suan di masa lalu.


“Suan, Suan,” panggil Harry berusaha menghalangi Suan yang telah sampai di sana untuk tidak memukul Arkas.


Arkas menundukan kepala, ia tahu bahwa mungkin dirinya akan menerima akibat karena telah memaki Aria saat itu.


“Tenanglah, aku tidak akan memukulnya.” Ucap Suan sembari menyingkirkan tubuh Harry di dekatnya kemudian berjongkok memandang wajah wanitanya dengan tatapan penuh luka.


“Suan, maaf.” Ucap Aria sembari menundukan kepala, membiarkan air matanya mengalir jatuh ke atas aspal.


“Kau ingin aku menggendongmu di bagian depan atau belakang?” tanya Suan pada Aria begitu tenang hingga kegelisahan Harry yang mengira bahwa akan terjadi keributan kembali di pinggir jalan, perlahan-lahan menghilang.


“Suan,” Aria mengangkat kepala, ia memandang wajah Suan yang telah melayangkan senyuman lembut namun tampak dipaksa.


“Ya sudah depan saja.”


“Tidak mau, di belakang saja, malu sekali digendong dari depan.” Ucap Aria menghilangkan sedikit rasa sakit di dalam hati Suan yang telah berbalik dan memberikan punggungnya untuk Aria lalu setelah Aria naik ke atas, ia memandang wajah menunduk Arkas dengan tatapan begitu emosi bercampur dengan sedih.


“Aku tahu rasanya,...” Ucap Suan mengejutkan Arkas dan juga Harry yang berada di sana bersamaan dengan penjaga keamanan dan beberapa karyawan perusahaan yang telah datang dan meminta para pengendara untuk segera berlalu dari tempat tersebut.


“Maaf Direktur, “ ucap Arkas masih menundukan kepala begitupula dengan Supir Harry.


“Aku pernah marah sama halnya denganmu dan bahkan sering kali di masa lalu, tapi sekarang berbeda, aku tahu Aria sudah berubah dan dia melakukan ini semua pasti ada sebabnya.” Lanjut Suan masih membawa Aria di atas punggungnya yang tampak menangis sesenggukan pagi itu. “.... saat ini aku memang tidak tahu penyebabnya tapi akan mencari tahu secepat mungkin, jadi aku mohon padamu, bertahanlah dengan sikap Aria untuk sementara waktu.”


Suan mulai melangkah kaki menyebrangi jalanan kota dibantu dengan beberapa penjaga keamanan, meninggalkan Arkas yang tampak terkejut dengan ucapan dari laki-laki tersebut.


Hati Suan sangat piluh, ia membawa Aria di atas punggungnya dengan mata memerah dan berkaca-kaca.


Sementara itu, Aria hanya terus menangis dan menahan rasa sakit luka yang ia dapatkan karena tabrakan mobil tadinya.


Hingga polisi datang dan Harry terpaksa menjelaskan segalanya pada mereka.


***********


Suan membawa Aria ke apartemennya.


Ia memanggil dokter terbaik milik keluarganya untuk merawat luka Aria yang tidak terlalu parah.


Laki-laki itu tampak duduk di tepian kasur sembari memandang dokter membersihkan darah dan kotoran pada luka di kaki Aria.


“aku telah membersihkan luka anda, rasa sakitnya akan berkurang setelah anda meminum antibiotik, jadi anda tidak perlu khawatir lagi.”


Jelas dokter tersebut sembari meletakan perban diluka terakhir pada lutut kaki Aria, dan wanita itu hanya bisa menganggukan kepala serta menutup mata dengan lengannya saat itu.


Suan tersenyum tipis lalu berdiri mendekati dokter yang tampak sedang merapikan peralatannya ke dalam tas.


“Kau yakin dia akan baik-baik saja?” tanya Suan masih khawatir lalu menerima obat dan resep obat lainnya dari tangan dokter tersebut.


“Antibiotik ini, berikan saja padanya dulu hanya untuk mengurangi rasa sakit, lalu obat-obat di resep ini akan membantunya untuk menyembuhkan luka.” Jelas dokter yang telah selesai menyusun barang-barangnya, “ Saya pamit dan akan datang lagi nanti malam untuk mengganti perban.” kemudian meminta izin berlalu dari sana yang dianggukan oleh Suan secara langsung.


Tanpa memandang kepergian dokter tersebut, Suan mulai duduk kembali di tepian kasur sembari meraih air mineral di dalam gelas.


“Minumlah, kau tidak ingin sakit, bukan?”


Perintah Suan sembari meraih tangan Aria, memerintahkannya untuk duduk saat itu.


Wajah Aria sembab dan memerah, di atas dahinya terdapat perban begitupula di kedua lutut kakinya.


Wanita itu mulai duduk dan melihat Suan dengan mata berkaca-kaca lalu menundukan kepala lagi.


“Suan, aku minta maaf.”


“Minta maaf untuk apa?” tanya Suan yang tampak sedang membuka bungkus obat lalu mengeluarkan sebuah pil dari dalamnya, “buka mulutmu!” kemudian memasukannya ke dalam mulut Aria ketika telah terbuka.


“Aku tahu aku salah, kau pasti sangat marah padaku karena aku terus berbuat kekacauan, bukan?, aku minta maa..af, haa hikkss hikkss hikkss..” Ucapnya mulai menangis keras hingga hati Suan yang sangat sakit sedikit menghilang ketika melihat tingkah wanita tersebut yang ia anggap sangat lucu.


“Jadi kau mengakui kesalahanmu, ya?”


Suan meraih rambut Aria lalu mengacak-acaknya hingga rambut tersebut sedikit berantakan.


“Hm,” angguk Aria masih menangis sembari menghapus air mata di pipi lalu meneguk air di dalam gelas.


“Bukankah dulu kau juga sering berbuat kekacauan?, kekacauan kali ini bahkan tidak sebanding dengan kekacauan yang pernah kau buat di sekolah, di kampus juga masih banyak tempat lagi, jadi kau tidak perlu khawatir, aku sudah terbiasa.”


“Benarkah?” tanya Aria yang sontak menghentikan tangisannya dan mengangkat kepala memandang mata Suan saat itu.


“Tidak, mana mungkin aku terbiasa, aku hanya memakluminya saja.”


Suan mengkilah, ia tidak ingin Aria berpikiran bahwa dirinya tidak mempermasalahkan jika nanti wanita itu akan berbuat kekacauan lagi di masa depan.


“Aku pikir, kau pasti sangat membenciku saat ini.”


Aria mulai menundukan kepala sembari menggenggam erat gelas dengan salah satu tangannya.


“Bukankah aku telah mengatakan bahwa aku mencintaimu?” Suan meraih gelas dari tangan Aria lalu meletakannya kembali di atas meja.


“Suan!” Aria sedikit terkejut, wajahnya bahkan mulai memerah karena sangat malu mendengar ucapan dari laki-laki yang ia cintai.


Ia pikir bahwa dirinya masih tidak meyakini bahwa Suan kini telah membalas perasaannya yang begitu dalam sejak dari dahulu apalagi dengan perasaan aneh dan kekacauan yang dibuat oleh wanita tersebut akhir-akhir ini.


“Karena aku mencintaimu maka sedikitpun aku tidak membencimu.” Lanjut Suan sangat menyenangkan hati Aria hingga ingin sekali ia berlalu dari hadapan Suan dan melompat kegirangan, jika saja ia tidak memiliki luka pada lutut kakinya.


“Tapi kau pernah mengatakan kau sangat membenciku.”


“Karena kau tidak pernah berubah saat itu.”


Jawab Suan sedikit membuat Aria merasa kecewa.


“Tapi sekarang aku juga masih belum berubah, aku masih berbuat kekacauan untukmu.” Lirih Aria terdengar begitu sedih hingga ia mulai berbaring miring, memunggungi Suan.


“Entahlah, tapi sekarang aku tidak mempermasalahkannya.” Ucap Suan mulai berbaring terlentang di samping Aria, “bagiku kekacauan yang kau buat saat ini berbeda dengan kekacauan yang kau buat di masa lalu.” Lanjut Suan sembari tersenyum dan menoleh ke arah kepala belakang Aria lalu menciumnya.


“Kau telah berubah Aria, meskipun aneh, tapi sekarang kau terlihat memiliki hati, tidak seperti kau yang dulunya begitu tega.” Lanjut Suan lalu memiringkan tubuh menghadap ke arah Aria dan memeluk wanita tersebut dari belakang.


“Benarkah Suan?”


“Hm, benar.” Jawab Suan mengeratkan pelukan hingga Aria tersenyum begitu senang dan berusaha keras untuk menyembunyikannya.