
Kini dia telah pulih setelah seharian penuh berada di rumah sakit dan memikirkan nasib dirinya sendiri.
Dia yang telah keluar dari rumah sakit, saat ini terlihat sedang duduk di kursi belakang mobil, memandang Suan yang sedang berjalan bersama gadis yang telah laki-laki itu beli dari kejauhan melalui jendela kaca mobil.
Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi kecuali hanya menahan rasa cemburu yang bergejolak menyakiti hati.
Ia tidak ingin mati, tidak ingin dilupakan dan tidak ingin sendirian lagi maka dari itu, wanita tersebut memutuskan untuk menyerah mengejar cintanya.
“Jalan!” perintah Aria yang tak lagi melihat Suan dan gadisnya karena kedua orang tersebut telah memasuki sebuah restoran sederhana.
Piluh dan sesak, ia rasakan ketika mengingat kenangan bersama dengan Suan semasa hidupnya hingga air matanya mulai menetes tak tertahankan. "Hiks hiks,” dan dia menutup wajahnya yang menyedihkan itu dengan menggunakan kedua telapak tangan.
Mobil yang dikemudikan Supir Aria, membawa wanita yang kini telah menenangkan diri tersebut masuk ke dalam perumahan sederhana lalu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sedikit kumuh karena tidak terlalu terawat.
Hari itu, Aria berniat untuk meminta maaf karena sikapnya yang dia anggap keterlaluan terhadap Arkas di kantor Suan sebelumnya.
Ia yang telah menenangkan diri, perlahan-lahan melangkah kaki keluar dari mobil dengan membawa tas selempang kecil panjang di atas bahu dan menyuruh supirnya untuk pergi dari sana karena tidak ingin Arkas terganggu dengan mobil miliknya tersebut.
Wanita itu terus menunggu dengan sesekali berjalan kecil melihat-lihat keadaan perumahan yang tidak terlalu ramai tersebut lalu melangkah kembali ke rumah Arkas untuk melihat kemunculan dari orang yang ia tunggu.
Tidak sabar lagi, karena lelah menunggu, Aria yang tadinya enggan mengganggu Arkas dan lebih memilih untuk menunggu laki-laki itu muncul, saat itu mulai melangkah mendekati pintu.
Tokk.. tokkk..
Dia mengetuknya, lalu sedikit mengintip ke jendela kaca untuk melihat tanda-tanda orang di sana.
“Arkas!” panggil Aria, “ Ar..kas,” sepertinya Aria memang tidak bisa jauh dari Arkas lagi, Deg.. deguppp deguppp..Karena jantungnya kini terpacu kencang kembali dan perasaan aneh itu muncul menyakiti.
Keanehan itu muncul dimulai dari detak jantung dan rasa sakit yang perlahan-lahan semakin terasa kuat dan menyiksa.
Dia menyesal, menyerukan supir untuk pergi dari sana karena ternyata Arkas tidak sedang ada di rumah dan saat ini ia berada dalam bahaya.
Segera ia menghubungi Supirnya sembari berjalan keluar dari perumahan di sana, “kau dimana?” lalu bertanya ketika Supir wanita itu, mengangkat panggilan.
“Saya di jalan menuju ke rumah non, Nyonya menyuruh saya menjemputnya.” Jawab Supir Aria bersamaan dengan rasa sakit yang terus menyiksa.
“Bukankah ibu punya Supir sendiri?” tanya Aria yang terus berjalan kali ini mulai berlari.
“Saya tidak tahu non,” tidak banyak waktu yang ia miliki, jawaban Supir tersebut segera mengakhiri panggilan karena Aria harus segera menemui Arkas, “brengsek, sakit sekali.” Keluh Aria mulai berlari kencang sembari memikirkan keadaan Arkas agar rasa sakitnya berkurang.
Aria terus berlari kencang, mengabaikan siapapun yang melihat dan memanggilnya. Ia yang sengaja memakai sepatu tidak berhak bisa dengan cepat hampir sampai mendekati jalanan raya.
Crrrrriiiittt..
Bukkkk..
“Akhh,” sebelum sampai ke pinggiran jalan, sebuah mobil tiba-tiba berhenti mendadak, menghalanginya.
“Kemana saja kau?, ayahmu mencarimu.” teriak keras seseorang mengejutkan Aria yang tadinya akan melangkah lari lagi karena saat itu ia tidak memiliki waktu hanya untuk sekedar marah.
Aria tertegun, memandang Suan yang terlihat duduk di kursi pengemudi sembari membuka kaca pintu mobil, dan mengeluarkan sebagian tubuh keluar untuk melihat Aria.
“Hyper Yola.”
Ucap Aria memberitahukan tujuannya pergi, berharap Suan akan mengantarkan wanita itu ke tempat tujuannya.
“Apa?”
“Hyper Yola, antar aku ke hotel Hyper Yola.” Jawab Aria terlihat panik dengan keringat tubuh membasahi gaun selutut kaki berlengan panjang yang ia kenakan saat itu.
“Kau kira aku Supirmu?, aku datang kemari karena kau tidak bisa dihubungi oleh ayahmu lalu supirmu mengatakan bahwa kau ada di sini, aku datang untuk menjemputmu kembali bukan untuk mengantarkanmu...”
“Hm,” Angguk Aria memotong kalimat Suan lalu bergerak melangkah lari lagi mencari kendaraan umum menuju ke tempat Arkas berada saat ini, tanpa mempedulikan Suan yang lagi dan lagi dibuat terkejut dengan perubahan sikapnya.
“Aria!”
Aria tidak peduli, ia tahu bahwa Suan menolak permintaannya maka dari itu, ia memutuskan untuk menaiki kendaraan umum yang melintasi jalanan raya saja dibandingkan harus berdebat dengan Suan kembali saat itu.
Tuk.. tukkk... tukkkk langkahnya cepat.
Ia memasuki sebuah hotel mewah dengan di sambut begitu sopan oleh karyawan yang bekerja.
“Ikut aku ke kantor polisi!” sembari berjalan, Aria mendengarkan seruan orang dari kejauhan dan dia segera mendekati sumber suara tersebut.
“Sudah kubilang, bukan aku yang mencuri ponsel anda malam itu, Kenapa anda begitu memaksaku?" Suara Arkas yang begitu marah karena dituduh melakukan perbuatan yang tidak pernah ia lakukan, juga ikut terdengar hingga ke telinga Aria yang kini telah memasuki kerumunan dan mengejutkan orang-orang yang melihatnya.
"Dengan jelas aku melihatmu di dalam CCTV sebelum layarnya rusak, kau pikir kau bisa menyangkalnya?” bentakan keras terdengar di tengah-tengah orang-orang yang sedang berkerumun di sana.
"Benar, aku saksinya." Seorang Laki-laki yang mungkin adalah pegawai Hotel di sana, memberi kesaksian.
"Aku juga melihatnya." Seorang laki-laki lain juga tak kalah ikut menambahkan kesaksian.
Arkas mengepalkan tangan erat, matanya juga mulai memerah karena tidak dapat menahan tuduhan yang tidak mendasar, "Hanya karena, hanya karena aku melihat anda berbuat mesum dengan .....”
"Brengsek." Buuukk, belum sempat Arkas melanjutkan ucapannya, pukulan kepalan tangan telah mendarat di wajah hingga membuat laki-laki tersebut jatuh sebelum Aria sempat mendekatinya.
"Berisik sekali kalian ini." Aria yang kesal karena menahan rasa sakit, kini telah berdiri di tempat pertengkaran. "Sayang, siapa yang berani memukulmu?" bentak wanita itu berpura-pura marah dengan wajah Khawatirnya yang terlihat jelas karena sedari tadi ia memang memikirkan keadaan Arkas.
"Nona Anderston.” Seru laki-laki separuh baya yang tadinya memukul wajah Arkas, terkejut. Sepertinya ia mengenali Aria karena memang Aria sendiri berasal dari keluarga terpandang di kota mereka.
“Kau, hmm, jadi kau yang memukul kekasihku, Berani sekali kau melakukannya." Bentak Aria lagi lalu berjalan cepat mendekati Arkas dan berusaha membantu laki-laki yang tadinya terjatuh tersebut untuk berdiri kembali.
"Kekasihmu?" Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar, mengejutkan Arkas yang langsung mendorong Aria hingga tubuh Aria terjatuh, menjauhinya. “Jadi kau berbohong lagi ya?”
"Rena, bukan begitu,” Arkas segera berdiri lalu melangkah ketika melihat wanita yang ia cintai pergi dari sana.
"Nona Anderston, jangan salah paham dulu, laki-laki inilah yang salah, dia telah mencuri ponsel saya tadi malam." Laki-laki separuh baya itu membela diri. Dia bahkan telah berhasil menghentikan langkah cepat Arkas dan menahan laki-laki itu untuk tidak pergi.
Aria yang sedang berusaha keras untuk menahan rasa malu karena perilaku keterlaluan Arkas dan tidak sedikitpun mengurangi niat untuk menolong laki-laki itu, mulai berdiri, "Mencuri, huh?" lalu membersihkan tangannya yang kotor. "Jelas-jelas tadi malam aku bersama dengannya, bagaimana mungkin dia bisa mencuri barang milikmu?”
"Nona, saya bahkan memiliki Saksi.”
"Baiklah kalau kau memaksa, berikan data CCTV yang kau bilang rusak tadi?, aku akan memperbaikinya lalu jika aku tidak melihat ia mencuri seperti yang kau tuduhkan tadi, maka jangan salahkan aku, jika aku berbuat sesuatu padamu karena kau telah berani menuduh kekasihku.”
“Kau ini bicara apa, brengsek?” maki Arkas cepat, berusaha keras melepaskan tubuhnya dari tangan laki-laki separuh baya yang tampak mulai takut dengan ancaman Aria.
“Kau, saksi-saksi palsumu itu, akan kupastikan tidak ada tempat yang layak bagi kalian untuk tinggal lagi di kota ini.” Lanjut Aria memberikan ancaman tanpa mempedulikan kemarahan Arkas yang kini telah terlepas dari genggaman tangan laki-laki separuh baya di belakangnya.
“Kau, kau pikir aku akan berterima kasih padamu, berhentilah ikut campur urusanmu, sialan!” bentak Arkas marah lalu bergerak cepat meninggalkan Aria untuk mengejar wanita yang ia cintai kembali.
"Nona, bukankah Laki-laki brengsek itu sudah sangat keterlaluan kepada anda?”
"Diamlah!" bentak Aria, berulang kali mengejutkan laki-laki separuh baya yang tampak telah takut untuk menghadapinya, "Kuperingatkan padamu, jangan pernah sedikitpun mengganggunya apalagi sampai menuduhnya atau kau pasti, tidak akan pernah kulepaskan lagi.” Lanjut Aria mulai melangkah kaki. Orang-orang yang tadinya berkerumunan dengan cepat memberikan jalur lewat untuknya. Semua orang di sana juga terlihat menunduk ketika Aria melewati mereka.
Tukk tukkk...terus melangkah hingga kakinya terhenti ketika mendapati Suan di depan mata.
“Huh,”
“Sudah selesai keributannya?” tanya Suan terlihat sedang menahan amarah kepada wanita tersebut.
Tanpa menjawab pertanyaan, Aria yang enggan lagi berurusan dengan laki-laki tersebut melanjutkan langkahnya dan melewati Suan begitu saja.
Tetapi sayang,
“Haa.”
Tangannya tergenggam erat, "Suan, apa yang kau lakukan, lepaskan!" dan Aria tidak lagi dapat melanjutkan langkah.
"Aku bilang pulang, kau dengar?” Suan memandang geram, ia menarik paksa Aria untuk mengikuti langkahnya.
"Aku akan pulang sendiri." Jawab Aria berusaha melepaskan tangan Suan namun tidak kuasa. “Suan, lepaskan!” Aria menghentikan langkah, ia tidak lagi peduli jika ia akan jatuh nantinya. Melihat sikap keras kepala Aria yang menolak mengikutinya, dengan sigap Suan mengangkat tubuh wanita itu dan meletakannya di atas bahu. “Suan, hei Suan, turunkan aku!” baaakkk baakkk Aria meronta-ronta, ia memukuli punggung Suan berkali-kali dengan keras agar laki-laki itu segera melepaskannya. Tetapi sayang, bukannya melepaskan, gerakan langkah Suan malah semakin dipercepat untuk berjalan mendekati mobilnya yang telah terparkir.