
Hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang di pagi hari, terdengar begitu ramai. Jalanan kota tampak dipenuhi oleh orang-orang yang akan memulai aktivitas dan juga pekerjaan mereka.
Di perkarangan gedung, terlihat para karyawan perusahaan berdatangan silih berganti.
Sebagian dari mereka tampak berjalan karena mungkin mereka menumpangi bus kota untuk sampai ke perusahaan, sebagian karyawan lain tampak menggunakan kendaraan masing-masing.
Di depan bangunan perusahaan, terdapat sebuah taman kecil yang hanya diisi rerumputan hias dan pohon-pohon besar.
Ada beberapa bangku panjang di sana, mungkin bangku tersebut diperuntukkan untuk karyawan perusahaan yang ingin menenangkan diri ataupun mengobrol ketika jam istirahat kerja tiba.
Di tempat tersebut,
Aria tampak berdiri di samping seorang wanita yang sedang membersihkan dedaunan kering di atas rerumputan hias di sana.
Setiap kali wanita itu berjalan, setiap kali pulalah Aria mengikutnya.
Wanita itu adalah Rena, dia yang tadinya memegang sapu dan sekop sembari membersihkan dedaunan kering, mulai menghentikan kegiatan menyapunya kemudian memandang Aria di sampingnya.
“Kenapa kau terus mengikutiku?, kau tidak bosan menghinaku, ya?”
Rena yang kesal, mulai mengatakan isi hati yang sedari tadi ia pendam kepada Aria.
“Entahlah, kalau itu menyenangkan maka akan kulakukan, itu saja.”
Aria tersenyum remeh, ia yang berdiri mulai berbalik, menghadap ke arah jalanan kota.
“Jadi menurutmu, menyenangkan menghinaku, begitu?”
“Hm,” Jawab Aria yang mulai melangkah ketika Rena telah berpindah ke tempat kotor lainnya.
“Kau ini aneh sekali.”
Ucap Rena yang telah menyapu dedaunan dan sampah dan memasukannya ke dalam sekop lalu berjalan ke arah tong sampah yang tidak jauh dari tempatnya berada diikuti oleh Aria.
“Entahlah, aku saja baru menyadari bahwa aku sendiri ternyata aneh.”
Jawaban Aria membuat Rena tersenyum kecut. Setelah membuang sampah pada tempatnya, wanita itu mulai mendekati bangku dan duduk di atasnya sembari melihat jalanan kota dan meneguk air mineral dari dalam botol yang tadinya ia bawa.
“Orang aneh mengakui diri sendiri aneh, bodoh sekali.” Rena tertawa kecil, ia menyembunyikannya dari Aria yang tampak memandang jalanan kota dengan tatapan kosong.
“Aku pikir hidup ini melelahkan, ketika semua keinginanmu terpenuhi, hidup ini menjadi membosankan. Lalu ketika tidak ada orang yang menyakiti, rasanya tidak akan mungkin ada emosi, lalu hidup semakin membosankan.”
Jelas Aria yang mulai menoleh ke arah Rena saat itu.
“Kau ini bodoh sekali, hidup ini indah jika kau kaya, kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau, kau bisa berpergian kemanapun yang kau mau, hatimu tidak akan kosong lagi, bahkan kau bisa membeli orang yang kau cintai.”
Sehelai daun kering tampak turun di depan Aria.
Aria memandanginya dengan seksama lalu menoleh sejenak ke arah Rena yang ada di sampingnya dan menghela nafas berat ketika ia telah memandang jalanan kota kembali.
“Beruntung sekali kalau aku bisa merasakan itu semua.” Ucap Aria sembari tersenyum pahit dan menyelonjorkan kaki sejenak.
Ucapannya tersebut mampu membuat Rena sedikit terkejut lalu memandangi wajah samping Aria dengan kebingungan.
“Apa maksudmu?”
“Entah mengapa, bagiku itu semua melelahkan.” Jawab Aria sembari tersenyum lembut dan menoleh ke arah Rena hingga kedua mata mereka saling berhadapan.
“Ketika berpergian, rasanya sangat lelah kecuali jika aku pergi bersama Suan. Pergi kemanapun itu, bertemu dengan siapapun itu, bagiku rasanya sangat melelahkan, benar-benar aneh aku ini. Aku tidak dapat menikmati rasa indah itu kecuali hanya jika aku bersama Suan saja.”
Jawab Aria lalu berdiri dan memandang sesuatu dengan begitu seksama.
“Iya, memang benar kau aneh, sangat aneh sekali.” Sindir Rena yang mulai berdiri dan melangkahkan kaki. “ Aku jadi sangat penasaran dengan Suan yang sangat kau cintai itu. Seberapa tampan ia sampai mampu menghilangkan keanehanmu itu.” Lanjut Rena yang telah berjalan sedikit jauh, untuk memasuki gedung perusahaan kembali.
“kenapa kau masih berdiri?, ayo masuk!”
Ajak Rena karena melihat Aria tetap tidak bergeming dari tepatnya.
Karena tak kunjung melihat Aria bergerak juga, wanita tersebut terpaksa menghampirinya, “kenapa kau diam saja?” lalu menyentuh tangan Aria hingga wanita tersebut mulai mengalihkan pandangan ke arah Rena.
“Ah maaf.” Ucap Aria yang mulai menoleh ke arah Rena di sampingnya, “aku hanya sedang melihat Arkas menyebrang jalan tadi.” Lanjut wanita itu mulai melangkah diikuti oleh Rena menuju ke halaman bangunan perusahaan.
Mereka terus melangkah hingga melihat Harry berjalan di depan gedung, “apa yang kau lakukan di sini?” tanya Aria pada Harry yang telah menghentikan langkah menuju ke ke pintu masuk utama bangunan.
“Tadi mobilku mogok di seberang jalan, beruntungnya masih di dekat kantor. Dan kau, apa yang.....”
Harry terkejut, begitupula dengan Rena ketika melihat Aria tiba-tiba berlari kencang melepaskan sepatu menuju jalanan kota, “ Aria!” panggil Harry mulai khawatir saat itu dan berusaha mengejarnya.
Crrrriiiittt....
Baakkkk...
***********
Pagi itu Suan tampak duduk di ruang pribadi pemilik perusahaan yang tampak duduk di hadapannya.
Sesekali ia menghirup teh hijau dari gelas kaca kecil sembari mendengarkan laki-laki tua di depannya berbicara.
“Padahal aku ingin sekali memberimu gaji, tapi kenapa kau merasa sangat cukup hanya dengan pembagian hasil pendapatan saja?” Laki-laki tua itu tersenyum senang, ia begitu menyukai Suan meskipun di masa lalu ia pernah membenci laki-laki yang di pilih oleh Orion Anderston untuk menjadi pasangan cucu kesayangannya.
“Anggap saja gajiku sebagai ganti atas kekacauan yang dibuat oleh calon istriku di perusahaan ini, “ Suan membalas senyuman laki-laki tua sembari meletakan gelas di atas meja, “ walaubagaimanapun Aria adalah tanggung jawabku dan cucu anda sedikitpun tidak ada kesempatan untuk mengambilnya dariku.” Ucap Suan menambahkan senyuman di bibirnya yang memaknai bahwa sebenarnya dirinya sedang memberikan sindiran.
Laki-laki tua di hadapannya sedikit terkejut, “hahaha.” Lalu tertawa dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Suan, “Kau sudah menang tanpa harus menyingkirkan lawan, hahaha.” Lanjutnya tertawa, ia benar-benar menyukai ambisi kuat Suan yang bahkan tanpa segan mengutarakan pendapatnya.
“Meskipun bukan saingan, tapi sepertinya aku masih harus berjuang.”
Ucap Suan mulai berdiri ketika laki-laki tua telah berdiri saat seorang dewan Direksi memasuki ruangan tersebut.
“Suan!”
“Ayah, kau di sini?”
Suan memandang ayahnya yang telah datang mendekat lalu menyalami laki-laki tua di depan Suan.
“Kapan kau kembali?, bukankah seharusnya kau mengurus perusahaan keluarga Dikintama saja?” Lontaran pertanyaan dia berikan pada Suan yang tampak tersenyum remeh hari itu.
“Kapanpun aku mau, aku akan melakukannya karena sekarang aku telah bebas melakukan apapun yang kumau.” Bisik Suan mengejutkan ayahnya, laki-laki tersebut bahkan menatap ayahnya dengan tatapan kepuasan penuh, “karena ayahku telah bergabung, sebaiknya aku kembali bekerja.” Lalu meminta izin untuk kembali ke ruangannya.
“Oh baiklah,” ucap laki-laki tua di depannya sembari mulai duduk di kursi dan memandang kepergian Suan dari sana.
Suan terus berjalan, ia berniat mencari Aria untuk menghilangkan rasa rindunya. Saat itu, laki-laki tersebut telah masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai bangunan tempat biasa wanitanya duduk bersama temannya.
Walaubagaimanapun, Suan memang sering memperhatikan Aria melalui CCTV komputer untuk menghilangkan rasa gelisah karena perubahan perilaku wanita yang ia cintai akhir-akhir ini.
“Aku melihatnya, Wanita simpanan direktur Suan tertabrak mobil.”
Suara seorang karyawan mengejutkan Suan saat pintu liftnya terbuka.
“Tapi aneh sekali, dia tetap berlari padahal tubuhnya terluka.” Lanjut karyawan tersebut hingga membuat Suan mulai panik lalu menutup pintu lift kembali menuju ke lantai pertama bangunan.
Tiiiittt...
Setelah sampai,
Ia melihat ada banyak orang berkerumunan di perkarangan rumah, “Minggir!” bentaknya yang telah melangkah, menyerukan karyawan untuk memberikan jalan padanya, lalu setelahnya, ia berlari kencang menuju jalanan kota yang sangat ramai.
“Dia benar-benar ingin mati, ya?.”
Seru seorang pengendara mobil ketika melihat Aria sedang berlari pincang di sebarang jalan.
Suan terus berlari dan melihat Harry telah berlari terlebih dahulu di jalanan kota untuk mengejar Aria tadinya.
“Aria!”
Panggil Suan penuh kekhawatiran melewati mobil-mobil yang berhenti karena kemacetan lalu lintas akibat kecelakaan yang telah terjadi, “ Aria!”
“Aria!” teriakan Harry juga tak kalah keras saat itu, hingga langkah Harry terhenti ketika Aria telah sampai di dekat mobilnya yang mogok dan menghampiri Arkas serta supirnya.
“Kau ingin membunuhnya, ya?, haaaa brengsek berani sekali kau ingin membunuhnya, paaakkk... paaakkk..” bentak Aria membuat Arkas terkejut karena wanita tersebut tiba-tiba datang lalu memukuli keras Supir Harry.
“Aria, apa yang kau lakukan?” Bentak marah Arkas mendorong tubuh Aria yang lemah karena luka di kaki dan juga benturan di kepala hingga wanita itu jatuh terbaring ke jalanan aspal dan disaksikan oleh banyaknya pengendara lalu lintas di seberang mereka.
“Dia, haa hikss..” Aria segera duduk,” dia ingin membunuhmu hiks hiks.” Lalu mengutarakan maksud tujuannya memukuli supir Harry saat itu.