
Bandara hari itu sangat sepi karena telah di pesan khusus untuk menyambut kepulangan Suan dan para rekan kerjanya dari luar negeri.
Puluhan karyawan perusahaan Dikintama terlihat berhamburan keluar dari dalam mobil dan melangkah memasuki Hall, Area khusus penjemputan para penumpang pesawat yang keluar dari terminal kedatangan.
Semua orang berdiri berjejer begitu Rapi dan saling berhadapan, begitupula dengan Aria yang turut bergabung di dalamnya.
Mereka menunggu kedatangan pemimpin perusahaan mereka kembali dengan rasa gembira yang tak terkira.
Para Dewan Direksi tampak berdiri berkerumun, mereka terlihat berbincang-bincang sembari sesekali melihat ke arah jam tangan.
“Oke,”
“I want to try one more time after finishing the data.”
“Oke i see.”
Suara yang ditunggu-tunggu Aria akhirnya terdengar.
Dia berjalan diikuti oleh belasan orang yang tampak melangkah keluar dari pintu terminal kedatangan.
Semua karyawan mulai menundukan kepala mereka bersamaan para Dewan Direksi yang telah menyambut dan menghampiri para rekan kerja yang dibawa oleh Suan dengan menyalami satu persatu mereka yang datang.
Beberapa karyawan mulai melangkah lalu menawarkan diri untuk membawakan koper pada mereka.
Langkah mereka terhenti sejenak menerima sambutan dan bantuan serta pertolongan para pekerja dari perusahaan Dikintama lalu bergerak kembali melewati Aria yang masih menunduk dan tersenyum bahagia.
Dia akan menunggu Suan di Apartemennya.
Syukurlah dia pulang.
Gumam Aria di dalam hati begitu bahagia.
“Aku pulang,”
Aria mengangkat kepala ketika kacamatanya diraih seseorang dan ia benar-benar mengenali suara orang yang berdiri di depannya.
Mata Aria berkaca-kaca, ia melihat Suan memberikan kacamatanya pada Elbram yang tersenyum ceria pada Aria.
Air mata kerinduan tak lagi mampu terbendung sore hari itu.
“Kemarilah!”
Perintah Suan disaksikan banyak orang yang sebagiannya tampak sangat terkejut.
Perlahan-lahan Aria melangkah menahan rasa sakit dikaki yang tidak lagi seberapa, lalu menundukan kepala dan mulai bersandar pada dada Suan yang telah memeluknya.
“Hikss hikss..”
“Who is she?”
Seorang laki-laki berkewarganegaraan asing tampak datang menghampiri Suan dan bertanya.
Suan yang masih memeluk Aria dan membiarkan wanita itu menangis di dadanya, menoleh ke arah samping dimana laki-laki itu berada, “ She is my wife.”
Jawab Suan sembari tersenyum senang kemudian memandang ujung kepala Aria.
“Oh Really, I think you are still single.”
“No, i am a husband.”
Suan tersenyum lucu karena ketika ia ingin melepaskan pelukan, Aria menolaknya.
Ia berpikir bahwa mungkin saat itu Aria sedang sangat malu.
“You are marvelouse, brother.”
“Haha thank you.” Suan terkekeh pelan, lalu melepaskan kembali pelukan Aria dengan cepat, “Kau kurus sekali.” Ucap laki-laki itu sembari memegang kedua leher Aria dan membuat wanita itu menengadah kepala, “Maaf membuatmu lama menunggu.” Ucap Suan memeluk Aria kembali.
Aria menganggukan kepala berkali dipelukan Suan, ia tidak dapat lagi berucap sepatah katapun.
Dalam jangka waktu cukup lama, perilaku mereka berdua disaksikan begitu banyak orang.
“Suan has a wife?”
“ He said like that.”
“Oh my god, i have just known it.”
“Me too.”
Suara bisikan yang terdengar, Suan abaikan. Ia meraih tangan Aria dan menggenggamnya. “ Ayo pulang!” lalu mengajak Aria untuk melangkah kaki.
Namun kaki Aria yang begitu sakit tampak tertatih hingga membuat Suan menyadarinya dan memandang kedua lutut kaki Aria yang terpasangkan plester.
“Apa yang kau lakukan sampai terluka seperti ini lagi?”
Hati yang bahagia saat itu merasa sedikit kesal, Suan mulai berjongkok, dan hal itu semakin mengejutkan semua orang di sana.
“Suan, What do you do?”
“Suan, let me do that to you.”
Seorang rekan kerja mulai menawarkan diri untuk membawa Aria, menggantikan Suan saat itu.
“No , I am used to do.”
Suan menolaknya sembari menoleh ke arah Aria yang tak kunjung naik ke atas punggung Suan.
“Naiklah, kau ingin aku malu ya?”
Ucap Suan memaksa hingga mau tidak mau Aria menghempaskan tubuh dipunggung Suan dan memeluk leher laki-laki yang telah berdiri dan melangkah kaki diikuti oleh para rekan kerja, para dewan direksi dan juga para karyawan perusahaan Dikintama, membawa Aria keluar dari bandara.
Langkah mereka terus bergerak hingga seorang karyawan membukakan sebuah pintu mobil untuk Suan masuk, namun Suan yang membawa Aria di atas punggungnya tak kunjung masuk ke dalam mobil.
Ia tampak menunggu kedatangan seseorang yang terlihat berjalan diikuti beberapa orang tentara penjaga, datang mendekati.
“Akhirnya kau kembali.”
Suan menundukan kepala sejenak, ia begitu sangat sopan melakukannya.
“Pak walikota, maaf tidak menjawab panggilan anda waktu itu.”
Suan mengangkat tubuh Aria lebih naik ke atas, ia melarang wanita itu untuk turun ke bawah.
“Tidak masalah, bagaimana kalau kau membayarnya dengan menerima undangan makan malam dariku hari ini?”
Laki-laki paruh baya itu melontarkan senyumannya, ia begitu berharap Suan menerima ajakannya.
“Ah,” Suan tersenyum lembut, “saya benar-benar minta maaf, pak. Istri saya sedang sakit dan saya sudah lama tidak berada di dekatnya, maka dari itu saya benar-benar menyesal tidak dapat menerima undangan anda.”
“Istri?”
Laki-laki di depan Suan terkejut, ia memandang Aria yang terlihat menundukan kepala dan enggan untuk memandang mata laki-laki itu.
“aku tidak pernah mendengar kalian telah menikah.”
“Kami sudah menikah, hanya saja belum mengumumkannya.”
Akui Suan hingga Aria begitu malu mendengar ucapannya lalu turun dari punggung Suan dan menyembunyikan wajah di belakang laki-laki tersebut.
“Oh jadi begitu ya, “ Laki-laki di depan Suan terlihat berwajah kecewa, namun sejenak saja lalu ia mulai tersenyum kembali, “baiklah, kapan ada waktu hubungi aku, ya?, aku akan meluangkan waktu untuk makan bersamamu dan kita akan membicarakan sedikit bisnis bersama.”
“Hm, baiklah pak dan terima kasih atas pengertiannya.” Suan menundukan kepala dengan sangat sopan, hal itu membuat laki-laki di hadapannya sangat menyukai perilaku laki-laki tersebut.
Pakk paakk..
Laki-laki itu menepuk lengan samping Suan berkali-kali, “Kalau begitu aku akan kembali dan jangan lupa untuk menghubungiku.”
Ucapnya memberi pesan lalu tersenyum ketika melihat Suan menganggukan kepala kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan laki-laki yang telah membawa Aria masuk ke dalam mobil lalu pintu mobil ditutup segera oleh karyawan Suan dan mobil yang dikemudi karyawan lain mulai melaju meninggalkan bandara kota tersebut.
*********
Aria benar-benar tidak ingin melepaskan Suan bahkan untuk berdiri dan berbicara pada dokter di hadapan mereka sekalipun, Aria tidak mengizinkannya.
Wanita itu terlihat duduk di atas sofa sembari membenamkan wajahnya di lengan tangan Suan ketika dokter telah menyuntikan cairan antibiotik ke samping lutut kaki yang terbuka.
Aria memang telah membersihkan diri dan berganti pakaian menggunakan piyama bercelana pendek maka dari itu, tidak sulit bagi dokter untuk memberikan obat pada wanita itu.
“Rasa nyerinya akan berkurang tapi sebaiknya dia jangan terlalu sering berjalan.”
Dokter yang berdiri itu memberikan resep obat pada Suan yang terpaksa menerima dengan tangan kiri karena tangan kanannya dipeluk erat oleh Aria dan tidak ingin dilepaskan.
“Baiklah aku mengerti, “ Suan meraih ponsel lalu memotret resep obat dengan tangan kirinya dan mengirimkan gambar tersebut ke nomor whatsapp Elbram, memerintahkan temannya untuk segera menebus resep tersebut.
Dokter yang telah merapikan barang-barangnya segera berlalu, ia tahu bahwa dirinya mungkin akan mengganggu jika berlama-lama berada di sana meskipun sebenarnya ia masih ingin mengobrol dengan Suan sebentar saja. Walau bagaimanapun dia dan Suan memang telah menjalin pertemanan cukup lama.
“Berhentilah menangis, kau tidak lelah ya?”
Suan tersenyum lucu, ia berusaha melepaskan pelukan tangan Aria tapi wanita itu menolaknya.
“Aku merindukanmu, biarkan aku melihat wajahmu!”
Suan bahkan sampai meminta namun Aria tidak kunjung ingin lepas darinya.
“Aria!”
“Hikss hikkss lama sekali kau kembali, aku takut sendirian.”
Aria mulai membuka Suara namun ia enggan untuk melihat Suan saat itu, “kakek sudah tidak ada, entah mengapa aku merasa ibuku bukanlah ibu kandungku, lalu ayahku, dia terus sibuk bekerja, dari dulu dia bahkan tidak banyak meluangkan waktu untukku, aku takut sekali Suan, aku takut jika kau meninggalkanku, aku tidak lagi memiliki siapapun di sampingku.”
Air mata Aria mengalir deras kembali, berkali-kali ia mengusapnya di kulit tangan Suan yang hanya memakai piyama berlengan pendek.
“Kau ini bicara apa?, aku sengaja tidak mengaktifkan ponsel agar pekerjaanku cepat selesai, lihatlah!”
Suan melepas tangan Aria lalu menggerakan tubuhnya menyamping dan memegang kedua leher Aria, memaksa wanita itu untuk memandangnya, “belum sampai sebulan, aku sudah kembali, bukan?”
“Jangan tinggalkan aku lagi Suan,” Aria tidak mempedulikan perkataan Suan, dia hanya melepaskan kepala dari kedua tangan Suan lalu memeluk laki-laki tersebut hingga Suan hanya bisa menghela nafas karena Aria yang tidak mengindahkan perkataannya.