Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Berpura-pura akrab



Malam begitu cepat berlalu bagi mereka yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, meskipun demikian, itu tidak berlaku bagi Aria yang sedari tadi menunggu waktu berlalu hanya untuk bertemu dengan Suan.


Perlahan-lahan mobil berwarna Silver mendekati pintu utama gedung perusahaan keluarga Harry lalu berhenti ketika telah berada tepat di depannya.


Dengan langkah sigap, seorang penjaga keamanan datang lalu membukakan pintu untuk Harry,


“Aku ingin bicara padamu.”


“Aku?” tanya Aria sembari tersenyum senang karena tidak biasanya Arkas meminta untuk berbicara padanya.


“Direktur, kau mengizinkannya, bukan?” tanya Arkas sembari menoleh ke arah Harry yang tampak bereaksi terkejut sembari tersenyum tipis, sangat ragu ia menjawab.


“Kenapa harus meminta Izin padanya?, ayo kita bicara!” Ucap Aria yang mulai menarik handel pintu lalu keluar dari mobil Harry ketika pintu telah terbuka.


Harry yang masih duduk saat itu tampak kebingungan karena merasa takut jika Suan mengetahui hal tersebut, temannya itu akan mencari cara untuk melukai Asistennya kembali.


“Ahh, Kenapa aku harus susah seperti ini?” keluh Harry lalu keluar dari mobil dan melangkah kaki mengikuti kedua orang yang ia bawa, untuk memperhatikan mereka dari kejauhan agar Suan tidak marah padanya nanti.


Terus melangkah, lalu berhenti dan bersandar di dinding pos penjaga,


“Apa yang kau lakukan pada Rena?” lalu mulai memasang telinga dan mendengarkan percakapan Aria dan Arkas yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Aku?, hm,” Aria tersenyum kecut, ia mulai melipat tangan lalu membuang wajah, enggan untuk melihat kecurigaan Arkas, “...memangnya tadi kau tidak lihat ya, aku dan dia tidak sedang bertengkar.” Jawab Aria begitu santai sembari menoleh sejenak ke arah Arkas kemudian membuang wajahnya kembali.


“Pasti kau telah melakukan sesuatu hal padanya, iyakan?” tuduh Arkas membuat Aria mulai terpancing emosi.


“Tidak bisakah sehari saja kau berpikiran baik tentangku?” pinta Aria yang telah melepaskan tangan dari dada lalu memandang Arkas penuh dengan amarah yang ia tahan. “Aku tidak melakukan apapun padanya, aku benar-benar tidak melakukannya, masih belum mengerti ya?” Jawab Aria dengan nada keras, begitu kesal dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Arkas saat itu.


“Tolong, jangan ganggu dia!” nada bicara Arkas terdengar berubah, laki-laki itu mulai menghadapkan tubuh ke samping dan mengantungi kedua tangan ke dalam kantung celana.


“Hm, tenang saja.” Jawab Aria menganggukan kepala sembari mengacak-acak rambut Arkas yang langsung ditepis oleh laki-laki tersebut.


“kenapa kau menyentuh kepalaku?”


“Karena aku menganggapmu sebagai adikku.” Jawab cepat Aria ketika mendengar pertanyaan kesal Arkas saat itu.


“Memangnya berapa usiamu sekarang?” tanya Arkas bersamaan dengan Aria yang telah memeluk tubuhnya sendiri karena angin malam tiba-tiba membuat tubuhnya yang hanya mengenakan Blouse berlengan pendek, menggigil.


“28 tahun, aku kakakmu bukan?”


“Aku juga 28 tahun,” jawab Arkas sembari memandang tubuh menggigil Aria, “ aku tidak akan memberikan jaketku.”


“Kau ini pelit sekali,” sindir Aria kesal, “aku lahir di bulan Mei,” lalu memberitahukan bulan kelahirannya.


“Hm, kau lebih tua dua bulan dari aku.” Jawab Arkas masih enggan memberikan jaket yang ia kenakan padahal wajah Aria mulai pucat saat itu.


“Hm, benarkan, aku adalah kakakmu? jadi anggap saja aku sebagai kakakmu.”


“Maaf saja, aku tidak mau.”


Arkas mulai merasa kasihan, perlahan-lahan ia membuka jaketnya namun tangannya terhenti ketika sebuah mobil datang mendekati mereka.


Mobil itu adalah mobil mewah milik Suan.


“Sudah ya!, kita lanjutkan besok lagi dan percayalah padaku, aku tidak melakukan apapun pada Rena.”


Ucap Aria mulai masuk ke dalam mobil ketika Supir Suan membukakan pintu untuknya.


“Aku tidak percaya padamu.” Gumam Arkas pelan.


“Kau pelit sekali,” lalu terkejut ketika mendengar suara Harry yang tampak kesal karena laki-laki tersebut terus menahan jaketnya padahal ia telah mengetahui bahwa Aria saat itu kedinginan.


“Maafkan saya Direktur,” Ucap Arkas mengikuti langkah Harry memasuki gedung perusahaan saat itu.


“Tapi itu lebih baik, agar Suan percaya bahwa kau sedikitpun tidak menyukai Aria.” Lanjut Harry yang terus melangkah, membuat Arkas tersenyum memahami ucapannya saat itu.


**********


Suan tersenyum tipis,


“Turunkan suhu Ac!” lalu memberikan perintah pada Supirnya kemudian membuka jas yang ia kenakan dan menyelimutkan benda itu ke tubuh Aria.


“Suan, aku sangat merindukanmu.” Ucap Aria yang telah merasa hangat lalu bersandar pada bahu Suan yang telah memeluk pinggang wanita itu dan mendekatkan tubuh Aria ke samping tubuhnya.


“Apa yang kau bicarakan padanya?” tanya Suan sangat penasaran, mata laki-laki menatap ke arah Aria dengan tatapan dingin dan sedikit marah.


Mungkin saja, saat itu dia sedang cemburu.


“Rena, hmmm kekasih Arkas, bukan, ” Aria terlihat berpikir ketika berucap, hal itu sontak membuat Suan tersenyum senang dan hatinya yang tadinya buruk mungkin perlahan-lahan membaik, “... wanita yang dicintai Arkas, dia bekerja sebagai Sales di Mall, kami hanya membicarakan tentang dirinya.” Aria mulai mendapatkan ide, ia yang bersandar mulai menegakan tubuh lalu memandang Suan yang tampak menoleh kepala ke arahnya, “Suan, aku tidak ingin ikut Harry lagi, itu melelahkan dan aku tidak menyenanginya jadi, biarkan wanita yang dicintai Arkas bekerja di perusahaan ini, aku mohon. Lebih baik setiap hari aku bertengkar saja dengannya daripada harus menunggumu ataupun mengikuti Harry.” Pinta Wanita itu sedikit mengejutkan Suan saat itu.


“Jadi begitu ya?”


“Hm, Suan aku mohon.” Pinta Aria dengan sangat, begitu memelas hingga Suan tidak dapat menolak permintaannya tersebut.


“Aku akan mengatakannya pada Elbram nanti untuk menempatkan posisi terbaik untuknya.” Jawab Suan menyenangkan hati Aria yang langsung kegirangan dan kembali menyandarkan kepala pada bahu laki-laki yang ia cintai tersebut.


**********


“Kau tahu, sebenarnya menjadi SPG itu lebih baik dibandingkan menjadi karyawan Cleaning Service seperti ini, kenapa kau tega sekali menempatkanku di posisi ini, Aria?”


“Hmm, kasihan!”


Hina Aria yang tampak duduk dengan santai di depan toilet saat itu sembari memandang Rena yang tampak sedang mengepel lantai.


“Kau benar-benar keterlaluan, kau pasti sangat senang melihat penderitaanku saat ini, bukan?”


Tuduh Rena begitu kesal, taakkk.. lalu melepaskan alat pengepel hingga jatuh ke atas lantai kemudian duduk sembari meneguk sebotol air mineral dan memandang Aria yang tampak memandanginya dengan memakan sebuah permen lolipop dan tersenyum bahagia.


“Hm, aku sangat senang.” Jawab santai Aria sembari melontarkan senyuman lembut namun tidak membuat Rena menyenanginya.


“Rena, kau bekerja di sini?”


Arkas yang tadinya hendak ke toilet dibuat terkejut dengan adanya Rena di sana.


“Hm, aku baik padamu, bukan?” tanya Aria pada Rena yang saat itu semakin bertambah kesal lalu memaksakan diri untuk tersenyum.


“Aria, kau memang baik sekali, aku bahkan tidak menyangka bisa bekerja di perusahaan besar seperti ini walau hanya sebagai Cleaning Service biasa.”


Puji Rena dengan terpaksa lalu mulai melanjutkan kembali pekerjaannya.


“Aria,”


“Aku bilang aku tidak melakukan apapun, aku hanya mengusahakan yang terbaik untuk Rena agar dia tidak perlu lagi bersusah payah berdiri di Mall, dan bertemu dengan laki-laki hidung belang di sana. Harusnya kau mengerti itu, Arkas.”


Jelas Aria yang merasa Arkas akan menghinanya kembali sembari berdiri geram, lalu melangkah mendekati tong sampah dan membuang gagang lolipop di sana,


“Lihat!, aku tidak menyuruhnya membuang bekas makananku, bukan?, aku dengan tulus hati membantunya tetapi kenapa kau masih tidak percaya padaku?”


Tambah Aria semakin membuat Rena merasa kesal saat itu.


“Bukan begitu,” Ucap Arkas dengan raut wajah yang sedikit berbeda saat itu.


“Aria, terima kasih ya.” Lalu mengucapkan kata yang menyenangkan hati Aria tapi tidak dengan Rena.


“Hm,” angguk Aria mengiyakan, “ tenang saja Arkas, sebagai kakakmu, aku akan melakukan yang terbaik untuk melindungi sahabatku ini, “ lanjut Aria sembari menepuk-nepuk bahu Rena yang masih mengepel lantai di sampingnya.


“Baiklah, mulai sekarang aku akan mengakuimu sebagai kakakku.” Ucap Arkas sembari tersenyum lembut pada Aria yang langsung membalas senyumannya dengan balasan yang sama.


“Aria, kau benar-benar memuakan.” Ucap kesal Rena yang telah duduk di atas kursi ketika Arkas telah berlalu dari sana.


“Mau bagaimana lagi, begitulah caraku berakting.” Jawab santai Aria yang telah duduk di samping Rena sembari membuka bungkus permen lolipop yang baru.