Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Berhentilah Berbohong!



Deg..”Akhh..” degupp.. degupp.. degup..


“Akh,” dia mengerang sembari memegangi dadanya yang terasa sakit.


“Haa..” matanya berkedip berkali-kali menahan rasa panik yang menyelimuti jiwa.


Dia masih ingin memangku kepala Suan, dia masih ingin berada di samping Suan, dia masih tidak ingin menjauh dari Suan saat itu.


“Haa.. haaa..,” nafasnya terengah-engah, ia memandang ke arah wajah Suan yang sedang memejamkan mata di paha kaki, atas sofa.


Mata wanita itu mulai berkaca-kaca, ia tersenyum pahit karena tidak lagi mampu menahan rasa sakit di hatinya.


Perasaan itu benar-benar menyakiti dan menyiksa.


Perlahan-lahan ia meletakan kepala Suan setelah berdiri lalu bergerak cepat meraih salah satu kunci mobil Suan di atas meja dan berlari, keluar ruangan kerja sembari memikirkan keadaan Arkas agar rasa sakitnya berkurang.


*********


Piyama merah masih ia kenakan, Aria yang telah memarkirkan mobil di pinggiran jalan tanah, terlihat berdiri di hadapan Arkas yang wajahnya dipenuhi dengan luka.


“Maaf,” ucap Aria yang telah berada di hadapan Arkas dan menghalangi langkah laki-laki tersebut.


“Pergilah dariku jika kau tidak ingin aku marah.” Ucap Arkas menahan kekesalan sembari melangkah kaki dengan membawa tas ransel di punggung, menghindari Aria.


Tetapi sayang,


Langkahnya terhenti kembali ketika Aria menghalanginya.


“Huh,” Arkas menghela nafas berat karena marah, matanya bahkan mulai memerah, dia mengepalkan tangan begitu geram. “Minggir!”


“Maaf,”


“Aku sudah memaafkanmu jadi sekarang minggirlah!” bentak Arkas, menggema di kesunyian pagi hari itu lalu melangkah kembali, menghindari namun Aria berhasil menghalangi tubuh laki-laki itu lagi.


Arkas berlari, Aria juga berlari menghalangi.


Arkas semakin dibuat geram, tanpa peduli lagi, ia berlari ke tepian jalan yang berumput untuk menghindari Aria.


Aria yang tidak ingin Arkas dalam bahaya karena perasaannya mengatakan bahwa laki-laki tersebut akan bertemu dengan mantan calon suami Rena, mau tidak mau, berlari ketepian jalan juga.


Dan, byyuuurrrr...


“Haa...”


“Astaga,” Arkas geram namun sedikit merasa bersalah karena telah menjatuhkan Aria ke dalam parit pinggir jalan yang berisi air sedalam pinggang wanita itu.


“Sudah kubilang minggir tapi kau tetap menghalangi, Sial.” Maki Arkas begitu kesal, namun ia masih berkenan mengulurkan tangan untuk Aria yang saat itu mulai marah.


Tatapannya juga tajam, namun sebentar saja.


“Tolong,” ucap Aria sembari tertegun menahan emosi, “ Tolooooongggg... “ Teriaknya panjang telah kehabisan cara untuk menghentikan Arkas pergi.


“Aku sudah mengulurkan tanganku, kenapa kau malah berte....”


“Toooloooooonggg!” lanjut Aria berteriak hingga ada banyak orang yang berdatangan melihatnya.


“Nona, kau kenapa?” tanya seorang warga yang telah terpanggil oleh teriakan Aria. Sementara itu, wanita tersebut tampak memandang tajam ke arah Arkas yang semakin kesal dengan perilaku wanita itu.


“Huh, tolong nasihati kekasihku untuk tidak melakukan kekerasan dalam berumah tangga lagi, pak.” Pinta Aria yang telah naik ke atas daratan, menerima uluran tangan seorang warga sembari masih memandang Arkas yang juga memandang marah ke arahnya.


“Kekasih?”


Seorang warga wanita terlihat mengernyitkan dahinya kebingungan.


“Hm,”


“Aku bukan kekasihnya.” Ucap Arkas yang telah melangkah kaki pergi lagi, namun Aria menahan lengannya. “ Apa yang kau katakan?"


“Tolonglah katakan padanya untuk tidak bersikap kasar padaku lagi, “ pinta Aria yang telah berhasil menghentikan langkah Arkas, dan Arkas yang merasa dituduh tidak mungkin menghempaskan tangannya atau warga di sana akan menganggapnya sangat buruk.


“Woi kau...”


“Benarkah itu kekasihmu, nona?”


Tanya warga wanita yang tadinya telah bertanya, kembali.


“Hm,”Angguk Aria mengiyakan.


“Bukankah dia adalah suamimu?, aku pernah melihat kalian berdua masuk ke dalam rumah yang sama.” Warga wanita itu mulai menunjuk ke arah seorang laki-laki yang tampak berdiri dengan piyama dan jaket panjang selutut kaki di depan pintu mobil, mengejutkan Aria yang telah melepaskan tangan Arkas, dan Arkas segera pergi dari sana.


“Wahh, haha mana mungkin aku memiliki suami setampan itu.” Ucap Aria sembari tertegun lalu menundukan kepala, merasa bersalah.


“Mungkin karena istriku jatuh ke dalam parit, maka dari itu dia kehilangan ingatan.” Ucap geram Suan hingga gertakan gigi-giginya terlihat ketika ia berbicara.


“Benarkan dia suamimu, nona?” Warga wanita itu bertanya lagi untuk memastikan.


“Wah, hebat sekali, dia memiliki banyak laki-laki di sampingnya,” tambah warga yang lain bersamaan dengan Suan yang telah mendekati Aria.


“Bukan, bukan, dia bukan suami saya.” Ucap Aria yang telah ditarik paksa oleh Suan masuk ke dalam mobilnya.


Lalu semua orang yang berkerumun mulai pergi dari sana dengan begitu keheranan dan sebagian juga merasa kesal karena merasa telah tertipu.


Baaakkk.. bantingan keras mobil tertutup, terdengar.


Aria tertegun ketika melihat Suan telah duduk di sampingnya dan menghadapkan tubuh wanita itu ke arahnya, “berhentilah berbohong!” ucapnya terlihat kesal sembari membuka kancing piyama Aria yang basah, “ aku tahu kau menyukainya tetapi kau terlalu berlebihan memaksakan kemauanmu sendiri.” Lanjut Suan yang telah membuka jaket panjangnya ketika telah selesai membuka piyama Aria dan menyelimuti wanita itu dengan benda tersebut.


Aria hanya diam, dia menggenggam bagian depan jaket dengan kedua tangan untuk menutupi bagian depan tubuhnya yang tadinya terbuka bersamaan dengan Suan yang telah keluar mobil dan masuk lagi ke bagian kursi pengemudi.


“Kenapa?” Aria yang tadinya menunduk mulai mengangkat kepala, memandang Suan dari kaca mobil bagian depan, “kenapa kau selalu meletakanku di kursi belakang?” tanyanya merasa sangat sedih karena Suan tidak pernah meletakan wanita itu di kursi bagian depan mobil kecuali ia sendiri yang melakukannya.


Kunci mobil yang tadinya Suan putar dan telah menyala saat itu diputar kembali hingga mesin mobil kini telah mati, “ Karena kau adalah ratu,” ucap Suan sembari tersenyum kecut lalu membuka pintu mobilnya, “ tapi itu dulu, dan sekarang kau hanyalah sampah.” Lanjut laki-laki tersebut dengan mata memerah, sembari turun dari mobil lalu membuka pintu bagian belakang mobil dan menarik tangan Aria keluar pintu mobil, lalu membawa wanita itu ke bagian depan mobil dan mendudukannya di sana, “ sudah puas?” tanya Suan Baaakkk.. sembari menutup pintu, mengejutkan Aria yang tampak berusaha keras menahan detakan kencang di jantungnya.


Mobil mulai melaju, meninggalkan mobil Suan lain yang tadinya telah Aria bawa. Mobil tersebut juga melewati Arkas yang tampak sedang masuk ke dalam bus kota, memasuki jalanan raya.


Aria masih menundukan kepala, ia tampak tersenyum sedikit bahagia.


Dia mulai merasa sedikit beruntung memiliki perasaan aneh itu karena dengannya, saat ini ia bisa dekat dengan laki-laki yang sangat ia cintai bahkan satu rumah bersamanya.


Sesekali ia menoleh ke arah Suan yang tampak fokus mengendarai mobilnya, lalu menundukan kepala lagi dan tersenyum bahagia hingga meneteskan air mata, merasakan cinta yang begitu dalam masuk ke hati.


Aria, terlihat sungguh sangat mencintai Suan.