
Pagi itu, jas yang Dia kenakan sangat mengkilat, berwarna biru tua dengan dasi berwarna merah serta tersinari cahaya matahari pagi yang menembus masuk melalui jendela kaca.
Wajahnya yang sangat tampan terlihat dihiasi senyuman licik.
Dia, tampak duduk sembari meletakan headset di telinga dan membaca beberapa lembaran dokumen di atas meja.
“Kau sudah menyuruhnya?” dia mulai bertanya ketika panggilan telah ia terima melalui ponsel di atas meja.
“Benarkah kau sudah memastikan bahwa Aria tidak mengetahuinya?” tanya suara dari balik headset ragu-ragu mengerjakan perintah dari Suan saat itu.
Suan yang tadinya melihat ke arah lembaran kertas, mulai memegang mouse dan menekan sebuah rekaman CCTV yang berhasil ia terima dari kepala penjaga keamanan perusahaan tersebut, lalu melihat Aria sedang duduk dan mengobrol dengan Michelle di ruangan kerja salah satu eksekutif perusahaan tersebut.
“Tenang saja, Aku sudah memastikannya.”
“Suan, Mungkinkah kau benar-benar ingin membunuhnya?” tanya suara dari balik headset lagi, meminta keyakinan karena dia sangat tidak menyenangi perintah dari temannya tersebut.
“Huh, Aku hanya ingin dia tidak bisa berjalan saja, agar Aria menyerah mengejarnya. Lakukan atau tidak, itu terserah padamu.” Ucap Suan lalu memutuskan panggilan dengan menekan tombol di balik headset yang ia kenakan.
Tatapan matanya tajam, ia terlihat benar-benar sedang membenci sesuatu pagi hari itu hingga kedua telapak tangannya yang menyatu terlihat tergenggam erat karena geram.
*********
“aku tidak tahu.”
Aria yang duduk di atas sofa mulai meraih secangkir teh hijau dan menyeruputnya.
“Aria, kau ini bagaimana?, bukankah kau sendiri yang memintaku untuk mempekerjakannya?, lalu kenapa sekarang kau tidak tahu menempatkan posisinya berada?” tanya Michelle yang tampak sedang berdiri sembari memegang kertas biodata seseorang, “SMA tidak tamat, keahlian tidak ada, jadi bagaimana... heii,, Aria..” panggil keras Michelle, menghentikan kalimat ketika ia melihat Aria berlari secara tiba-tiba dan meninggalkan ponselnya di atas meja.
“Aria!” Michelle berusaha mengejar namun ia urungkan, kemudian meraih ponsel Aria dan menghubungi Suan melalui telepon kantornya.
“Hallo, ada yang bisa saya ban...”
“Cepat hubungkan panggilan dengan Suan!” perintah Michelle begitu panik sebelum Sekretaris Suan menyelesaikan sapaannya.
“Baik bu,”
Sementara itu di sisi lain, Aria terlihat sedang berlari kencang keluar pintu lift dan membuka sepatunya sembari sesekali menepuk dadanya yang sakit.
Semua orang dibuat terkejut dengan tingkahnya, “ Nona!” hingga penjaga keamanan turut ikut panik, “ada apa dengannya?” lalu mempertanyakan tentang keadaan wanita itu.
“Kejar dia!” Suara Elbram terdengar keluar dari pintu lift sembari berlari mengejar Aria dan diikuti oleh para penjaga keamanan pagi hari itu.
********
Arkas terlihat berdiri di trotoar jalanan kota.
Saat itu ia telah diperintahkan Harry untuk menjemput barangnya di toko butik milik teman Harry.
Arkas yang berada di sisi kiri, saat itu sedang tergesa-gesa untuk menyebrangi jalanan kota setelah turun dari Halte bus karena sangat jauh jembatan penyeberangan berada dari sana.
Kepalanya sesekali ia tolehkan ke kanan dan ke kiri, lalu setelah sedikit sepi ia mulai melangkah kaki, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat sesosok orang sedang keluar dari sebuah taksi dan dia mulai mengernyitkan dahi.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Arkas pada Aria yang telah keluar dari mobil tanpa alas kaki.
“Haa..haa..” Nafas Aria terengah-engah, “Syukurlah!” ucap wanita itu ketika ia telah sampai dan mendekati Arkas.
“kau ini aneh sekali, pergilah, aku tidak ingin diganggu.” Usir Arkas mulai melangkah kaki memasuki jalanan aspal.
Aria yang telah mengetahui bahwa keadaan Arkas baik-baik saja mulai tersenyum lega dan hanya berdiri memandangi Arkas yang telah berjalan hampir di pertengahan jalan, tetapi langkah laki-laki itu sontak berbalik, dan dia mulai membelalak mata terkejut.
“Aria!” teriaknya keras lalu berlari ke arah Aria yang kebingungan dan langsung menoleh kepala ke samping kanan kemudian membelalak mata.
“Haa..”
Criiiitttttt....
Buukkkk...
Duaaaarrr....
Tiiiiiiiiiiiiiiiiitttt....
“Aria, aria kau baik-baik saja?, Aria!” panggil Arkas berkali-kali ketika ia berhasil memeluk tubuh Aria jatuh dan mendudukan wanita yang terlihat sangat menggigil ketakutan dan memegangi telinganya.
“Aria kau bicara apa?, Aria, Aria.” Berkali-kali Arkas mengguncang tubuh Aria yang gemetaran bersamaan dengan kerumunan orang yang mulai berdatang untuk melihat kecelakaan lalu lintas saat itu.
Sebuah mobil terlihat hancur pada bagian depannya setelah menabrak Halte bus.
Pengendara mobil yang terluka di dalamnya berusaha diselamatkan oleh orang-orang di sana.
“Aria!, Aria!” panggil Arkas berkali-kali namun Aria tidak kunjung menjawab.
“Aria!” begitupula dengan Elbram yang telah sampai menyusul Aria dan melihat wanita itu tengah duduk dengan tubuh menggigil dan memegangi telinga.
“Dia kenapa?” lalu bertanya pada Arkas dengan sangat panik.
“Aku tidak tahu, mungkin dia sedang ketakuta...” belum sempat Arkas menyelesaikan kalimatnya, ia dan Elbram dibuat terkejut dengan sikap aneh Aria saat itu.
“Aria!,” panggil Elbram lagi,
“Absence Seizure,” seorang pengguna jalan yang melihat keadaan kecelakaan tampak berjongkok dan melihat keadaan Aria saat itu.
“Apa?” tanya Elbram mulai panik saat itu,
“Saraf otaknya sedang terganggu.” Jawab laki-laki pengguna jalan tersebut yang melihat keadaan Aria saat itu.
Tatapan mata Aria kosong, ia bahkan tidak bergerak dan berbicara sama sekali. Gigilan tubuhnya juga menghilang seketika, Arkas dan Elbram dibuat panik dengan keadaan wanita yang tetap duduk diam seperti patung saat itu.
“Kenapa dia bisa..”
“Mungkin dia sangat ketakutan, segera bawa ke dokter saja!” Sela cepat pengguna jalan bersamaan dengan Elbram yang telah mengangkat tubuh Aria saat itu dan membawanya masuk ke dalam mobil diikuti oleh Arkas.
*********
Suan melangkah dengan cepat diikuti oleh Harry dan juga ayah Aria.
Wajah Suan terlihat sangat pucat, matanya juga memerah.
Laki-laki tersebut terlihat sekali sangat ketakutan pagi itu.
Ia merasa bersalah, sampai keringat dingin membasahi kemeja yang ia kenakan.
Langkahnya mulai memasuki sebuah ruangan, ia melihat seorang Psikiater tampak berusaha berbicara dengan Aria namun tidak satupun mendengar jawabannya.
Mata Aria masih kosong, wanita itu terlihat duduk di tepian kasur saat itu.
“bagaimana keadaannya?” tanya Ayah Aria begitu panik setelah ia datang mendekat.
“Aku telah memberikannya Valproic acid, tapi obat itu tidak berfungsi.” Jawab Psikiater tersebut yang tadinya duduk di depan Aria, dan kini telah berdiri.
“Aria!,” panggil Suan dengan mata berkaca-kaca, ia terlihat sedang menahan tangis melihat keadaan wanita yang ia cintai saat itu, “ Aria!” panggilnya lagi yang kini telah berada di depan Aria. “ Ar..”
Paaaaaakkkk..
Semua penghuni ruangan dibuat terkejut.
Suan yang duduk sontak memegang pipinya yang terkena tamparan.
“Kau akan selingkuh, benarkan Suan?” bentak Aria tiba-tiba, semakin mengejutkan semua orang di sana.
“Kau ini bicara apa?,” tanya Suan yang panik lalu memeluk tubuh Aria, “kau baik-baik saja?”
“Kau akan meninggalkanku, iyakan Suan?, kau akan mencari wanita lain, iya kan hikss kenapa hanya aku saja yang mencintaimu?, kenapa kau tega sekali bermain di belakangku,” lanjut Aria menangis sesenggukan dipelukan Suan yang tampak berpikir saat itu, ia juga terlihat memutar ingatan sembari masih memeluk Aria.
“Bukankah kau sudah tinggal bersamaku?, kau juga mengikutiku di kantor, Aria percayalah, sedikitpun aku tidak mendekati wanita lain.” Ucap Suan tampak berpikir dan berusaha menenangkan Aria saat itu.
“Tapi kau akan menyelingkuhiku, kau akan bermain dengan wanita lain di belakangku,” ucap Aria masih menangis sesenggukan dengan tubuh yang gemetaran.
“Kalau aku berselingkuh, kau boleh menghukumku mati.” Ucap Suan melepaskan pelukan untuk Aria dan melihat mata Aria terbelalak saat itu.
“Tidak, aku tidak mau Suan mati.” Ucap Aria mulai berdiri lalu memeluk Suan lagi, namun Suan telah mengangkat tubuh wanita tersebut di atas kedua tangannya sembari melihat ke arah Ayah Aria.
“Paman!,” panggil Suan yang telah berhadapan dengan ayah Aria sembari membawa tubuh Aria yang tampak menghapus air mata berkali-kali, “ Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?” tanya Suan mengejutkan ayah Aria yang tampak panik pagi hari itu.