
“Aku ada bersamamu, kau tidak akan pernah sendirian.” Jeddduuaaarrrr... Suara gemuruh masih terdengar keras padahal hujan telah berlalu.
“Hiks hikkss..” Wuuuzzzz... ia tahan rasa dingin yang mampu membuatnya menggigil ketika angin berhembus kencang menerpa tubuh, juga rasa sakit karena luka di lutut kaki serta lelah karena berlari.
Jedduuuaarrrr..
Suara gemuruh menambah kekalutan hati Arkas yang masih terus menangis di pelukan Aria.
“Haa..” Wanita itu berusaha keras untuk tidak lagi menangis namun rasa iba di dalam hatinya bergejolak hingga air mata terus mengalir membasahi pipi, bercampur dengan tetesan air dari rambutnya.
***********
Pagi kini telah tiba, matahari masih belum muncul di atas permukaan bumi karena cuaca yang masih terlihat mendung hari itu.
Di pagi yang kelam, Aria yang telah berhasil menyelamatkan Arkas, membawa laki-laki tersebut kembali ke rumahnya lalu dengan bantuan para tetangga dari laki-laki tersebut, kini mereka telah berada di rumah sakit untuk memastikan kondisi kematian ibu Arkas serta meminta pihak rumah sakit untuk mengeluarkan surat keterangan kematian.
Pakaian yang basah telah mengering, ia bahkan tidak sempat lagi untuk menggantinya. Begitupula dengan pakaian yang dikenakan oleh Arkas. Laki-laki itu kini hanya terdiam menundukan kepala, duduk di ruang tunggu menunggu hasil pemeriksaan kondisi kematian ibunya.
“Tolong, berikan pemakaman yang layak untuk nyonya Erlina.” Aria memberikan sebuah amplop yang berisi uang bantuan dari para tetangga Arkas sebelum mereka pergi ke rumah sakit kepada seorang pengurus pemakaman umum yang mungkin tadinya telah dihubungi oleh salah seorang tetangga Arkas.
Dia yang tidak memiliki sepersenpun uang karena meninggalkan semua barang-barangnya di dalam mobil, saat itu hanya bisa membantu Arkas dengan mengurus segala proses pemakaman lalu berniat akan meninggalkan laki-laki itu ketika laki-laki tersebut telah tenang nanti.
Tukkk krtukkk..
“Polisi,”
Suara keramaian terdengar memenuhi ruangan depan bangunan tersebut. Dua orang laki-laki berseragam polisi terlihat jalan mendekati Aria.
“Selamat pagi!” sapa seorang di antara mereka kepada Aria yang terlihat sedikit terkejut sembari meraih lembaran surat dari seorang perawat.
“Ada yang salah dengan saya?” tanya Aria secara langsung tanpa menjawab sapaan karena ia tidak lagi memiliki banyak waktu, terlebih lagi, ia harus membersihkan diri dan mengobati luka di beberapa bagian tubuhnya.
Seorang polisi lain terlihat memastikan sesuatu melalui layar ponsel miliknya, “benar dia orangnya. “ lalu membisikan hasil penglihatannya ke telinga temannya yang saat itu sedang berhadapan tepat di depan Aria.
“Nona Aria?”
“Hm,” jawab ketus Aria, benar-benar sangat tidak ingin diganggu saat itu, terlebih lagi dengan rasa lelah di tubuh yang membuatnya semakin merasa risih hanya untuk sekedar diberi pertanyaan ataupun menjelaskan sesuatu.
“Keluarga anda telah memberikan laporan kehilangan tentang anda, sekarang kami minta anda untuk ikut bersama kami ke kantor polisi. Maaf nona, tapi keluarga anda mungkin akan segera datang dan menunggu anda di sana.”
Aria tersenyum kecut. Padahal belum sehari ia tidak memberi kabar tetapi ayahnya telah meminta polisi untuk mencari keberadaannya.
“Haa.. Nona.” Tidak cukup hanya dengan polisi saja, Assisten pribadi ayahnya tersebut bahkan dikerahkan hanya untuk menemukan wanita yang telah menginjak usia dewasa tersebut. “Nona, kemana saja anda ini?”
“Diamlah, aku lelah.” Aria menjawab ketus, “berikan aku waktu sebentar saja!” kali ini kalimatnya tertuju kepada polisi di depannnya.
“Baiklah,”
“Terima kasih pak, sekarang biarkan saya saja yang membawa nona saya kembali ke rumah.” Suara Assisten ayah dari wanita itu, ia abaikan. Ia yang telah memegang surat keterangan dan dokumen laporan lainnya, dengan cepat bergerak menghampiri Arkas yang masih duduk dengan membuka kedua kaki lebar dan menggenggam kedua tangan menyatu di pertengahan kedua kakinya tersebut serta masih menundukan kepala.
“Maaf,..”
“Tidak perlu, kembali saja.” Belum sempat Aria mengucapkan kata pamitan, Arkas telah menyelanya terlebih dahulu. “Aku tidak akan berterima kasih padamu.” Lanjutnya ketus lalu meraih lembaran-lembaran kertas di tangan Aria yang hanya bisa menghela nafas dan tersenyum kecut.
“Aku juga tidak perlu ucapanmu itu, yang terpenting sekarang aku selamat.” Ucap Aria yang masih berdiri membelakangi Arkas. Laki-laki itu kini telah keluar dari ruang tunggu dan berjalan menuju ke ruang mayat ibunya berada.
*********
“Akhh pelan!” perintah Aria kepada seorang dokter yang terlihat berdiri, membersihkan luka di lutut kaki Aria.
“Bisakah kau tidak ragu-ragu menerima perintahku?” Suara Aria mulai mengeras, wanita yang tadinya memejamkan mata dengan meletakan lengan tangan di atas dahi, saat itu menoleh dan melirik tajam ke arah Assisten ayahnya yang terlihat berdiri di sampingnya.
“Bukan begitu tapi..”
“Kau tidak ada pilihan lain, atau mungkinkah kau ingin dipecat oleh ayahku?”
“Nona, tapi yang ada perintahkan ini terlalu membuang-buang waktu, terlebih lagi dia mengenal ayah anda.” Laki-laki itu tampak enggan mematuhi perintah Aria, ia bahkan hanya dapat menundukan kepala dan tidak ingin memandang kemarahan wajah Aria.
“Wahhh,, Pelan, kau tidak dengar ya?” bentak Aria meluapkan kekesalan kepada dokter pribadi keluarganya saat ini.
“Maaf Nona, tapi semuanya sudah selesai.” Ucap dokter yang tadinya terlihat membuka sarung tangan dan terkejut ketika mendengar suara keras Aria.
“Huh,, hmm.” Aria menghela nafas, lalu duduk dan meraih obat yang telah diberikan dokter di sampingnya. “Lakukan atau tidak, itu urusanmu, tapi jangan salahkan aku jika..”
“Baiklah nona, saya pamit dulu.” Laki-laki itu tidak lagi memiliki pilihan karena kali itu telah gagal untuk membujuk putri dari tuannya. Ia yang telah menjauh mulai menutup pintu bersamaan dengan obat yang telah ditelan Aria dan segelas air yang kemudian diteguk oleh wanita itu.
***********
Wuuuzzz...
Pomm .. Pommm..
Hiruk pikuk keramaian pusat kota tak henti-hentinya terus terjadi.
Kesibukan dan aktivitas para penduduknya yang padat juga tak kalah menambahkan keramaian di sana.
Di depan sebuah gedung berlantaikan empat yang diapit oleh gedung-gedung lain dan berdempetan, seorang wanita terlihat berdiri setelah tadinya ia terjatuh akibat dorongan temannya.
“Pergilah, jangan kemari lagi!” Seorang wanita lain yang terlihat berdiri dengan dua orang laki-laki di sampingnya dan seorang wanita di belakangnya, mengusir wanita yang tak lain adalah Rena tersebut keluar dari gedung di sana.
“Kenapa?, kenapa kalian tiba-tiba mengusirku?” tanya wanita yang telah berdiri itu kebingungan, karena baru saja ia sampai ke rumah sewanya, ia dipaksa keluar dengan semua barang-barangnya yang terlihat berserakan di atas lantai teras bangunan tersebut.
“Kau memang pantas pergi, tidak ada alasan lain kecuali hanya itu saja.”
Wanita yang mengusirnya serta orang-orang yang diperintahkan wanita itu untuk mengeluarkan barang-barang milik Rena kini masuk ke dalam bangunannya kembali.
“Bukankah aku telah membayar uang,...” Taaaakk.. beberapa lembaran uang ratusan ribu rupiah jatuh ke atas lantai.
“Aku sudah mengembalikannya, jadi pergilah dan jangan perlihatkan wajahmu di sini lagi.” Wanita yang telah melemparkan uang ke lantai depan Rena mulai menutup pintu dan meninggalkan wanita yang masih berdiri di depan bangunannya tersebut dengan tanda tanya dan rasa penasaran yang sangat ingin ia ketahui jawabannya.
Wuuuzzzz...
Hembusan angin menerpa kulit tubuh yang terbuka, ia yang hanya mengenakan gaun lengan pendek selutut kaki, mulai membungkuk mengutipi lembaran uang di bawahnya.
“Hm,” lontaran suara remeh terdengar, “padahal hanya beberapa lembar saja, tapi kau terlihat begitu semangat mengambilnya.” Lanjut suara tersebut yang sontak membuat Rena berbalik dan terkejut ketika melihat seorang wanita anggun dan elegan dengan gaun mahal sedang berdiri dan bersandar di tiang lampu pinggir jalan, depan mobil yang terbuka.
“Kau?..”
“Kembalilah ke Arkas!, kemanapun kau pergi, tidak akan ada seorangpun yang mau menerimamu kecuali dia."
“Konyol,” Rena tampak menolak ucapan wanita anggun itu, “kau kira kau siapa berani bicara seperti itu?”
“Oh ya buktikan saja!”
“Aku bahkan akan..”
“Ah menikah?” Wanita yang tadinya bersandar kini melangkah masuk ke dalam mobil yang tampak dikemudi oleh seorang supir, “bermimpilah kau akan menikah!” lanjut wanita tersebut, baaakkk lalu menutup pintu mobilnya dan pergi meninggalkan Rena yang masih berdiri dengan keterkejutannya.