Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Pernyataan Cinta



Wuuuzzzz...


Ia masih membersihkan air mata.


Berkali-kali sapu tangan telah berganti dengan yang baru ketika telah menyaksikan kepergian Suan bersama Ibu Suan dan Cecilia.


Rasanya sangat sakit ketika melihat laki-laki yang ia cintai telah pergi.


Aria bahkan hanya bisa memandangi pesawat yang mengudara dari bawah.


“Suan,”


Lirihnya begitu menyedihkan lalu meraih sapu tangan dari Cecilia kembali.


“Berhentilah menangis!, kakakku hanya pergi sebulan, bukan selamanya.”


Ucap Cecilia sembari mengelus kepala belakang Aria yang telah dipeluk oleh ibu Suan.


Aria masih menangis tersedu-sedu saat itu ketika mendengar kata terakhir Suan sebelum pergi.


Tunggu aku, Aria.


Kalimat Suan seolah-olah pernah ia dengar sebelumnya, tetapi ia tidak ingat kapan kalimat tersebut pernah diucapkan oleh Suan.


Mungkinkah di dalam mimpi?, entahlah.


Yang Aria pikirkan saat ini hanyalah berusaha untuk bekerja dengan baik di perusahaan Dikintama.


*********


Menjadi seorang sekretaris, bukanlah hal yang mudah.


Ia harus mempersiapkan segala pekerjaan dan juga mengingat seluruh jadwal padat pemimpinnya.


Walau hanya sebagai sekretaris seorang Direktur biasa, tetapi pekerjaan Aria juga cukup padat hingga terkadang ia sering bangun lebih awal, untuk melihat keadaan Arkas yang datang ke perusahaan Harry lalu setelahnya, ia kembali ke perusahaan Dikintama yang letaknya tidak terlalu jauh, hanya beberapa jam saja dengan mengendarai mobil.


Aria selalu menggulung rambutnya dan memakai kacamata ketika bekerja.


Sangat jarang para karyawan perusahaan Dikintama yang mengenalnya karena wanita itu memang tampak lebih dewasa dibandingkan dengan ia yang sebelumnya.


Maka dari itu, ketika pekerjaannya salah, ia sering mendapati kemarahan beberapa karyawan seperti contohnya hanya untuk sekedar membuat kopi di dalam pantry kantor.


Ketika pulang dari pekerjaannya, ia membuka pintu Apartemen. Lalu memandangi ruangan kosong tersebut tanpa Suan di dalamnya.


“Suan,” panggil Aria yang telah menerima pesan Suan bahwa laki-laki tersebut telah sampai ke tempat tujuan, namun ketika Aria bertanya tentang keadaannya, laki-laki tersebut tidak kunjung membalas padahal dua hari telah berlalu sejak kepergian laki-laki tersebut.


Aria memandang Sofa, ia merindukan untuk duduk di atas pangkuan Suan, lalu berjalan mendekati kamar, di sana ia merindukan untuk berbaring di samping Suan.


Ia sangat merindukan Suan, ia berusaha menghubungi Suan namun tidak mendapatkan jawaban.


Hatinya hampa, ia mulai tersiksa dan merasa menyesal karena tidak ikut bersama Suan pergi ke California.


Tiinnnggg...


Bel pintu berbunyi.


Tidak biasanya itu terjadi, mengingat jika Cecil datang, wanita itu bisa kapan saja masuk ke dalam tanpa harus menekan bel terlebih dahulu.


Tingggg...


Aria segera melangkah mendekati pintu setelah meletakan tasnya di atas kasur.


Derap langkahnya terdengar keras karena sepatu haknya yang masih belum buka.


“Harry!”


Panggil Aria ketika telah membuka pintu dan menemukan Harry telah berada di depannya.


“Kau baik-baik saja?”


Harry berharap Aria mengizinkannya masuk tetapi sayang, Aria benar-benar menjaga diri, ia menolak Harry untuk masuk ke dalam dan lebih memilih untuk keluar dari Apartemennya lalu membawa Harry ke lobi umum yang tak jauh dari koridor tersebut berada.


“Aku baik-baik saja.”


Hembusan angin malam menerpa kulit tubuh karena mereka telah berada di luar ruangan.


Aria menyandarkan tubuh bagian depannya pada pagar pembatas sembari memandang kota dengan tatapan penuh kerinduan yang mendalam, sementara Harry tampak menyandarkan punggung bagian belakangnya sembari menoleh ke arah wajah Aria dengan tatapan penuh cinta.


“Aku datang hanya untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja, sebelum pergi Suan sempat memintaku untuk menjagamu.”


Harry menundukan kepala lalu mulai berbalik posisi, sama halnya dengan Aria.


Laki-laki itu tampak berusaha keras untuk tidak selalu memandang wajah wanita yang ia suka.


“Hm, jadi begitu ya.”


Tatapan Aria benar-benar hampa.


“Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?” Harry menoleh ke arah Aria bersamaan dengan terdengarnya suara beberapa orang yang akan menuju ke lobi umum tetapi suara tersebut terdengar telah menjauh, mungkin mereka mengurungkan niat karena ada orang lain di tempat tersebut.


“Tanyakanlah!”


Dengan nada acuh Aria mempersilahkan.


Ia bahkan sedikitpun tidak menoleh ke arah Harry.


“Apakah kau ingat bahwa kau pernah menerima cintaku di masa lalu?”


Aria menoleh kepala ke arah Harry sejenak sembari mengernyitkan dahinya mengingat kejadian masa lalu.


“Hm,” angguk Aria lalu memandang ke arah kota kembali, “maaf karena menyakitimu waktu itu, aku benar-benar tidak memiliki perasaan sedikitpun terhadapmu.”


***********


Waktu itu Aria tampak sangat marah, seragam sekolahnya bahkan telah bercakkan darah dari mulutnya.


“Aku bilang berhenti!” teriak Aria keras pada Suan yang tetap melangkah pergi tanpa mempedulikan perintah Aria.


“Aku bilang berhenti!”


Paaaakkkk, Aria memukul pipinya sendiri hingga terluka, “aku akan katakan pada kakek kalau kau telah memukulku hingga berdarah jika kau tidak juga mau berhenti.”


Paaaakkkk..


Teriak Aria mulai menangis ketika Suan tidak kunjung berbalik ke arahnya.


“Suan,”


Paaaakkkk..


“Aria, berhentilah melukai dirimu sendiri, kalau Suan tidak menginginkanmu, maka biarkan aku saja yang menjagamu.”


Mendengar ucapan Harry, Suan menghentikan langkah namun tidak berbalik.


Hal itu sontak membuat Aria merasa bahwa ucapan Harry memiliki efek tersendiri untuk mencegah Suan tetap pergi darinya.


“Jadi kau menyukaiku?” tanya Aria pada Harry di sampingnya.


Mereka tampak disaksikan oleh murid-murid SMA lain karena keributan yang dibuat oleh Aria hari itu.


“Aku sangat menyukaimu, Aria.”


Harry mengatakan perasaannya, hal itu sontak membuat Suan berbalik arah dan memandang Aria dengan tatapan dingin.


“Hee.. baiklah, aku akan menerimamu.”


Pernyataan cinta Harry di terima, namun ketika Harry ingin memeluk Aria karena merasa sangat bahagia, Aria telah berlari mendekati Suan di hadapannya.


“Karena kau, aku menerima cintanya, rasakan itu.”


Ucap Aria lalu naik ke atas punggung Suan seenaknya.


“Turun!”


Perintah Suan dengan nada dingin, ia melepaskan tangan Aria dari lehernya tetapi Aria melompat kembali ke atas punggung.


“Aku tidak mau turun, aku tidak mau.” Teriak Aria memaksa hingga Suan terpaksa membawa Aria ke atas punggungnya dan berlalu dari tempat tersebut.


Meninggalkan Harry dengan kekecewaan yang mendalam hari itu.


***********


“Hari itu, aku benar-benar minta maaf, aku pikir dengan begitu Suan akan cemburu tapi kenyataannya dia tidak pernah peduli padaku.”


Aria tersenyum kecut, ia mengingat kesalahannya di masa lalu dengan mata berkaca-kaca.


“Aku tahu, tapi saat ini aku masih sangat menyukaimu.”


Harry menghela nafas lalu membalikan tubuhnya kembali, menyandar dinding pembatas dengan punggungnya.


“Aku benar-benar mencintai Suan, seberapa keras usahaku untuk melupakannya, aku tetap tidak mampu untuk melakukannya. Mungkin orang berkata aku sangat berlebihan tapi jika itu berasal dari hati, aku benar-benar tidak mampu untuk melawannya.”


Kini giliran Aria yang berbalik, ia menoleh kepala sejenak ke arah Harry yang tampak menoleh juga ke arahnya.


Harry mulai berdiri tegak, kemudian melangkahkan kaki, “Aria, terima kasih telah menerima cintaku saat itu.”


Meninggalkan Aria yang tidak menjawab ucapan dari laki-laki tersebut.


Aria hanya memandangi punggung Harry saja dari jauh, lalu setelah laki-laki itu menghilang, Aria berbalik kembali, memandang ke arah kota.


“Suan, sekarang aku tahu kenapa kau selalu mengabaikanku selama ini.”


Gumam Aria pelan, mengingat satu persatu masa lalunya hingga air matanya mulai menetes karena merindukan Suan yang sangat ia cintai.