Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Berbicara tentang masa lalu



Baaaaakkkk...


Tubuh Harry terpental jauh setelah menerima tendangan dari kaki Suan.


Setelahnya, Harry berusaha untuk tetap berdiri dan berniat untuk meyakinkan.


Di dalam ruangan kelasnya, laki-laki tersebut terpaksa menerima pukulan keras dari Suan secara tiba-tiba.


Baaakkk..


Pukulan kepalan tangan mendarat di wajahnya kembali, bakkk... begitu juga dengan tendangan lutut kaki yang berkali-kali mengenai perutnya.


“Suan, bukankah ini berlebihan?”


Baaakkk..


Tidak cukup Harry saja yang menerima pukulan dari kemarahan Suan, Kemarahan membabi butanya itu juga mengenai wajah Elbram yang tadinya berusaha untuk menghentikan pertengkaran.


“Hm,” Wajah yang dingin mulai terhiasi senyuman pahit, “ hanya karena aku diam dan tidak menuruti kemauannya, bukan berarti kau bebas menyentuhnya, bangs*t.” Baaaakkkk... Suan menendang tubuh Harry yang telah terbaring lemah. Harry bahkan tidak mampu melawan balik karena memang Suan sangatlah kuat.


“Menyentuh kau bilang?”Baaaakk...” uhuk..uhukk..” kali ini darah mulai menyembur ketika Suan mengangkat tubuh Harry dan memukul kembali wajahnya, “ Bahkan untuk menyentuh sehelai rambutnya saja susah, bagaimana mungkin aku bisa bebas menyentuhnya? brengsek.”Bakkkkkk... tubuh Harry terpental kembali, Malam itu tubuh tersebut benar-benar dipenuhi luka pukulan dari Suan bahkan teriakan dan makian Harry semakin menambah kemarahan hati temannya tersebut.


“kau masih mau menyangkal, padahal buktinya sendiri ada di depan matamu, Aria bahkan telah menjalani tes dan lihat hasilnya itu, brengsek,” Baaaakkkk... Suan menendang Harry lagi, “ Kalian berdua melakukannya, bukan?” Baaaakkkk...


“Akhhh,” hingga laki-laki itu mengerang kesakitan dan kakinya tak lagi sanggup berdiri ketika Suan mulai mengangkatnya kembali, “Aku tidak tahu, aku hanya bangun di kamar itu tapi tidak menemukan siapapun di sana, haa.. haa..” Ucap Harry begitu lemah, Baaakkkk.. lalu terbaring jatuh menuntup mata.


“Mati saja kau.”


“Suan, aku mohon!” pinta Elbram yang telah menahan kaki Suan untuk menendang tubuh Harry kembali, “setidaknya ingat dia sebagai orang yang pernah membantumu melindungi Aria.” Lanjut laki-laki tersebut sembari menundukan kepala di dalam ruang kelas, sekolah mereka saat itu.


“Bangs*t.” Suan menendang tubuh Elbram. Laki-laki yang tampak ingin sekali menghancurkan tubuh Harry saat itu mulai melangkah menuju ke pintu keluar kelas, meninggalkan kedua temannya dengan rasa benci yang sangat mendalam.


***********


“Maaf,... Direktur.” Aria menundukan kepala, wajahnya terlihat penuh dengan penyesalan hingga mengejutkan semua orang yang mengenalnya termasuk para dewan direksi.


“Ulangi!” perintah Suan di depan banyaknya karyawan perusahaan yang mengerumuni suasana ketegangan siang hari itu.


“Maafkan aku,... Direktur.” Lanjut ucap Aria sembari tertegun dan menahan harga dirinya yang tengah ditekan.


“Aku tidak mendengarnya.” Ucap Suan yang berdiri di depan Aria dengan tatapan penuh kemarahan.


“Maafkan aku Dir, Haa..”


Suan menarik tangan Aria hingga wanita itu berdiri dan sontak memandang mata Suan dengan teramat terkejut.


“Jadi kau melakukan ini semua hanya untuknya, hm,..” Suan tertegun dan tersenyum pahit, ia bahkan sempat melirik ke arah Arkas dan sangat ingin memukul wajah laki-laki tersebut jika saja saat itu mereka tidak berada di tengah-tengah keramaian. “Sekarang pulanglah!”


“Suan, bukan..”


Belum sempat Aria berbicara, ia telah ditarik paksa oleh Suan kembali meninggalkan keramaian dan menyebabkan para karyawan semakin bertanya-tanya tentang sosok Aria yang mampu memancing kemarahan dua orang Direktur sekaligus di perusahaan mereka saat itu.


**********


Satu persatu karyawan perusahaan memasuki ruangan kerja Suan yang baru saja ditetapkan sebagai Direktur Utama perusahaan tersebut untuk sementara waktu.


Walaubagaimanapun, PT Cilovegs merupakan perusahaan terbuka yang mengizinkan orang dari luar keluarga untuk memiliki saham di sana, maka tentu saja, mereka yang memiliki saham, berhak menunjuk Direktur Utama untuk memimpin perusahaan tersebut tanpa harus meminta persetujuan dari pemilik perusahaan terlebih dahulu.


“Aku tidak menyangka Aria akan berlutut seperti itu, mungkinkah kau telah berhasil menundukannya?” Tanya teman Suan yang tampak sibuk memilah-milah beberapa tumpukan lembaran dokumen penting di atas sofa.


“Dia berlutut bukan untukku,” Suan menghentikan gerakan tangan yang sedang ia gunakan di atas kertas, “.. tapi untuknya.” Lanjut laki-laki tersebut terlihat sangat geram lalu meletakan pena dan menghempaskan tubuh di sandaran kursi sembari memandang langit-langit ruangan.


“Wahh jadi Aria berubah karena laki-laki itu, tapi kenapa kau terlihat sangat emosi?, mungkinkah kau sudah membalas cinta Aria?” Elbram yang telah memilah-milah lembaran dokumen, membawa sebagian darinya ke atas meja Suan. “ Harusnya kau mengatakan saja bahwa gadis itu adalah putri pengasuhmu yang sangat kau benci?, mungkin karena dia, Aria kini pindah ke lain hati.”


“Aku tidak tahu bagaimana perasaanku, tapi rasanya sangat menjengkelkan.” Suan kembali menegakkan tubuhnya, lalu berusaha menghilangkan perasaan kesalnya.“ huh, Aku kira Aria akan menyiksanya, atau setidaknya mendatangi rumah ibunya dan menghancurkan wanita tua brengsek itu. Dia yang telah mengizinkan Aria menghancurkan Panti asuhanku, mestinya dia juga yang harus menerima balasan penyiksaan Aria untuk putrinya, tapi konyolnya sekarang Aria malah berubah.” Ucap Suan dengan nada sedih lalu mulai meraih penanya kembali.


“Kau menyesalinya sekarang, bukan?, padahal sudah kubilang, apapun cara yang kau lakukan, tidak akan mungkin berhasil merubah sifat asli Aria.” Elbram melangkah kaki kembali menuju ke sofa lalu memilah-milah lembaran kertas kembali sembari sesekali melihat wajah sedih temannya.


“Tapi dia berhasil merubahnya, “ Suan menggertakan gigi-giginya geram dan merasakan panas api membakar hatinya, “Arkas.” Sebut laki-laki tersebut terlihat tidak lagi mampu memfokuskan diri pada pekerjaannya dan berakhir menghempaskan tubuh pada sandaran kursi kembali. “..Merubah Aria sampai apapun yang kukatakan ia akan menuruti.”


“Bukankah itu terlihat sangat aneh?” Elbram mengernyitkan dahi terlihat sangat berpikir saat itu.


“Aneh?” Suan yang mendengarkan pertanyaan tersebut sontak menoleh ke arah temannya.


“Kau meninggalkan Aria selama 2 tahun, setiap kali kau datang ke rumahnya, ayahnya selalu bilang bahwa Aria tidak ingin menemuimu lalu ketika ayahmu bilang Aria sakit dan saat kau datang melihatnya, Aria baik-baik saja, bukan?”


“Hm,”Angguk Suan mengiyakan perkataan Elbram saat itu. Lalu mengernyitkan dahi dan juga mulai berpikir, “Saat aku melihatnya, dia terus-menerus mengatakan bahwa aku berselingkuh, huh, aku bahkan tidak pernah dekat dengan wanita manapun meskipun dia tidak ingin menemuiku waktu itu, kau tahu betapa kesalnya hatiku?, saking kesalnya, aku membalasnya untuk tidak menemuinya sebelum hari pernikahan kami, Ck,” mata Suan mulai terlihat bersedih kembali, “ .. tapi kini dia malah mencintai laki-laki lain, aaakhh, aku bilang tidak akan menikah dengannya, itu karena aku sangat kesal dan ingin sekali dia meminta maaf padaku karena telah mengabaikanku selama 2 tahun, padahal tidak masalah bagiku, dia memilih Harry untuk menghabiskan malam pertamanya, meskipun hatiku masih kesal menerimanya.”


Suan mulai berdiri, ia menghadapkan tubuh ke luar jendela dan berusaha menekan hatinya yang teramat kesal saat itu.


“Suan, kau kelihatan sekali telah lama menyukainya.”


“Benarkah?, aku juga tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.” Wajah Suan terlihat begitu menyedihkan, nada bicara laki-laki tersebut juga turut menyertai hingga temannya enggan lagi membicarakan tentang masa lalu mereka.


“Ahhh.. hari pertama kerja di sini sudah lembur.” lalu mengeluh, untuk mengganti topik pembicaraan.


“Lembur?” Suan yang berdiri, mulai berbalik dan melangkah melihat lembaran dokumen di atas meja, “banyak sekali.”


“Bukankah kau sendiri yang meminta laporan hasil penjualan tiga bulan ini?” Elbram terlihat kesal, ia bahkan sampai membanting kertas di tangannya ke atas meja.


“Aku harus pulang, aku tidak mungkin membiarkan Aria sendirian.” Suan bergegas duduk kembali untuk melakukan pekerjaannya. Meskipun demikian, sepertinya pikiran laki-laki tersebut sedang mengingat kembali ucapan dari temannya.


“Kau pikir kau bisa pulang begitu saja, pikirkan waktumu di jalan, kau ingin membuang-buangnya ya?, dan lagi laporan sebanyak ini mana mungkin kita bawa kembali ke Apartemenmu.” Ucap Elbram mengingatkan, laki-laki tersebut terlihat sangat kesal dengan cara kerja Suan yang akhir-akhir ini mulai menurun drastis hanya karena perubahan sifat wanita yang dicintai temannya tersebut.


“Jadi aku harus bagaimana?, kau pikir aku gila meninggalkan Aria sendirian di sana.”


“Suan, berhentilah bersikap sebagai pelayan Aria lagi, bukankah selama 2 tahun kau pergi, kau melakukan itu semua hanya untuk melepaskan jabatan itu dan menundukan Aria?” Elbram yang kesal, saat itu bertambah kesal.


Dirinya bahkan mulai enggan untuk melihat wajah temannya lagi saat itu. “Panggil saja dia kemari!”


“Mungkinkah dia mau?” tanya Suan ragu-ragu saat itu sembari menoleh ke arah temannya kembali.


“Suan, kau bodoh ya,” temannya semakin dibuat kesal hingga berjalan menghampiri Suan dan taaakkk memukul kepalanya, “ Di depan Aria kau terlihat sangat dingin tetapi kenapa sekarang kau tidak percaya diri?, huh, paksa dia brooo!, Astaga.” Setelah puas memukul kepala belakang Suan, laki-laki tersebut mulai melangkah ke luar pintu, “...lama-lama aku bisa gila kalau terus bersamamu.” Lanjutnya lagi yang kini telah menghilang dari ruangan tersebut.


Ragu-ragu Suan meraih ponselnya lalu menghubungi salah satu nomor ponsel yang ada pada kontak di sana, “ Aku tidak akan pulang malam ini.” Ucap Suan dengan nada dingin ketika panggilan telah diterima oleh Aria yang telah kembali ke rumahnya malam itu.


“Ah jadi begitu ya.” Suara dari balik ponsel terdengar begitu menyedihkan saat itu. “Suan, aku tidak ingin sendirian. Aku mohon izinkan aku ke sana. Aku benar-benar sangat ingin bertemu denganmu.” Lanjut Aria sontak membuat Suan tersenyum tipis lalu menghilangkan senyuman tersebut secepatnya.


“Hm, baiklah kalau kau menginginkannya, aku akan meminta Supir untuk membawamu kemari.” Ucap Suan sembari menutup panggilan saat itu dengan segera, lalu melanjutkan pekerjaannya dan mungkin kini ia telah mampu memfokuskan diri kembali.