
Aria berhasil mengambil gadis yang dibeli oleh Suan itu dari tangan laki-laki yang ia cinta.
Tinnggg...
Dengan begitu geram, ia menghempaskan tubuh gadis itu keluar lift lantai pertama hingga gadis tersebut jatuh terduduk di depan banyaknya karyawan perusahaan keluarga Dikintama.
Semua karyawan mulai berkumpulan dan mengelilingi kedua orang yang kini telah menjadi pusat perhatian.
“Beruntungnyaaa kau ini, hm,” hampir semua orang yang melihat, tertegun dengan perilaku Aria yang telah berjongkok dan menggenggam kedua pipi gadis itu lalu menekannya keras.
“Ahhh, hikkss..” hingga gadis itu mengerang kesakitan.
Terus menekan lalu memaksa gadis itu untuk menatap matanya, “kubilang padamu, sejujurnya aku tidak pernah percaya dengan yang namanya keberuntungan dan kesialan. Bagiku, keberuntungan hanyalah balasan baik atas perbuatan baik, dan kesialan adalah balasan buruk atas perbuatan buruk.” Paaakkk paaakkk, Aria dengan begitu santai memukul-mukul salah satu pipi gadis itu dengan pelan, “karena kau beruntung bisa bertemu dengan Suan dan bahkan dia sampai berencana akan menghabiskan malam bersamamu, maka, pasti kau adalah orang yang baik, bukan?” begitu mengerikan senyuman wanita itu dipandangan mata setiap orang yang melihatnya. Terlebih lagi, dipandangan sebagian karyawan dan juga beberapa dewan direksi yang mungkin sangat mengenali wanita itu karena ayahnya merupakan seorang pengusaha kaya, “karena kau orang baik, itu artinya, tidak masalah bukan, bagimu untuk kusiksa.” Tidak ada seorangpun yang berani menolong dan menghentikan Aria.
“Tolong, jangan, tolonglah,, hikss hikss tolong.” Padahal saat itu Aria sedang berusaha untuk membuka pakaian gadis tersebut dan berencana untuk menelanjanginya di depan umum, “ tolong aku hiks hiks,”
“Aria!” teriak Suan yang telah keluar dari lift dengan memar di wajah, mungkin laki-laki tersebut telah berhasil lepas dari amarah ayahnya.
Meskipun ia berteriak, tetapi Aria tidak mempedulikannya, malahan wanita itu semakin mempercepat gerakan tangannya yang sedang ditahan oleh tangan gadis di hadapannya untuk merobek kemeja gadis itu.
“Tolong!”
“Aria!”
“Aria!”
Suara panggilan dari dua orang terdengar bersamaan. Salah satu suara bahkan mengejutkan Aria dan menghentikan gerakan tangannya.
“Aria, aku baru ingat namamu ternyata Aria ya?”
Mendengar kelanjutan kalimat dari suara yang mengejutkannya, sontak Aria berdiri dan menghadapkan diri ke sumber suara.
“A.. Arkas!” panggil Aria yang telah melihat Arkas berdiri di depan kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan keadaan mencengangkan di tempat tersebut.
Deg.. deguppp... degupp...
Kepala Aria semakin terasa sakit.
Deg.. degup.. degupp..
"Apa yang sedang kau lakukan, Aria?"
Pertanyaan Arkas tidak lagi terdengar jelas.
Deg degupp degupp degupp..
Detak jantungnya terpacu kencang, tubuhnya gemetaran hebat dan ia berusaha keras untuk menahan kaki yang tiba-tiba menggigil karena ketakutan.
Deg.. degupp.. degupp..
Aria menangis keras. Ia jatuh terduduk menundukan kepala dan memeluk erat tubuhnya yang menggigil ketakutan.
Deg.. degupp deguppp..
Suara orang terdengar berbisik-bisik membicarakan tentang perilaku aneh Aria.
"Dia sudah gila ya?"
"Hikksss ahaaaaaa.. Hiks " Tangisan kerasnya membuat seorang karyawan wanita tanpa sengaja melontarkan kalimat dengan keras.
"Hiks hiks.."
Karena terus menangis, Suan yang berdiri sedikit jauh darinya merasa gerah dan emosi dengan perilaku Aria saat itu.
"Benar, dia memang sudah gila." Laki-laki itu bahkan dengan begitu tega membenarkan perkataan karyawannya.
Perlahan-lahan suara tangisan Aria berkurang.
Di hari yang sama, ia harus menerima kenyataan tentang masa depan suramnya lagi.
Masa depan yang akan membuat Aria membunuh dirinya sendiri karena Suan tidak akan pernah berhenti untuk menyiksa batin Aria dengan cara berganti-ganti wanita.
Perlahan-lahan Aria berdiri lalu menatap Arkas di depan mata.
"Aku, hiks hiks, akan mati." Gumam Aria pelan, berdiri lemah dengan tatapan kosong dan hampa. Wanita itu terlihat begitu kesakitan.
"Ternyata tujuanmu mendekati aku hanya untuk membuat tunanganmu cemburu, kau ingin membalas perselingkuhan tunanganmu dengan berselingkuh bersamaku, bukan?" tuduhan Arkas semakin menambah ketegangan di ruangan tersebut.
Penghinaan dari dua orang laki-laki yang terkait dengan hidupnya juga ia rasakan di hari yang sama. Seorang laki-laki adalah orang sangat ia cintai dan seorang laki-laki lain adalah orang yang harus ia lindungi. Pada hari itu, wanita tersebut benar-benar berada dalam penderitaannya.
"Hikss hikks." Aliran air mata terus mengalir hingga wanita itu tidak dapat menahan rasa gatal di hidungnya lalu membersihkan wajah dengan punggung telapak tangan berkali-kali.
"Aku akan mati," dia bergumam lagi untuk yang kedua kali tetapi sepertinya Suan ataupun Arkas tidak sedikitpun memandang iba terhadapnya.
"Kubilang padamu, aku tidak ingin berurusan denganmu jadi jangan mempermalukan dirimu sendiri." Lanjut ucap Arkas tanpa mempedulikan keadaan Aria yang telah kacau hari itu.
"Sekalipun dia berselingkuh denganmu, dia tidak akan pernah mau melepaskan aku, jadi berhati-hatilah dengannya!" Kali ini suara itu datang dari Suan hingga ucapannya tersebut sontak mengejutkan Arkas.
"Padahal kau adalah tunangannya, bahkan pernah mengancamku sebelumnya tapi sepertinya yang dikatakan wanita itu benar, bahwa kau tidak pernah sedikitpun mencintainya." Arkas membalas ucapan Suan, entah mengapa, sepertinya Arkas sangat tidak menyukai sikap laki-laki tersebut.
Suan dibuat tersenyum kecut karenanya.
"Kalau kau menginginkannya maka ambil saja dia." Laki-laki itu bahkan menyerahkan Aria begitu saja.
"Aku tidak menyukainya, aku juga tidak berniat mengambil pasangan orang lain jadi sebaiknya selesaikan masalah kalian di rumah bukan di tempat umum seperti ini." Ucap Arkas mengingatkan, laki-laki itu mulai berbalik memasuki kerumunan.
Mendengarkan ucapan Arkas, perlahan-lahan kesadaran Aria mulai kembali.
Wanita yang hari itu terlihat begitu tersiksa, tampak sedang berusaha untuk tetap bertahan berdiri.
"Terimalah cintaku!, kau tidak perlu khawatir karena aku akan membatalkan pertunanganku." Dia mulai membuka suara mengejutkan Arkas yang langsung menghentikan langkah dan juga Suan yang tidak pernah menyangka bahwa Aria akan mengatakan hal tersebut di depan umum.
Arkas berbalik kembali, "Berhentilah mempermalukan dirimu sendiri!, kau terlihat begitu berantakan hanya karena mengetahui tunanganmu berselingkuh."
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Aria berusaha keras untuk tetap sadar di tengah-tengah rasa lelah dan sakit yang luar biasa menyiksa. "Aku harus bagaimana agar kau yakin bahwa aku mencintaimu padahal aku sudah mengatakannya di depan umum?" Saat itu Aria tidak lagi memiliki pilihan. Jika dia tidak membatalkan pernikahannya dengan Suan, dia akan mati dan jika dia tidak mampu melindungi Arkas, dirinya juga akan mati. Yang ia lakukan saat itu hanyalah mengikuti keinginan dari perasaan aneh yang telah mengacaukan seluruh hidupnya saat ini.
"Kau terlihat sangat murahan," hina Arkas, begitu terang-terangan ia berbicara.
Tiiinggg...
Pintu lift terbuka,
Ayah Suan keluar dari sana bersama dengan beberapa dewan direksi yang mungkin tadinya telah menghentikan pertengkaran antara dirinya dengan putranya.
"Kau bilang apa?" bentak marah ayah Suan yang tiba-tiba saja mendengarkan penghinaan Arkas untuk Aria.
Segera laki-laki itu datang untuk mendekati Arkas.
"Jangan mendekat, paman!" Larang Aria hingga membuat laki-laki itu menghentikan langkah.
"Dia memang murahan." Suan tak kalah ikut menambah penghinaan untuk Aria.
"Suan!" bentak ayah Suan lagi begitu emosi.
"Ah benar, aku memang murahan, mungkinkah orang murahan sepertiku tidak pantas untuk mendapatkan cintamu, Arkas?" Ucap Aria penuh kebohongan, berusaha meyakinkan Arkas agar laki-laki itu tidak lagi mengusirnya pergi karena ia tidak ingin mati.
"Konyol," Suan geram ia bahkan mulai datang untuk mendekati Aria. “Bisakah kau berhenti berpura-pura?” bentak Suan marah bersamaan dengan para karyawan yang telah pergi meninggal tempat tersebut atas perintah para pemimpin mereka.
“Aria, kau ini bicara apa?” Ayah Suan berusaha keras untuk menenangkan Aria yang saat itu masih berdiri di depan Arkas lalu tubuhnya bergerak cepat ketika tangan Suan meraih lengannya dan menghadapkan gadis lemah itu ke arahnya.
“Aku tidak ingin menikah dengan Suan lagi.” Jawab Aria dengan tatapan sedih dan nafas yang terdengar terengah-engah karena hidungnya tersumbat, meskipun demikian, aliran air matanya terlihat telah berhenti saat itu.
“Berhentilah memanfaatkanku!, kebohonganmu itu terlihat jelas sekali.” Arkas terus-menerus menyangkal. Laki-laki yang tadinya akan mengikuti wawancara sesi kedua di perusahaan keluarga Dikintama itu sepertinya telah mengurungkan niat untuk bekerja di sana.
“Bagaimana caranya agar kau yakin, Arkas?” tanya Aria berulang kali sembari menundukan kepala karena lelah, wanita itu masih berdiri di hadapan Suan.
“Aku tidak akan percaya, sampai kapanpun tidak akan pernah percaya dengan hal yang tidak akan mungkin terjadi. Kau adalah orang kaya, kau dan aku bahkan baru bertemu beberapa hari saja lalu setelah bertemu, kau terus mengikutiku seperti orang yang tidak tahu malu dan sekarang kau malah memaksaku untuk menerima cintamu, jadi bagaimana mungkin aku bisa percaya?” Ungkap Arkas telah begitu lelah berhadapan dengan Aria, laki-laki itu kini berbalik kembali dan mulai melangkah pergi, namun dengan cepat ayah Suan datang dan bersiap akan melayangkan pukulan.
Melihat hal tersebut, Aria yang tidak ingin Arkas terluka karena dapat melukai dirinya juga, dengan sekuat tenaga berusaha menghalangi ayah Suan untuk mendekati laki-laki tersebut, tetapi sayang,..
Buukkkkk..
Tidak banyak lagi tenaga yang dimiliki Aria hingga wanita itu kini telah jatuh tak sadarkan diri.
“Aria!” dan karena hal tersebut, ayah Suan mengurungkan niat untuk memukul Arkas lalu bergerak menghampiri tubuh Aria yang terbaring memejamkan mata di atas lantai gedung perusahaannya.
Arkas yang berada dekat dengan Aria juga tak kalah terkejut lalu berusaha untuk membantu, “biarkan saja!” tetapi Suan tiba-tiba melarang laki-laki yang telah membungkuk itu untuk menyentuh Aria. “ Dia sedang berpura-pura, jadi biarkan saja!” lanjut Suan sembari mengepalkan kedua tangannya terlihat geram.
Karena tidak ingin berurusan dengan orang-orang dari kalangan kelas atas, Arkas menghentikan niatnya dan memilih untuk segera pergi dari sana.
“Aria, Aria!” meninggalkan Aria yang saat itu telah berada di atas kedua tangan Ayah Suan dan mungkin akan segera dibawa ke rumah sakit terdekat.