Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Teman berpihak



“Aria, kau sudah gila ya?”


“Kenapa aku gila?” tanya balik Aria yang terlihat sedang duduk di depan meja dan menyandarkan kepala di atasnya sembari sesekali menggigit batang cemilan pada Rena yang terlihat sedang menyapu lantai.


“Kau tidak lihat, kau masih terluka, ya?, harusnya kau tidak perlu datang ke kantor, dan lagi sebenarnya apa tujuanmu berada di kantor ini?” Tanya balik Rena sembari menghentikan kegiatannya menyapu dan memandang wajah Aria yang masih berada di atas meja dengan perasaan bertanya-tanya.


“Dijelaskan juga percuma saja, dan yang pasti aku datang karena tidak ingin sendirian di rumah, aku hanya ingin bersama Suan saja dan juga pasti, aku tidak akan berbuat kekacauan lagi.”


Jawab Aria santai sembari menggigit batang cemilan kembali, masih belum ingin menegakan tubuhnya saat itu.


“Ah, Suan, mungkinkah laki-laki yang menggendongmu kemarin itu adalah Suan?” tanya Rena mulai duduk di samping Aria begitu penasaran.


“Hm,” jawab Aria mengiyakan sembari menaikan salah satu alisnya dan menggigit batang cemilan terakhir.


“Dia tampan sekali, aku kira tadinya orang setampan itu hanya ada di televisi saja. Haa,, Aku ingin sekali melihat wajahnya lagi.”


“Kau kira aku akan mengizinkannya?” bentak Aria marah dan mulai menegakan tubuh, “kau harus tahu, Suan itu adalah milikku dan aku akan menyingkirkan siapapun wanita yang berani mendekatinya.” Lanjut Aria memandang Rena yang mulai malas untuk duduk dekat dengan Aria lagi dan lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Aku hanya ingin melihatnya saja, mana mungkin orang sepertiku bisa mendekatinya.” Ucap kesal Rena yang telah meraih sapu dan bergerak ke arah lantai yang masih kotor.


“Baguslah kalau kau mengerti,” ucap Aria mulai membuka bungkus cemilan baru lalu menyandarkan kepala di atas meja yang berada tidak jauh dari toilet berada dan menggigit batang cemilan rasa buah-buahan yang telah berhasil ia buka.


“Ah benar, jadi kemarin kau melihatku, ya?” lalu bertanya pada Rena dengan nada yang cukup sedih saat itu.


“Benar,” Rena berbalik, ia memandang ke arah Aria kembali, “kemarin aku merasa kau seperti orang yang sangat aneh, aku bahkan sangat takut untuk mengejarmu saat itu. Kau seperti orang yang sangat ketakutan hingga tertabrak mobil sekalipun kau terus berlari dan tidak takut mati.”


Wajah Aria pucat, entah mengapa mendengarkan pernyataan Rena tentang kematian membuat detak jantungnya memompa kencang hingga wanita itu mulai menegakan tubuhnya dan enggan untuk memakan cemilan lagi lalu perlahan-lahan berdiri dan dengan kaki pincang, ia berjalan ke arah tong sampah untuk membuang bekas makanannya.


Sementara itu, Rena mulai berpindah ke tempat kotor lainnya, meninggalkan Aria yang masih berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri hari itu.


********


Beberapa orang pegawai Cleaning service tampak sedang menyapu lantai bangunan yang sama.


Begitu pula dengan Rena yang akan segera memasukan sampah ke dalam tempatnya.


Pagi itu, dua orang karyawan wanita terlihat sedang berjalan sembari membawa tumpukan berkas di kedua tangan mereka masing-masing.


“Dia itu seperti wanita murahan, sudah mendapatkan direktur Suan, sekarang malah mengejar Asisten direktur Harry.” Suara seorang karyawan yang masih berjalan tersebut terdengar hingga ke telinga Rena yang tampak masih berdiri.


“Mungkin saja dia merasa kurang puas dengan pelayanan Direktur Suan, kita tahu sendiri bahwa direktur Suan sangat sibuk, bukan?”


Tambah seorang karyawan lain dan mereka kini telah berjalan semakin mendekati Rena.


“Dia itu benar-benar sampah, aku sangat muak melihatnya.”


Seru temannya dengan raut wajah kesal yang tak terkira hingga langkah kakinya tiba-tiba terhenti begitupula dengan teman di sampingnya ketika Rena menghalangi.


“Kalian sedang membicarakan tentang Aria ya?” tanya Rena sembari melayangkan senyuman lembut, hingga kedua karyawan wanita di depannya saling memandang.


“Hm,” ragu-ragu seorang dari mereka menjawab karena melihat senyuman lembut Rena yang terlontarkan.


“Benarkah namanya Aria?”


“Setahuku benar namanya adalah Aria.” Jawab salah seorang dari mereka ketika temannya tadi bertanya.


PAaaakkkk..


Pukulan keras mendarat di salah satu pipi seorang karyawan di sana hingga mengejutkan kedua karyawan tersebut.


“Kenapa kau memukulku?” bentak marah seorang dari mereka yang telah mendapati pukulan tangan Rena.


“Tentu saja karena kau berani menghina temanku brengsek, “ Ucap Rena sembari menarik rambut wanita di depannya dengan luapan emosi berapi-api.


“Kau ini gila ya?, berhenti menarik rambutnya.”


Seorang dari mereka berusaha keras meleraikan kedua orang yang saling menarik rambut bersamaan dengan Aria yang telah muncul dan terkejut melihat keadaan Rena.


“Rena, apa yang kau lakukan?” tanya Aria perlahan-lahan melangkah mendekati, “ ... kau ingin dipecat ya,?” lanjutnya lagi tampak kesulitan melangkah.


“Dia,” Rena masih terus menarik rambut karyawan di depannya, “... mengatakan kau sampah, bodoh.” Lalu memberitahukan pada Aria kalimat yang ia dengar tadinya.


“Benarkah?” tanya Aria dengan mata berkaca-kaca lalu menghentikan langkah kaki,” berani sekali kau mengatakan aku sampah, brengsek,” lalu melangkah tanpa kesulitan lagi mendekati karyawan yang mulai membelalak mata, memandang kedatangan Aria yang menghampirinya, “ Rasakan ini, rasakan, harusnya kau jaga mulutmu itu,” ucap Aria sembari memukul punggung wanita yang telah melepaskan tarikan dari rambut Rena lalu berusaha berjongkok, melindung diri dari pukulan Aria dan juga Rena sementara teman wanita itu tampak berlari untuk memanggil penjaga keamanan.


“Hentikan, hentikan, sakit rasanya. Tolong hentikan!”pinta karyawan wanita yang masih menerima pukulan keras dari Aria dan tarikan rambut dari Rena.


*********


Aria dan Rena duduk di atas sofa ruangan Harry,


Sementara itu, Suan hanya berdiri mengantungi kedua tangan dan menyandari punggung di dinding samping pintu sembari sesekali tersenyum lucu melihat wanita yang ia cintai menundukan kepala merasa bersalah.


“Aria, aria, kenapa kau terus mencari masalah?, tolonglah berubah!” teriak geram Harry yang berdiri di depan Aria saat itu.


Laki-laki tersebut bahkan sesekali memegangi dahi kepalanya yang sakit.


“Kalau kau tidak ingin mereka membicarakan buruk tentangmu maka akui sajalah kalau kau itu Aria Anderston, astaagaa.., sakit sekali kepalaku.” Lanjut ucap Harry begitu menahan emosi lalu bergerak menuju meja kerjanya untuk meneguk air putih saat itu.


“Tidak mau,”


Jawab Aria membuat Suan semakin tersenyum geli namun ia masih tetap berdiri pada tempatnya.


“Kalau kau tidak mau maka tahanlah emosimu itu!” taakkk.. Harry membanting gelas yang belum sempat ia minum ke atas meja hingga airnya berjatuhan mengenai beberapa lembar dokumen di sana.


“Baiklah aku akan menahannya.”


Ucap Aria dengan cepat sembari memandang Harry dengan tatapan merasa bersalah, “maafkan aku,” lalu meminta maaf hingga Harry mengalihkan wajah karena tatapan Aria tersebut.


“Huh, terserahlah,” ucap Harry lalu melangkah mendekati kursi kerja dan menghempaskan punggung di sana.


“Akui saja bahwa kau Aria Anderston agar semua orang berhenti menghinamu.” Saran Suan yang mulai melangkah dan duduk di samping Aria.


“Dia tampan sekali.” Bisik Rena hingga membuat Aria geram.


“Tutup mata brengsek!” ucap Aria sembari menutup mata Rena yang berusaha keras untuk melepaskan tangan Aria saat itu.


“Kalau sudah selesai marahnya, kami pergi dulu.” Lalu mulai berdiri dan memaksa Rena untuk mengikutinya.


“Suan!” Panggil Elbram yang tampak berlari mendekati ruangan Harry dengan terburu-buru. “Bigbos datang, ha...haa..” lalu memberitahukan informasi yang ia ketahui sembari berdiri terengah-engah menahan lelah.


“Apa?” tanya Aria begitu terkejut, begitupula dengan Suan namun Harry terlihat sedang memperbaiki setelah jas agar terlihat rapi.


“Bigboss?”


Rena mengernyitkan dahi kebingungan saat itu,


Sementara Aria terlihat menundukan kepala dan melepaskan tangannya dari mata Rena.


“Temuilah ayahmu!” ucap Suan lalu meraih tangan Aria dan membawa wanita tersebut keluar ruangan.


Ramai sekali,


Semua orang sepertinya sedang berbondong-bondong untuk melihat pengusaha kota hari itu.


Pengusaha kota yang memiliki banyak lahan di tempat mereka tinggal dan hidup serta pengusaha kota yang sangat terkenal di kalangan para pengusaha lain serta karyawan-karyawan perusahaan.