
Langkah kaki Elbram terhenti di samping Suan yang tampak memejamkan mata sembari bersandar pada kursi kerjanya.
Dia meletakan beberapa lembar dokumen di dalam map biru bersamaan dengan sekretaris Suan yang telah meletakan secangkir kopi di atas meja lalu pergi dari sana.
Malam itu, bulan purnama tampak bersinar di atas langit. Di malam yang cerah itu juga, Suan terlihat berpikir keras dan mengulang kembali ingatannya di masa lalu.
Pernyataan Ayah Aria di rumah sakit pagi itu juga tak kalah ikut membuat otaknya terus berpikir.
Ayah Aria tidak mengatakan apapun kecuali hanya : 'Aria terlalu banyak pikiran karena takut kehilanganmu.'
Menurut Suan, perilaku ayah Aria sangat aneh.
Ketika ia menanyakan hal tersebut, laki-laki itu juga tampak berwajah pucat.
“Aku sudah menemukannya.” Elbram mulai membuka suara lalu meletakan beberapa lembar foto di atas meja.
Suan yang tadinya bersandar, saat itu mulai membuka mata dan menegakan tubuh.
“Hmmm, Jadi dia orangnya?” tanya Suan sembari menggenggam erat sebuah foto seorang laki-laki tua bertubuh pendek dan berperut sedikit buncit, lalu meremasnya hingga menjadi bola kemudian membuangnya ke atas lantai.
“Dulu kakek Aria pernah merebut istrinya lalu membuang wanita itu saat dia puas memakainya.” Jelas Elbram yang masih berdiri di samping Suan bersamaan dengan Harry yang tampak memasuki ruangan tersebut.
“Lucu sekali dia, membalas dosa orang lain pada orang yang salah.” Ucap Suan lalu berdiri dan membuka jas kerjanya kemudian dia meletakan benda itu di ujung kursi, " Dia kira menabrak Aria bisa melegakan kebenciannya?"
“Mungkinkah kau akan ikut bersama kami?” tanya Harry yang tampak telah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat dan melapor pada Suan, “aku pikir orang suruhanku saja sudah cukup untuk menghabisi pemimpin perusahaan properti itu.” Lanjut Harry yang mulai mengikuti langkah kaki Suan keluar ruangan.
“Aku hanya ingin menghajar wajahnya. Kau tahu bukan, aku sangat membenci orang yang telah berniat melukai Aria.”
Pintu lift terbuka, Suan mulai melangkah masuk ke dalam diikuti oleh kedua temannya.
Tatapannya tajam, raut wajahnya juga terlihat sangat dingin malam itu.
“Kau masih ingin melukainya, laki-laki itu?” tanya Harry mengalihkan pembicaraan saat itu, sepertinya ia sedang membahas tentang Arkas, “aku hanya berpikir, mungkinkah Aria benar-benar mengejarnya?, tadi pagi Aria bahkan mengatakan bahwa dia mencintaimu.” Lanjut Harry sangat penasaran.
Laki-laki itu mulai menoleh ke arah Suan yang tampak mengernyitkan dahi karena kebingungan.
Tiiiitt..
Lalu ketika pintu lift terbuka, dia hanya tetap diam berdiri, mengejutkan kedua temannya,
“Kau tidak ingin keluar?” dan seorang dari mereka, yaitu Elbram menepuk bahunya.
“Aku terus berpikir,” Suan mulai berjalan keluar pintu lift namun tidak melanjutkan langkahnya. “Mungkinkah terjadi sesuatu pada Aria saat kami berpisah 2 tahun ini?” lanjutnya sembari menoleh ke arah Elbram dan juga Harry yang berada di sisi kiri laki-laki tersebut.
“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?” tanya Elbram menoleh ke arah Suan yang telah menghadapkan wajah ke arah depan kembali dan mulai melangkah kaki.
“Saat pertama kali bertemu dengannya setelah 2 tahun kami berpisah, dia juga melakukan hal yang sama seperti tadi pagi.”
“Maksudmu memukul wajahmu tiba-tiba?” tanya Harry cepat terus berusaha untuk mengiringi langkah Suan menuju ke pintu utama yang telah dipenuhi oleh puluhan laki-laki berjas hitam dan berdiri berjejer, menunggu kedatangan mereka.
“Benar, dia tiba-tiba memukulku dan mengatakan bahwa aku berselingkuh lalu meneriakiku keras hingga huh,” Suan sedikit tersenyum geli mengingat masa lalunya, “.. hingga kami bertengkar hebat padahal aku baru saja menemuinya setelah sekian lama merindukannya.” Jawab Suan yang kini telah memasuki sebuah mobil pada bagian belakang diikuti oleh Harry, sementara Elbram tampak duduk pada bagian depan mobil tersebut.
“Benar-benar aneh, mungkinkah yang dikatakan Paman Arson benar, bahwa Aria memang terlalu tertekan karena berpisah lama denganmu?” tanya Elbram dengan membalikan tubuh memandang Suan dari depan saat itu.
“Konyol, Aria sendiri bahkan mengakui bahwa dia memang tidak ingin bertemu denganku, dan ketika aku bertanya alasannya, dia sama sekali tidak ingin menjawab. Kesal sekali, bukan?, aku pikir hari itu, aku benar-benar dibuang olehnya dan dia tidak membutuhkanku lagi.” Jawab Suan sembari menoleh keluar jendela kaca mobil dan menyandarkan pipi di kepalan tangan yang sikunya bersandar pada dinding pintu mobil.
**********
Taaaakkkkk..
Pintu Apartemen terbuka, lalu setelah masuk, pintunya ia tutup kembali.
Tukk.. tukkk..
Langkah sepatunya menapaki lantai lalu setelah ia melepaskan kedua kaki dari pasangan sepatu kulit berwarna hitam tersebut, langkahnya mulai menapaki karpet berwarna abu-abu.
“Aku pulang.” Ucapnya sembari membuka pintu kamar dan melepaskan ikatan dasi lalu meletakannya di sebuah rak samping pintu, namun tidak mendengar jawaban sedikitpun, “kau sudah tidur, ya?” tanya Suan yang telah melangkah mendekati kasur, tempat dimana Aria sedang terbaring saat itu.
“Kau pasti lama pulang karena berselingkuh.” Suara Aria terdengar, ia melontarkan tuduhan yang sontak mengejutkan Suan.
Wanita itu kini tampak terbaring miring sembari memeluk guling dan enggan untuk melihat Suan saat itu.
“Kenapa kau selalu menuduhku selingkuh?, kau bahkan tidak pernah percaya sedikitpun padaku.” Tanya Suan merasa sedikit bersedih namun bercampur rasa bingung.
Memang, sejak ia kembali menemui Aria setelah 2 tahun berpisah. Aria tidak pernah henti-hentinya mengatakan kata tersebut hingga dulunya Suan jerah dan emosi namun sekarang sepertinya ia mulai terbiasa.
“Bagaimana aku akan percaya padamu?” bentak Aria keras sembari melemparkan guling ke arah Suan yang masih berdiri lalu melihat wajah wanita itu dipenuhi linangan air mata. “Aku bahkan tidak melihatmu sejak siang tadi, kau juga meninggalkanku di sini begitu saja, bukan?, kau pasti menemuinya, menemui wanita itu dan sudah tidur dengannya. Pantas saja kau tidak ingin menyentuhku, hikkkss hikksss.. “
“Lalu bagaimana caranya agar kau yakin padaku, Aria?” tanya Suan berusaha untuk tetap tenang sembari duduk di tepian kasur lalu mendekati Aria. “Maaf karena tidak bisa menemanimu siang ini dan kau juga masih perlu istirahat maka dari itu aku tidak membawamu ke kantor.”
“Bohong!” Paaaakkkk, lagi, Suan dibuat terkejut dengan emosi Aria yang membabi-buta, wanita itu bahkan sampai memukul wajahnya kembali untuk yang kedua kali di hari yang sama, “kenapa aku saja yang mencintaimu?, kenapa hanya aku saja yang mencintaimu dan kau malah berselingkuh dengan banyak wanita di belakangku.” Lanjut Aria melontarkan tuduhan, hingga Suan benar-benar bingung untuk meyakinkan wanita tersebut bahwa dirinya memang tidak sedikitpun dekat dengan wanita lain hari itu.
“Huh, waktu itu, kenapa kau tidak ingin menemuiku?, aku mencarimu, aku bahkan berusaha keras menghubungimu tapi kau tidak pernah mau berbicara padaku,” Suan mulai mengalihkan pembicaraan agar Aria tidak lagi membahas tentang tuduhan aneh yang selalu dilontarkan oleh wanita tersebut hingga dirinya pernah kesal lalu sempat berlaku kasar di masa lalu.
“Waktu itu?, kapan?,” tanya Aria yang telah menghapus air mata di wajah dengan lengan tangannya.
“Ketika 2 tahun kita berpisah. Aku sempat datang ke rumahmu tapi kau tidak ingin mene...”
“kapan kita pernah berpisah Suan?, aku memang,” Aria terlihat menegun, dahinya juga mengernyit, ia tampak berpikir sampai matanya memerah, “.. aku memang tidak ingin menemui waktu itu, itu karena..”
“karena apa?” tanya Suan yang begitu penasaran ketika tidak kunjung mendengarkan lanjutan dari ucapan Aria.
“Itu karena.. hikss... hikss.. itu karena kau selingkuh hiksss..” Aria melipat kedua kakinya, lagi dan lagi Suan dibuat geram namun ia berusaha keras untuk menahan diri.
Dia yang baru saja pulang setelah sebelumnya berusaha untuk menyingkir orang-orang yang berniat untuk melukai Aria, saat itu hanya bisa menahan amarah dan berlalu dari kamar tersebut menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***********
Sruuuuukkk..
Air terpancur cepat, keluar dari lubang-lubang Shower, membawa darah dari punggung jari-jari tangan Suan yang terluka.
Suan yang bermandikan air tersebut mulai menyingkap rambutnya naik ke atas.
Dia berusaha keras untuk menjernihkan otaknya yang mendidih.
“Kenapa aku terus dituduh selingkuh?” tanya Suan sembari mematikan pancuran air lalu bergerak menuju bath up yang telah terisi penuh air hangat kemudian duduk bersandar di bath up dengan kedua tangan di belakang kepala sembari terus menerus berpikir saat itu.
Laki-laki itu mulai memandang atap-atap kamar mandi sembari terus memutar ingatannya dan terkadang merasa menyesal karena pernah memperlakukan Aria begitu kasar di masa lalu.
Malam itu, ia telah yakin bahwa pasti telah terjadi sesuatu pada Aria saat mereka berpisah.