Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Tidak dicintai



Kritikkk kriiittiiikkk..


Jeduuuuuarrrr...


Suara derasnya rintikan hujan ditambah dengan suara gemuruh yang menggelega, menambah gundah gulana di dalam hati.


Sembari menunggu kedatangan bus kota, sesekali Arkas menoleh ke arah Rena di sampingnya.


Ada beberapa orang di dalam halte bus tempat mereka berada. Orang-orang tersebut terlihat menguasai semua kursi hingga Rena dan Arkas terpaksa tetap berdiri.


“Aku,” Rena membuka suara sembari menunduk sejenak lalu menoleh ke arah Arkas, “...benar-benar tidak mencintaimu lagi, Arkas.”


Dia yang mengetahui bahwa Arkas masih menyimpan bandul kenangan mereka berdua, saat itu merasa berkewajiban untuk mengungkapkan hatinya.


“Aku tahu,” Jawab Arkas tanpa menoleh ke arah Rena, “...tidak masalah bagiku yang penting kau baik-baik saja.”


Bus kota telah tiba, dengan segera Arkas naik mendahului Rena yang masih terdiam lalu ketika seseorang tanpa sengaja menyentuh bahunya, wanita tersebut mulai melangkah memasuki pintu bus kota di sana.


Mereka berada di bus yang sama, namun terpisah.


Masing-masing dari mereka mulai mengingat kenangan saat mereka bersama dan hal itu sungguh menyakitkan.


**********


“Tangkap Rena,” sebuah gantungan tas Arkas lempar pada Rena yang tampak menunggu laki-laki tersebut berjalan keluar dari gerbang sekolah.


Dengan segera Rena melompat untuk menangkap benda tersebut hingga tali tas selempang yang ia kenakan terputus, “ Ahhh tali tasku putus.” Keluh Rena yang telah berhasil meraih gantungan tas namun merasa bersedih karena tali tasnya yang terputus.


“Tenanglah, aku akan membelikan yang baru untukmu nanti,” Arkas yang telah datang mendekat, meraih tas Rena dan menjinjingnya.


“Berjanjilah kalau begitu!, aku tidak mau ditipu.”


“Tenang saja,” Arkas mengacak-acak rambut Rena lalu mulai berjalan diikuti oleh wanita tersebut. “Woii, ayo kita pergi ke Mall!” Teriaknya keras mengajak teman-temannya yang baru saja keluar dari gerbang sekolah untuk ikut bersama mereka.


“Kau akan membayarkan kami, ya?” tanya salah seorang teman Arkas yang telah berlari mengejar mereka.


“Oke,”


Jawab Arkas begitu santai masih terus berjalan hingga mobil yang dikemudi Supirnya telah tiba.


“Arkas, bukankah kau terlalu berlebihan?” tanya Rena yang mulai melangkah ketika Arkas mengajaknya masuk ke dalam mobil diikuti oleh tiga orang siswa laki-laki yang juga ikut masuk dan duduk pada bagian belakang mobil.


“Aku tidak berlebihan, aku hanya ingin menyenangkan hatimu, Rena,”


Arkas meraih gantungan tas dari genggaman tangan Rena, lalu ia membukanya. “Lihatlah, bandul ini akan kita isi dengan foto kita berdua nanti di sana, bagaimana?, kau setuju?”


“Hm, baiklah, sepertinya aku mulai bersemangat.”


Mobil Arkas mulai melaju, meninggalkan sekolah dan kenangan mereka saat itu.


Begitupula dengan bus kota yang kini juga telah melaju, namun keadaannya tidak seperti di dalam mobil Arkas, karena sekarang, Rena dan Laki-laki tersebut, benar-benar sudah berpisah.


************


Sore itu, di dalam sebuah kamar, kedua pasangan tampak sedang memadu kasih.


“Haa...”


Berkali-kali Michelle yang berada di bawah Harry terengah-engah karena kecepatan Harry tidak kunjung berkurang.


“Aku benar-benar tidak mencintaimu.” Ucap Harry pada Michelle lalu memperpelan gerakannya perlahan-lahan hingga Michelle menggenggam erat bantal di bawah kepalanya.


“Aku Haa, aku tahu,” Jawab Michelle begitu sedih namun ia menikmati sentuhan tangan Harry pada kulit-kulit tubuhnya.


“Harry!, Kau masih mencintai Aria, bukan?”


Tanya Michelle dengan rasa sedih yang tak terkira lalu mulai melemah ketika Harry telah menyelesaikan kegiatannya.


“Benar,” jawab Harry begitu santai lalu melangkah meraih pakaian dan memakainya kemudian setelah selesai, ia berlalu meninggalkan Michelle yang masih terduduk diam tanpa mengenakan sehelaipun pakaian, memandang punggung Harry yang telah menghilang keluar ruangan.


*********


Mobil Suan perlahan-lahan masuk ke dalam tempat parkir di Basement gedung Apartemen miliknya.


Meskipun berada sedikit jauh dari pintu masuk utama, tetapi bagi Suan, saat itu yang terpenting adalah Aria tidak terkena hujan kembali.


Celana panjang Aria masih basah, dan itu membuat Suan semakin mempercepat langkahnya menuju pintu lift Basement yang sedikit jauh dari tempat mobilnya terparkir.


Setelah mengunci pintu mobil dengan sempurna, Suan mulai melangkah menarik salah satu tangan Aria.


Terus melangkah hingga masuk ke dalam lift, sesekali Suan memeras rambut Aria yang masih berair untuk menguranginya membasahi jas Suan yang dikenakan Aria saat itu.


Lift telah terbuka, mereka juga telah melangkah di koridor lantai Apartemen Suan berada.


Dari jauh, seorang pelayan tampak keluar dari dalam apartemen Suan. Mungkin sebelum kembali, Suan telah memintanya untuk menyiapkan air hangat di dalam Bathub agar Aria bisa menghangatkan diri dari kedinginan nantinya.


Pelayan itu menunduk, melewati Suan dan Aria yang telah melangkah mendekati pintu lalu menghilang ketika ia memasuki pintu lift bersamaan dengan Suan yang telah menutup pintu Apartemennya.


Suan membuka jas yang dikenakan Aria ketika ia telah memasuki ruangan tamu hingga kulit lembut dan putih Aria terlihat jelas di pandangan matanya yang langsung teralih.


“Mandilah!, aku akan meletakan ini di tempat pakaian kotor.”


Perintah Suan sembari mulai melangkah.


Aria mulai menunduk lalu melangkah kaki namun tujuannya bukanlah kamar mandi yang telah disiapkan oleh pelayan tetapi ia tampak melangkah mengikuti Suan.


Hingga ketika Suan berhenti, ia memeluknya dari arah belakang.


“Dingin sekali,”


Suara Aria semakin mengejutkan Suan yang tadinya telah terkejut ketika mendapati pelukan Aria.


“Karena dingin, maka sekarang mandilah!”


Perintah Suan yang telah melepaskan tangan Aria dan membalikan tubuhnya lalu menatap mata wanita tersebut yang memandangnya dari bawah.


“Dingin sekali,” ucap Aria dengan mata berkaca-kaca hingga membuat Suan tidak dapat lagi menahan hasratnya sebagai seorang laki-laki.


“Ah,” laki-laki itu mengangkat tubuh Aria dengan melingkarkan kedua tangan pada pinggang wanita tersebut, hingga membuat Aria terpaksa memeluk lehernya dan melingkarkan kedua kaki di tubuh Suan.


“Kau sedang mencari masalah, Aria.” Ucap Suan sembari membawa Aria masuk ke dalam kamar mandi lalu menurunkan kaki wanita tersebut ke atas lantai.


“Ahh,” Aria mendesah, ia menikmati Sentuhan tangan lebar Suan di kulitnya. “Eum,” lalu desahannya tertutup ketika Suan meraih bibir bawah Aria.


Tangan Aria mulai meraih kancing-kancing kemeja Suan dan membukanya, tangan Suan berhenti menggenggam kulit Aria lalu bergerak membuka kancing celana basah yang masih Aria kenakan.


Hingga setelah Aria selesai membuka kemeja Suan, wanita tersebut mulai membuka ikat pinggang laki-laki tersebut untuk membuka celananya lalu kini, keduanya tidak lagi mengenakan sehelai pakaianpun.


“Suan,”


Suan tidak tahan, ia meraih tangan Aria lalu membawa wanita itu ikut masuk ke dalam Bathub yang telah diisi Air hangat kemudian menyandarkan punggung Aria pada dinding benda itu.


“Eum,” lalu mencium bibir Aria sembari bermain pada kulit wanita itu.


Tangannya tampak masih belum berani untuk bergerak menuju ke bagian bawah, ia masih ragu untuk melakukannya. Ia hanya menyentuh kulit lembut Aria dan mendekatkan tubuh wanita itu untuk semakin menempel ke tubuhnya.


“Haaa..”


Aria mendesah, ia menikmati sentuhan bibir Suan di kulit lehernya lalu menggigit bibir bawah.


“Ah, Suan, aku, aku tidak dapat menahannya.”


“Tenanglah!” Suan menutup mulut Aria,


“Eum,” dengan bibir yang menggigit lembut bibir,


dan Aria membalasnya.


“Aku mohon, aku ingin melakukannya.”


Pinta Aria mengejutkan Suan yang langsung tertegun kemudian berdiri.


“Menangis memohonlah jika kau ingin aku melakukannya!”


Ucap Suan dengan nada dingin hingga Aria terkejut lalu melihat Suan telah mengenakan jubah handuk kemudian melangkah pergi, meninggalkan Aria yang langsung membenamkan diri di dalam air hangat.


“Memangnya aku ini salah apa?” gumam Aria dalam hati, menangis sedih di dalam bathub air hangat saat itu.