
Sebuah hotel berbintang telah dipesan khusus untuk merayakan pesta pertunangan sepasang kekasih.
Beberapa tamu mulai datang dan memasuki area acara yang telah disediakan oleh pemilik pesta.
Ada begitu banyak meja bundar yang di kelilingi oleh kursi-kursi. Ada begitu banyak pula, para pelayan pesta yang berlalu-lalang melayani para tamu undangan.
Di bagian ujung ruangan mewah dan luas di sana, ada sebuah meja panjang yang di isi banyak jenis minuman beralkohol ataupun non-alkohol yang berjejer rapi dan berwarna-warni di dalam sebuah gelas.
Di bagian sana juga, terdapat beraneka ragam jenis kue kering maupun basah yang bisa diambil oleh tamu undangan sesuka hati mereka.
Sebuah panggung tampak dihias khusus untuk pusat utama pesta malam itu.
Di atas panggung, seorang pembawa acara tampak sedang mempersiapkan diri untuk memulai acara.
Setelah para tamu undangan duduk rapi di atas kursi mereka masing-masing, acara yang dinanti-nantikanpun akhirnya tiba.
Pertukaran cincin telah dilaksanakan, lalu setelahnya para tamu mulai bebas berbincang-bincang menghabiskan waktu mereka ataupun berdansa dengan alunan musik yang telah disediakan.
“Dasar penipu!” bisik seorang wanita yang tampak sedang berdiri di samping Michelle ketika Michelle sedang berdiri melayani tamu yang mungkin akan memberikan bingkisan dan hadiah selamat.
Michelle hanya diam, dia mengakui bahwa dirinya memang telah berbohong agar teman-teman sekolahnya datang mengunjungi pestanya.
“Kau tahu?, sebenarnya dari dulu kau itu hanyalah sampah yang tidak berguna, kau bahkan berani sekali merebut bekas kekasih Aria.”
Bisik seorang lainnya dengan penuh penghinaan. Wanita itu tampak ragu-ragu memberikan hadiah yang ia pegang untuk Michelle saat itu.
“Dia bilang dia dekat dengan Aria, aku yakin foto mereka berdua waktu itu hanya editan saja.”
Seru seorang wanita cantik lain dengan rambut bergelombang yang baru saja bergabung dengan teman-teman masa sekolahnya di depan Michelle yang hanya bisa terdiam dan menundukan kepala, membiarkan tamu yang tadinya akan mendekatinya, pergi.
“Dan lagi, mana mungkin seorang Aria akan datang ke pesta murah yang hanya diadakan di hotel seperti ini.”
“Kalau kau ingin Aria datang, setidaknya kau perlu menyewa kapal pesiar, hm, itupun sejenis Ocean ataupun Crystal Cruise.”
Wanita berambut gelombang mulai mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tas yang ia jinjing, “sebenarnya aku berniat memberikan barang mewah ini padamu, tapi itupun karena kupikir tadinya kau berhasil membawa Aria Anderston ke acaramu ini.”
“Benar, aku juga begitu,” seorang wanita yang berdiri di samping Michelle mengambil kembali hadiah yang telah ia beri dari tangan wanita di sampingnya tersebut, “sayang sekali, hadiah ini tidak dikhususkan bagi seorang penipu.” Wanita itu mulai menyimpan hadiahnya ke dalam tas.
“Kau mau ini?, tenang saja, ini isinya hanyalah sampah.” Seorang yang berdiri di depan Michelle memberikan sebuah kotak kecil berkaca, sebuah kalung emas putih tampak terlihat dari dalamnya melalui kotak kaca tersebut. “Lain kali jika ingin mengundang Aria, pesanlah kapal pesiar agar kau tidak memalukan dirimu sendiri.”
Ucap wanita berambut pirang lurus dan bergaun setumit kaki itu, menyindir Michelle yang hanya bisa diam dan meraih hadiah darinya.
“Haa,, di tempat ini saja melelahkan, apalagi di kapal pesiar.”
Suara seseorang mengejutkan ketiga orang di sekitar Michelle.
“Kau?”
Wanita berambut gelombang terkejut ketika masker, penutup wajah dari wanita yang baru saja berbicara, dibuka.
“Aria!” panggil ketiga wanita di sekeliling Michelle secara bersamaan sembari langsung menundukan kepala, mungkin karena mereka takut saat itu.
“Jadi kalian mengenalku?” tanya Aria begitu terkejut hingga ketiganya sontak mengangkat kepala.
“Hm,” angguk ketiganya dengan mata berkaca-kaca, “tentu saja karena kami sangat menganggumi kejahatanmu di masa lalu.”
“Astaga,” ucap Aria mulai kesal hingga ketiganya menundukan kepala kembali.
“Maaf Aria,”
“Berhentilah menganggumiku lagi!, saat ini aku sudah taubat. Ah sudahlah lupakan!” Aria mulai menghampiri Michelle yang tampak ingin menangis saat itu.
Harry yang tadinya akan mendekati tunangannya terpaksa berbalik, menghindar karena enggan berkumpul bersama wanita dan memilih untuk bergabung dengan Suan yang telah dikerumuni oleh para pengusaha kota.
“Aria!” seorang wanita berambut gelombang mulai memandang mata Aria begitu kagum,
“Tundukan kepalamu!” seorang dari mereka memaksa kepalanya untuk menunduk saat itu.
“Kenapa kalian menundukan kepala?, bukankah kita adalah teman?” tanya Aria mengejutkan semua orang di sekitarnya, hingga seorang yang baru saja melewatinya tampak menghentikan langkah lalu menuju ke arah Aria saat itu.
“Ka.. ka.. kau..”
“Kau mengakui kami sebagai temanmu?” sela cepat wanita berambut pirang karena teman yang tadinya berdiri di samping Michelle, gugup dalam berkata.
“Padahal sudah kubilang kalau aku sudah taubat. Lupakanlah, sekarang minggir dulu!”
“Aria!”
“Maaf karena sudah tidak tahu malu datang ke pestamu, padahal kau tidak mengundangku,”
“Bukan begitu...”
“Hm,” Aria menggelengkan kepala lalu melayangkan senyuman lembut pada Michelle yang tampak memandang wanita tersebut dengan mata yang masih berkaca-kaca, “.. setidaknya terimalah ini meskipun kau tidak ingin berteman denganku. Tenang saja, ayahku tidak akan menghancurkan keluargamu hanya karena menerima hadiah yang tak seberapa ini dariku.” Ucap Aria sembari memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah yang berisi sepasang jam tangan mewah original serta edisi terbatas pada Michelle.
Ragu-ragu Michelle meraih hadiah dari tangan Aria, ia bahkan mulai tertegun dan merasa sedikit bersalah karena ucapannya beberapa hari yang lalu.
Karena melihat tingkah gugup Michelle, Aria dengan cepat meraih salah satu tangannya, “Aria!” dan memberikan kotak hadiah tersebut pada Michelle dengan cepat.
“Kenapa kau lambat sekali mengambilnya?” ucap Aria mulai menghela nafas lega, “baiklah, karena acaramu telah selesai dan di sini juga sangat melelahkan, aku ingin kembali bersama Suan, oh iya benar,” Aria tersenyum ceria hingga gigi-giginya yang putih sedikit kelihatan, “lain kali kalau membuat acara, lebih dipersingkat waktunya ya, maaf, aku benar-benar bosan mendengarkan ocehan pembawa acaramu tadi.” Lalu mengutarakan pendapatnya secara terang-terangan kemudian berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Michelle yang masih berdiri tidak menyangka.
“Aria, bolehkah aku mengikutimu?” tanya seorang dari teman Aria yang berambut gelombang.
“Tidak usah, kau hanya akan menggangguku saja.” Tolak Aria secara terang-terangan sembari memakai maskernya kembali dan berniat untuk bergabung bersama Suan namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang laki-laki tua yang sangat terkenal di kotanya sedang berhadapan dengan Suan sembari membawa seorang wanita cantik yang mungkin adalah putrinya.
“Itu putri Hana?”
Seru seorang tamu yang berkunjung terdengar hingga ke telinga Aria.
“Sejak kapan Putri Walikota kembali dari Australia?” tanya seorang tamu lainnya bersamaan dengan mata Aria yang mulai memerah ketika laki-laki tua di depan Suan mendorong punggung putrinya hingga wanita tersebut jatuh ke pelukan laki-laki yang Aria cintai.
“Wah gila, mereka sangat serasi.”
“Maksudmu Suan Dikintama dan Putri Hana?”
“Tentu saja, jadi menurutmu siapa lagi.”
“Aku dengar nona Anderston memutuskan pernikahan dengan Suan, mungkinkah sebenarnya karena Suan telah dekat dengan Putri Hana?”
“Begitukah?, aku pikir benar juga karena aku pernah mendengar bahwa Suan menggenggam tangan wanita lain di taman kota.”
“Mungkinkah itu putri Hanna?”
“Mungkin saja, kalau dipikir-pikir, putri Hana juga tidak kalah cantiknya dengan nona Aria.”
“Benar juga, dan lagi kepribadian Putri Hana jauh lebih ramah dan sopan, berbanding terbalik dengan nona Anderston yang sangat licik itu.”
Suara percakapan tamu pengunjung terus menggema di telinga Aria yang hampir saja dibuat marah jika ia tidak mengingat bahwa dirinya telah berjanji pada Suan untuk tidak berbuat kekacauan kembali.
Hatinya mulai merasa cemburu, tatapan mata Aria juga sangat dingin memandang wanita cantik bergaun ketat setumit kaki yang telah melepaskan diri dari pelukan Suan tadinya.
Aria membenci wanita itu, dia mulai tersenyum kecut menahan emosi di hati, lalu berpikir bahwa dirinya akan segera melenyapkan wanita yang berani menyentuh Suan saat itu.
Langkah Aria begitu sempurna, wanita itu membuka masker lalu meraih sebuah gelas berisikan alkohol dari nampan seorang pelayan yang lewat.
Ia tidak lagi peduli dengan kemarahan Suan nantinya.
Ia sangat marah ketika lagi dan lagi, ayah wanita tersebut mendorong putrinya untuk menempel ke tubuh Suan saat itu.
“Ah, menjijikan.” Ucap Aria yang telah mengembangkan senyuman remeh lalu mendekati Suan yang dikerumuni banyak orang.
Srruuukkkkk...
Lalu langkahnya terhenti ketika air dari dalam gelas tiba-tiba tersiram ke arahnya hingga wajah wanita itu mulai memerah dan kulitnya mulai gatal.
“Maaf aku tidak sengaja, Maaf.” Ucap Seorang wanita yang telah menyiram wajah Aria hingga Aria mulai terpancing emosi dan matanya memerah.
Suara keras wanita yang menyiram wajah Aria tersebut bahkan mampu mengundang perhatian banyak orang di sekitarnya hingga kini, Aria dengan kulit di wajah yang memerah menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung pesta.
“Aria!”
Sruukkkk...
Suan terkejut ketika ia yang tadinya mulai mendekati Aria, terkena siraman alkohol yang sengaja dilakukan Aria dari gelas yang wanita itu genggam pada wajahnya.
“Aria!” sebut Suan mulai geram dengan tingkah Aria yang menyiram wajahnya tersebut.
“Hm, kau ingin marah, ya?, maka marahlah!” bentak keras Aria penuh emosi hingga matanya mulai memerah.