
Baaakkk.
Kemarahan terlihat jelas memenuhi wajah, namun sepertinya masih bisa ia tahan hanya dengan memukul perut Assistennya.
Kraaaakk..
Pintu ruangan terbuka.
Tuk..tukk..tukkk..
Suara langkah sepatu terdengar menggema.
Laki-laki yang tadinya membungkuk, menahan perut yang sakit berjalan perlahan-lahan mendekati wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerja.
“Kenapa kau menggagalkan pernikahan orang lain?” Laki-laki itu kini telah berada di belakang wanita yang tak lain adalah Aria dan bersembunyi di sana untuk meminta perlindungan dari serangan ayah wanita tersebut.
Pintu tertutup, sekretaris ayahnya yang telah menutupnya.
“Huh,” Aria menghela nafas, “keluarlah!” lalu memerintahkan Assisten ayahnya untuk tidak lagi bersembunyi di belakangnya dan pergi meninggal ruangan tersebut.
“Kau kira aku mengizinkannya keluar?” Saat ingin beranjak pergipun laki-laki tersebut harus menelan saliva karena suara bentakan dari pimpinannya.
“Ayah, bukankah aku datang untuk menjawab pertanyaanmu?, jadi biarkan saja dia pergi.” Wanita itu mulai memasang wajah kedua, berpura-pura manja untuk menghentikan kemarahan ayahnya.
“Apa yang sebenarnya kau lakukan, Aria?, Manajer Johan bahkan sampai memohonku untuk membuatmu berhenti.”
“Oh, jadi laki-laki tua itu adalah saudara Manajer Johan?” Aria melontarkan pertanyaan kembali, berpura-pura tidak mengetahui segala hal yang terjadi.
“Aria!”
“Ayah, aku tidak melakukan apapun.” Wanita itu mulai mendekat, lalu bergelayut manja di punggung ayahnya tersebut, “Ayah percayalah padaku!"
“Apa yang harus kupercaya?, buktinya saja sudah sangat jelas dan kau memerintahkan Assistenku untuk menggagalkan pernikahan laki-laki tua itu.” Ayah Aria menjauhkan tubuhnya dari tubuh manja putrinya. Ia yang tadinya berdiri, saat itu telah duduk kembali di kursinya.
“Hiks hiks, ayah percayalah padaku!” Air mata kebohongan mengalir di pipi, “laki-laki tua brengsek itu, memaksa temanku untuk menikahinya. Aku tidak mau temanku menderita karenanya. Temanku itu tidak memiliki orang tua, dia dipaksa berpisah dengan kekasihnya karena perjanjian orang tuanya sebelum mereka meninggal. Ayah, bagaimana jika kau nanti ehh.. “ Aria mendekati ayahnya yang telah duduk lalu berjongkok dan menyandarkan kepala di paha kaki ayahnya tersebut, “bagaimana jika kau nanti telah tiada lalu tiba-tiba seorang laki-laki tua datang dan memaksaku untuk menikahinya?, Ayah, kau bahkan belum mengetahui dengan jelas perasaan Suan untukku, bisa saja aku diceraikan...”
“Sudahlah,” kepala yang pusing bertambah pusing mendengar pengaduan dari putrinya, “pecat saja dia!” laki-laki itu mulai memberikan perintah kepada Assistennya yang masih berdiri di depan pintu hingga laki-laki itu sedikit terkejut dan menganggukan kepala, memenuhi perintah dari pemimpinnya.
“Hm, benar ayah, lebih baik pecat saja Manajer Johan karena...”
“Berhentilah Aria!, sekarang lebih baik kau pulang dan temui ibumu. Kau belum bertemu dengannya, bukan?” laki-laki itu mulai berdiri kembali lalu melangkah mendekati dinding kaca untuk melihat pemandangan di luar bangunan perusahaannya.
“Ayah aku masih ingin di sini, jadi biarkan aku di sini sebentar saja.” Aria mulai melangkah, mendekati berkas-berkas ayahnya. Sepertinya saat itu ia sedang menunggu sesuatu.
“Direktur tolong, ..” Suara seorang laki-laki tiba-tiba terdengar, mengejutkan ayahnya yang langsung berbalik menghadap ke arah pintu ruangan, tapi tidak dengan Aria yang tampak tersenyum licik.
“Maaf direktur!” Assisten laki-laki pemilik bangunan terlihat berusaha keras untuk memaksa laki-laki yang baru saja masuk itu, keluar ruangan.
“Tolong jangan pecat saya, Direktur. Saya masih harus menanggung biaya rumah sakit istri saya, haa hiks tolonglah Direktur.”
“Haalaahh, jadi dia Manajer Johan ya Ayah?, bukankah dia telah memohon sekali, lalu sekarang kenapa harus memohon lagi?” Aria berucap cepat, wanita yang tadinya berdiri, saat itu mulai duduk di kursi ayahnya dengan teramat santai.
“Kembalilah Aria!”
Sepertinya ayah Aria tidak ingin melihat putrinya terlalu lama di ruangannya karena ia sadar bahwa dirinya pasti akan menuruti semua permintaan putrinya tersebut, jika wanita itu telah memohon.
“Tapi ayah..”
“Nona tolonglah saya!"
“Sebenarnya kau sangat berbakat, hanya saja kau tidak seharusnya membela orang yang bersalah dan mencampurkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.” Ayah Aria tampak memijat kepalanya, ia bahkan sempat menghela nafas berat ketika putrinya tidak kunjung pergi dari ruangan tersebut. “Jadi maaf, kau dipecat.”
“Tolonglah nona!” Pinta laki-laki itu dengan teramat memelas kepada Aria yang tampak mengembangkan senyuman kepuasan.
Segera ayah dari wanita tersebut mendekati telpon yang ada di atas meja lalu menekan salah satu tombolnya, “ Panggil security!” perintahnya mungkin kepada Sekretarisnya.
“Nona,”
“Pergilah!, kalau kau tetap seperti ini, kau kira kau bisa mendapatkan gaji terakhirmu nanti?” Assisten Ayah Aria mulai memberikan ancaman, ia yang kurus saat itu tidak dapat menarik paksa laki-laki yang tubuhnya lebih tinggi daripada tubuhnya sendiri.
“Pergilah, Astaga!”
“Nona, Saya mohon maafkan saya, saya tidak tahu ternyata saudara saya itu pemaksa.”
“Hm huh, Pergi, kau tidak dengar?” Ayah Aria semakin dibuat risih, ia begitu merasa terganggu saat itu.
Dua orang penjaga keamanan yang dipanggil telah datang. Tubuh kedua orang tersebut yang tegap dan profesional segera menghampiri laki-laki yang sedari tadi terlihat berjongkok, meminta permohonan.
“Nona!” panggilnya yang kini telah berdiri dan ditarik paksa untuk keluar, “ aku mohon, jangan pecat aku haa hiks,, tolonglah aku mohon.”
“Ahh ayah, setelah kupikir-pikir, lebih baik biarkan saja dia tetap bekerja di sini.”
“Aria!” Ayah Aria benar-benar tidak tahan lagi, kini ia bahkan sampai membentak keras.
“Bukan begitu ayaaah,” Aria segera berdiri dan mendekati laki-laki yang tadinya akan dibawa keluar, ”lepas!” lalu memerintahkan para Penjaga keamanan untuk melepaskannya.
“Nona!” laki-laki itu berjongkok kembali.
“Jangan sentuh aku!” dia yang tadinya akan memeluk salah satu kaki Aria, saat itu hanya bisa terduduk dengan menundukan kepala.
“Aria, apa lagi maumu?” tanya Ayahnya dengan nada keras, tampak sangat lelah menghadapi keinginan putrinya.
“Setelah ini aku akan menemui ibu, tapi biarkan dia tetap bekerja asalkan dia dapat memastikan bahwa saudaranya itu tidak menikahi temanku lalu semua orang yang memanfaatkan temanku itu, pastikan tidak ada satupun dari mereka yang mendekatinya lagi. Ayah, temanku itu mudah ditipu, dia sudah mengeluarkan banyak...”
“Huh,” ayah Aria menganggukan kepala, “ Terserah kau saja, tapi sekarang pergilah!” lanjut laki-laki tersebut tidak tahan lagi dengan permintaan putrinya yang terus-menerus selalu memaksakan kehendaknya sendiri, "aku sudah pusing mendengar segala permintaanmu."
“Ayah, Aku sangat sayang padamu.” Ayah Aria tersenyum, laki-laki itu sontak membalik tubuh karena merasa sangat bahagia mendengar ucapan tersebut dari putri kesayangannya. “Kau ikut denganku!” Suara manja Aria kini telah berubah, dingin dan penuh tekanan.
“Baiklah nona.” Laki-laki yang tadinya hendak dipecat tersebut langsung berdiri dan melangkahkan kaki mengikuti Aria, meninggalkan pemimpin perusahaan yang masih berdiri memunggungi kepergian mereka.
Pintu ruangan ditutup.
Semua orang telah pergi dari sana.
Langkah kaki Aria terus berjalan hingga sampai di depan sebuah toilet umum perusahaan dan setelah menghentikan langkah, ia memerintahkan siapapun yang berada di sana untuk segera pergi.
“Nona!”
“Kau berhutang padaku.”
“Iya, baiklah nona, apapun itu perintahnya, akan saya lakukan.” Laki-laki itu berdiri menundukan kepala, ia berada tepat di depan Aria.
“Cari tahu semua hal tentang wanita simpanan saudaramu itu, jauhkan dia dari semua orang yang dekat dengannya, tapi ingat satu hal, kau tidak boleh menyentuhnya sedikitpun, paham?”
“Iya, saya paham nona.”
Setelah puas mendengar jawaban dari laki-laki di hadapannya, Aria segera melangkah pergi melewati beberapa pegawai yang menundukan kepala dengan sangat sopan kepadanya, terus melangkah sembari menatap tajam, penuh kekesalan serta emosi ketika mengingat kesialan Arkas terakhir kalinya karena ulah wanita yang saat ini sedang ia jadikan target kemarahannya.