
“Kenapa kau melakukannya, ayah?”
Sekretaris ayah Aria segera berlalu dan menutup pintu ruang kerja pemimpinnya, meninggal Aria yang tampak berdiri mengepalkan kedua tangan tepat di depan kesibukan ayahnya.
“Melakukan apa?, ayah tidak mengerti maksudmu,” laki-laki paruh baya itu terlihat sedang menggunakan kacamata dan menandatangani beberapa lembaran dokumen dengan penanya. “Kapan kau akan pulang?” dia melanjutkan pertanyaan dengan begitu santai, seolah-olah tidak mengetahui apa yang sedang terjadi tanpa melihat ke arah putrinya.
“Perumahan Gardenia Sherry, kenapa kau menghancurkannya?” Aria terlihat berusaha untuk tetap tenang, ia benar-benar tidak ingin kembali pada diri yang sering terbawa emosi.
“Perumahan apa tadi?” ayah Aria terlihat kebingungan, ia mulai melepaskan kacamata sembari melihat ke arah putrinya yang masih terus berdiri di hadapannya.
“Ayah bahkan tidak mengetahui perumahan itu.” Lanjut laki-laki paruh baya tersebut, mengernyitkan dahi dan membalas tatapan Aria.
“Pinggiran kota, benarkah kau sedang dalam proyek pembangunan di pinggiran kota?” Aria berusaha menjelaskan.
Ia mulai berpikir,
Mungkinkah proyek itu hanya kebetulan dan tidak berkaitan dengannya?
“Ahh,, lahan itu, “Ayahnya mulai teringat sesuatu, “itu memang lahan kita. hanya saja, karena berada di pinggiran kota, perusahaan properti lain seenaknya saja mengambil lahan itu dan dijadikan perumahan tanpa memberitahukan pada kakekmu di masa lalu.” Jawab santai ayah Aria lalu mulai mengenakan kacamata kembali dan melanjutkan pekerjaannya.
“Kenapa harus sekarang dipermasalahkan?, bukankah kejadiannya sudah lama berlalu dan ada banyak orang yang tinggal di sana?, lalu kenapa tidak dari dulu saja tanah itu diambil? Haa hikkss..”
“Aria, kau aneh sekali.” Ayah wanita itu terkejut dengan pertanyaan tidak biasa yang dilontarkan putrinya, “ ayah juga sudah memberi uang ganti rugi, harusnya yang kau salahkan adalah kebodohan warga perumahan itu yang tidak memperhatikan secara baik-baik keaslian surat rumah mereka?, huh, “ laki-laki yang tadinya sangat sibuk mulai merasa kesal, segera ia meminum air putih di dalam gelas untuk menenangkan diri.
Aria menggenggam erat tangannya lalu menghapus air mata dengan salah satu tangan tersebut, “bukankah kau ini keterlaluan ayah?” wanita itu mulai berucap, ia merasa sangat tidak terima dengan sikap ayahnya tersebut. “Ada begitu banyak lahan yang kau miliki, tetapi kenapa kau malah mengambil lahan yang sudah ditempati?”
“Aku hanya menyetujui saran Suan, tempat itu juga lumayan bagus untuk membangun pabrik.” Ucap ayahnya dengan nada kesal sembari menghela nafas berat, “pergilah kalau kau hanya ingin menambah bebanku saja!” lanjut laki-laki tersebut terlihat sangat marah dengan sikap aneh putrinya yang tampak terkejut mendengar lontaran kalimat ayahnya tersebut.
“Huh.. Suan?, pantas saja.” Aria berbalik lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat.
“Kau tidak ingin pulang?” suara teriakan ayahnya ia abaikan, wanita itu terlihat berjalan begitu emosi, mengingat sikap Suan yang aneh menurutnya akhir-akhir ini.
**********
Semua orang di lantai bangunan itu dibuat tegang karena kedatangan Aria yang terlihat marah.
“Mungkinkah mereka akan bertengkar lagi?” bisik seorang karyawan kepada teman lainnya yang berdiri melihat Aria melewatinya.
“Hush, sudah jangan ikut campur.” Ucap temannya lalu menarik tangan karyawan itu untuk segera berlalu dari sana.
Sekretaris Suan menunduk, ia tidak dapat menghalangi langkah Aria untuk memasuki ruangan kerja pimpinannya saat itu.
Beberapa dewan direksi yang berada di ruangan lain terlihat menghela nafas berat dari dinding kaca karena lagi dan lagi, pertengkaran direktur utama mereka dengan tunangannya akan terjadi.
Sebenarnya mereka telah lelah, mereka juga berpikir bahwa hal tersebut sangat tidak baik dan akan menjatuhkan nama baik Perusahaan Dikintama karena memiliki pemimpin yang selalu membawa masalah pribadi ke dalam perusahaan.
Tetapi mereka tidak dapat berbuat apapun, karena di belakang pimpinan mereka tersebut, ada pemilik saham tertinggi yang mampu menyingkirkan pemilik saham rendah seperti mereka begitu saja.
Aria terlihat sangat berusaha untuk tetap tenang dan memperpelan suara,” kenapa kau melakukannya, Suan?” tanya wanita yang telah berdiri di depan Suan. Laki-laki itu tampak sedang memberikan beberapa lembaran dokumen kepada teman sekaligus Asisten pribadinya, Elbram.
Elbram yang mengetahui bahwa akan terjadi pertengkaran hebat seperti hari-hari sebelumnya, mulai melangkah kaki meninggalkan ruangan tersebut. Ia sungguh, enggan sekali melihat Aria yang selalu mencari masalah menurutnya.
“Aku tidak mengerti maksudmu?” Suan mulai berdiri lalu berjalan mendekati Aria dan membawa wanita itu pergi dari ruang kerja menuju ke ruang pribadi.
“Perumahan itu, kau sengaja menyarankan pada ayahku untuk membuat proyek di sana, iyakan?” Aria tetap berusaha untuk tenang. Sembari berjalan ia melontarkan pertanyaan pada Suan Baaakkk.. yang telah menutup pintu ruang pribadinya dan berhadapan dengan Aria.
“Hm,” Suan tersenyum puas lalu melepaskan tangan Aria, “Bagaimana rasanya?” tanya laki-laki itu dengan santai sembari menyandarkan tubuh di meja dan melipat tangan.
“Apa?”
Aria yang emosi semakin dibuat emosi.
“Melihat orang yang kau sayangi menderita, sakit bukan?”
Aria mulai mengangkat tangan karena geram, “Hm, pukullah!,” Suan memberikan pipinya dengan mudah begitu saja.
Hal itu sontak membuat Aria yang enggan menyakiti Suan lagi menurunkan tangannya dan menundukan kepala.
“Bukankah kau sangat keterlaluan?, Haaa..” tubuh Aria dengan cepat berputar lalu bersandar di meja, begitu mengejutkan.
Suan yang tadinya bersandar saat itu mulai membungkuk dan memandang lekat mata wanita yang masih terkejut itu.
“Kau ingat 20 tahun yang lalu,” Mata Suan mulai memerah, ia terlihat sedih dan juga marah, “ kau dan kakekmu menghancurkan panti asuhanku?, lalu dari sana aku bertahan denganmu selama 18 tahun dan kau mengkhianatiku, hm, sekarang, kau juga memberikan hatimu untuk orang lain, jadi apa lagi yang tersisa untukku yang selalu bertahan dan berjuang untukmu kalau bukan hanya penderitaanmu saja. ” Suan mulai berbalik setelah tersenyum puas melihat wajah pucat Aria saat itu, meninggalkan wanita tersebut dengan rasa bersalah yang kini semakin bertambah. “Terimalah pembalasanku, Aria!” lanjut laki-laki tersebut dari kejauhan.
***********
Gadis kecil itu adalah Aria,
Dia terlihat menggenggam erat tangan seorang laki-laki tua.
Mereka berdua berdiri di depan sebuah bangunan yang telah dihancurkan oleh dua buah ekskavator.
“haaa hikkss... kenapa mereka memghancurkan panti kita?”
“Hikkss..”
“Hikksss. Hikkkss..”
Suara tangisan anak-anak panti asuhan terdengar begitu menyedihkan tetapi tidak dengan Aria dan kakeknya.
Dia dan teman-temannya begitu menyedihkan karena terpaksa harus berpisah dan pergi dari kota tersebut.
“Benarkan?, padahal sudah kubilang padamu untuk tidak datang ke tempat ini lagi dan bermain-main dengan sampah seperti mereka tapi kau tetap bersikeras, iyakan kakek, aku tidak bersalah?” Aria kecil menengadah, memandang wajah kakeknya dari bawah.
“Aria anak yang pandai, tentu saja semua perbuatanmu benar,” laki-laki tua itu mulai mengelus kepala Aria, ia terlihat begitu senang melihat wajah bahagia cucunya tersebut.
“Bagaimana bibi?, aku benarkan?” kali itu pertanyaan Aria kecil dilontarkan untuk seorang wanita yang selama ini mengasuh dan menjaga panti asuhan tersebut.
Wanita itu terlihat berdiri bersama seorang laki-laki berperut buncit. “Benar nona, nona Aria tidak mungkin salah.” Jawab wanita itu pengasuh panti asuhan itu terlihat tak bersalah.
“Kakek kau sudah memberinya uang?” tanya Aria yang telah menarik kakeknya untuk berjalan pergi dari sana.
“Banyak sekali, kakek memberinya banyak uang jadi kau tidak perlu takut lagi dia akan mengambil Suan darimu.” Jawab laki-laki tua itu menyenangkan hati cucunya.
“Tolong kembalikan rumah kami!" seorang anak laki-laki menghalangi langkah Aria.
Paaakkk...
Aria menampar anak itu dengan cepat hingga ia terjatuh, “kakek, aku tidak menyukainya.”
“Jadi kau ingin apa?” Kakek Aria mulai mengangkat cucunya tersebut, dia menggendongnya dari depan.
“Tendang saja kakinya sampai patah!” perintah Aria kecil begitu kegirangan hari itu.
“Hm tentu saja cucu manisku sayang."
“Aria, aria, jangan lakukan itu, Aria aku akan ikut denganmu tapi lepaskan temanku.” Suan kecil terlihat begitu memohon di depan kaki kakeknya, laki-laki itu juga memaksa temannya yang telah ketakutan untuk melakukan hal yang sama.
“Ehh, aku tidak mau.”
“Aku mohon hikss aku mohon Aria.” Pinta Suan menangis sesenggukan dengan menatap wajah Aria yang menunduk memandangnya.
“Kakek, setelah kupikir-pikir lebih baik jangan tendang saja,” Ucap Aria yang telah memeluk leher kakeknya tersebut.
“Jadi kau inginnya apa?” tanya laki-laki tua yang telah mengelus rambut belakang cucunya yang lurus dan panjang.
“Aku hanya mau Suan, kakek kau akan mengabulkan semua permintaanku, bukan?” Jawaban Aria sungguh tidak menyenangi laki-laki tua yang telah melirik Suan dengan sangat tajam.
“Tentu saja, semua keinginanmu, apapun itu, akan kakek turuti.”
***********
Dia menghapus air mata,
Di trotoar jalanan kota, Aria berjalan dan teringat akan masa lalunya.
Dia adalah orang yang jahat, dan entah mengapa baru menyadarinya.
Pantas saja, pikirnya.
Pantas saja Suan begitu membencinya dan pantas saja ia tidak pernah mendapatkan hati laki-laki yang ia cintai selama hidupnya.
“Ck,” wanita itu berdecik, lalu terduduk di bawah pohon, di taman pertengahan kota.
Dia melipat kaki lalu menyembunyikan wajah di sana.
“Aku salah hikss hikss..” ucapnya begitu tertekan ketika mengingat masa lalunya.
Siang itu, ia tidak tahu ingin pergi kemana.
Jika kembali ke rumah, ia takut dengan dirinya sendiri seperti di dalam mimpi. Tidak ada lagi rumahnya karena telah dihancurkan oleh ayahnya sendiri, tidak ada uang karena ATMnya telah diblokir dan lagi ayahnya yang melakukannya.
Tidak ada tempat tujuan kecuali Apartemen Suan namun laki-laki itu sangat membencinya.
Dia tahu bahwa dirinya salah tetapi dia masih tetap bingung dengan kalimat Suan yang menuduhnya telah berkhianat.
“Haaa hikkss.. hikss..” dia tidak peduli dengan tatapan para pengunjung taman, “hikss hikss..,” yang ia lakukan hanyalah menangis sesenggukan di sana.
“Kau tidak pernah tahu bahaya, ya?, pernahkah kau berpikir bahwa aku akan sangat susah jika kau pergi semaumu?” bentak suara seseorang mengejutkan Aria yang telah menengadah.
“Haa.. Suan!” tangan Aria ditarik paksa, wanita itu mulai berdiri dan memandang ke arah sekitarnya yang begitu ramai.
“Dia Suan Dikintama, bukan?”
“Astaga, benar-benar Direktur di majalah Top Brand itu kan?”
“Benar, Waaahh dia tampan sekali, tapi siapa wanita itu?, bukankah dia sudah bertunangan dengan Nona Anderston?”
“Aku pun tidak tahu, mungkin saja wanita simpanannya.”
Suara berbisik di keramaian terdengar sebelum Aria memasuki bagian depan mobil Suan.
Wanita yang selama ini selalu mengejar cinta Suan dan mengikutinya, bahkan tidak pernah menyangka bahwa laki-laki yang dia cintai tersebut ternyata begitu terkenal di kotanya.
Kesedihannya hari itu semakin bertambah karena dirinya mulai merasa tidak tahu diri.
“Jangan ulangi lagi!, kau dengar?” bentak Suan begitu marah, “ Sial,” hingga membanting stir mobil, mengejutkan Aria saat itu.