Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Sampai kapankah?



“Bisakah kau memberiku uang?”


Aria yang duduk di samping Suan menoleh kepala.


Ia berharap laki-laki yang tampak sedang sibuk dengan pekerjaannya tersebut memberikannya uang karena untuk pertama kali dalam hidupnya, wanita tersebut tidak memegang sepeserpun uang.


“Kau butuh uang?” Suan bertanya balik dengan senyuman tipis lalu membuka kacamatanya dan menoleh ke arah Aria serta membalas tatapan wanita itu.


Di ruang kerja Suan, Aria menganggukan kepala lalu membuang wajah karena merasa bahwa detak jantungnya mulai memompa kencang kembali ketika bertatapan secara langsung dengan mata laki-laki yang dia cintai.


“Kau tidak perlu uang karena aku akan membelikan semua perlengkapanmu. jika kau butuh sesuatu, kau hanya perlu menghubungi Supirku.” Suan menolaknya lalu kembali mengenakan kacamata dan memainkan salah satu tangan di atas mouse.


“Aku bosan di rumah,”


“Kau hanya perlu menghubungi Supirku.” Sela cepat Suan yang masih berfokus pada pekerjaannya malam itu.


“Kau membatasi semua tujuanku pergi. Bahkan aku juga tidak bisa memerintahkan Supirmu tanpa persetujuan darimu.” Aria mengeluh, dia yang duduk tegak saat itu mulai menghempaskan punggung pada kursi di sana.


Mendengar keluhan Aria, Suan mulai geram, “memangnya kau ingin pergi kemana?, bertemu dengannya?” laki-laki yang tadinya akan meraih lembaran kertas di samping meja dekat komputer mengeraskan suara. Dia benar-benar terlihat sangat curiga malam itu.


“Ah sudahlah, kau ini aneh sekali.” Aria berdiri, dia benar-benar enggan bertengkar dengan Suan.


Dia berpikir dirinya sangat berbeda karena setelah memiliki perasaan aneh tersebut, dia kini mampu menahan diri untuk tidak berbuat kesalahan lagi.


Aria yang telah berdiri, saat itu mulai melangkah pergi dan tidak ingin  duduk di samping Suan lagi.


“Kau kira aku akan membiarkanmu bertemu dengannya," wajah Suan terlihat geram, "jangan konyol!"


“Haa..” Aria terkejut ketika tangannya ditarik paksa oleh Suan dan dirinya juga harus mengikuti langkah laki-laki tersebut.


Sruuussss...


Suara Shower berbunyi ketika Suan menghidupkannya.


Air yang keluar membasahi pakaian dan tubuh Aria.


“Sampai kapan kau akan melakukannya?” tanya Aria yang mulai terbiasa dengan tingkah aneh Suan, menurutnya.


Wanita itu bahkan mulai membersihkan wajah yang tersirami air dari atasnya.


“Sampai kau menangis memohon padaku untuk menghabiskan malam bersama.”


“Eum,” dengan begitu kasar Suan mencium Aria hingga wanita itu mau tidak mau membalas ciuman dari laki-laki yang kini sedang mencengkram erat pinggangnya di dalam kamar mandi Apartemen.


***********


Dia yang lelah, hari itu bangun kesiangan.


Mata yang terbuka, tidak lagi melihat sosok Suan yang biasa tidur di sampingnya.


Segera ia duduk di pinggir kasur lalu melihat ke arah cermin kaca di depannya.


Dia menggigit bibir bawah karena melihat begitu banyak tanda merah memenuhi leher serta bagian dada.


Suan tidak melakukannya, hanya bagian atas saja yang ia jamah.


Hal itulah yang saat ini menjadi beban pikiran bagi Aria karena dirinya merasa terhina dan dianggap sebagai wanita kotor oleh laki-laki yang ia cinta.


“Nona anda sudah bangun?” Suara seseorang terdengar dari balik pintu.


Aria sedikit terkejut ketika mendengar suara tersebut.


Ia yang selalu di rumah sendirian selama tinggal di sana, tidak menyangka bahwa Suan akan memberikan seorang pelayan untuk menemaninya.


Aria berdiri sembari memasukan kancing ke dalam lubang piyama yang ia kenakan.


Rambutnya yang basah telah mengering padahal ia ingat sekali bahwa setelah keluar dari kamar mandi, Suan menyerukannya untuk tidur tanpa mengeringkan rambut terlebih dahulu.


Dia mulai bertanya-tanya di dalam hati.


Mungkinkah Suan yang telah mengeringkan rambut untuknya?


“Nona!”


“Jadi dia belum bangun ya?” suara seorang pelayan lain membuat Aria sedikit tersenyum senang karena memang biasanya ketika ia berada di rumahnya, ia memiliki dua atau tiga pelayan yang dipekerjakan khusus untuk melayaninya.


“Aku sudah bangun.” Jawab Aria mulai melangkah menuju pintu dan membukanya.


“Nona!” Kedua pelayan menundukan kepala, 


“Aku merindukan kalian.” Ucap Aria dengan mata berkaca-kaca ketika melihat pelayan yang biasa melayaninya berada di depan mata.


Mendengar ucapan Aria, kedua pelayannya sontak terkejut, salah satu dari mereka bahkan sampai mengangkat kepala, melihat wajah Aria dari bawah, karena tubuh Aria memang lebih tinggi dari tubuh mereka.


“No.. nona!” Mata pelayan itu berkaca-kaca.


“Hm,” Aria tersenyum lucu melihat tingkah kedua pelayannya, “Aku ingin mandi.” Ucapnya memberitahukan keinginannya.


“Air susu telah saya siapkan nona.” Jawab Seorang dari mereka yang telah terbiasa melayani Aria.


“Aku juga ingin uang.” Ucapan Aria tersebut sontak mengejutkan kedua pelayannya.


“Nona!”


“Satu lembar saja dan jangan katakan pada Suan!" ucap Aria terdengar begitu memelas hingga kedua pelayannya saling bertatapan.


“Tapi Nona,”


“Aku akan cepat pulang, tolong beri aku uang!” pinta wanita itu dengan sangat hingga semakin menambah keterkejutan di dalam hati kedua pelayannya tersebut.


“Baiklah nona.” Seorang pelayan memberikan satu lembar uang ratusan ribu.


Aria menerimanya dengan begitu girang, ntah mengapa, pikirnya saat ini benda tersebut sangatlah berharga, “terima kasih.” Ucap Aria lalu mengacak-acak kedua rambut pelayannya hingga keduanya memegang kepala mereka ketika Aria telah berlalu dari sana karena belum mempercayai perilaku dari nona mereka tersebut.


**********


Aria dengan memakai kemeja serta sebuah syal yang melingkar di leher untuk menutup banyaknya tanda memerah pada bagian itu, terlihat berdiri di depan sebuah bangunan yang diperuntukan untuk para penyewa tempat tinggal.


Berkali-kali wanita itu melihat ke atas bangunan, mencari-cari keberadaan Arkas karena ia memang telah mengetahui tempat tinggal laki-laki tersebut sebelumnya.


Hatinya tidak tenang, entah mengapa, ia merasa harus bertemu dengan laki-laki tersebut saat ini.


Dia yang tidak tahan lagi terus menunggu mulai memasuki bangunan lalu mencari orang untuk bertanya perihal laki-laki yang sedang ia cari.


“Permisi, apakah anda mengenal Arkas?” tanya Aria kepada seorang laki-laki remaja yang tampak membuang wajah dan meletakan tangan di leher belakang karena merasa sangat malu mendapati tatapan dari wanita itu.


Bukkk..


“ Akhh.” Suara erangan kesakitan terdengar hingga Aria menoleh ke arah sumber suara tersebut.


“Dia cantik sekali.” Bisik seorang laki-laki yang tadinya tidak sengaja menabrak kaca spion motor di dalam bangunan tersebut pada temannya yang juga tadinya masih berdiri melihat Aria.


“Arkas, ehmm..” laki-laki yang ditanya mulai salah tingkah, dengan cepat ia memandang ke arah Aria. “Terimalah cintaku, nona!” ucapnya mengejutkan Aria hingga wanita itu mulai kebingungan dengan pernyataan tersebut karena memang ia tidak terbiasa.


“aku,,” Aria mulai berpikir saat itu, “.. sudah menikah.” Ucap Aria mengingat ulang bahwa dirinya memang pernah menikah dengan Suan ketika mereka masih duduk dibangku SMP pada masa lalu.


“ Ah hahaha, maaf nona, saya hanya bercanda, hahaha, jangan dipikirkan lagi nona!" ucap laki-laki di depan Aria, merasa sangat malu saat itu. 


“hm iya,” Aria tersenyum menganggukan kepala, hal tersebut semakin membuat laki-laki di hadapannya tersipu malu.


“Nona tadi mencari Arkas, benarkan?”


Laki-laki itu mulai berusaha untuk berbicara normal saat itu,  namun ia masih enggan melihat wajah Aria karena malu.


“iya, kau mengenalnya?” angguk Aria mengiyakan.


“Woi, kalian kenal Arkas?” teriak laki-laki tersebut kepada teman-temannya yang tampak mengintip mereka dari atas tangga.


“Arkas, penyewa baru itu, bukan?” seru seorang temannya dari atas,


“Benar, “jawab Aria sembari mengangkat kepala, melihat ke arah pemilik suara yang langsung membuang wajah karena malu, “ Anda tahu dimana dia sekarang?” tanya wanita tersebut kemudian.


“Arkas yang itu ya?” Laki-laki di depannya mulai mengingat penyewa baru di bangunan mereka, “ Ah, dia mungkin sedang bekerja di PT. Cilovegs, nona.” Lalu mengingat kembali bahwa dia pernah mengobrol dengan laki-laki tersebut.


“Cilovegs?”


“Benar nona, Perusahaan ponsel Cilov yang ada di jalan Marintis 2 itu.” Lanjut laki-laki tersebut menjawab pertanyaan Aria yang saat itu sepertinya mengenal nama perusahaan tersebut.


“Terima kasih.” Aria segera pergi setelah mengucapkan kata tersebut. Ia yang telah memiliki uang, mulai mencari bus kota untuk pergi mencari keberadaan Arkas.


Dia memang tidak membawa ponsel, sengaja tidak membawanya karena ia takut jika Suan mengetahuinya berkeliaran di luar rumah, hal itu akan membuat laki-laki tersebut semakin marah.


*********


“Huh, aku hanya ingin bertemu temanku?” bentak Aria kesal ketika seorang penjaga keamanan yang melarangnya masuk kembali ke dalam gerbang sebuah perusahaan.


“Katakan dulu apa bagian divisinya, nona!” seorang Admin terlihat berdiri dan bertanya pelan pada Aria yang sedari tadi memaksa untuk memasuki gedung dan kini wanita tersebut terpaksa di keluarkan dari sana.


“Aku tidak tahu, yang terpenting namanya adalah Arkas.” Jawab Aria tampak mulai emosi karena tidak seorangpun dari mereka, membiarkannya masuk.


“Di kantor kami, ada 4 orang yang bernama Arkas, nona  dan semua orang dari mereka tidak mengenal nama anda.” Admin wanita itu berusaha menjelaskan kembali namun Aria tetap saja memaksa untuk masuk ke sana lagi.


“Biarkan aku masuk!”


“Maaf nona, perusahaan ini tidak dibuka untuk umum, anda harus memiliki janji terlebih dulu sebelum bertemu karyawan kami.” Wanita di depan Aria semakin dibuat gerah, ia mulai melangkah kaki meninggalkan pintu gerbang dengan mengisyaratkan kepada penjaga kemananan untuk melarang Aria masuk kembali.


“Huh, Harry, katakan pada direkturmu, Aria meminta untuk bertemu!” Perintah Aria dengan nada keras, ia sepertinya tidak memiliki pilihan lain selain bertemu dengan teman semasa sekolahnya yang sangat tidak ingin ia temui di masa lalu.