Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Dia Bertanya Tentang Cinta



Kota itu sangat ramai.


Bukan hanya kendaraan saja yang berlalu lalang di jalanan raya, para pekerja lapangan juga turut mengisi keramaian daerah tersebut.  Padahal masih cukup pagi tetapi kota memanglah tempat yang diakui sebagai tempat paling sibuk di dunia.


Angin yang berhembus terasa panas, terik matahari juga turut menambah rasa tersebut padahal cahayanya baru saja muncul ke permukaan bumi.


Seorang wanita terlihat keluar dari dalam mobilnya lalu berjalan beberapa langkah mendekati wanita yang sedari tadi menunggu dengan menyandarkan bahu pada sebuah pohon di samping trotoar jalan.


“Jadi itu semua rencanamu?” wanita itu menegakkan tubuh, ia yang telah meminta janji bertemu dari seorang petugas keamanan di gedung perusahaan Ayah Aria, memandang murka ke arah wanita yang baru saja menghentikan langkah, tepat di hadapannya dengan membawa sebuah dompet di genggaman tangan yang ia lipat ke dada.


Aria menaikan alisnya, “Hmmm ternyata itu kau yang memohon-mohon kepada security kantor ayahku hanya untuk bertemu denganku. ” ia begitu santai  berbicara kepada wanita di hadapannya yang tidak akan mungkin berani melawan wanita seperti Aria karena derajat mereka sangat jauh berbeda, menurutnya. “Benar, aku yang melakukannya.” Lalu menjawab pertanyaan wanita tersebut dengan senyuman tipis.


“Aneh sekali,” wanita itu tertegun, ia menundukan kepala dan menghela nafas berat lalu memandang Aria kembali, “aku tidak mengenalmu dan kau juga tidak pernah dekat denganku tetapi kenapa tiba-tiba kau menghancurkan hidupku?, nona, memangnya apa salahku padamu?” tatapan mereka saling beradu, seorang terlihat marah namun tertahankan, seorang lagi terlihat remeh, sedikitpun tidak merasa bersalah. 


“Kau tidak sedikitpun memiliki salah padaku hanya saja, aku ingin melihat Arkas bahagia bersama denganmu sebagai tanda cinta tulusku untuknya. Jika dia bahagia maka aku juga akan bahagia, aku bahagia melihat laki-laki yang kucintai bahagia dan tidak perlu mempedulikan perasaanmu.” Aria menurunkan kedua tangan lalu tersenyum senang kemudian berbalik, merasa enggan untuk berlama-lama di tempat panas seperti itu. 


“Tahu apa kau tentang cinta?, kau, terlihat sekali tidak pernah mencintai Arkas, sebenarnya apa tujuanmu?” suara keras wanita itu menggema di pinggiran jalanan raya, suaranya menghentikan langkah Aria yang langsung berbalik kembali dan mulai berjalan lebih mendekati.


“Kau tuli ya?, bukankah sudah kubilang bahwa aku hanya ingin Arkas bahagia memilikimu, masih belum paham?” Aria kesal, ia bahkan sampai harus mendekatkan wajahnya yang sedikit lebih tinggi ke wajah wanita di hadapannya.


“Kau yakin Arkas akan bahagia?”


“Apa?, hm pertanyaanmu benar-benar terdengar sangat konyol, ehm,” Aria mendehem, lalu memandang jalanan kota. Saat itu hatinya mulai ragu dengan yang ia lakukan demi kebahagiaan Arkas yang menurutnya akan melepaskan wanita itu dari rasa sakit yang saat ini ia derita, “tentu saja, dia akan bahagia. Bukankah dia sangat mencintaimu?, jika dia bahagia bersama orang yang ia cintai, maka aku juga akan berlapang dada menerimanya dan membuka lembaran hidupku yang baru...”


“Kau benar-benar tidak memahami makna cinta sesungguhnya.” Mata wanita itu memerah, ia menelan saliva lalu menundukan kepala, “mungkinkah kau tidak pernah jatuh cinta?”


Aria terkejut, matanya mulai memerah lalu ia menghadapkan kembali ke arah wanita di depannya, “haa.. hm,,” dia tersenyum menunduk sejenak, lalu menghela nafas berat,” akulah orang yang paling memahami apa itu cinta, kau tahu?, dan aku pikir, kaulah orang yang bermain-main dengan perasaanmu sendiri.” Aria tidak tahan lagi, ia segera berbalik.


“mereka bilang cinta itu bahagia, tapi nyatanya cinta itu hanyalah penderitaan, cinta hanyalah beban dan penghalang, kalau kau memang memahami itu, harusnya kau juga bisa memahami perasaan Arkas saat ini.” Aliran air mata wanita itu mengalir deras membasahi pipi, lalu jatuh menetes ke lantai trotoar di sana. Dia menunduk, lalu menghapusnya berkali-kali. “Katakan!, katakan bagaimana caramu menggagalkan pernikahanku?, aku mohon. Aku hanya ingin meminta maaf kepada mantan calon suamiku.” Pinta wanita yang telah menghentikan tangisannya, memandang punggung Aria yang tetap diam dan belum melangkah kaki.


“Baiklah, aku akan katakan padamu betapa teganya aku sebagai manusia.” Aria berbalik lalu tersenyum getir, menghapus air mata yang mengalir dan hal tersebut sontak mengejutkan wanita di hadapannya yang langsung membuka sedikit mulutnya. “ Bawahanku menabrak istrinya, tentu saja aku yang memerintahkannya.” Aria menghapus air mata dengan cepat menggunakan sapu tangan kecil yang ia ambil dari dompetnya.


“Apa?”


Taaaakkkk...


“Apa yang kau laku...”


Mata wanita terbelalak ketika Aria melempar ponselnya ke jalanan raya, lalu ketika ponsel tersebut mendarat, beberapa mobil telah menginjak dan menghancurkannya hingga berceceran di jalanan sana.


“Berhentilah merekam!, beruntungnya kau adalah wanita yang dicintai Arkas, jika tidak maka tentu bukan ponselmu saja yang akan kuhancurkan. Kau juga pasti kuhancurkan. meskipun aku tidak mengenalimu tetapi aku sungguh tidak menyukaimu.” Aria berbalik lalu melangkah cepat, meninggalkan wanita yang terlihat memandangi kepingan ponsel yang telah tercecer dan terinjak banyaknya kendaraan di depannya.


**********


“Kau melihatnya?” Suan berdiri di depan jendela kaca lantai bangunan yang tinggi, memandang jalanan kota.


“Huh, Suan, kau ini aneh sekali, kenapa sekarang tiba-tiba menunggu kedatangannya?, bukankah semua orang telah berkumpul?, mulai saja rapatnya.” Seorang laki-laki datang dan menjawab pertanyaan laki-laki tersebut dengan melontarkan beberapa pertanyaan.


Ruangan rapat telah dipenuhi oleh orang-orang yang sedang duduk menunggu pemimpin mereka memulai kegiatan tersebut. Di samping Suan, sebuah layar proyektor juga telah di nyalakan dan beberapa data juga telah diperlihatkan.


Suan menunduk sejenak, kedua tangannya yang telah masuk ke dalam kantung perlahan-lahan ia keluarkan dan ia mulai melihat jarum dari jam tangan yang ia kenakan.


“Ahh dia datang?” laki-laki di samping Suan terlihat menerima pesan dari ponselnya.


“Benarkah?” Suan tersenyum tipis, terlihat senang. Dia mulai berbalik untuk duduk di kursi utama.


“Ehm tapi kenapa mobilnya berhenti di pinggir jalan?” tanya laki-laki itu kepada dirinya sendiri namun hal tersebut sontak mengejutkan Suan, “ Aria keluar?, dia bertemu laki-laki lain ya?, wah wanita itu..”


“Perintahkan orangmu mendekatinya!, berikan ponselmu kepadaku dan ambilkan headset untukku!” Suan tampak geram, ia memandang sebuah Video yang dikirimkan seseorang ke ponsel milik temannya dan mengepalkan tangan erat. Sementara itu, para peserta rapat terlihat lelah menunggunya memulai kegiatan saat itu.


Headset bluetooth yang telah terhubung dengan ponsel di atas meja, ia kenakan. Saat itu, Suan telah duduk mendengarkan percakapan dari balik headset yang ia kenakan sembari memandang seorang karyawan yang sedang menjelaskan topik rapat pagi hari itu.


Matanya memerah, ia yang telah mengarahkan kursinya ke layar besar di depannya dan meletakan satu tangan di atas gagang kursi, mengepalkan jari-jari tangannya geram dan teramat marah, “Arkas!” gumamnya pelan dengan tatapan penuh kemarahan.