
“Tuan Suan, selamat datang!”
“Suan datang?” Aria kecil berlari dari ruang perawatannya ketika mendengar seorang pelayan menyambut kedatangan Suan kecil hari itu. “ Suan!” panggil Aria ketika melihat Suan berdiri menggenggam tangan ibunya.
Aria tersenyum bahagia, tetapi tangannya tiba-tiba ditarik paksa, “nanti saja bermain dengan Suan, sekarang gunakan masker dulu.” Ibu Aria memberikan tangan Aria kepada seorang perawat kecantikan.
“Ehh, tapi rasanya sangat gatal. Ibu, aku tidak mau...”
“Kau ingin cantik di hadapan Suan, bukan?, bukankah kau juga ingin menjadi istri sempurna untuknya?” rayu ibu Aria sembari berjalan mendekati ibu Suan yang telah melepaskan genggaman tangan dari putranya yang hanya diam memandang Aria.
“Hm,” Aria mengangguk lalu meraih tangan seorang perawat yang mengulurkan kepadanya, “ Suan, aku pasti akan menjadi istri sempurna untukmu, tunggu saja.” Aria mulai melangkah lalu menoleh kepala ke arah Suan yang berada di belakangnya sembari tersenyum ceria.
**********
Suan melangkah kaki cepat lalu terhenti ketika melihat Aria berdiri di lapangan bola voli di sekolah mereka.
“Aria!”
“Bukankah kau sudah sejam berdiri di sini?, kau benar-benar tidak ingin bermain, ya?” seorang pelatih wanita terlihat mendekati Aria dan langsung menghentikan niat Suan untuk mendekati wanita tersebut.
“Hm, mana mungkin aku bermain permainan konyol seperti itu.” Ucap Aria sembari tertegun lalu berbalik, “ Aku adalah calon istri Suan, aku tidak butuh bermain seperti itu karena aku hanya akan tinggal di rumah dan menunggu Suan pulang kerja.” Mata Aria memerah, ia mulai melangkah cepat meninggalkan lapangan bola voli yang terisi beberapa pemain di sana.
“Biarkan saja dia bu guru, percuma saja mengajaknya karena yang ada dalam pikirannya hanyalah Suan.” Seru seorang pemain dari kejauhan, mungkin dia adalah teman Aria.
***********
Suan bangkit dari baringannya di atas sofa.
Ia mulai menghela nafas berat lalu menoleh ke arah temannya yang baru saja tiba.
“Jadi dia tidak pernah mencintaiku?”
Tanya Suan kepada temannya yang sontak terkejut dengan kemarahan laki-laki tersebut.
“Apa kau gila?, bukankah kau juga tidak ingin dia mencintaimu?” tanya temannya yang mulai datang mendekati, laki-laki berambut cepak dan bertubuh gemuk itu mulai memberikan laptop untuk Suan yang telah menurunkan kaki di atas lantai.
“Kapan aku mengatakannya?”
Suan geram, ia bahkan enggan untuk menerima laptop pemberian temannya yang terdapat begitu banyak data di dalam layarnya.
“Oh, benarkah kau tidak pernah mengatakannya?, aku kira selama ini kau membencinya.”
“Aku memang membencinya, sudahlah, “ Suan semakin terlihat kesal. Ia bahkan menarik paksa laptop dari temannya lalu membawa benda tersebut ke meja kerja.
************
Degg.. deguppp.. deguppp..
Jantungnya terpacu kencang.
Dia yang tadinya terbaring memejamkan mata saat itu merasakan khawatir yang luar biasa.
“Haaa.. haa..” Nafasnya terengah. Ia memang tidak merasakan sakit seperti hari sebelumnya, meskipun demikian, kecemasan tiba-tiba saja menusuk masuk menyelimuti jiwa.
Perlahan-lahan Aria berdiri, tubuhnya yang gemetaran ia peluk erat, lalu sekuat tenaga berusaha menenangkan diri.
Krrrruuukkk..
Suara perutnya berbunyi.
Rasa lapar kini menggerogoti lambungnya.
Segera ia melangkah membawa semua rasa yang ia miliki dan membuka pintu.
Betapa terkejutnya wanita itu ketika melihat keramaian di luar pintu yang tak biasa.
“Ini dimana?” tanya Aria yang terlihat sedang berdiri di keramaian sebuah festival.
Di samping kanan dan kiri wanita itu, terdapat banyak tenda-tenda penjualan makanan.
Kruuukkkkk...
Menunda keinginannya untuk menjawab pertanyaan pada diri sendiri, wanita yang sedang kelaparan itu mendekati sebuah tenda yang berisi makanan laut.
“Permisi, aku pesan satu!” ucap Aria kepada penjual makanan yang terlihat sedang meletakan potongan kertas pembungkus di atas sebuah kotak makanan. “hallo!” sapa Aria kembali ketika tidak menerima jawaban, “ hallo, permisi.” Panggilnya lagi namun tak kunjung mendapat jawaban.
Aria mulai kesal, ia mengeluarkan lembaran uang dari kantung celana, “aku punya uang, aku ingin membeli makananmu.” Ucap wanita itu lalu meletakan uang di meja yang masih kosong, kemudian meraih kotak makanan, namun dirinya terkejut karena tangannya tidak mampu menyentuh benda tersebut.
Berulang kali Aria mencoba namun tangannya melewati begitu saja benda tersebut.
Rasa lapar mulai bercampur dengan rasa panik ketika melihat tangannya berubah menjadi transparan.
“Haa.. mungkinkah aku sedang bermimpi?” tanya Aria lalu menyentuh pipinya dan ia tidak mampu merasakan kulitnya. “Mimpi ini lagi?” tanyanya yang sangat panik dan gemetaran saat itu.
Wanita yang sedang ketakutan itu mulai duduk dan melihat setiap orang melewatinya begitu saja. “ Hikss hikss, aku mati?” tanyanya begitu sedih lalu menyembunyikan wajah di atas lutut kaki yang dilipat. “ Haa.. hikss hikss..” dia terus menangisi nasibnya saat itu, berharap hal itu memang hanyalah mimpi.
Benar,
Gumamnya dalam hati lalu berdiri dan berbalik, mencari pintu kamarnya kembali.
“Haa,” namun ia dibuat semakin terkejut ketika melihat dirinya sendiri sedang berdiri dengan lumuran darah di tangan, taaang... sementara itu sebuah pisau yang juga dilumuri darah jatuh ke dekat kakinya.
“Ibu!”panggil Aria mulai bergerak cepat melangkah untuk menolong ibunya.
“Hahaha.. haa hikss hikss... dia bukan ibuku, dia bukan ibuku,” Aria lain yang ia lihat, tampak menangis tertawa, wajahnya terlihat penuh dengan amarah.
“Apa yang kau lakukan pada ibuku?” teriak Aria marah dan penuh ketakutan akan kehilangan ibunya yang saat itu tiba-tiba telah berada di atas paha kaki ayahnya.
“Kau tidak seharusnya melakukan ini, Aria.” Wajah ayah Aria terlihat begitu menyedihkan.
“Ayah!” panggil Aria yang telah berjongkok mendekati namun tidak dapat menyentuh tubuh ayahnya.
“Kenapa?, dia bukan ibuku, anak yang ada dikandunganya juga bukan adikku, aku benci kalian, aku benci kalian, kalian pasti akan melupakan aku dan lebih menyayangi anak ibu yang baru, iya kan?, ayah kau pasti membelanya dan melupakan aku seperti kau melupakan ibu kandungku, iyakan?” bentak Aria lain mulai meraih pisau yang tadinya terjatuh di atas lantai.
“Jangan, aku mohon jangan, jangan bunuh ayahku.” Teriak Aria mencoba menghalangi Aria lain untuk menyerang ayahnya. “ Ayah!”
“ Ayah!”
Matanya terbuka lebar dengan cepat. Ia juga sontak duduk dari baringannya di depan pintu. Aria mulai menggigil dan berkata : “Jadi aku akan membunuh keluarga sendiri, haaa hiks.. hikss jadi dia bukan ibuku?” tanya Aria dengan tubuhnya yang gemetaran dan penuh ketakutan serta kesedihan. “Haaa.. hikksss..hikss.” tangisannya pun mulai pecah dan menggema di ruang kamarnya.
************
Seperti biasanya,
Keluarga Dikintama dan Keluarga Anderston memang sering berkumpul di sela-sela kesibukan masing-masing, terlebih lagi saat itu penyatuan kedua keluarga yang dinanti-nantikan akan segera dilaksanakan, yaitu Pernikahan Suan dan Aria.
Makanan mewah telah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan keluarga Dikintama, beberapa dewan direksi perusahaan Anderston yang merupakan teman dekat ayah Aria juga turut diundang.
Ibu Aria terlihat sedang berdiri dan berbicara kepada seorang pelayan, lalu ayah Aria terlihat duduk, mengenakan kacamata sembari melihat layar laptop di atas meja, menunggu kedatangan tamu mereka.
Perlahan-lahan Aria menuruni tangga, ia memandangi lekat kedua orang tua yang sangat ia sayangi melalui pintu ruangan yang terbuka.
“Haaa.. hikss..” air mata yang mengalir di pipi ia hapus dengan cepat, lalu dengan keyakinan penuh, dia datang menghampiri.
“Aria, kau baik-baik saja?” tanya ibu Aria yang masih khawatir dengan tangisan putrinya ketika ia pulang ke rumah tadinya, lalu mendekat dan memeluk putri yang ia sayangi tersebut.
Aria membalasnya, hal itu sontak membuat ibunya terkejut dengan reaksi putrinya yang tak biasa, “ibu, kau sedang hamil ya?” dan bertambah terkejut mendengar pertanyaan tersebut.
“Dari mana kau bisa tahu tentang hal itu?”
Jawab ibunya yang telah melepaskan pelukan, tetapi Aria menolak untuk dilepas.
Wanita itu bahkan mulai menangis, mengingat mimpi yang baru saja ia alami.
“Kau tidak perlu khawatir lagi, Aria. Ayah dan ibu sudah siap kau tinggalkan jadi jangan ragu lagi menikah dengan Suan.”
Ucap ayah Aria yang telah melepaskan kacamata dan memberikan laptopnya kepada seorang pelayan laki-laki. Dia mulai berdiri ketika mendengar suara pelayan yang menyambut kedatangan keluarga Dikintama dan tamu mereka.
“Tadinya ibu bahkan ingin merahasiakannya sebagai hadiah pernikahanmu nanti.” Ibu Aria memeluk tubuh Putrinya lagi, tangannya juga mengelus rambut bagian belakang putrinya.
Aria mulai melepaskan pelukan dari ibunya, lalu bergerak mundur, “ ibu, aku sangat menyayangimu, aku juga sangat sayang kepada ayah.” Air mata yang mengalir mengejutkan ayah dan ibu Aria, hingga ayahnya terpaksa menghentikan langkah lalu mendekati putri kesayangannya tersebut.
“Ada apa denganmu?” tanya ayah wanita itu, mungkin ia merasa sesuatu hal aneh sedang terjadi kepada putrinya tersebut.
Aria menunduk ketika ayahnya telah berada di hadapan dan mengelus rambutnya. “Aku,” lalu dia tertegun dan menguatkan diri untuk berbicara, “ ... akan keluar dari rumah dan tidak ingin menikah dengan Suan.” Lanjut ucap Aria yang telah mengangkat kepala dan memandang lekat ke arah ayahnya lalu berbalik dan melangkah pergi.
“Aria, kau ini bicara apa?”
“Biarkan saja!” bentak ayah Aria teramat marah lalu berbalik arah, enggan melihat putrinya lagi.
“Aria!” Ibu Aria berusaha mengejar,
“Biarkan saja, kubilang!” tapi terhenti ketika mendengar bentakan suara ayahnya, “.. biarkan saja dia keluar rumah, kau tidak perlu mengkhawatirkannya.” Ucap ayah Aria begitu marah lalu mulai duduk di kursi kembali, “ dia pasti akan kembali lagi nanti.” Lanjutnya berusaha keras menahan diri saat itu.
Aria terus melangkah tanpa mempedulikan Suan dan keluarganya yang telah mendengar permintaan wanita itu.
“Kau mau kemana?” tanya Suan yang telah meraih siku Aria dan membalikan tubuh wanita itu.
Aria tersenyum, menahan air mata untuk tidak jatuh mengalir kembali, “Maaf Suan,”
“Aku tanya kau mau kemana?, tidak dengar ya?” Aria melepaskan tangan Suan yang menggenggam tangannya dengan sopan lalu mundur beberapa langkah darinya yang sontak perilakunya tersebut, mengejutkan Suan dan keluarganya yang sedang memperhatikan sikap wanita itu.
Aria mengangkat kepala lalu membalas tatapan Suan dengan mata berkaca-kaca, “ Maafkan aku Suan,” dia tertegun lalu menundukan kepala, “Maaf karena telah membuatmu menderita selama ini, maafkan aku Suan, Aku bukanlah wanita yang pantas untukmu.” Wanita itu berbalik setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Suan yang terkejut, semakin dibuat terkejut oleh pernyataannya, “kau kira aku akan melepaskanmu?” lalu dengan cepat meraih tangan Aria dan membalikan tubuh wanita tersebut kembali.
“Hm,” angguk Aria melepaskan tangan Suan dengan sopan untuk kedua kalinya, “.. tidak masalah bagiku, kau berhak melihatku menderita. Sekarang aku tidak lagi memiliki segalanya jadi kau bisa bebas melakukan apapun yang kau mau,” tambah Aria lalu menoleh ke arah ayah Suan dan membungkukan tubuhnya, “ maaf paman, aku tidak bisa masuk ke dalam keluarga paman , maaf karena membatalkan pernikahan ini.”
Dengan gerakan cepat wanita itu berbalik dan melangkah kembali menuju keluar rumah.
“Aria!”
“Biarkan saja dia!” suara bentakan Ayah Aria menggema keluar dari ruangan makan, menghentikan langkah kaki ibu Suan untuk mengejar Aria yang telah menghilang keluar pintu hari itu.
Suan berdiri, ia menggenggam erat kedua tangannya dan berjalan masuk ke dalam ruangan makan, menghampiri ayah Aria.
“Berikan aku kesempatan, paman!,” ucapnya yang telah berdiri di depan Ayah Aria yang sedang duduk, menahan amarah. “ Aku akan membawa Aria pulang dan memastikan dia akan baik-baik saja.” Ucap laki-laki tersebut begitu tegas.
“Suan!”Ayah Aria membuang wajah, matanya terlihat berkaca-kaca, “ tolong jaga Aria untukku.” Pintanya lalu berdiri dan melangkah, mungkin akan kembali ke kamarnya dan tidak lagi berniat untuk melanjutkan makan malam bersama.