Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Dia tak kuasa melawan hatinya.



Setengah jam mungkin udah berlalu, tapi.. ini mau ngapain lagi?? Aaaaah.. otakku sakit sekali liat sikap boss yun. Setelah mobil melaju, aku dibawa masuk kedalam Mall SKA, lalu disuruh ikut pergi ke sebuah butik. Dan sekarang malah disuruh ganti pakaian.. aku belum mandi lho belum mandi. Masa mau pergi ke rumah orang tuanya gak pake mandi sih. Malah udah kerja seharian lagi, pasti bau sekali badanku ini.


"Pakai ini"


"Boss aku belum mandi"


"Kita gak punya banyak waktu lagi"


"Tapi badanku bau lho boss"


Boss yun mengalihkan tubuh berjalan mendekati seorang pegawai butik. Ditangannya ada gaun warna pink cantik. Beneran cantik banget bin kebangetan. Tapi ya gitu kayaknya ngepas banget dibadanku. Terlihat polos tapi penuh dengan manik manik putih kecil. Aku gak tau apa sih itu namanya karena memang gak pernah belajar menjahit baju. Panjangnya kira kira hampir melebihi sedikit saja lutut kakiku. Lengan pendek yang mungkin kalau ku pakai, sedikit bagian dari bahuku akan tampak.


"Mandi di sini saja?"


"Haaah"


"Kok hah, tadi kamu bilang mau mandi"


"Boss yun, masa iya aku mandi disini sih"


"Iya.. udah gak ada waktu lagi, mau mandi enggak?"


Aku menarik nafas. Oh geram sungguh geram, pengen ngelawan tapi gaji belum datang, kalau dipecat aku mau gimana, ibu juga lagi susah. Minta kak oula, dia saja butuh banyak uang untuk beli make up, minta kak Ari, dia lagi nabung untuk biaya nikah , minta kak oura, dia saja dikasih suaminya dan minta ayah.. hm.. lucu ya kalau mikirin ayah, dia mana mungkin mau kasih lah.


Dengan langkah cepat, aku mendatangi salah satu pegawai yang akan menuntunku ke kamar mandi. Tempat aku mau mandi. Brengsek.. nasib ya nasib.. padahal rencananya mau jadi orang biasa.. eh malah terlibat dengan orang kaya. Lagi lagi. Memang nasib ya nasib.


Udah mandi, udah pakai gaun cantik nan menawan, benarkan kubilang, gaunnya ngepas banget dibadanku. Lalu sekarang, haaah malah duduk diatas kursi salon. Sayang sekali rambut yang udah ku pakaikan Pewangi rambut elips untuk mengharum kan rambutku yang dulunya bau.. hahaha.. aku beli di warung Dekat rumah, harganya satu kotak 50rbu.


Loh loh loh.. Rambut lurusku kenapa di lilit lilit sih.


Kalau punya pengalaman masuk salon sih dulunya enak, gak perlu khawatir kayak gini ni. Khawatir karena malu,, hahaha gak punya pengalaman sih masuk salon. Harusnya dulu aku dekat dengan kak oula agar dia sering ngajak aku kesalon.


"Sudah pak" suara stylist salon terdengar setelah melepaskan semua peralatan salon nya dari tubuh dan rambutku.


Astaga, Ya ampun, rambutku yang lurus kok jadi bergelombang kayak female di Anime anime gitu ya. Wajahku sudah di make up. Ckckck ini aku ya? Cantik banget. Mimpi gak sih? Aku liat wajahku dari kaca amat teramat lumayan cantik lah. Masa iya aku muji diri sendiri. Eh enggak, beneran cantik lho. Buktinya boss yun yang tadi nunggui aku duduk disofa salon terus terusan mandangi wajahku lewat kaca.


Hmmm, jangan salah, orang desa kalau udah di make up ternyata sangat berbeda. Berubah bak sinar mentari dipagi hari.


" kamu ngapain berdiri di kaca mulu"


"Ahh.. iya boss, "


"Sepatu"


"Iya, kamu mau pakai sepatu kerja ya. Mau buat malu aku"


Hmmm. Memang amat memang.. kok ngerasa boss yun hari ini galak banget. Pegawai salon memberiku sepatu hak tinggi. Ya elah.. tinggi bener ni sepatu, malah bawahnya runcing lagi.


"Boss, tukar yang lain donk, nanti aku gak bisa jalan lho, tinggi banget sepatunya"


"Pakai saja, kamu bisa megang lenganku kok"


"Boss, aku belum pernah pakai sepatu setinggi ini, nanti patah gimana"


"Kamu ini memang bodoh sekali"


Malah dihina lagi, tapi gak apa apa lah. Yang penting sepatunya udah diganti dengan yang sudut bawahnya lebih rendah.


Jam tanganku menunjukan angka 8. Dimalam yang panas karena daerah perkotaan memang panas dan juga aku udah turun dari mobil yang udah berhenti tepat di halaman rumah besar daerah pusat kota. Rumah bertingkat dua bercatkan warna abu abu. Semakin dipandang semakin indah. Ada rumah besar dengan halaman besar penuh dengan rumput rumputan hias, kenapa sih boss yun malah tinggal di perumahan kecil milik orang biasa?. Hmm.. kadang permasalahan orang kaya memang sedikit rumit. Seperti ayah. Ayah memang kaya, tapi buktinya, kaya pun dia, tetap saja aku tidak diakui sebagai anaknya.


"Berpura puralah jadi ouya teman sekolahku dulu" oh.. pantes saja yang diajak aku. Karena namaku ouya toh.


"Iya boss"


Aku berjalan diatas rerumputan hias dengan menggenggam tangan boss yun karena dia yang nyuruh ya, bukan aku yang mau, terus melangkah hingga sampai masuk kedalam rumah. Terlihat olehku dua orang pelayan menyambut kedatangan kami. Astaga, enak banget jadi orang kaya.


Aku pandang isi dalam rumah, waaah mewah, tapi ini bukan untuk pertama kalinya aku melihat kemewahan rumah. Rumah ayahku juga mewah, tapi ya gitu, rumah ayah ya akan tetap jadi rumah ayah. Enggak bakalan deh jatuh ketangan ku.


Didalam rumah ada AC, televisi besar bin besar diatas dinding. Lantai keramik yang diinjak kaki pun mewah berwarna biru berkaca kaca. Kami terus masuk hingga sampai kesebuah ruangan.


Penuh dengan orang. Hanya ada dua kursi yang tertinggal. Mereka pasti keluarga besar boss yun.


"Itu ouya yang selama ini kau cari cari?" suara wanita tua yang duduk di ujung meja, duduk sendiri karena enggak ada orang disebelahnya dan juga karena orang orang yang lain duduk di depannya. Hanya ada seorang pelayan laki laki yang sedang berdiri menuangkan sebotol air berwarna merah. Air apa ya? Sirup kali. Gak tau ah.


"Iya nek, ini ouya"


"Hmmm.. baguslah kalau sudah bertemu, jadi kapan kalian akan menikah?


HAaaaah.. menikah.. aku yang baru baru kenal boss yun 3 hari malah ditanyai kapan menikah.


GAk masuk akal.... kenapa bisa jadi begini?