
Langkah lebar Harry memasuki rumahnya.
Ia berjalan terlihat begitu tergesa-gesa.
Sesekali ia melewati seorang pelayan yang tunduk sopan padanya.
Sesekali matanya meneliti ke seluruh penjuru ruangan, untuk mencari keberadaan seseorang.
Langkah Harry semakin dipercepat ketika ia melihat dua orang wanita tampak memegangi rangkaian bunga dan memilah satu persatu tangkai bunga buatan tersebut.
Mereka berdua berdiri, sembari sesekali mengelus ujung bunga dan seorang kadang mencium aroma wangi parfum yang tersemprot di sana.
“Haa..”
“Kenapa kau melakukannya?”
Harry membentak marah, menarik lengan Michelle hingga berbalik ke arahnya, mengejutkan wanita itu dan juga ibu Harry yang berada di samping mereka.
“Harry, kenapa kau datang langsung memarahinya?”
Ibu Harry bertanya balik, ia meletakan tangkai-tangkai bunga ke dalam vas keramik di atas meja depannya lalu mengelus dada Harry untuk menenangkan laki-laki itu dari kemarahannya.
Michelle mengernyitkan dahi, “ memangnya apa yang kulakukan?” Dia bertanya karena belum menyadari kesalahannya.
“Kenapa kau menyuruh orang untuk menyiram Aria dengan alkohol padahal kau tahu sendiri, Aria alergi terhadapnya?”
Ucapan Harry membuat ibunya terkejut dan menutup mulut dengan tangan, lalu ia memandang Michelle sejenak kemudian berlalu dari sana.
Ia pikir sebaiknya untuk pergi mencari ayah Harry agar pertengkaran tersebut segera diselesaikan.
Sementara itu, Michelle tampak tertegun, “aku tidak melakukannya.” Dia tidak ingin mengakui kesalahannya.
“Kau kira aku bodoh bisa tertipu begitu saja olehmu, minta maaf sekarang!” Harry menarik lengan Michelle untuk membawa wanita itu pergi menemui Aria, “minta maaf sekarang juga!” Tetapi sayang, tangan Harry telah dihempaskan oleh Michelle dan wanita itu mulai melipat tangan serta membuang wajah.
“Kenapa aku harus minta maaf?, biarkan saja dia merasa sedikit kesakitan.”
“Apa?”
Harry terkejut mendengar ucapan ketus tunangannya, matanya mulai memerah menahan emosi saat itu, “kau gila, dia bahkan telah berbaik hati untuk datang ke pesta kita dan membantumu terlepas dari kebohonganmu, tapi apa yang kau lakukan?”
Michelle menoleh kepala, ia memandang wajah Harry begitu berani tanpa rasa bersalah. “ Sekalipun dia berbuat baik, aku tetap tidak menyukainya. Aku benci padanya karena selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan. Aku pikir, aku telah menang karena aku berhasil mendapatkanmu tapi kenapa dia juga bisa mendapatkan hati Suan?” Michelle mulai membentak marah, ia menggertakan gigi-giginya karena sangat geram, “ dunia ini benar-benar tidak adil, kenapa Aria bisa mendapatkan semua yang ia inginkan, dia kaya, dia sangat cantik, dia begitu disayangi ayahnya, dia mendapatkan cinta dari Suan, lalu kenapa dia juga mendapatkan cinta darimu?, kenapa semuanya bisa dimiliki olehnya sementara apa yang kudapat...”
“You know you’re a *****.”
Harry sangat geram,
Paakkk...
Lalu wajahnya mengarah ke samping ketika menerima pukulan keras dari ayahnya yang baru saja tiba.
“Tidak bisakah kau menjaga mulutmu?, wajar saja Michelle merasa iri pada Aria karena kau bahkan tidak pernah membalas cintanya.”
Emosi Harry mulai memuncak mendengar ucapan ayahnya, mata laki-laki itu memerah memandang ke arah laki-laki yang telah memukulnya tadi.
“Bagaimana aku bisa mencintainya sementara dia terus menerus melakukan Sex dan berganti-ganti pasangan?, kau kira aku tidak tahu berapa banyak Gigolo yang telah kau gunakan untuk memuaskan hawa nafsumu?”
Bentak Harry begitu emosi sembari menunjuk wajah Michelle dengan jari telunjuk.
“Itu karena kau tidak pernah mencintaiku.” Ucap lirih Michelle begitu merasa kesakitan di dalam hati.
“Hm,” Harry tersenyum kecut, “Meskipun aku tidak mencintaimu, bukankah kau masih bisa tetap bersamaku?, yang ada kau itu sebenarnya tidak pernah merasa cukup dengan apa yang kau miliki?, kau itu sampah.”
Paaakkkk, Harry menerima pukulan lagi dari ayahnya, “aku tidak ingin menikah dengannya, sekalipun kau paksa aku sampai mati, aku tetap tidak ingin menikah dengannya. Aku tidak ingin anakku nanti menderita seperti Aria.”
“Apa?”
Harry bergegas pergi dari sana. Ia tidak mempedulikan pertanyaan serta kemarahan ayahnya.
Baaaammmm...
Suara bantingan pintu terdengar, Harry begitu emosi sampai meluapkannya pada barang, taaarr... dan kali itu sejenis benda berkaca yang ia hancurkan.
“Michelle, bukankah sebaiknya kau meminta maaf pada Aria?” ibu Harry berusaha untuk merayu Michelle yang tampak menangis diam saat itu.
Michelle memandang wanita paruh baya itu dengan mengusap air mata di pipi, “sekalipun aku meminta maaf, hatiku juga tidak ingin melakukannya, bibi. Aku ingin sekali dia merasakan sakit agar dunia ini lebih adil pada manusia.”
Michelle mulai melangkah pergi, meninggalkan kedua orang tua Harry yang terlihat kebingungan mengatasi situasi tersebut.
Padahal pernikahannya dengan Harry akan dilaksanakan beberapa bulan lagi, tapi sepertinya hal itu akan ditunda lama sampai Harry merasa baikan.
**********
“Suan dimana?”
Aria mencari-cari ke segala arah tapi ia tidak menemukan seorangpun di sana. “ Suan dimana?, semua orang dimana?” tanya Aria melangkah dengan begitu cepat menelusuri seluruh ruangan di dalam rumah mewah namun tidak menemukan seorangpun di sana.
Dia menaiki tangga, namun tidak juga menemukan siapapun di sana.
Ia mulai menghubung seseorang, “paman!” panggilnya ketika panggilan diterima,
“Aria!”
“Paman dimana?, kenapa rumah paman kosong?” tanya Aria pada ayah Suan dari balik ponsel yang ia genggam.
“Ahh paman sudah pindah, maaf Aria, paman tidak bisa memberitahukanmu.”
Panggilan terputus.
“Paman!” tangan Aria yang gemetaran berusaha menghubungi nomor tersebut kembali tetapi tidak lagi dapat terhubung.
Aria mulai menghubungi nomor lain, “ayah!” Panggilnya ketika panggilan diterima.
“Maaf Aria, Ayah belum bisa menemukan Suan.”
“Yang benar saja.” Taaakkk.. Ponsel yang ia genggam, ia banting.
Ia mengemudinya hingga sampai ke sebuah bangunan yang telah hancur.
Derasnya hujan mulai mengguyur wilayah, tetapi Aria tetap keluar dan mencari-cari Suan di sana, “ Suan, Suan,” tanya Aria mulai menangis kembali karena tidak menemukan apapun di sana.
Aria mulai masuk kembali lalu mengemudi mobil ke arah sekolah SMAnya di masa lalu.
Dia keluar dari mobil, lalu bergerak cepat menuju ke ruangan sekolah.
“Aria!”
Panggil seorang guru yang mengenali Aria sebagai mantan muridnya di masa lalu.
“Apa kau melihat Suan?” tanya wanita itu pada guru tersebut.
“Suan tidak pernah berkunjung ke sekolah.”
Aria memandangi satu persatu siswa-siswi yang duduk di kelas dan dia tidak menemukan Suan di sana.
“Hm,” Aria menganggukan kepala, ia berlalu dari sana dengan pakaian basah dan bergerak menuju ke perpusatakaan tetapi tidak menemukan seseorang yang dicarinya.
“Suan, kau dimana?, Suan kau dimana?” berkali-kali wanita itu menyebutkan kalimat yang sama.
Ia mulai melangkah menuju mobilnya lalu mengemudikan mobil ke arah pemakaman.
Hujan masih terus mengguyur deras sementara petang hampir tiba.
Aria berjalan menuju ke sebuah pemakaman,” Kakek, kau sembunyikan dimana Suan?” bentak Aria marah sembari memandang sebuah foto laki-laki tua di atas pemakaman, “kakek bangun kakek, haa hikksss , kakek bangun, aku tidak dapat menemukan Suan.”
Sebuah payung mengembang menghalangi derasnya air hujan mengguyur tubuh Aria.
Aria berbalik lalu menemukan Ayahnya berada di belakangnya.
“Ayo kita pulang, ayah akan menemukan Suan secepatnya.” Ayah Aria menarik tangan Aria lalu membawa wanita itu berlalu dari pemakaman.
“Benarkan ayah?, ayah akan menemukan Suan hiks hiks.”
Aria meminta keyakinan, ia terus melangkah mengikuti ayahnya.
“Iya, ayah akan menemukannya dan menghukumnya karena telah berani meninggalkanmu.”
Ayah Aria memasukan wanita itu ke dalam mobil dan menyelimutinya dengan jas yang ia kenakan.
“Ah benar, Suan memang harus di hukum karena telah berani meninggalkanku.”
Hari pertama, hari kedua, hari ketiga dan seminggu telah berlalu ia terus mencari-cari Suan, ia bahkan pergi ke luar negeri tempat dimana mereka sekolah dan kuliah di masa lalu tapi tidak kunjung menemukan yang dicari.
Derap langkahnya mulai lemah, dia berjalan tertatih, menghampiri seorang laki-laki. “Do you know where Suan?” tanyanya dengan wajah pucat dan sangat lemah.
Ia yang mendapatkan informasi keberadaan Suan dari seseorang, saat itu menghampiri sebuah kafe kecil yang terletak di kota San Jose, California.
“Aku tahu dimana Suan?” Seorang wanita tiba-tiba datang lalu duduk di samping Aria.
“Laudia!”
“Ya Aria, lama tidak berjumpa.” Wanita cantik bertubuh tinggi dan berwajah Asia tengah itu memerintahkan laki-laki yang duduk di depan Aria untuk pergi.
“Hm, kau pasti menipuku.”
Aria mulai berdiri, dia tidak mempercayai wanita di hadapannya.
“Kenapa aku menipu?, lihatlah ini!,” Dia menunjukan sebuah foto yang membuat Aria mengurungkan niat untuk berlalu, “ di sini juga tertera tanggalnya.”
“Dimana Suan?”
********
“Haaa... Haaa.. haa...”
Aria terbangun duduk dengan cucuran air mata di pipinya.
Ia menoleh ke sekitarnya dan tidak menemukan siapapun di sana.
Aria segera membersihkan wajahnya yang basah dengan punggung telapak tangan lalu segera berdiri dan melangkah cepat.
“Suan!” panggil Aria keluar kamar.
“Nona!”
“Dimana Suan?” tanya Aria pada seorang pelayan di hadapannya.
“Tuan, masih belum kem...”
Aria melangkah kembali tanpa mendengar kelanjutan jawaban pelayannya.
Ia menuju ke ruang kerja Suan dan meraih kunci mobil dari dalam laci meja lalu melangkah menuju pintu keluar tanpa mengganti piyama.
“Nona, nona mau kemana?”
Aria tidak menjawab pertanyaan pelayannya, ia terus melangkah lalu membuka pintu apartemen dan melangkah keluar dari sana.
Langkahnya terhenti ketika melihat Suan telah keluar dari dalam lift.
Wajah Suan tampak pucat, ia memandang Aria dengan mata memerah.
“Kau mau kemana?”
Tanya Suan mulai melangkah lalu dengan segera membalas pelukan Aria yang telah berlari cepat ke arahnya dan memeluk laki-laki itu.
“Ahhh hikss hikkss..”
“Ada apa denganmu?” Suan mendekap tubuh Aria saat itu, matanya terlihat berkaca-kaca dan ia ingin sekali menangis bersamaan dengan tangisan wanita dipelukannya namun ia menguatkan diri untuk menahan dan hanya membiarkan Aria menyelesaikan tangisannya.