Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Dia Memaksaku untuk Membalas Ciuman



“Dimana Suan?” Aria melangkah cepat, sesekali rambut lurusnya yang terurai ia singkap ke belakang, begitupula dengan poni panjangnya.


Matanya sayu, wajahnya kesal ketika tidak melihat Suan di ruang kerja laki-laki tersebut. “Direktur ada di ruangan pribadinya, nona.” Jawab Sekretaris Suan yang terlihat berdiri menundukan kepala di samping tubuh Aria yang kini telah melangkah kaki, menuju ruangan lain di dalam bangunan tersebut.


Pintu terbuka,


Sepertinya Suan memang sedang menunggu kedatangan Aria saat itu, terlihat jelas dari tatapan tajam dan juga tubuh yang telah berdiri, bersandar pada sebuah meja di ruang pribadinya.


Meja yang hanya terdapat sebuah laptop dan segelas air mineral serta sebuah telepon.


“Kenapa kau di sana?”


“Kenapa kau melakukannya?” Pertanyaan itu dilontarkan oleh kedua orang yang saling beradu pandangan saat itu.


Aria terus melangkah memasuki ruangan pribadi Suan,Lalu bergerak cepat meraih gelas di atas meja,


Sruuukkkk.. dan menyiramkan air di dalamnya ke wajah Suan yang hanya bisa tersenyum kecut melihat sikap Aria yang menururtnya tidak pernah bisa berubah.


“Tunggu apa lagi, lemparlah!” Ucap Suan menantang ketika Aria tampak masih menahan gelas di tangannya.


“Kenapa kau melakukannya, Suan?” Aria terlihat geram, taanngg.. lalu menjatuhkan gelas yang ia genggam ke atas lantai. “Salah apa dia padamu?” lanjut Aria bertanya dengan mata memerah.


Suan tersenyum pahit, ia membiarkan begitu saja air yang mendarat di wajahnya hingga tetesan air tersebut jatuh, membasahi kemeja abu-abu, berlengan panjang yang ia kenakan.


Tiiit..


Suan menekan tombol telepon yang ada di samping belakangnya,


“Ya Direktur,”


Lalu suara sekretaris Suan yang telah menerima panggilan, terdengar dari balik telepon di sana.


“Berikan padaku segelas air mineral!” Suan memutuskan panggilan, masih dengan menatap lekat mata Aria yang juga membalas tatapannya penuh dengan kemarahan.


“Suan, kau tidak mau jawab?”


“Aku hanya ingin melakukannya, itu saja.” Jawab santai Suan yang masih menyandarkan tubuh namun kali ini memasukan kedua tangan ke dalam kantung.


“Suan!”


“Kenapa kau ada di sana?” Kali ini giliran Suan yang bertanya ulang dengan tatapan penuh kemarahan, “Sebesar itukah rasa cintamu padanya hingga kau terus mengikutinya?” lanjut Suan tanpa mengedipkan mata sekalipun.


“Sekalipun kujelaskan tetap saja kau tidak akan mungkin paham, Akhhh, Jangan pukul dia, Suan!” bentak Aria keras sembari menahan dadanya yang sakit.


“Lakukanlah!” perintah Suan membingungkan Aria.


“Apa maksudmu, Suan?” tanya Aria sembari menoleh ke arah Sekretaris Suan yang telah datang dan membawa segelas air putih di atas sebuah nampan.


“Bukankah kau tidak ingin aku memukulnya?, sekarang siram dirimu dengan air itu seperti kau menyiramku tadi!” tegas Suan begitu geram melihat perilaku wanita di hadapannya.


“Suan!” tubuh Aria mulai gemetaran, kedua tangannya ia genggam erat, menahan harga dirinya yang tidak ingin ia jatuhkan.


“Ah,”Suan tersenyum kecut, menundukan kepala sejenak lalu memandang Aria kembali, “Tendang saja dia!” lalu memberikan perintah melalui headset yang ia kenakan di telinga.


“Berhentilah!, hmm baiklah, baiklah!” Aria menganggukan kepala dua kali untuk mematuhi perintah Suan, lalu meraih gelas di nampan dan menyiramkan isinya ke atas kepala.


“He..,” Suan semakin dibuat marah, entah mengapa. “ sekalipun kau memohon sebanyak 9999 kali padaku, semua itu masih belum cukup untuk menghapus kesalahanmu selama 18tahun ini,” dengan geram ia berucap, matanya berapi-api penuh dengan amarah dan kekesalan yang mendalam, “memohonlah!, bukankah kau baru saja berbuat kesalahan kepadaku untuk yang kesekian juta kalinya?” lalu memberi perintah yang memaksa hingga Sekretarisnya yang masih berdiri di sana, turut gemetaran sama halnya dengan Aria. “Hm, tidak mau, baiklah, pukul dia!”


“Haaa..” Aria menurunkan kedua kakinya, ia berlutut dan menundukan kepala, mengejutkan sekretaris Suan yang langsung menunduk dan berlalu dari sana sembari menutup pintu ruangan tersebut, “maaf Suan!”


“Hm, jadi kau benar-benar mencintainya?” Suan geram, tangan yang berada di dalam kantung celana bahkan sampai ia kepalkan.


“Aku tidak mencintainya, dijelaskan sekalipun percuma saja, kau juga pasti tidak akan pernah percaya.” Teriak Aria yang masih menundukan kepala dan berlutut di hadapan Suan yang telah menegakan tubuh.


“Benar, pembohong sepertimu mana mungkin dapat dipercaya.” Laki-laki itu segera melangkah lalu meraih tangan Aria dan menarik paksa wanita itu untuk berdiri,


“Eumm,” lalu ******* bibir bawah wanita tersebut dengan begitu kasar, kemudian mengisapnya sejenak lalu melepaskannya kembali.


“Haa..haa..” Tubuh Aria semakin bergetar, detak jantungnya juga semakin kencang memacu, wanita itu mulai melangkah cepat ketika tangannya ditarik paksa oleh Suan untuk mengikuti langkah laki-laki itu, lalu tubuh wanita tersebut mulai terangkat dan dia kini telah duduk di atas meja.


“Kenapa kau tidak membalasnya?, bukankah dulu kau sangat ingin menciumku?” tanya Suan yang telah mendekatkan wajahnya ke wajah Aria dan memaksa mata wanita itu untuk membalas tatapannya.


“Kau pasti akan menghinaku lagi.”


“Hm,” Suan tersenyum kecut dengan mata merahnya yang masih memandang mata Aria. “Kau memang harus dihina agar kau tahu bagaimana rasanya dihina.” Ungkap Suan yang tampak berdiri tegak, memaksa Aria untuk menengadah.


“Bukankah sudah kukatakan berulang kali bahwa aku ingin melihatmu menderita?, dibanding dengan menolak pernikahan, aku lebih menikmati untuk melihatmu menderita secara langsung dengan mataku sendiri.” Suan meletakan tubuh Aria kembali ke atas meja, lalu mulai membungkuk sedikit dan mulai meraih bibir wanita itu kembali, tetapi Aria menoleh kepala, menolak ciuman paksa dari Suan yang sangat marah.


“Sebesar itukah rasa bencimu padaku, Suan?”


“Hm, “ jawab Suan yang telah meraih wajah Aria kembali untuk menghadap ke wajahnya, “ aku benci orang yang telah mengingkari janjinya, sangat membenci hingga rasanya ingin sekali aku menundukanmu ke bawah, ahh benar, sekarang giliranmu berada di bawah, bukan?” Suan mulai mendekati bibir Aria kembali namun lagi-lagi Aria menolaknya, “hm, baiklah kalau kau menolak,” Suan mulai menjauh lalu bergegas melangkah, “bunuh dia untukku!” lalu memerintahkan bawahannya hingga membuat Aria yang takut akan kematian, sontak melompat lalu bergerak cepat, mengejar Suan.


“Aku akan membalasnya, Suan!” Ungkap Aria lalu menarik lengan Suan yang telah menghentikan langkah lalu berbalik dan tersenyum remeh, “akan kulakukan.” Lanjut Aria yang telah menengadah, memandang mata Suan dari bawah.


“Ini kesempatan terakhir bagimu, jika kau mengulangi penolakan, aku, pasti akan menghilangkan dia dari hadapanmu untuk selamanya.” Bisik Suan dengan senyuman pahit ke telinga Aria.


“Hm,” angguk Aria yang telah gemetaran lalu melangkah ketika tangannya di tarik paksa lalu tubuhnya terangkat dan terduduk kembali ke atas meja.


“Eumm,” Suan meraih bibir bawahnya, Aria membalas dengan meraih bibir atas laki-laki itu. “haa..”Suan melepaskan bibir mereka lalu Aria mulai melingkarkan kedua tangan di leher laki-laki tersebut kemudian menarik Suan mendekati wajahnya dan ******* bibir bawah laki-laki tersebut dengan sangat lembut, yang dibalas Suan dengan ******* kasar.


“ Suan!”


“Kenapa?” tanya Suan yang telah menghentikan tangannya ketika tangan Aria menahan tangan tersebut untuk menyentuh bagian dadanya, “bukankah kau telah berusaha selama 18tahun untuk menjadi istri sempurna bagiku?, lalu kenapa sekarang aku ingin menikmatinya, kau malah melarang?”


“Aku, eumm,” kepala yang tadinya akan menunduk sontak terangkat kembali ketika Suan mencium paksa bibir Aria kembali dengan begitu liarnya. ,”Eumm, haaa.. aneh sekali rasanya,” ucap Aria menahan diri ketika wajah Suan telah bergerak cepat memenuhi bagian leher wanita itu.


“Haa.. haaa..” mereka berdua saling mengirup aroma nafas.


Suan tersenyum kecut ketika nafasnya telah normal setelah sebelumnya terengah-engah, dia melepaskan tangan Aria yang melingkar di leher lalu membuka kancing kemeja Aria.


“Suan!”


“Hm,” jawab Suan yang telah berhasil membuka kemeja Aria dan melepaskan baju dalam serta bra yang dikenakan wanita itu kemudian mengangkatnya mendekati Sofa dan duduk dengan memangku tubuh wanita itu.


“Suan!”


“Tahan saja!”


Drttttt....


“Suan!”


Panggil seseorang ketika Suan menjawab panggilan, mengejutkan Aria yang langsung menyembunyikan wajah dengan memeluk leher Suan erat,


“Ayah, kenapa kau menelpon?” teriak Aria teramat malu dan marah, serta terus menyembunyikan wajah di belakang kepala Suan.


“Jadi kau sudah bersama dengan Aria, ya?”


“Hm, benar paman,” jawab Suan cepat, “ kami bahkan sedang bermain saat ini.”


“Bermain?” tanya ayah Suan tampak kebingungan.


“Kau tahu kan, paman?, hal yang biasa dilakukan oleh pasangan kekasih,..”


“Suan, kau ini bicara apa?” sela Aria cepat begitu malu jika perilaku mereka diketahui oleh ayahnya.


“Hm, begitu ya, paman mengerti.” Panggilan terputus, Suan memasukan ponselnya kembali di dalam kantung celana dan mulai berdiri sembari mengangkat tubuh Aria lalu membawa wanita itu ke atas meja lagi.


“Suan!”


“Aku akan menyuruh Supirku mengantarmu pulang, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan hari ini, tapi, percayalah, aku pasti akan pulang jadi tunggu saja di rumah.” Ucap Suan yang telah meraih pakaian Aria di atas lantai lalu memakaikannya ke tubuh wanita di hadapannya.


“Suan, aku masih ingin bersamamu.” Gumam Aria mengejutkan Suan dan juga mengejutkan dirinya sendiri yang langsung membelalak mata, “aku harus cepat pulang,” wanita itu mulai mengalihkan pembicaraan dan melompat turun dari atas meja.


“Aku belum mengancingkannya.” Ucap Suan mengangkat tubuh Aria kembali lalu memasukan satu persatu kancing ke meja ke dalam lubangnya.


“Suan!” entah mengapa hati Aria enggan berpisah dengan laki-laki di hadapannya, ia bahkan terus-menerus memanggil nama laki-laki tersebut.


“Percayalah!, kali ini percayalah padaku!, aku tidak akan dekat dengan wanita manapun, jadi tunggu aku di rumah!” pinta Suan dengan lembut lalu menurunkan tubuh Aria setelah kancing kemeja wanita itu telah menyatu.


“Hm,” Aria menganggukan kepala, ragu-ragu ia melangkah.


“Haa..”


“Tunggu aku!” ucap Suan yang telah menarik tubuh Aria dan mengarahkannya kembali ke hadapannya.


“Eum,” lalu ******* bibir wanita itu sejenak, kemudian mencium pinggiran bibirnya.


Aria memeluk tubuh Suan dengan gemetaran lalu setelahnya berjalan cepat meninggalkan laki-laki yang masih memunggunginya tersebut.