Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Reaksi Aneh yang mengejutkan



Berkali-kali Aria mengusap pipinya yang basah. Sayangnya, Air mata kesedihan tidak kunjung berhenti meskipun ia telah berusaha untuk menguatkan diri.


Kendaraan yang berlalu lalang di jalanan kota masih terlihat sangat ramai. Lampu-lampu di tiang yang menggunakan energi tata Surya juga tampak menerangi jalanan kota tersebut.


Hembusan angin malam terus menerpa tiada henti, menggerakan helaian-helaian rambut Aria yang terlepas dari ikatan gulungan di belakang kepala.


“Kenapa kau tidak juga mau berhenti menangis?”


Sebuah kantung plastik tampak tergenggam di tangan Arkas. Laki-laki itu membukanya dan meraih sebungkus kapas serta sebotol Antiseptik.


“Ya sudah kalau masih ingin menangis, tapi biarkan aku membersihkan luka di lutut kakimu itu, ya?”


“Hm,”


Aria menganggukan kepala, ia masih belum mampu menghentikan tangisannya malam itu.


Ia benar-benar rindu Suan dan keluarganya. Ia ingin sekali pulang ke rumahnya dan berkumpul seperti biasa.


“Hikss hikks,” Aria sangat ingin makan malam bersama karena perutnya yang masih belum terisi saat itu.


“Tahan!”


“Hm, hikss hikss.”


Aria hanya menganggukan kepala, membiarkan Arkas membersihkan lutut kaki yang masih berdarah.


********


Ada banyak tisue berserakan di atas rerumputan taman.


Tisue dari mobil Suan yang Aria bawa tadinya.


Setelah membersihkan lutut Aria dan meletakan Plester, Arkas terlihat duduk di atas rerumputan sembari memandang Aria yang duduk pada bangku di hadapannya.


“Sudah lega?”


Tangisan Aria telah reda, wanita itu membersihkan sisa air mata terakhir yang melekat di pipi, lalu memandang Arkas di hadapannya.


“Hm,”


Arkas menghela nafas lega, dia yang tadinya menekuk kaki kini mulai bersila.


“Kau cengeng sekali,”


Arkas tersenyum pahit, sepertinya ia sedang mengingat masa lalunya, “kuatkanlah hatimu, kau seperti orang yang paling menderita saja di dunia ini padahal masih banyak orang yang lebih kesakitan daripada dirimu.”


Aria hanya bisa menundukan kepala, mendengar kalimat yang terlontarkan dari mulut Arkas.


“Kau tidak akan pernah paham dengan apa yang aku alami.”


Tetesan Air mata Aria mengalir jatuh kembali, ia segera menyekanya.


“Aku paham karena aku pernah berada di posisimu.” Arkas mulai berdiri dan berbalik, memandang jalanan kota. “.. tapi saat itu, aku tidak memiliki teman, tidak ada keluarga, juga ditinggalkan orang yang kucinta, aku menderita sendirian tidak sepertimu.” Arkas menundukan kepala, ia menghela nafas berat, “Maaf karena mengabaikan pertolonganmu selama ini, sesungguhnya aku sangat tidak ingin kau kecewa seperti yang kualami di masa lalu.”


Arkas menoleh kepala ke arah belakang sejenak namun tubuhnya masih menghadap ke arah jalanan kota.


Aria memandang Arkas sedikit kebingungan, “Aku tidak mengerti maksudmu.”


“Kau belum bisa dikatakan tulus jika kau tidak berlapang dada memberi dan menolong orang yang tidak tahu diri.”


Arkas mulai berbalik, ia memandang Aria yang tampak mengernyitkan dahi dan membalas tatapan wanita itu, “.. seperti aku di masa lalu, aku kira dengan uang aku bisa mendapatkan teman, aku kira aku bisa mendapatkan cinta, tapi kenyataannya karena uang, semua itu hanyalah palsu belaka. Aku takut kau kecewa Aria, karena aku belum tentu bisa membalas semua kebaikanmu, itulah makanya aku tidak ingin orang lain menolongku,..”


Aria tersentak, ia tidak menyangka akan melihat air mata Arkas untuk yang kedua kali setelah di jembatan pada masa lalu, “... Aku lebih baik berusaha sendiri agar tidak merasa punya hutang budi dan tidak menjadi bagian dari mereka yang tidak tahu terima kasih.”


“Tapi aku menolongmu hanya untuk diriku sendiri.”


Sela cepat Aria sedikit mengejutkan Arkas, “... benar-benar, kau tidak perlu merasa berhutang budi padaku karena aku melindungimu hanya untuk diriku sendiri, Arkas. Aku mohon setidaknya biarkan aku menjadi temanmu saja.”


“Meskipun aku tidak mengerti alasanmu tapi kalau kau benar-benar tidak memanfaatkanku maka aku akan menjadi temanmu,” Arkas menyeka air matanya dengan kedua telapak tangan lalu menyingkap hingga sampai ke rambutnya.


“Hm, aku tidak akan melakukannya.”


Aria menganggukan kepala menyetujui lalu ia mulai berdiri, “Aku sangat lapar, maukah kau ikut denganku?”


Dia memandang Arkas menggelengkan kepala. Ia tahu bahwa laki-laki itu menolak tawarannya.


“Tapi aku tidak ingin sendirian.” Aria bergumam, ia menundukan kepala lagi, sangat berharap Arkas mau menemaninya pergi ke restoran yang masih terbuka.


“Baiklah aku akan menemanimu tapi aku tidak ingin makan, aku benar-benar tidak lapar.”


Arkas mulai melangkah mendekati mobil Aria.


“Kau bisa menyetir mobil?”


Aria bertanya, saat itu ia sangat lelah untuk mengemudi mobil yang kuncinya masih berada di dalamnya.


“Baiklah aku akan menyetir untukmu.”


“Jadi kau bisa menyetir mobil, ya?” Aria mulai melangkah, meskipun pincang tapi ia mampu bergerak lebih cepat.


“Hm, aku bisa melakukannya.”


Ia mulai membuka pintu mobil dan duduk di samping Arkas yang memegang kendali.


**********


Perlahan-lahan mata Aria terbuka,


Cahaya matahari yang menembus kaca sedikit memperperih matanya.


“Kau sudah bangun?”


Aria memandang Arkas terlihat duduk di sampingnya sembari mengemudi mobil.


“Kapan aku tertidur?”


Wanita itu terkejut ketika melihat malam telah berlalu dan pagi telah tiba.


Ia memandang ke bawah dan melihat sebuah selimut di kedua kakinya.


“Kau tertidur sebelum kita sampai ke restoran lalu aku terpaksa membawa mobilmu ke depan kosku.”


Dengan santai Arkas menjawab, ia tidak menoleh ke arah Aria, ia hanya fokus pada mobil yang mulai ia kemudi memasuki gerbang perusahaan Harry.


“Jadi aku tidur di mobil?”


“Benar, kau tertidur di mobil dan aku terpaksa tidak tidur karena harus menjagamu jadi sekarang kau juga harus membayarnya dengan mengantarkanku pergi ke kantor.”


Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk utama.


Arkas mematikan mesin mobil lalu turun dari sana.


“Aku minta maaf karena menyusahkanmu.”


Aria ikut turun dan menghentikan langkah Arkas.


Ia berjalan mendekati laki-laki tersebut yang tampak menghela nafas.


“Lupakanlah!”


“A.. ria,”


Suara seseorang mengejutkan Aria. “Dari tadi aku menunggumu, aku pikir tadi malam kita belum sempat bertemu.” Suara wanita itu mulai terdengar mendekat hingga membuat wajah Aria mulai pucat.


Arkas terkejut, ia mengingat wanita tersebut telah membuat keributan di depan kantor tadi malam, “ Aria, kau baik-baik saja?” Arkas mulai panik melihat tangan Aria gemetaran, “ Aria,” Ia menarik lengan Aria hingga wanita itu menghadap ke arahnya bersamaan dengan wanita bertubuh mungil yang telah berdiri di depan mereka.


“Arkas, kau baik-baik saja?”


Pertanyaan Aria mengejutkan Arkas,


Pikir laki-laki tersebut pertanyaan Aria itu sangat aneh karena menurut Arkas, saat itu, Arialah yang sedang bermasalah.


“Aku baik-baik saja,” Arkas tidak ingin bertanya alasannya lagi, ia mengetahui bahwa Aria tidak akan menjawabnya karena sering sekali Aria berbisik aneh selama ini, “aku baik-baik saja jadi kau harus baik-baik saja, Aria.” Ucap Arkas sedikit keras lalu ia sedikit terbelalak ketika melihat helaan nafas lega dari Aria.


“A.. ria!”


“Kau siapa?”


Pertanyaan Aria mengejutkan wanita di hadapannya.


Aria mulai memandangnya lalu tersenyum kecut, “sepertinya aku tidak mengenalmu, tapi kenapa kau bisa mengenalku?”


Arkas juga tak kalah semakin dibuat terkejut, ia sangat yakin bahwa setiap kali bertemu wanita itu, Aria selalu ketakutan.


Ia juga mengingat kejadian di pesta Pertunangan Harry dan juga keanehan kemarin malam.


“Aku,” wanita itu sedikit geram melihat reaksi Aria yang biasa saja, “ lemah dan tak berdaya.”


“Tapi kenapa aku melihatmu baik-baik saja?”


Lagi dan lagi pertanyaan Aria membuat wanita itu terkejut dan ingin sekali ia marah.


“Kau melupakannya?” bentak wanita itu emosi lalu mengangkat tangan.


“Aku mengingatnya, tapi tidak bisakah kau lihat dia baik-baik saja?”


Tetapi sayang, sebelum ia memukul, tangan Aria telah berhasil menahannya terlebih dahulu.


“Aria,”


“Dia baik-baik saja.” Ucap geram Aria sembari menghempaskan tangan wanita itu.


“Arkas, aku pergi.” Lalu menghadap ke arah Arkas untuk berpamitan.


“Aria,”


Wanita itu ingin meraih tangan Aria, “Kau siapa?, berhentilah mengganggunya!” namun berhasil digagalkan oleh Arkas bersamaan dengan Aria yang telah masuk ke dalam mobil.


“Tidak usah ikut campur.”


Wanita itu menghempaskan tangan Arkas, tetapi Arkas berhasil meraih tangannya lagi agar dia tidak mengejar mobil Aria yang telah berlalu pergi.


“Lepaskan!”


“Tidak, katakan dulu kau ini siapa?”


Arkas menahan tangan wanita itu yang mulai meronta-ronta.


Pagi itu para karyawan perusahaan Harry menyaksikan kehebohan di tempat tersebut. Lalu beberapa karyawan membantu Arkas menahan tubuh wanita yang langsung di bawa masuk ke dalam bangunan untuk di hadapkan pada Harry.


“Lepas!”


“Salahkan dirimu sendiri yang mengganggu orang lain.”


Tolak Arkas, ia terus melangkah sembari memerintahkan kedua karyawan yang menahan tubuh wanita bertubuh mungil tersebut, mengikuti langkahnya.