Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Mulai Bekerja



“Aku ingin kita berpura-pura berpisah.”


“Apa?” tanya Suan terkejut, hingga ia sangat geram dan ingin sekali marah saat itu, namun dirinya berusaha keras untuk menahannya.


“Aku baru tahu sekarang bagaimana perasaanmu ketika kau tidak ingin satu sekolah mengetahui hubungan kita dulu, hm,” Aria tersenyum lembut namun hal itu membuat Suan semakin ingin marah, “ itu karena kau tidak ingin mereka memanfaatkanmu, bukan?, kau tidak ingin mereka mendekatimu hanya karena kau memiliki hubungan dengan Nona Anderston yang kaya raya, iyakan?, dan begitulah aku sekarang, “ lanjut Aria begitu santai tanpa mempedulikan mata memerah Suan saat itu, “aku ingin bekerja dengan baik tanpa ada orang yang berpura-pura baik hanya karena aku adalah wanita simpanan Direktur Suan.” Lanjut Aria lagi sembari membungkukan tubuh, “kalau begitu, saya permisi, Direktur.” Lalu memberi hormat kemudian berbalik dan meninggalkan Suan yang tampak sangat marah, Baaaakkk.. lalu memukul meja dan menghempaskan tubuh ke sandaran kursi sembari memejamkan mata.


Terus memejamkan mata hingga dirinya sangat enggan sekali mengerjakan pekerjaannya pagi hari itu.


“Ada apa denganmu?” lalu membuka mata ketika Elbram telah datang dan mengambil kopi Suan begitu saja dan Suan membiarkannya.


“Kau tahu, berani sekali dia mengatakan bahwa dia ingin berpura-pura berpisah denganku, haa.. kenapa semakin lama semakin sulit sekali menghadapi wanita itu?” keluh Suan mulai berdiri lalu melangkah mendekati jendela kaca dan memandang hiruk pikuk kota di pagi hari melaluinya.


“Kau ini bodoh sekali,” Hina Elbram yang telah menghabiskan seluruh kopi milik Suan lalu meletakan gelas keramik di atas meja, “kalau dia ingin berpura-pura berpisah, maka kau hanya perlu berpura-pura mengejarnya saja.” Lanjut Elbram memberikan saran lalu mulai berdiri dan melangkah pergi.


“Jadi begitu ya caranya.” Ucap suan yang telah tersenyum senang dan mulai memikirkan cara saat itu.


*********


Semua orang tampak berbisik saat itu.


Sebagian dari mereka bahkan tidak menyangka bahwa Aria benar-benar akan dipekerjakan di perusahaan tersebut karena mereka mengira bahwa wanita itu merupakan wanita simpanan Direktur utama perusahaan mereka dan juga telah berselingkuh dengan Direktur Harry, putra dari pemilik perusahaan tersebut.


Manajer dari divisi tersebut memerintahkan pada kepala bagian untuk mengurus Aria saat itu, setelahnya, ia berlalu pergi dari sana karena dirinya telah mengenal Aria dari ucapan Asisten Wakil Direktur Michelle dan tidak ingin mendapati masalah jika terus berada dekat dengan nona besar di kota mereka.


Aria yang telah ditempatkan pada divisi bagian perencanaan telah mendapatkan posisi duduknya. Ia juga telah memulai pekerjaannya di pagi hari itu tanpa kendala.


Hingga pagi berlalu dan siangpun tiba, waktu istirahat kantor juga telah datang.


“Ahh jadi begini rasanya bekerja.” Ucap Aria sembari tersenyum lalu mulai mematikan layar komputer miliknya.


“Jadi selama ini kau tidak pernah bekerja, ya?” tanya seorang karyawan mengejutkan Aria yang langsung menghadapkan kursinya, ke arah sumber suara.


Wanita itu melihat, dua orang karyawan tampak duduk sembari menggeser kursi mereka mendekati Aria.


“Hm,” angguk Aria sembari tersenyum, mengiyakan pertanyaan dari karyawan wanita yang kini telah berada di dekatnya.


“Wah, enak sekali menjadi wanita simpanan Direktur Suan.” Puji seorang lain yang telah datang mendekati Aria saat itu.


“Ahh,” Aria tersenyum kecut, lalu mengelus dahi sebelah kanannya, “sebenarnya aku sudah berpisah dengan Direktur Suan, maka dari itu aku mulai bekerja, mau bagaimana lagi, aku juga perlu uang untuk bertahan hidup.” Ucap Aria penuh kebohongan karena tidak ingin kedua orang di sana menganggapnya berbeda.


“Pasti karena kau telah ketahuan selingkuh dengan Direktur Harry, bukan?” tanya seorang karyawan wanita yang tampak duduk di samping Aria.


“Bagaimana rasanya dekat dengan dua Direktur sekaligus?, pasti sekarang rumahmu sangat mewah, mobilmu ada tiga dan kau memiliki banyak harta, iyakan?” tambah seorang karyawan wanita lain yang tampak duduk di depan Aria saat itu.


Aria tersenyum geli, lalu mulai mengibaskan rambutnya yang tampak diikat turun, satu ikatan ke belakang.


“Saaangaaatt enak, beginilah rasanya jadi orang cantik tapi sayang sekali, karena aku bosan jadi aku membuang mereka berdua dan sekarang aku menyenangi kehidupan sendiriku.”


“Wahhh kau sombong sekali.” Ucap seorang karyawan yang duduk di hadapan Aria saat itu.


“Aku harap kau mendapatkan balasan karena telah berani mencampakan Direkturku.” Lanjut seorang lain yang duduk di samping Aria begitu kesal saat itu.


“Aishh,” taaaakkk.. seorang dari mereka memukul bahu Aria, hingga Aria terkejut dan tidak menyangka bahwa dia akan terkena pukulan lagi dari orang asing di perusahaan yang sama. “Berani sekali kau menipu kami.” Ucap kesal wanita di samping Aria hingga ingin sekali ia memukul bahu wanita tersebut untuk yang kedua kali.


“Aku baru tahu ternyata buruk sekali pemikiran kalian tentang diriku.” Ucap santai Aria sembari mengembangkan senyumannya ketika melihat kedua orang di sekitarnya tersebut salah tingkah.


“Bagaimana tidak buruk?, kedua Direktur kami bahkan sampai menarik tanganmu marah saat itu, kau seperti orang yang sangat dikenali mereka.” Seorang lain mulai mengutarakan pendapatnya. Ia terlihat merasa bersalah pada Aria saat itu.


“Aku tidak ada hubungan apapun dengan Harry,” ucap Aria mengejutkan kedua wanita di dekatnya tersebut.


“Benarkah?”


“Hm,” angguk Aria mengiyakan, “ tapi kalau Suan, aku memang wanitanya, dan kalian tidak boleh mengatakannya pada siapapun.”


“Ehhh, semua orang juga sudah tahu.” Sela cepat seorang dari mereka, merasa kesal dengan ucapan Aria saat itu.


“Jangan tinggalkan kata ‘SIMPANAN’nya, karena sampai saat ini, Direktur Suan tidak pernah mengumumkan hubungan kalian berdua.” Sindir seorang dari mereka begitu ketus dan ia terlihat tidak menyenangi Aria saat itu.


“Memalukan sekali menyebut kata itu.” Ucap Aria sembari tersenyum geli saat itu.


“Kalau begitu, coba saja paksa Direktur Suan untuk mengakui hubungan kalian, kau pasti tidak akan mungkin berani, bukan?” seorang dari mereka mulai memberikan tantangan lalu berdiri dan sedikit membungkuk, “ Wanita simpanan tetap akan menjadi simpanan, jadi sadarlah diri!” lanjutnya memberikan sindiran lalu mulai memandang remeh ke arah Aria.


“Wahhh kata-katamu menyakitkan sekali.” Ucap Aria terang-terangan, wanita itu bahkan sampai tersenyum kecut sembari menengadah, memandang wanita yang berdiri itu.


“Mau bagaimana lagi, kau memang harus menerima konsekuensi sebagai seorang simpanan.” Ucap karyawan yang duduk di depan Aria dan kini ia mulai berdiri.


“Sayang, apa yang ingin kau makan siang ini?” suara seseorang mengejutkan semua orang di ruang tersebut, mata sebagian dari mereka bahkan mulai berbinar-binar melihat kedatangan Suan yang tampak diikuti oleh Elbram di depan pintu ruangan tersebut.


Aria yang masih duduk, memandang Suan dengan tatapan tidak menyenangi, “ Direktur, bukankah hubungan kita sudah berakhir?” lalu berdiri dan tersenyum kecut memberi pernyataan pada Suan hingga semua orang di ruangan tersebut, mulai berbisik menanyakan hubungan mereka.


“Aku tidak ingin berpisah denganmu, jadi jangan putuskan aku!” ucap Suan begitu santai membuat Aria semakin kesal saat itu.


“Wahh, beruntung sekali dia.” Gumam seorang karyawan yang masih berdiri di samping Aria saat itu dan terdengar hingga sampai ke telinga wanita tersebut.


“Wah beruntung sekali aku Direktur, tapi maaf aku sudah tidak mencintaimu lagi.” Jawab Aria begitu kesal lalu duduk kembali dan mulai menyalakan komputer.


“Aku hanya perlu membuatmu jatuh cinta lagi padaku.” Ucap Suan lalu melangkah masuk hingga semua orang di sana hampir berteriak kegirangan dengan perilaku laki-laki tersebut, begitupula dengan Aria yang telah berdiri dan melangkah ketika laki-laki tersebut meraih tangannya dan membawa wanita itu pergi dari sana.


“Padahal sudah kubilang, kita harus berpura-pura.”


Gumam Aria sembari tersenyum malu dan menundukan kepala.


“Aku tidak mau,”


“Apa?” tanya Aria yang telah memandang kepala belakang Suan sementara mereka berdua kini telah menjadi pusat perhatian.


“Aku tidak mau berpura-pura berpisah denganmu karena aku takut kita akan benar-benar berpisah nantinya.” Ucap Suan yang telah masuk ke dalam pintu lift lalu setelah pintu tertutup, ia meraih pinggang Aria dengan salah satu tangannya dan memegang leher samping wanita tersebut dengan tangan yang lain.


“aku malu sekali,” ucap Aria yang telah mengalihkan pandangan mata, kemudian memejamkannya ketika Suan telah meraih bibir wanita tersebut dan ia membalas ciuman Suan di dalam lift perusahaan mereka. “haaa..” Aria melepaskan bibirnya dari bibir Suan, “ Suan, aku mencintaimu, “ ungkap wanita tersebut mengejutkan Suan lalu meraih bibir Suan kembali tanpa mempedulikan Elbram yang ternyata berada di dalam ruang tersebut.


Saat itu, Elbram terlihat berjongkok sembari menutup mata dengan satu telapak tangan, merasa kesal dengan temannya di sana.