Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Pemutar Balik Fakta



Bakkk...


"Nona!"


Semua mata terbelalak.


Ruangan yang tadinya tenang seketika berubah menjadi ricuh.


Para petinggi perusahaan yang sedang mengikuti rapat, saat itu saling berbisik.


"Aria!"


Ayah wanita itu memanggil, nadanya terdengar begitu khawatir.


Siapa yang menyangka jika pemimpin perusahaan mereka tidak marah dengan sikap keterlaluan putrinya padahal saat itu, mereka berada pada rapat yang sangat penting?


"Hikss.. Ayah.. Ayah, sakit sekali." Keluh Aria melangkah kaki masuk ke ruangan rapat yang masih ricuh.


"Kenapa kalian tidak membawanya ke dokter?" emosi laki-laki tersebut memuncak, matanya memerah bahkan urat-urat di dahi kepala terlihat bermunculan.


Bagaimana tidak?,


Saat itu ia melihat keadaan parah putrinya. Darah mengalir dari kepala, mengalir lalu menetes mengenai kemeja yang ia kenakan. Beberapa bekas cakaran di wajah yang hampir mengering, saat itu terlihat robek kembali. Keadaan Aria hari itu benar-benar mengkhawatirkan ayahnya.


"Maafkan kami direktur, sekeras apapun kami memohon,  nona Aria begitu keras kepala untuk menemui anda." Seru seorang wanita, mungkin dia adalah sekretaris kepercayaan ayah Aria.


"Aria, ayo kita ke rumah sakit." Rapat tertunda, semua orang berdiri menyaksikan kepergian pemimpin mereka.


**********


Tatapannya remeh,


Dia tersenyum tipis memandang punggung ayahnya yang terlihat sedang berbicara dengan seorang dokter spesialis di dalam ruangan terbaik sebuah rumah sakit terkenal.


Sesekali ia memegangi perban di kepalanya yang terluka dan juga di pipinya sembari terus mengingat rencana matang yang telah ia persiapkan.


Cuuuuuussss...


Parfum dengan wangi natural menyemprot dari sebuah botol yang menggantung pada dinding tepat di bawah AC ruangan.


Aroma bunga lavender semakin menenangkan pikiran Aria, membuat wanita yang sedang berbaring terlentang itu memejamkan mata lalu terkekeh pelan. Bahkan hanya untuk kepentingan pribadi Aria, rumah sakit di sana sampai harus menyediakan wewangian tersebut untuk kenyamanan pasien VIP mereka.


Tukkk... tukk suara sepatu menggema masuk.


"Aria!" Ibu wanita itu datang, membawa seorang gadis bersamanya. Gadis yang mungkin usianya masih di bawah 10 tahun. "Aria, kau baik-baik saja?" tanya ibu wanita itu penuh dengan kekhawatiran. "Apa yang terjadi padamu?" lanjutnya lagi bertanya namun Aria tetap diam. Matanya tajam, memandang ke arah gadis yang sangat tidak ia sukai itu.


"Aku berhutang." Jawab Aria ketus sembari membuang wajah dan tidak ingin melihat ibunya.


"Hutang?" Ayahnya yang mendengar perkataannya terkejut lalu sontak bertanya. Laki-laki itu menghentikan penjelasan dokter kepadanya lalu berbalik melihat putrinya. "Hutang kau bilang?" dia sungguh tidak percaya, bagaimana mungkin putri yang selalu mendapatkan segala yang ia inginkan, memiliki hutang kepada orang lain?


"Ya benar, "Aria duduk lalu menatap mata ayahnya lekat. "Ini semua karena Suan, karena Suan." Ucapnya keras dengan mata berkaca-kaca, sungguh, hanya kemungkinan kecil saja orang-orang di sana yang akan mengetahui kebohongannya itu. "Aku gila karena mencintai Suan selama ini, aku pergi ke Diskotik, lalu hiks hiks, lalu obat..."


"Diam!" Aria  tersenyum tipis, lalu menyembunyikan wajah dengan melipat kaki dan meletakan kedua tangan untuk menutupi telinga ketika mendengar bentakan ayahnya.


Dia sudah yakin, pasti ayahnya akan sangat marah ketika ia mengucapkan kata terlarang itu, padahal sedikitpun dia tidak pernah menggunakan obat-obatan terlarang yang bahkan akan membunuh penggunanya, baik secara cepat maupun secara perlahan-lahan.


"Aku hanya berhutang 1 Miliyar saja, tapi perusahaan itu menagih hingga 3 Miliyar. Sungguh ayah, aku kacau aku gila, aku bahkan berhutang atas nama orang lain agar kau tidak mengetahui perbuatanku, ayah hiks hiks ayah hiks,  mereka menyerangku karena aku tidak lagi punya uang, mobil dan juga apartemenku bahkan sudah kujual. Hanya Suanlah yang mau membeli mobilku dengan harga mahal hingga aku bisa melunasi hutangku tapi Ayah.. tolonglah, tolonglah hiks hiks..hiks.." Aria mengangkat wajah lalu memandang mata ayahnya yang sedang marah dengan sangat lekat. "Mereka terus menagih hutangku padahal semuanya telah kulunasi, mereka bilang hutangku berbunga dan terus menagih uang kepadaku padahal aku tidak lagi berhutang, lalu yang membantuku berhutang, sekarang menghilang hiks hiks." Lanjut jelas Aria begitu memelas saat itu.


"Perusahaan mana?, Perusahaan mana yang berani menyentuhmu?" tanya ayah Aria dengan perasaan marah yang berkecamuk hari itu.


********


"Bukan aku, bukan aku yang melakukannya?"


Tarrrrr..... tarrrrr....


"Tolong jangan rusak rumahku!" Baaaakkk... "Akkkhhh..."


"Berani sekali kau menyentuh nona Aria, Haaa..." Gertakan gigi geram diiringi dengan tendangan keras, menghantam hingga tubuh yang tadinya berjongkok memohon kini telah terbaring lemah.


Lengannya mengenai kaca, lalu tergores dan mengeluarkan darah. Sementara itu, di sudut ruangan, terlihat seorang wanita sedang berdiri ketakutan memeluk putra semata wayangnya.


"Aku tidak pernah menyentuh nona Aria sedikitpun hiks." Laki-laki itu dengan cepat bergerak lalu memeluk kedua kaki salah seorang dari beberapa orang yang memenuhi ruangannya dan menghancurkan peralatan-peralatan mewah di bangunan mewah miliknya tersebut. "Aku tidak tahu bahwa nona Aria pernah berhutang dengan perusahaanku, tolong jangan hancurkan lagi rumahku. Usahaku sudah tidak ada lagi, aku juga tidak lagi memiliki apapun kecuali hanya rumah ini saja." Pintanya sembari menangis sesunggukkan begitu memohon.


Baaakkk..


Pintu yang tertutup, tiba-tiba terdobrak keras hingga rusak.


Seorang wanita cantik dengan rambut yang panjang bergelombang dan berponi masuk ke dalam ruangan, membawa sebuah tas mewah yang tergantung di tangan diikuti oleh beberapa orang laki-laki bertubuh kekar.


"Dia?"


"Aku, " dia tersenyum senang, begitu terlihat jelas raut kepuasan di wajahnya," Aria." Jawab Wanita itu mulai duduk di atas sebuah kursi yang telah disediakan tepat di depan laki-laki yang sedang memohon tersebut.


"Nona, maafkan saya maafkan saya, tolong maafkan saya  tolo..


"Katakan!" Aria melipat kaki, lalu meletakan tas di atasnya bersamaan dengan berdirinya laki-laki yang menangis itu secara paksa karena dua orang laki-laki bertubuh besar mengangkatnya. "Alamat ketiga karyawanmu yang telah melukaiku, Aku ingin bertemu mereka." Lanjutnya memberi perintah dengan senyuman remeh dan tatapan tajam yang menusuk.


**********


"Akhhh uhuk uhuk.."


Baaaaakkk...


Di tempat yang sama seperti beberapa hari yang lalu —Stadion sepak bola.


Akhhh... dan disaksikan begitu banyak pengunjung di sana. Terlihat ebagian dari mereka merasa takut, sebagian lainnya bertanya-tanya.


"Tendang!"


"Akkkh maafkan aku, maafkan aku."


"Lapor polisi saja."


Suara seorang pengunjung yang menyaksikan keadaan tersebut, terdengar.


"Lapor polisi?" Aria terlihat marah, dia menoleh ke sumber suara, hingga orang yang tadinya berbicara langsung menundukan kepala dan bersembunyi di belakang penonton lainnya. "Ketika dia memukuli orang lain, kenapa tidak ada seorangpun dari kalian yang memanggil polisi waktu itu?" tanya Aria dengan nada dinginnya yang dipenuhi kemarahan saat itu. " Ah lapor saja, kepada polisi."


"Jangan!" Pinta laki-laki bertubuh besar dengan penuh luka di tubuhnya. " Tolong, jangan lakukan itu, tolong.." Teriaknya keras meminta kepada siapapun untuk tidak ikut campur dalam urusannya saat itu.


"Haha..ha ha.." Aria terkekeh pelan sembari menutup mulutnya. " Kenapa?" tanya Aria mulai mendekati laki-laki yang terbaring lemah itu lalu berjongkok, paaak paaakk.. sembari memukul-mukul pipi laki-laki itu yang terluka dengan pelan. " Kau takut keluargamu hancur juga ya, seperti aku menghancurkanmu saat ini?"


"Maafkan aku nona!"


"Ahhh,, waktu itu, pujaan hatiku juga kau pukul hingga lemah tetapi kau tidak memaafkannya hanya karena UANG, maka tentu saja, aku tidak akan memaafkanmu karena aku sudah bilang bahwa aku akan menghancurkanmu." Paaaaakkk... Ucap Aria sangat geram hingga tamparan keras ia lakukan lalu wanita itu mulai berdiri. " Habisi!" dan memberi perintah dengan santai kemudian berjalan menuju mobil barunya.


Semua orang memberikan jalan, tidak ada seorangpun dari mereka yang berani merekam kejadian tersebut karena begitu banyak laki-laki bertubuh kekar yang mengawasi mereka saat itu.


**********


Dia tersenyum puas dengan berdiri menatap remeh. Dia tidak peduli dengan luka dan darah di sekujur tubuh laki-laki bertubuh besar yang mulai lemas.


Salah satu tangannya terlihat menyentuh tepian hidung dengan siku yang bersandar pada tangan lain yang ia lipat di bawah dada.


Laki-laki itu adalah orang terakhir setelah sebelumnya, dua laki-laki lain ia perlakukan dengan cara dan keadaan yang sama tetapi sepertinya kali ini tempat penyiksaannya berbeda dari tempat dimana dua laki-laki dewasa lainnya berada.


Sungguh, Itulah dia Aria Anderston. Semua orang mengira dia adalah wanita lembut yang penuh kebaikan. Tetapi kenyataannya, ada sisi lain dari dirinya yang sangat suka melihat penderitaan orang lain, terlebih lagi penderitaan dari orang-orang yang telah mengusik kehidupannya.


Bakkkk... Bukkkk..


Akhhh... Uhuk.. Uhuk...


Suara tendangan dan pukulan sedari tadi menggema di ruangan tertutup yang terlihat disinari oleh beberapa lampu. Ruangannya luas namun hanya terisi sekumpulan ban-ban mobil bekas saja.


Sesekali laki-laki yang dipukul, dipaksa berdiri lalu dihempaskan keras menabrak ban-ban bekas di sana dan jatuh telungkup, tak kuasa melawan ataubahkan menghindari serangan sekalipun. Wajahnya penuh dengan luka dan lebam yang mulai terlihat membiru.


"Tolong, ampuni .. uhuk uhuk.. ampuni aku..uhuk uhuk.." Dia meringkih kesakitan, berkali-kali berusaha untuk mengeluarkan suara keras agar terdengar ke telinga orang yang dituju.


Terdengarpun percuma,


Pikir para bodyguard Aria yang mulai memukulinya kembali. Karena mereka sangat mengenal nona mereka yang selama ini telah mereka layani dan patuhi perintahnya.


"Tolong..."


Kreeeeekkkkkkkk.....


Pintu yang tertutup, terlihat terbuka,


Wajah Aria yang tadinya terlihat bahagia, sontak saja langsung berubah menjadi marah. Dia yang tadinya memandang ke depan, dengan segera berbalik arah, menghadap ke arah pintu ruang yang tak jauh dari tempatnya berada.


"Huh.." Aria menghela nafas, lalu tersenyum tipis.


"Kau.."


"Sudah kubilang, Hentikan!" Tangan yang tadinya terlipat kini telah turun ke bawah. " Arkas, tolong hentikan mereka!" Pinta Aria berpura-pura ketika melihat Arkas mendatangi tempat tersebut bersama dengan seorang laki-laki bertubuh kekar yang pernah Aria siksa sebelumnya.


"Berhentilah!," Arkas mulai datang menghampiri. "Berhentilah terus-menerus menggangguku!," dia kini berada tepat di depan wanita itu.


Bakkkk Bukkkk...


Para bodyguard tidak berhenti memukuli laki-laki itu, mereka memahami kebiasaan nona mereka saat itu. Jika mereka berhenti begitu saja maka, pasti, kebohongan nonanya akan segera diketahui oleh laki-laki di hadapannya.


"Berhenti!, berhenti!" Aria berbalik lalu berteriak keras menghentikan perilaku bodyguardnya, setelah itu, ia berbalik kembali. "Ayahku yang memerintahkan mereka untuk memukulinya, bukan aku Arkas, Aku bahkan datang kemari untuk menghentikan mereka tapi tidak seorangpun dari mereka yang mendengarkanku termasuk ayahku sendiri." Itulah yang Aria katakan saat itu, tanpa sedikitpun ada keraguan karena memang dia terbiasa memutar balikan fakta.


"Maaf nona, maaf. Aku hanya datang untuk meminta maaf kepada tuan Arkas lalu.. lalu.."


"Aku tidak tahu apapun, selama ini ayahku mengikutiku dan mengetahui bahwa kalian pernah memukuliku. Semua itu karena ayahku tidak terima dengan penyiksaan kalian terhadapku." Segera ia menyela perkataan laki-laki bertubuh besar yang masih berada di depan pintu. "Kau pasti tidak sengaja melihat temanmu itu dihampiri oleh orang-orang suruhan ayahku lalu mendatangi Arkas dan meminta tolong padanya untuk menghentikan aku, iyakan?, Tapi memang bukan aku yang memerintahkan mereka, sungguh bukan aku yang melakukannya hiks hiks.." Kini wanita itu mulai berjongkok lalu menangis hingga membuat para bodyguardnya menghentikan penyiksaan dan datang menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan kepada nona kami?" bentak marah salah seorang dari mereka.


"Jangan, jangan! dia tidak bersalah. Akulah yang bersalah di sini jadi kumohon, berhentilah memukuli laki-laki itu lagi dan pergilah sekarang!, atau kalian ingin melihat temanku salah mengira tentang diriku, benar begitu?" balas bentak Aria keras kepada para bodyguard yang langsung berpura-pura merasa bersalah, Wanita itu dengan cepat  berdiri dan memandangi pemimpin para bodyguardnya,  mengisyaratkan sesuatu melalui mata.


"Nona!"


"Pergi!" bentakan terakhir membuat mereka segera pergi dari sana dan meninggalkan tempat tersebut.


Salah seorang dari mereka yang telah berjalan tepat di samping laki-laki bertubuh besar di depan pintu, mencekram bahu laki-laki tersebut dengan begitu erat dan menyakitkan, mengisyaratkan sesuatu bahwa laki-laki tersebut harus berhati-hati ketika melakukan segala tindakan ataupun pembicaraan.


Keringat laki-laki bertubuh besar mulai terlihat jatuh mengguyur saat itu. Dia yang tadinya takut, kini semakin bertambah takut lalu tertegun bersamaan dengan orang-orang yang telah pergi meninggalkannya.


"Kau kira aku bodoh percaya begitu saja dengan ucapanmu?, bagaimana mungkin kau bisa tahu bahwa laki-laki itu datang dan melihat temannya dihampiri oleh orang-orang suruhan ayahmu kalau bukan karena kau sedang beralibi?" begitulah yang diungkapkan Arkas. Laki-laki itu masih terlihat berdiri di depan Aria dengan tatapan mata yang tidak menyenangi.


"Tuan, Nona itu tidak bersalah. Dia.. dia.."


"Aku melihatnya sebelum dia datang ke rumah laki-laki itu. Saat itu aku mengikuti orang-orang suruhan ayahku karena kemarin bos mereka datang meminta tolong padaku untuk menyelamatkan mereka dari siksaan ayahku, lalu saat aku sampai ke rumah laki-laki itu, aku melihat dia berlari cepat pergi dari rumah itu." Sela cepat Aria menyadari kegugupan laki-laki di belakang Arkas yang masih berdiri di depan pintu. "Arkas, Percaya atau tidak, aku juga tidak tahu harus bagaimana lagi, tapi satu hal yang mesti kau tahu, kalau memang aku yang melakukan, sudah pasti saat itu aku akan menghentikan laki-laki itu datang ke rumahmu," sembari mengangkat sedikit kepala menuju ke arah laki-laki di depan pintu yang terlihat ketakutan, Aria mulai berbalik tubuh dan melangkah. ".... Dan memerintahkan orang-orang suruhan ayahku untuk memukulinya sekaligus." Lanjut Aria berlari kecil menghampiri laki-laki bertubuh besar yang telah tak sadarkan diri dan tak berdaya. "Hallo, ambulan..."Kemudian meraih ponsel dari kantung celana dan memanggil ambulan dari sana.


"Kau, kenapa kau tidak menghentikan mereka dengan memanggil polisi?" tanya Arkas yang telah datang membantu. Nadanya terdengar berubah, sedikit lebih bersahabat. Sontak saja hal tersebut membuat Aria tersenyum tipis karena merasa puas dengan hasil kebohongan yang telah ia ciptakan.


"Mana mungkin aku tega membuat ayahku bermasalah. Walaubagaimanapun, aku sangat menyayanginya. Aku pikir tadinya aku bisa menghalangi mereka tapi ternyata.. ah iya, terima kasih sudah datang, kalau kau tidak datang pasti aku tidak memiliki alasan lagi untuk menghentikan kejahatan orang-orang suruhan ayahku." Ucap Aria menoleh ke arah Arkas yang telah berjongkok di sampingnya yang telah berjongkok terlebih dahulu.


Segera laki-laki bertubuh besar yang sedari tadi berdiri di depan pintu datang menghampiri mereka lalu menggendong temannya dengan bantuan Arkas dan Aria ke atas punggung.


"Berhentilah mendekatiku!, Aku tidak ingin bermasalah dengan wanita kaya sepertimu. Hari ini, orang-orang suruhan ayahmu memukuli mereka, dikemudian hari, pasti.." Arkas yang telah berdiri di samping Aria mulai melangkah cepat meninggalkan wanita yang masih berdiri itu. "Mereka akan datang dan memukuli juga." Lanjut Arkas dari kejauhan.


"Hee.. Aku juga tidak pernah mau dekat denganmu." Gumam Aria pelan sembari menggertakan gigi-giginya geram. "Kalau bukan karena rasa sakit sialan ini, pasti, sudah lama aku juga akan menghancurkanmu." Lanjutnya lagi bergumam lalu melangkah kaki dengan santai, memandang punggung Arkas yang telah melewati pintu dengan begitu emosi.