
Laki-laki yang hampir memasuki usia tua terlihat duduk sembari memandang murka sebuah rekaman CCTV di depan layar komputer miliknya.
Baaaakkk...
Ia yang sangat marah, memukul meja hingga beberapa lembaran kertas di atasnya jatuh ke atas lantai.
“Benarkah kau yakin dia diperintahkan oleh Suan?” tanya laki-laki yang tak lain adalah ayah Aria sembari mulai berdiri dan meraih ponsel di atas meja kemudian menghubungi seseorang lalu melangkah menghadap ke arah luar dinding kaca perusahaannya yang megah.
“Benar tuan,” jawab Asisten kepercayaan ayah Aria sembari berdiri di belakang laki-laki tersebut dan menundukan kepala, “ Dokter Akto sendiri yang menyatakannya.” Lanjut laki-laki tersebut mulai melangkah mengutipi lembaran kertas penting yang jatuh dan meletakannya kembali pada tumpukan kertas di atas meja.
“Jadi sudah waktunya, ya?” gumam Ayah Aria tampak begitu sedih namun ntah mengapa kesedihannya tersebut bercampur dengan amarah, “Suan!” dia menyebut nama tersebut ketika panggilan telah diterima.
“Paman, tidak biasanya kau menghubungiku tengah malam seperti ini.” Ucap suara Suan dari balik ponsel yang digenggam laki-laki yang tampak masih memandang ke luar dinding kaca.
“Kenapa kau mencari tahu rahasia keluargaku?”
Ayah Aria mulai membuka inti pembicaraan mereka secara langsung, ia bahkan enggan untuk berbasa-basi atau menanyakan keadaan putrinya terlebih dahulu.
“Bukankah Aria adalah calon istriku?, aku rasa ada yang aneh dengannya maka dari itu aku mencari tahu.”
Jawab Suan begitu santai saat itu.
Laki-laki tersebut mungkin telah berada di luar Apartemen, hal tersebut karena suara angin kencang turut terdengar di telinga Ayah Aria.
“Suan berhentilah...”
“Aku akan berhenti jika kau mengatakan kebenarannya padaku, paman.”
Sela Suan cepat tanpa sedikitpun terdengar rasa takut saat itu.
“Tidak ada rahasia yang ku sembunyikan darimu, harusnya kau tidak perlu mencari tahu tentang ayahku karena itu tidak ada hubungannya dengan Aria.”
Ayah Aria terlihat bersikeras menolak permintaan Suan saat itu. Hal itu membuat Suan semakin curiga.
“Bukankah aku sudah bilang ada yang aneh dengan Aria?, dan sekarang aku juga merasa kau sangat aneh paman.” Suara Suan terhenti, laki-laki itu terdengar menghela nafas berat, “Waktu itu kau melepaskanku dan membiarkan aku sekolah di luar negeri tapi kau tetap membiarkan Aria mengikutiku, lalu ketika aku kuliah, Aria juga mengikutiku, ketika aku pindah kampus dan memasuki jenjang S2, Aria juga masih mengikuti, lalu ketika aku memasuki jenjang S3, Aria yang belum menyelesaikan pendidikannya pindah dan mengikutiku di kampus yang sama, aku telah bersama Aria lebih lama dibandingkan kau bersama dengannya, Paman.” Ucap Suan dengan nada geram, sepertinya ia sedang merasa sangat kesal saat itu.
“Suan,”
“... lalu kau mengatakan padaku bahwa aku harus berusaha agar setara dengan Aria, aku tahu, aku mengikuti saranmu karena aku mengerti bahwa aku masih belum pantas bersama dengannya waktu itu. Tapi karena kepergianku saat itu, aku benar-benar kehilangannya dan kau tahu paman, setelah kembali, dia bahkan telah berubah, dia juga menolakku padahal aku telah berusaha keras sampai sejauh ini hanya untuknya, bukankah ini aneh?, “ lanjut Suan membuat ayah Aria tertegun dan mulai menundukan kepala, “dia selalu berbisik, dia bahkan mengatakan dia memiliki masalah lalu ketika aku tanyakan, hm, dia berbisik lagi.” Suan menghentikan ucapannya sejenak, Suara laki-laki dari balik headset terdengar sedang menunggu jawaban, “kau pasti mengetahui sesuatu, buktinya saja saat ini kau tidak terkejut dengan keanehan yang kukatakan barusan.” Lalu kembali berucap ketika tidak mendengar jawaban saat itu. “Paman, kau juga sangat aneh. Ketika aku datang waktu itu, kau juga menangis-nangis padaku, lalu kau berniat sekali menikahkan aku dengan Aria, dan sekarang, kau memintaku untuk tidak mencari tahu tentang rahasia keluargamu, kau aneh, bukan?” lanjut Suan yang tak kunjung mendengarkan jawaban dari ayah Aria yang hanya tetap diam dan berdiri menundukan kepala. Sepertinya ia sedang menahan sesuatu saat itu.
“Aku akan mencari tahu sendiri, dan sebaiknya kau jangan ikut campur dengan urusanku, kau tahu Aria tidak ingin pulang ke rumahmu, bukan?, kau juga tidak ingin Aria lepas dariku karena di luar sana ada banyak musuh Ayahmu, maka aku peringatkan padamu, paman, tetap diamlah dan biarkan aku mencari tahu kebenarannya.”
Panggilan terputus namun ponsel masih menempel di telinga saat itu.
Wajah ayah Aria memerah, ia terlihat sangat marah namun entah pada siapa kemarahannya tersebut ditujukan.
“Aku hanya perlu menunggu,” ucap ayah Aria yang telah menenangkan diri dari kemarahannya saat itu. “Menunggu Suan membawa Ariaku pergi jauh dariku.” Lanjut laki-laki tersebut dengan mata berkaca-kaca dan elusan punggung Asisten yang mencoba menguatkan hatinya.
**********
“Suan, kau dimana?”
Suara Aria terdengar ketika Suan telah memutuskan panggilan.
Laki-laki yang berada di lobi Apartemen mulai melangkah memasuki ruang tamu dan menutup pintu kaca.
“Aku di sini.”
Suan terus melangkah lalu menemukan Aria telah berdiri di depan pintu yang menghubungkan antara ruang tamu yang luas dengan ruangan lain yang mungkin diperuntukan untuk ruang keluarga.
“Kenapa kau pergi tidak bilang-bilang padaku?” tanya Aria tampak begitu khawatir.
Wanita itu mulai berjalan mendekati Suan yang telah melangkah terlebih dahulu mendekatinya.
Piyama telah ia kenakan, rambut wanita itu juga tampak basah. Mungkin dirinya baru selesai membersihkan diri malam itu.
“Katakan padaku satu hal Aria!”
Pinta Suan tiba-tiba ketika laki-laki tersebut telah berdiri di hadapan Aria.
“Hm,” jawab Aria menganggukan kepala, ia berpikir, Suan sangat aneh malam itu.
“Katakan dengan jujur padaku!”
Pinta Suan meminta kepastian hingga Aria menegun lalu mengernyitkan dahi, semakin merasa aneh dengan sikap Suan malam itu.
“Aku akan mengatakannya jika aku mampu mengatakannya.”
Jawab Aria dengan mata berkaca-kaca karena dia mengetahui bahwa ada yang aneh pada dirinya sendiri saat itu.
“Katakan, bagaimana perasaanmu padaku?”
Aria yang tadinya merasa takut, saat itu mulai menghela nafas lega dengan pertanyaan Suan padanya.
“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Suan,” ucap Aria begitu tegas tanpa ragu sedikitpun.
“Baiklah kalau begitu, “ Suan tersenyum senang namun tatapan matanya terlihat begitu sedih, “ aku akan mencari tahu tentangmu sendiri bahkan jika sekalipun kau tidak bisa mengatakannya padaku.” Tegas Suan hingga hati Aria merasa sangat sedih dan Aria segera berbalik lalu dengan cepat menghapus air mata.
“Hm,” Angguk Aria masih berbalik, entah mengapa saat itu ia merasa bahwa dirinya tidak lagi sendiri, berjuang untuk mengetahui perasaan aneh yang telah ia alami.