
Kulit Aria memang alergi terhadap alkohol, itu semua karena kekebalan tubuh wanita tersebut mampu mendeteksi zat berbahaya yang terkandung di dalam minuman tersebut, maka dari itu, ketika kulitnya terkena cairan itu, rasa gatal dan ruam berwarna merah mulai muncul dan membuatnya merasa sangat risih.
“Maaf Aria,”
Suasana pesta yang tadinya meriah saat itu berubah menjadi menegangkan.
Berkali-kali seorang wanita tampak jatuh berlutut dan memohon maaf pada Aria saat itu.
“Hanya,” Aria mulai geram dan memandang penuh emosi pada wanita yang berlutut di depannya, “... hanya karena aku bilang aku telah taubat, bukan berarti kau bisa bebas menyiramku dengan alkohol.” Bentak Aria keras mulai mengembangkan senyuman remeh lalu bergerak mendekati wanita tersebut tetapi sayang, langkahnya terhenti ketika Suan yang marah menarik tangannya dan membawa Aria melangkah, berlalu dari ruangan tersebut.
“Kukatakan padamu, kalau ingin marah maka marah saja, kau tidak perlu memaksaku untuk pergi dari sini.”
Aria melepaskan tangan Suan dengan cepat, ia mulai melangkah kembali menuju ke arah wanita yang ia rasa sengaja menyiram wajahnya dengan air alkohol saat itu.
“Haaa..” tetapi langkahnya lagi-lagi terhenti ketika Suan dengan cepat meraih tangan wanita tersebut dan membuat tubuhnya berbalik menghadap Suan kembali.
“Bawa dia untukku nanti!” perintah Suan pada Harry yang berada dekat dengan laki-laki tersebut dan Harry langsung menganggukan kepala.
“Wajahmu harus diobati dulu.”
Suan menarik tangan Aria kembali untuk mengajaknya berlalu dari sana setelah mengungkapkan maksud dan tujuannya membawa Aria pergi dari ruangan tersebut.
Hingga langkah Suan tiba-tiba terhenti ketika Aria menghentikan langkah terlebih dahulu dan menyadari tubuh wanita itu mulai menggigil dan mata wanita itu memandang ke arah satu tujuan.
“Haa... Haa...” Suara Aria terengah-engah, wanita itu mulai merasa ketakutan dan memegangi perutnya yang mungkin sedang mual dengan salah satu tangan.
“Aria!” panggil Suan begitu terkejut lalu memandang ke arah tatapan mata Aria tertuju saat itu.
“Haaalahh Aria!”
Sapa seorang wanita cantik, bertubuh mungil yang lumayan pendek sembari mulai melangkah mendekati Aria yang langsung menundukan kepala dan mengejutkan Suan saat itu.
“Kau siapa?” tanya Suan tidak mengenali wanita itu sembari memeluk tubuh Aria yang menggigil dan mendekapkan wajah wanita itu ke dadanya agar Aria tidak lagi melihat wanita yang baru saja datang itu.
“Kak Suan, kau tidak ingat aku, ya?” tanya wanita bertubuh mungil itu, membuat Suan mengenyitkan dahi mengingat masa lalu.
“Tidak, sedikitpun aku tidak mengenalmu.” Ucap Suan lalu dengan segera mengangkat tubuh menggigil Aria ke atas kedua tangannya.
“Laudia, Kak Suan tidak mengenalnya juga ya?”
Wanita bertubuh mungil itu tersenyum lembut, matanya tampak menganggumi Suan saat itu.
“Lalu apa hubunganmu dengannya?”
Sepertinya Suan mengenali nama yang baru saja disebutkan oleh wanita bertubuh mungil tersebut hingga ia menanyakan hubungan mereka.
“Aku,” Wanita itu mulai tersenyum lebar hingga gigi-giginya yang putih kelihatan, “adiknya.”
“Haa.. Suan, aku takut di sini, Suan, ayo cepat pergi!” Ucap Aria dengan nada gemetaran hingga mengejutkan Suan saat itu.
“Aaahhh, Aria masih takut ternyata ya?”
“Kau,....”
“Suan, berikan saja Aria padaku!” ucap Harry dengan cepat karena Suan tidak kunjung membawa Aria pergi sementara gigilan ditubuh Aria tampak semakin parah.
“Aku akan menemui nanti, jadi jangan pergi kemana-mana!” perintah Suan pada wanita pendek itu lalu mulai melangkah kaki kembali, membawa Aria.
“Ahh, aku hanya punya waktu sekarang kak Suan, kalau ingin berbicara padaku maka sekarang sajalah.”
Wanita bertubuh mungil itu tampak menantang hingga Suan menghentikan langkahnya lalu menghadap ke arah wanita tersebut kembali.
“Tenang saja, jika kau pergi sekalipun, aku akan tetap menemukanmu nantinya.”
Suan mulai melanjutkan langkah setelah menerima tantangan wanita bertubuh mungil yang semakin tampak mengangguminya.
“Itulah alasan mengapa kak Suan berhasil membuat Aria menderita.”
Teriak wanita bertubuh mungil tersebut dari jauh hingga membuat Suan tersentak dan detak jantungnya mulai terpompa kencang lalu ia merasa takut tiba-tiba, namun dirinya masih terus melanjutkan langkah untuk membawa Aria ke rumah sakit malam itu.
**********
Daya tahan tubuhnya melemah, Aria kini mulai jatuh sakit dengan panas dan dingin yang ia rasakan.
Berkali-kali tubuhnya menggigil padahal selimut tebal telah menutupinya dan AC juga telah dimatikan.
“Kekurangan Leukosit, jadi meskipun telah berselimut, dia akan terus menggigil sampai efek vitaminnya bereaksi.”
Ucap seorang dokter di dalam salah satu ruang rumah sakit tempat Aria di rawat inap malam itu pada Suan yang tampak duduk di samping tubuh menggigil Aria.
“Huh, sudah terjadi lalu mau bagaimana lagi.” Ucap dokter tersebut berusaha menenangkan kesedihan Suan saat itu, “sekarang kita hanya tinggal menunggu saja, dan tenanglah, penyakitnya tidak separah yang kau pikirkan.” Lanjut dokter tersebut bersamaan dengan Suan yang telah meraih salah satu tangan Aria dan menggenggamnya erat.
“Mungkinkah kau mengetahui tentang satu hal?”
Tanya Suan pada dokter yang tampak melentangkan sebuah selimut untuk menambahkan pada tubuh menggigil Aria saat itu.
“Tentang apa?”
Dokter tersebut balik bertanya sembari meraih kursi dan duduk di samping Suan.
Mungkin, dokter tersebut merupakan dokter kepercayaan keluarga Dikintama dan juga salah satu teman Suan.
“Tubuhnya menggigil ketika melihat seseorang, dia memegangi perut dan tiba-tiba ketakutan, Bagaimana menurutmu tentang hal itu?”
“Trauma.”
Jawab cepat dokter di samping Suan dengan penuh keyakinan.
“Trauma?”
“Mungkinkah dia ingin lari dari orang itu?” tanya balik dokter yang duduk sembari menghadap ke arah tubuh samping Suan.
“Benar, dia bilang dia tidak ingin di sana lagi saat itu.”
Jawab Suan sembari tertegun dan merasa takut hingga wajahnya mulai pucat memandang mata Aria yang terpejam namun tubuh Aria masih tampak menggigil.
“Pantas saja daya tahan tubuhnya melemah.”
Dokter di samping Suan melontarkan pendapatnya, laki-laki itu mulai berdiri dan memeriksa keadaan Aria kembali setelah gigilan tubuh wanita tersebut perlahan-lahan berkurang.
“Mungkinkah karena hal itu maka sekarang Aria jatuh sakit?” tanya Suan sembari memandang Dokter yang berada di seberangannya, masih dengan menggenggam erat tangan Aria.
“Kalau itu yang kau katakan, maka benarlah karena trauma, Aria saat ini sakit dan jika terus dibiarkan, tubuh Aria akan terus melemah dan pasti Virus akan mudah masuk ke dalam tubuhnya.”
Lanjut dokter tersebut sembari membuka mata Aria yang tertutup lalu menyinarinya dengan cahaya senter, “sebaiknya ketika sedang sakit, jauhkan dia dari sumber traumanya.” Dan memberikan saran pada Suan yang mulai memandang wajah pucat Aria kembali.
“Aku baru tahu dia memiliki trauma.” Gumam Suan merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan Aria di masa lalu.
*********
“Huh, kenapa panas sekali?”
Aria menyingkap selimut dari tubuhnya.
Pakaian rumah sakit yang ia kenakan basah dan ia merasa sangat sesak malam itu.
Wanita itu mulai duduk kemudian terkejut ketika tangannya terasa digenggam oleh seseorang.
Dengan cepat ia menoleh dan terkejut, “ Suan!” ketika melihat Suan sedang duduk tertidur, menyandar kepala di atas kasur sembari menggenggam tangan Aria di sampingnya.
Aria tersenyum senang, ia membuang wajah lalu tertawa pelan kegirangan.
Hatinya terasa begitu bahagia, ia mulai berbaring kembali dan melihat jam tangan Suan menunjukan akan tiga.
“Suan, sakit sekali rasanya.” Keluh Aria berpura-pura sakit saat itu, “ Suan, “ hingga ketika Suan terbangun dan berdiri, tatapan mereka mulai saling beradu.
“Jangan menipuku!” ucap Suan kesal karena ia sangat mengenali Aria dan mengetahui bahwa wanita tersebut sedang berbohong padanya.
“Sakit sekali karena ruangan ini sangat panas.” Ucap Aria mulai duduk ketika Suan telah duduk di tepian kasurnya.
“Mendekatlah, agar aku dapat membuka bajumu.”
“Ha,, jangan!” teriak Aria cepat sembari menggenggam erat pakaian di bagian pertengahan dada lalu berbaring miring, memunggungi Suan.
“Kenapa?, bukankah aku sudah sering melakukannya?”
“Tidak boleh, kau tidak tahu rasa malu ya?” teriak Aria kencang sembari menutup kepalanya dengan bantal.
“Kenapa aku harus malu padamu?”
Ucap Suan mulai menggoda sembari meraih bahu Aria namun Aria dengan cepat menghempaskan tangannya.
“Kubilang tidak boleh ya tidak boleh.”
Ucap Aria mulai menelungkupkan tubuhnya, menahan rasa malu malam itu.