Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Perlahan-lahan berubah



Rambutnya yang hitam, terurai panjang ketika sebuah sisir merapikannya.


Rasa sakit karena tarikan rambut masih terasa menyakiti bagian kulit kepala hingga terkadang ia mendesah, menahan rasa sakit tersebut.


Aria duduk di bawah sofa, membiarkan Suan yang duduk pada sofa di belakang wanita tersebut, merapikan rambutnya.


Kakinya ia lipat ke dada, lalu ia peluk dengan kedua tangannya.


“Sekarang sudah rapi, naiklah ke atas!” Perintah Suan sembari memberikan sisir pada Sekretaris yang mulai melangkah keluar ruangan dengan menggelengkan kepala, tidak menyangka.


Mungkin saat itu dia berpikir bahwa Direkturnya seperti seorang kakak yang merawat adiknya.


“Aku masih ingin bekerja.” Ucap Aria yang telah duduk di atas sofa, “.. tapi aku ingin pindah pada bagian lain.” Ia menundukan kepala, merasa bersalah karena telah membuat keributan untuk yang kedua kali di perusahaan orang lain.


“Bagaimana kalau bekerja di perusahaan keluargaku saja?”


Suan memberikan penawaran sembari mengangkat kedua kaki ke atas sofa lalu menyilanya, menghadapkan diri ke arah tubuh samping Aria yang masih menundukan kepala.


“Hm,” Aria menggelengkan kepala, ia menolak penawaran tersebut hingga membuat Suan tersenyum pahit, tipis, sembari menghela nafas berat,


“Pasti kau menolaknya karena Arkas, bukan?” lalu menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Aria saat itu.


“Benar, “ angguk Aria mengiyakan, sungguh hal itu semakin menyakiti hati Suan, “aku hanya harus.......”


“Harus apa?”


Tanya Suan yang tidak lagi mendengar lanjutan kalimat dari Aria.


“Ah sudahlah lupakan.” Lalu dengan cepat mengalihkan pembicaraan.


“Suan,”


“Kau sangat bosan ketika tidak ada aku, bukan?” tanya Suan yang sedang menyingkap helaian rambut Aria ke belakang telinga wanita tersebut lalu mulai mengelus kepala wanita di hadapannya dengan lembut.


“Hm,” jawab Aria sembari menganggukan kepala dengan mata berkaca-kaca.


“Baiklah kalau begitu, aku akan meminta Harry untuk membawamu bekerja di lapangan.”


Ucapan Suan yang telah berdiri lalu melangkah menuju ke kursi kerjanya tersebut, mengejutkan Aria yang langsung berdiri.


“Benarkah aku boleh?” dan bertanya pada Suan yang tampak sedang menekan tombol telepon.


“Hm,” jawab Suan dengan tatapan sedih, “semua berita tentangmu juga sudah ditarik dari peredaran, jadi mungkin tidak akan mudah bagi saingan ayahmu untuk menandaimu di luar sana, asal kau menjaga jarak dari Harry saja, selama itu terjadi, aku akan memperbolehkanmu.” Lanjut Suan, “hubungkan dengan Harry!” lalu memberikan perintah pada Sekretaris Harry melalui panggilan teleponnya.


**********


Sebuah mobil berwarna silver memasuki area perkarangan sebuah bangunan Mall terbesar di kota.


Empat orang di dalam mobil tersebut terlihat hanya diam saja sejak dari tadi.


Sebagian dari mereka tampak memfokuskan diri pada pekerjaan dan sebagian lain hanya bisa memandang keadaan luar melalui jendela kaca mobil di sana.


Mobil perlahan-lahan menanjak naik ke gedung melalui jalur yang telah di sediakan menuju ke arah tempat parkir mobil berada.


Dan setelah mobil berhenti dan terparkir dengan baik, dua orang penghuni mobil tersebut keluar dari sana.


“Melelahkan sekali, aku ingin kembali ke kantor dan bertemu Suan,” keluh Aria mulai merasa tidak nyaman berada di keramaian, ia juga sangat enggan untuk keluar dari mobil.


“Direktur, kenapa kau harus membawanya?”


Arkas yang tadinya duduk pada kursi bagian depan di samping Supir Harry, tak kalah ikut mengeluh karena sikap Aria yang dianggapnya begitu merepotkan.


“Aria,” panggil Harry yang telah membukakan pintu untuk Aria keluar saat itu, “Suan tidak ada di kantor, ada pertemuan penting dengan Klien luar negeri jadi dia tidak akan kembali sampai malam nanti.” Jelas Harry mengecewakan Aria yang langsung keluar dari mobilnya.


“Aku ingin bertemu Suan,” gumam Aria pelan bersamaan dengan Harry yang telah melangkah kaki.


“Kau ingin aku menggenggam tanganmu dan menarik paksamu untuk ikut bersamaku, ya?”


Pertanyaan Harry membuat wajah Aria berubah menjadi dingin, namun Harry tampak telah terbiasa dengan perubahan emosi wanita di depannya tersebut.


“Tidak perlu,” jawab Aria begitu ketus lalu melangkah mengikuti Harry dan beriringan dengan Arkas.


“Jangan terlalu dekat padaku!” Ucap Arkas ketus ketika Aria berjalan sedikit mendekat.


“Baiklah, baiklah.”


Aria terus berjalan hingga langkahnya terhenti ketika Harry mulai memasuki sebuah toko ponsel besar yang berspandukan CILOVEGS.


“Kenapa berdiri saja, masuklah!” Perintah seorang wanita, sedikit mengejutkan Aria saat itu.


“Hmmmm, jadi kau bekerja di sini, ya?”


“Bukankah kau yang memasukan aku bekerja di sini?, kau bahkan bisa dengan leluasa mengancamku kapan saja kau mau.” Ucap Ketus seorang wanita yang tak lain adalah Rena.


Wanita itu terlihat berdiri dengan sesekali membagikan sebuah brosur kepada para pengunjung Mall yang lewat.


Sepertinya dia bekerja sebagai Sales Promotion Girl – SPG, di tempat tersebut.


“Bagaimana rasanya berdiri terus?” tanya Aria menyindir, sesungguhnya wanita tersebut bermaksud untuk menghina saat itu.


“Sangat enak,” Jawab Rena yang tampak berbalik sejenak melihat ke arah Aria di belakangnya lalu menghadap ke arah depan lagi, “ ... hingga aku sangat ingin meminta semua uang Arkas kembali.”


“Wahhh, kau tahu akibatnya bukan, kalau kau berani meminta uang padanya lagi, ckckck, kasihan.”


Tambah Aria, begitu senang menyindir Rena yang tampak memaksakan senyumannya pada para pengunjung mall di sana.


“Rena!”


Suara Arkas terdengar memanggil hingga membuat Aria tersenyum kecut saat itu.


“Aku telah mengumpulkannya, ambilah untukmu semua!” Ucap Arkas yang telah mendekati Rena sembari memberikan sebuah amplop berwarna putih untuk wanita tersebut saat itu.


Rena terkejut, ia melirik sejenak ke arah Aria.


“Aku tidak bisa mengambilnya, bagaimana mungkin aku mengambil uang darimu?”


“Berikan saja padaku kalau dia tidak mau!”


Aria menarik amplop putih yang berada di tangan Arkas secara paksa.


“Apa yang kau lakukan?”


Arkas mulai marah dengan tingkah Aria yang lagi dan lagi membuat hatinya merasa jengkel.


Laki-laki itu mulai menarik paksa kembali amplop putih di tangan Aria, “menjauhlah dariku, kenapa kau selalu ikut campur urusanku?” lalu mengusir wanita tersebut untuk yang kesekian kali.


“Itu karena dia adalah teman curhatku, iyakan?” Ucap Rena tiba-tiba sembari memeluk bahu Aria hingga Arkas terkejut melihat wanita yang ia cintai membela wanita yang sangat tidak ia sukai.


“Hm, tentu saja Sobat,” Ucap Aria yang telah berdiri lalu melipat kedua tangan di depan dada, “... tapi sepertinya dia tidak tahu bahwa kita telah menjadi sahabat sejati yang tak terpisahkan.”


“Ckckkc kasihan,” ucap Rena mengikuti perilaku Aria tadinya sembari menarik paksa amplop putih yang berada di tangan Arkas, “ kau mau?” lalu menawarkan isi dalam benda tersebut pada Aria.


“Hari ini sepertinya kita akan puas belanja, tunggu di sini!” ucap Aria sembari melirik ke arah Arkas yang semakin dibuat terkejut, “aku akan meminta Harry untuk memberikan waktumu istirahat dan kita akan berbelanja bersama sebagai sahabat setia.”


“hm,” Angguk Rena lalu melepaskan tangannya dari bahu Aria kemudian melangkah menjauhi Arkas yang tampak menghela nafas tidak percaya, dan laki-laki tersebut terpaksa masuk ke dalam toko mengikuti Aria karena menyadari bahwa Rena tidak menyukainya berada di sana.


**********


“Hm, aktingmu memuakan,” hina Aria yang tampak telah duduk pada kursi sebuah kafe di dalam pusat perbelanjaan yang ia kunjungi tadinya, bersama dengan Rena yang tampak duduk di sampingnya namun memunggungi wanita itu.


“Aktingmu juga memuakan.” Balas Rena sembari menyerut minuman melalui sebuah pipet pada gelas plastik di tangannya.


“Aku sudah terbiasa berakting untuk meyakinkan Suanku di masa lalu, tapi kau sepertinya baru belajar.”


Sindir Aria yang mulai melipat kedua tangan di atas meja karena merasa sangat bosan.


Siang itu, dia tidak ingin meminum apapun, dia tidak ingin memakan makanan apapun, yang dia inginkan hanyalah bertemu dengan Suan.


“Omong kosong,” Rena mulai berbalik lalu meletakan gelas plastik yang telah kosong di atas meja, “Aku sudah lama belajar berakting, kalau tidak, mana mungkin aku bisa bertahan di dunia yang menyakitkan ini.” Ucap wanita tersebut dengan nada yang sangat sedih.


Aria menyelonjorkan satu tangannya lalu meletakan kepala di atas lengan tangan tersebut, sembari memandang ke samping, membelakangi Rena.


“Aku sudah mendengarnya,”


“Maksudmu?” tanya Rena tidak mengerti lalu melihat Aria telah menegakan tubuhnya kembali.


“Kisah hidupmu yang sangat sulit itu dan sekarang aku mulai paham dengan ucapan yang kau maksud waktu itu.”


Aria menoleh ke arah Rena, ia tersenyum pahit lalu membuang wajah kembali.


“Ah begitu ya?, jadi Arkas memberitahukannya padamu.”


“Kau tidak ingin menghalangi hidupnya, bukan?, kau tahu bahwa Arkas mendapatkan beasiswa ke luar negeri maka dari itu kau tidak memberitahukan padanya bahwa saat itu kau sedang hamil.”


Tebak Aria yang masih membuang wajah dan enggan untuk melihat wajah Rena saat itu.


“Kau terlalu ikut campur urusan orang lain,”


Rena mulai berdiri lalu melangkah mendekati kasir untuk membayar minuman yang telah ia beli saat itu.


“Benar juga, “ Ucap Aria yang telah menoleh ke arah Rena namun hanya dapat melihat punggungnya saja, “sejak kapan aku suka mengurusi hidup orang lain?” tanya Aria pada dirinya sendiri, sangat kebingungan saat itu.