
“Aku tidak ingin menikah dengannya.” Sreekk.. suara Aria terdengar bersamaan dengan suara gesekan pisau di atas piring keramik mewah yang saat itu sedang Aria gunakan untuk memotong daging panggang padahal daging tersebut telah terpotong sedari tadi dan Aria tidak kunjung memakan potongannya tersebut.
“Kau dengar ayah, setelah aku memberikan hatiku, sekarang Aria malah sengaja menolaknya.” Dengan begitu santai Suan berbicara, laki-laki itu bahkan mulai memasukan potongan daging ke dalam mulut dan mengarahkan kembali garpunya ke potongan daging di atas piring.
“Hatimu apanya?” tangg.. suara bantingan garpu dan pisau terdengar di ruangan makan tersebut, “ kau bahkan telah tidur dengan wanita lain di belakangku,” lanjut Aria dengan suara keras, ia bahkan sudah tidak lagi berselera makan dan memilih untuk membuang wajah dari Suan yang ada di depannya.
“Hm begitu?” jawab santai Suan masih mengunyah dengan cepat daging di dalam mulutnya.
“Ayah!” Aria menggertakan giginya, ia bahkan dibuat terkejut dengan sikap ayahnya yang terlihat biasa saja dengan kalimat yang ia ucapkan, begitupula dengan orang-orang yang lain di sana. “Ayah, kenapa kau diam saja?”
“Lalu ayah harus bagaimana lagi?” tanya santai ayah dari wanita itu sembari meneguk cairan anggur dari gelas miliknya.
“Sudah jelas dia berselingkuh...”
“Bukankah kau juga sudah berselingkuh dengan Arkas di belakangku?” Suan meletakan pisau dan garpu yang tadinya ia pegang lalu meraih dan meneguk isi dari dalam gelas miliknya, “ kau juga memberinya uang hasil dari pemberianku.”
“Pemberianmu kau bi.. lang?” Aria terkejut ketika melihat ayahnya mengeluarkan kunci mobil wanita tersebut dari kantungnya, lalu meletakannya di atas meja. Kunci mobil itu merupakan kunci dari mobil yang pernah ia jual kepada Suan beberapa hari yang lalu.
“Ayah, Suan bilang, dia akan membuang mobilku..”
“Kapan aku mengatakannya, Sayang?” sambut cepat Suan sembari memandang Aria dengan tatapan penuh kepuasan saat itu.
“Berhentilah bertengkar!” Ayah Suan mulai membuka suara, “Aria, kau terlalu cemburu. Bahkan sebelum mencari tahu terlebih dahulu masalahnya, kau sudah membuat keputusan sepihak begitu saja.” Laki-laki itu terlihat berusaha untuk menenangkan kemarahan Aria saat itu.
“Paman!”
“Gadis itu, bukan?, perlukah aku panggil dia datang kemari?” Suan menyela cepat, ia bahkan terlihat santai kembali memotong daging yang masih tersisa di piringnya.
“Maksudmu putri dari ibu pengurusmu itu?” tanya ayah Aria kepada Suan setelah ia memasukan potongan daging ke dalam mulut lalu meneguk minumannya yang masih tersisa kembali hingga gelasnya tersebut kosong.
“Hm, benar paman,” jawab Suan sembari menoleh ke arah ayah Aria yang duduk di ujung kursi dan meletakan pisau dan garpu ke atas piring lalu berdiri, “bukankah sebaiknya kita membahas masalah itu di ruang keluarga saja?”
“Ayah, jangan percaya padanya, jangan percaya pada Suan.” Aria menggebrak meja, hal itu sontak membuat Suan semakin menyenangi kepanikannya tersebut.
“Aria, bisakah kau lebih tenang sedikit?” ibu Aria kini mulai angkat bicara setelah tadinya hanya diam dan membiarkan pihak laki-laki di sana yang berbicara.
“Huh,,” Aria mendesah, ia bahkan mulai berdiri memandang geram ke arah Suan yang telah melemparkan senyuman kepuasaan untuk wanita itu. “Bukankah kau tidak pernah mencintaiku, Suan?” dia mulai berbicara lebih tenang saat itu.
Suan menunduk kepala sejenak, lalu “huh,” menghembuskan nafas dan membalas tatapan Aria. “lalu bagaimana caranya aku membuktikan kesungguhanku ini?, bahkan jika sekalipun esok kita harus menikah, maka aku akan melakukannya.”
“Bisakah kau lihat kesungguhan kakakku, Aria?” Cecil yang sedari tadi diam kini mulai membuka suara kembali, wanita itu terlihat duduk dengan kedua tangan yang memegang garpu dan pisau, memandang Aria.
“Hahaha.” Aria terkekeh pahit, matanya mulai berkaca-kaca karena mengingat rasa sakit dari mimpi buruknya, “bahkan sekarang kau juga berpihak ke arah kakakmu, hanya karena...”
“Aku tidak berada pada pihak manapun, hanya saja, aku tidak sanggup lagi melihat kakakku bersedih karena melihat perselingkuhanmu dengan laki-laki itu.” Sela cepat Cecil yang telah memfokuskan diri pada potongan daging di depannya kembali.
“Aku sudah siap, bukankah sebaiknya kita tinggalkan saja yang lainnya di sini?, tanggal pernikahan Suan dan Aria juga sudah ditentukan, bukan?” ayah Suan yang tadinya duduk di ujung meja, berseberangan dengan ayah Aria, kini mulai berdiri setelah menengguk habis minumannya.
Aria tidak lagi mampu menahan tangisannya, “katakan!,” dia menunduk sejenak sembari menghapus air mata lalu memandang mata Suan dengan seksama, “katakan, apa yang harus aku lakukan agar kau mau membatalkan pernikahan kita?” tanya Aria dengan aliran air mata yang membasahi pipi, mengejutkan semua orang di sana.
Tatapannya terbalaskan, namun bukannya ikut bersedih, tatapan Suan saat itu terlihat begitu bahagia.
“Paman, aku mulai mengembangkan software berbasis game online dan saat ini sangat membutuhkan saran darimu, bagaimana jika kita bahas...”
“Suan!”
“Hm, kita bahas ini di ruang kerja paman saja.” Lanjut kalimat Suan yang tadinya sempat berhenti karena teriakan Aria.
“Hikkss..” laki-laki itu mulai berjalan mengikuti langkah ayah Aria diikuti oleh ayahnya, meninggalkan Aria yang masih menangis, menggenggam erat ujung kursi dan menundukan kepala.
“Berhentilah Aria!, yang kau lakukan ini benar-benar mempermalukan nama baik ayahmu.” Ibu Aria berdiri, diikti oleh ibu Suan dan juga Cecilia.
Mereka semua meninggal Aria dengan kekalutan hatinya.
Pikir Aria, bagaimana mungkin Suan tiba-tiba berubah mencintainya hanya karena ia dekat dengan Arkas akhir-akhir ini?
Perlahan-lahan Aria melangkah.
Ia masih terus menitihkan air mata ketika mengingat kematiannya yang mengenaskan di dalam mimpi.
“Hikss.. hikk..”
“Memohonlah!”
Suara seseorang menghentikan langkah Aria, wanita itu segera berbalik ke sumber suara sebelum ia beranjak menaiki tangga.
“A.. pa?” tanya wanita itu terkejut ketika melihat Suan telah berada di depan mata namun hanya dirinya sendiri yang berada di sana.
“Aku akan membatalkannya jika kau bersedia memohon ribuan kali kepadaku.” Lanjut Suan menjawab pertanyaan Aria sembari melayangkan senyuman remeh kemudian berlalu pergi meninggalkan wanita yang masih berdiri dengan tatapan menyakitkan.
**********
“Memohonlah!” Perintah gadis kecil dengan rambut lurus terurai panjang sembari memeluk sebuah boneka kupu-kupu.
“A...pa?” seorang anak laki-laki terkejut ketika mendengar ucapan gadis di hadapannya tersebut.
“Memohonlah jika kau ingin aku menyelamatkan ibumu!” ucap gadis kecil itu melanjutkan perintahnya.
Di depan halaman rumah mewah, di bawah sebuah pohon yang terdapat sebuah ayunan di sana dan di atas rerumputan hijau yang terpotong rapi, seorang anak laki-laki memandang teramat marah, penuh dengan kebencian.
“Aria!"
“Kalau kau tidak ingin melakukannya, aku juga tidak akan merayu paman untuk berhenti memukuli ibumu.” Gadis kecil itu membalas tatapan anak laki-laki di hadapannya dengan tatapan penuh keremehan. Tanpa mempedulikan air mata yang telah mengalir di pipi anak laki-laki tersebut, ia mulai melangkah pergi.
“Aku.. “ kedua lutut anak laki-laki itu menekuk, dia terduduk, menopang tubuh dengan lipatan kaki.”...mohon, Aria.” Ucapnya penuh kepedihan.
“Aku tidak dengar.”
Gadis kecil itu menghentikan langkah lalu berbalik.
“Aku mohon, Aria, aku mohon, tolonglah ibuku!" Lanjutnya begitu memelas saat itu.
“Aku akan mengadukannya lagi dan lagi, jika kau tidak mendengarkan ucapanku, Suan. Kau paham?”
“Hm,” angguk anak laki-laki itu, mengiyakan bersamaan dengan kaki gadis kecil di hadapannya yang telah berlari kencang memasuki rumah mewah bertingkat tiga yang di kelilingi pagar di sana.
“Paman, paman..” Teriak gadis kecil yang berlari tersebut sembari mulai melangkah memasuki rumah dari ayah anak laki-laki tersebut.
“Aku, mohon Suan!” lirih Aria masih berdiri mengingat masa lalunya sembari memandang kepergian Suan yang telah menghilang, memasuki sebuah ruangan.