
"Ku bilang ambil putrimu di rumahku, kau tidak dengar?"
"Aria, Tolonglah, hanya sebentar saja..."
"Oh," sela Aria cepat, wanita itu terlihat sedang berada di Klinik kecantikan dengan seorang dokter wanita yang tampak sedang mengobati luka-luka pada wajahnya.
Di telinga Aria, terlihat sebuah headset bluetooth yang mungkin telah terhubung dengan ponsel wanita tersebut. Ponsel itu tampak berada di atas meja dekat dari tempat Aria berada.
Wanita yang terbaring dengan wajah di penuhi oleh cream obat kecantikan terlihat sedang menutup mata, hanya mulutnya sajalah yang terlihat bergerak saat itu. "Kau kenal aku bukan, bibi?" Ucap Aria bersamaan dengan perintah untuk menggeser tombol penutup panggilan kepada dokter di sampingnya.
"Aria!,..."
Panggilan terputus, Aria membuka matanya.
Tatapan tajam terlihat memenuhi semua bagian pada mata tersebut.
Aria,
Saat ini mungkin wanita itu sedang merencanakan sesuatu.
*********
Perlahan-lahan lukanya menghilang. Memang luka yang tidak terlalu dalam itu, bisa dengan mudah disembuhkan terlebih lagi dengan orang-orang yang memiliki sumber kekayaan yang begitu banyak.
Kakinya melangkah, memasuki pintu lantai empat dari sebuah gedung yang menjulang tinggi.
Dia yang telah memarkirkan mobil di dalam lobi yang memang dibuat khusus untuk keluarga pemilik perusahaan, terlihat mengembangkan senyuman kepuasan ketika memandang seorang gadis kecil bersembunyi di belakang seorang wanita cantik yang terlihat berjalan menghampiri wanita itu.
"Aku sudah mengambil Caca, sekarang katakan kebenarannya pada ayahmu!" pinta wanita yang datang tersebut, sangat berharap.
"Hm, kenapa aku harus mengatakannya?" jawab Aria begitu santai lalu melanjutkan langkah.
"Aria!" Wanita itu menahan Aria, ia memegang lengan atasnya.
"Huh," segera Aria menghempaskan tangan wanita di sampingnya lalu menghadapkan tubuh dan memandang lekat mata yang tampak begitu menyedihkan. "Aku tidak sedang menfitnahmu bukan?, Aku hanya membuktikan kebenaran bahwa saat ini kau sedang hamil anak dari saingan usaha ayahku, lalu apa lagi yang harus kujelaskan kepada ayahku?"
"Itu hanya kesalahpahaman, kau tahu sendiri bukan, aku dijebak?"
Wanita itu menundukan kepala bersamaan dengan beberapa karyawan yang baru saja memasuki koridor yang diapit dua dinding tersebut, lalu menyapa Aria dengan begitu hormat. Mungkin mereka mengetahui bahwa wanita itu adalah Putri dari pemimpin mereka.
"Hmm, " dia mulai tersenyum lucu, meremehkan. "Bibi, bukan, Anita sadarlah diri!, kau pergi mencari laki-laki itu untuk bertanggung jawab atas anak dalam kandunganmu lalu menitipkan putrimu kepada ayahku atau sebenarnya, kau telah menemukan laki-laki itu lalu membuang putrimu ini karena dia tidak menginginkannya?, dia hanya ingin kau dan kau mematuhinya, bukan?" Aria melirik sekilas ke gadis kecil yang terlihat begitu sedih tersebut, lalu membuang wajah karena tidak menyukainya.
"Katakan pada ayahmu bahwa itu semua palsu, aku mohon Aria, kau hanya mengatakan sebagian kebenarannya dan kebenaran lain kenapa harus kau sembunyikan?" bentak wanita itu marah ketika Aria telah melangkah kaki meninggalkannya.
"Katakan saja sendiri!" Aria tetap berjalan, ia tidak mempedulikan wanita yang telah melepaskan tangan putrinya tersebut lalu melangkah mengejarnya.
"Mana mungkin dia akan percaya padaku, tolonglah Aria!, kasihanilah putriku setidaknya, Hikksss hikss.."Wanita itu jatuh terduduk memegang salah satu kaki Aria hingga Aria terpaksa menghentikan langkahnya.
Aria kesal, hal itu terasa mengganggu baginya.
Ia bahkan sempat memandang kasihan ke wajah putri wanita itu tetapi dia ingat kembali bahwa gadis kecil tersebut di masa depan yang ia ketahui, akan mengambil kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Drrrttttt..
Ponselnya bergetar,
Wanita yang membawa tas kulit mahal edisi terbatas dengan bentuk yang kecil itu, membuka tas tersebut lalu meraih ponsel dan menjawab panggilan.
"Aria, kau dimana?" tanya suara seorang laki-laki dari balik ponsel miliknya.
"Aria, itu ayahmu?, tolong Aria, tolonglah.."
Wanita itu masih memegang kaki Aria, aliran air mata yang jatuh membuat Aria merasa risih karena beberapa karyawan yang tidak sengaja lewat, melihatnya.
"Huh," wanita itu mendesah marah, lalu tersenyum kecut. "Ayah, kau tahu, bibi ternyata di jebak." Ucapan Aria sontak membuat wanita yang memohon tersebut tersenyum sedikit senang lalu merenggangkan genggaman tangan pada kakinya. "Begitulah kata bibi tapi aku tidak percaya, sungguh, bibi selalu saja menipuku." Ucap Aria melanjutkan lalu melangkah kaki dengan cepat.
" Aria!"
"Urus dia!" kemudian menyerukan seorang karyawan untuk menghentikan wanita yang telah tertipu dengan ucapan Aria tersebut, datang menghampirinya yang telah masuk ke dalam lift.
"Aria, tolonglah Aria, tidak ada sedikitpun maksudku untuk mengkhianati ayahmu, Aria!" Wanita itu terus berteriak dengan tubuhnya yang dipaksa keluar dari gedung tersebut oleh dua orang karyawan laki-laki di koridor sana.
**********
Sekretaris direktur utama memutar gagang pintu dan membukakan benda tersebut untuk Aria masuk ke dalamnya. Setelahnya ia menutup pintu, lalu menghela nafas lega karena tidak ingin terus-menerus dekat dengan putri pemimpinnya tersebut.
Tukkk tuukkk..
Langkah sepatu hak tinggi berwarna abu-abu menggema di dalam ruangan direktur utama.
Ruangan tersebut terlihat begitu megah dan luas. Seperti sebuah ruangan di dalam rumah yang terdapat sofa empuk, televisi dan bahkan beberapa ruangan lain terlihat berada di dalamnya.
Ayah aria terlihat berada di ujung ruangan dengan dinding berkaca dan gorden mewah yang terbuka.
Laki-laki yang tadinya berdiri memandang ke luar dinding kaca dan melipat tangan ke belakang, mulai membalikan tubuhnya.
"Ayah," panggil Aria sembari tersenyum bahagia.
"Baca!" nada perintah ayah terdengar berbeda, dingin dan marah.
Laki-laki itu mengisyaratkan pada Aria untuk membaca sebuah lembar dokumen di atas meja samping komputer miliknya.
Perlahan-lahan langkah Aria mendekati benda tersebut lalu ragu-ragu meraih sebuah kertas dan terkejut.
"Aku sengaja tidak memberikanmu kartu kredit karena selama ini kau begitu boros menggunakan uangku, lalu setelah memberikanmu kartu debit, itu yang kau lakukan Aria?, tadinya aku mengira bahwa kau mungkin akan melihat sisa saldomu lalu berpikir untuk tidak lagi menghabiskan uang begitu mudah, tapi ternyata, kau menipuku?" ayah Aria masih menjaga ketenangannya untuk tidak membentak putrinya, ia terlihat mulai membalikan tubuh kembali, menghadap ke dinding kaca di sana. "Siapa laki-laki itu?"
"Siapa yang memberitahukanmu, ayah?"
Tanya balik Aria.
"Aku tanya siapa laki-laki itu?" kali ini ayahnya tidak tahan lagi, ia mulai membentak marah lalu berbalik dengan mata memerah.
"Ahh," Aria terlihat berpikir, " orang suruhanku." Lalu menjawab tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kau kira aku bodoh?, mungkinkah seorang tuan membayarkan hutang untuk orang suruhannya dengan total lebih dari 3 Miliyar?"
"Huh, ayah, tolonglah jangan begitu." Kali ini sikap Aria tiba-tiba berubah, dengan begitu manja ia datang mendekati ayahnya lalu menyandarkan tubuh di belakang ayahnya tersebut. "Aku hanya, hanya tiba-tiba menyukainya lalu berusaha untuk terus menyukainya agar aku bisa melupakan Suan."
"Suan bahkan mengatakan kepadaku bahwa dia telah mencintaimu lalu sekarang kau malah mau menghabiskan uang hanya untuk laki-laki lain,.."
"Ayah, mana mungk..."
"Berpikirlah Aria!" Bentak Ayah Aria kembali, suaranya bahkan menggema hingga memenuhi ruangan tersebut. "Jangan membuat aku malu atau lebih baik kau keluar saja dari rumahku. Belum selesai dengan masalah bibimu, sekarang kau malah ikut berulah." Laki-laki itu mulai melangkah dan memijat dahinya yang sakit setelah melepaskan tangan Aria. "Sekarang pulanglah!, tanggal pernikahanmu dengan Suan akan dipercepat jadi jangan terlalu sering pergi dari rumah!" lalu duduk di kursinya dengan menahan rasa sakit di kepala.
*********
"Direktur, no..no.."
Suara wanita itu terdengar panik, dia terlihat berdiri dari kursi yang berada di depan sebuah pintu ruangan pemimpin perusahaannya.
"Aria?, biarkan saja dia masuk!" Seru suara yang terdengar dari gagang telepon yang dia genggam.
Tangan wanita itu gemetaran, padahal ia hanya melihat Aria dari kejauhan dan belum mendekati tempatnya berada.
Segera setelah menutup telepon, dia menundukan kepala, sedikitpun tidak berani untuk menyapa.
Mungkin karena dia telah mengetahui kabar berita bahwa sekretaris yang baru saja menjabat pernah mengalami pemecatan dalam beberapa hari bekerja, maka dari itu, ia merasa takut jika salah bertindak, ia juga akan terkena imbasnya.
Tukk tukkk tukk..
Langkah kaki Aria cepat, bahkan rentetan suara sepatunya terdengar terus menggema di koridor luas yang memiliki banyak ruangan berdinding kaca dan diisi banyak karyawan-karyawan maupun para programmer yang bekerja.
Tidak ada seorangpun dari para karyawan di sana yang berani melihat Aria meskipun mereka tahu bahwa Aria juga tidak akan mungkin melihat ke arah mereka, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu dimana Aria pernah jatuh tak sadarkan diri di perusahaan tersebut dan pemilik perusahaan mengkhawatirkannya.
Braaaaakkkk..
Suara bantingan pintu terdengar,
Bagian belakang pintu menghantam dinding kaca yang tertutupi gorden.
Semua mata dibuat terkejut, mereka bahkan mulai merasa tidak nyaman karena sudah sering kali terjadi pertengkaran antara pemimpin perusahaan mereka dengan tunangannya di dalam kantor.
"Kau yang mengadukannya?" tuk tuk tukk.. Terus bergerak cepat, Braaakkk..." Kenapa kau melakukannya?" teriak Aria marah sembari menggebrak meja kerja Suan. Suaranya tersebut begitu menggema hingga sekretaris baru Suan terpaksa menutup pintu ruangan pemimpinnya dan menyerukan karyawan-karyawan yang berada di lantai gedung tersebut untuk pergi dari sana.
"Bukankah itu adil?" Suan masih terlihat santai, menghempaskan tubuh di sandaran kursi kerja. Ia bahkan tidak perlu berdiri untuk mendekati Aria, yang dia lakukan hanyalah menggeser kursi roda tersebut dan kini telah duduk di hadapan wanita yang berdiri itu.
"Adil kau bilang?"
"Hm adil, " Suan berdiri lalu menggeser kursinya mundur menjauh. " ... karena sekarang adalah giliranku untuk menghancurkanmu."
"Suan!" Aria geram, ia menengadah memandang mata Suan yang berada di atasnya. "Bukankah aku tidak lagi mengganggumu?, Aku juga tidak lagi memaksamu untuk menikah, kau juga bilang kita tidak harus ikut campur urusan masing-masing, bukan?, jadi berhentilah mengurusi hidupku." Taaaarrr... braakkk... Sebagian peralatan kerja dan bahkan sebuah gelas yang berisi air mineral di meja Suan, Aria singkirkan hingga jatuh berserakan di atas lantai.
Wanita itu marah dan sangat marah hingga tangannya kini mengepal begitu geram.
"Bukankah dulu kau juga selalu mengurusi hidupku?, aku bahkan tidak pernah memiliki teman karenamu, juga cita-citaku dan bukankah dulu kau juga sering mengadu?, terimalah pembalasanku Aria, Kesalahanmu padaku begitu banyak dan tak terbendung, kau menyakiti lalu kau juga menyiksa kehidupanku. Saat ini, aku hanya sedang mengadilimu, ahh benar, ini baru permulaan, aku akan menambahkannya lagi dan lagi hingga kau merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan dan aku puas melihatnya." Suan tersenyum puas, tatapannya juga terlihat begitu senang ketika melihat mata memerah Aria.
"Bukankah aku juga tersiksa karena kau tidak pernah mencintaiku di masa lalu?, sekarang aku tidak ingin tersiksa lagi." Aria menundukan kepala, ia meneteskan air mata, menahan rasa sakit di dalam hati karena ingatan mimpi akan kejadian hari dimana ia akan membunuh dirinya sendiri nantinya. "Aku tidak akan mengusik hidupmu lagi, jadi tolong, menjauhlah dariku dan kau bebas melakukan apapun yang kau mau."
"Setelah kau bahagia mencintai orang lain lalu kau pikir aku akan membiarkan kebahagiaanmu berlangsung terus-menerus." Suan melingkarkan salah satu tangan ke pinggang Aria hingga membuat wanita itu terkejut. "Dengar Aria!, aku akan membuatmu membenciku hingga sedikitpun tidak terpikirkan olehmu untuk mendekatiku lagi, dan terus membuatmu membenciku lalu menyiksamu sama seperti kau menyiksaku yang membencimu di masa lalu...," Perlahan-lahan wajah Suan mendekati wajah Aria yang saat itu terlihat sedang gelisah dan berusaha keras melepaskan diri namun tidak kuasa karena tangan Suan yang begitu kuat dan ini pertama kali bagi Aria menerima pelukan seperti itu dari laki-laki yang ia cintai,"....dan membuatmu merasakan rasa sakit itu huppp.."
"Emmmm..haaa.. lepas.. emm.." Dengan begitu cepat bibir Suan meraih bibir Aria, lalu dengan begitu liar ia menguasainya hingga sampai menggigit bagian wajah mungil itu berkali-kali, " Emmmm.. haa.." nafas Aria terengah-engah, tubuhnya kini bersandar di meja lalu tangannya tidak sengaja menyentuh komputer bagian belakang. "Haa.. Emmm.." Aria memejamkan mata, dia tak lagi kuasa menahan keinginan hati karena ini pertama kali baginya menerima ciuman dari Suan.
Lalu wanita itu membalasnya, " Murahan." Hina Suan sangat membenci, ia bahkan dengan begitu cepat melepaskan tubuh Aria.
"Hm, benar, aku murahan." Aria menghela nafas lalu membersihkan darah di bibir yang terluka karena gigitan Suan. "Aku, pasti, akan membuatmu berpikir dua kali untuk melakukan pembalasan dendam, dan kupastikan lagi semua ucapanmu itu, satupun tidak akan pernah ada yang terjadi." Aria melangkah kaki dengan cepat, berlalu dari sana untuk menenangkan diri dari kebodohannya yang selalu mengharapkan cinta Suan. Bahkan ketika laki-laki tersebut bersikap kasar kepadanya sekalipun, ia tetap pasrah menerimanya.
Berkali-kali dan sudah sering kali, ia melalui rasa sakit penolakan cinta lalu setelah mengingat kembali kebodohannya, ia membenci dirinya sendiri.
Air matanya terus mengalir meskipun ia berusaha keras untuk tetap menahannya, rambut yang tadinya tertata rapi, saat itu terlihat sedikit berantakan.
Perlahan-lahan langkahnya terhenti ketika ia melihat sesosok gadis yang dikenali. "Haah, hm," Aria tersenyum kecut, senyumannya membuat darah di bibir kembali keluar. "Aku juga sudah merasakannya," Ucap Aria kepada gadis yang terlihat menundukan kepala, "ini?" wanita itu menunjukan bibirnya yang terluka kepada gadis tersebut. "Betapa lembutnya Suan memperlakukanku dihubungan penyatuan tubuh kami sebelum menikah, Hm,, " Lanjutnya lalu melangkahkan kaki kembali, "Ah iya, aku ingat, ternyata dia adalah bekas darimu, tapi tidak masalah karena sebentar lagi kami akan menikah dan kau hanya sebatas wanita simpanan saja." Dan berteriak keras melanjutkan kalimatnya dari kejauhan.
Hatinya terasa begitu sakit, bahkan untuk melihat gadis yang baru saja ia temui itu. Gadis yang dulunya kumuh telah berubah menjadi gadis cantik dengan barang-barang mewah di tubuhnya, juga berhasil mengambil hati laki-laki yang ia cintai, dan gadis yang berasal dari kalangan bawah itu baginya telah mendapatkan keberuntungan yang luar biasa, karena di dalam hidup Aria, Suan adalah laki-laki sempurna yang sangat mustahil untuk ditemukan di penjuru belahan dunia.
Terus melangkah kaki hingga memasuki lantai tempat parkir mobil dan berlalu dari gedung tinggi, Perusahaan Suan berada.
Lalu mengemudi mobil hingga berhenti tepat di depan sebuah gedung luas lainnya yang sangat terkenal di kota tersebut.
Benar, bar dan diskotik.
Itu pertama kali bagi Aria yang selalu menjaga diri untuk tetap sempurna menjadi istri Suan di masa depan nantinya, datang dan menghampiri tempat tersebut.
"hiks, sial hiks sial.. hiks brengsek..hiks, " tangis wanita itu, yang masih duduk di kursi pengemudi mobil.