
Dia masih bergulat dengan pekerjaan yang begitu banyak.
Hingga tidak sadar, waktu telah cepat berlalu dan kini malam telah larut.
Tikk tiikkk.
Kesunyian ruangan yang kedap suara hanya terdengarkan ketikan keyboard komputer saja.
Taaakkk..
Lalu ketika ketikan kata terakhir ia selesaikan, dia mulai melihat ke arah jam pada layar komputer di depannya.
“Jam 2,” gumam Suan mulai merasa lelah setelah tadinya hanya fokus pada pekerjaannya saja.
Ia mulai menoleh namun tidak menemukan Aria di sana.
“Dia kemana?”tanya Suan pada dirinya sendiri lalu melihat ke arah ponsel di atas meja dan menghidupkan layarnya.
Tidak ada pesan, juga tidak ada panggilan hingga membuatnya mulai cemas lalu berdiri dan melangkah tanpa membuka kacamata.
Drrrrtttt...
Dia mencoba menghubungi Aria, namun ternyata ponsel wanita tersebut tertinggal di atas sofa.
Hatinya mulai panik dan gelisah karena tidak mendengar kabar dari wanita yang ia cintai setelah terakhir bertemu pada sore hari.
Drrttt...
“Kau lihat Aria?” tanya Suan ketika panggilan telah diterima oleh Elbram.
“Aku tidak melihatnya.” Jawab Elbram semakin membuat Suan panik lalu menghubungi Supirnya.
Drrrrttt...
“Apa kau melihat Aria?” tanya Suan pada Supir yang telah menerima panggilan dari laki-laki tersebut.
“Saya tidak melihatnya, tuan, Nona Aria juga tidak terlihat keluar dari kantor.” Jawab Supir Suan semakin menambah kepanikan dalam hati Suan yang telah melangkah memasuki lift lalu memutuskan panggilan.
“Aria, kau dimana?” tanya Suan sangat gelisah lalu melangkah menuju ke ruangan kerja Harry.
Ia mengerti, Harry juga mungkin saat itu sedang mengerjakan pekerjaannya dan belum kembali ke rumah.
Terus melangkah hingga kakinya terhenti tepat di depan sebuah ruangan kerja.
“Kau menemukan Aria?” tanya Elbram yang telah menemui Suan lalu sedikit terkejut ketika melihat Aria sedang duduk di depan layar komputer sembari mengerjakan sesuatu, sementara di samping wanita itu, terlihat Arkas sedang tidur di kursi dengan menyandarkan kepala di atas meja.
“Suan!” panggil Elbram ketika melihat raut wajah Suan tampak berbeda.
“Sakit sekali rasanya.” Ucap Suan sembari menggenggam erat ponselnya, kraakkk.. hingga retak lalu melepaskannya, takkk dan benda tersebut jatuh ke atas lantai.
“Suan!” panggil Harry yang telah keluar dari ruangan kerja dan mungkin akan segera pulang ke rumahnya, “apa yang kau lakukan di...” tanpa melanjutkan kalimat, Harry dibuat terkejut ketika melihat Aria begitu fokus mengerjakan pekerjaan Arkas saat itu.
“ Suan, kau tidak harus marah, Arkas sedikitpun tidak menyukai Aria.” Lanjut Harry berusaha untuk menenangkan hati Suan yang masih berdiri memandang punggung Aria saat itu.
“Aku tahu, “ Ucap Suan sembari menegun, “tapi sakit sekali melihatnya memberi perhatian pada laki-laki lain selain diriku.” Lanjut Suan berucap sembari menghela nafas lalu menundukan kepala sejenak dan mengangkatnya dengan cepat, “ Saat ini aku ingin sekali mengatakan pada dunia bahwa Aria adalah milikku agar rasa sakitku ini sedikit berkurang.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Suan mulai melangkah masuk ke dalam ruangan kerja Arkas untuk menghampiri Aria.
“Mungkinkah dia sedang cemburu?” tanya Harry pada Elbram yang tampak berdiri mematung dan masih tidak menyangka bahwa Suan akan mengatakan hal tersebut, “hoi, kau dengar tidak?”
“Mungkin Suan sedang gila saat ini,” Jawab Elbram yang mulai menggelengkan kepala, masih merasa belum percaya dengan ucapan temannya lalu mengambil ponsel Suan yang telah rusak dari lantai untuk ia perbaiki nantinya.
“Apa?”
“Lupakan saja!, kau tidak akan mengerti karena kau belum pernah menjadi gila sebelumnya.” Ucap Elbram lalu melangkah kembali menuju ke ruangan kerjanya.
“Jadi kau pernah gila sebelumnya?” tanya Harry mulai melangkah kaki mengejar Elbram.
“Sudah sering.” Jawab Elbram dengan santai lalu masuk ke dalam lift diikuti oleh Harry saat itu.
Sementara itu, Suan yang telah masuk ke dalam ruangan mulai meraih kursi dan duduk di samping Aria.
“Su.. Suan!” panggil Aria terkejut dan sedikit takut.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Suan sembari melihat data-data di depan layar komputer milik Arkas.
“Ah tidak, aku hanya...”
“Berikan Mousenya padaku!” ucap Suan mengejutkan Aria yang tadinya mengira bahwa Suan akan memarahinya.
“Suan kau tidak marah padaku?” tanya Aria mulai memberikan mouse yang ia genggam pada Suan.
“Aku marah tapi tidak ingin memarahimu.” Ucap Suan lalu mulai mengerjakan tugas yang harusnya diselesaikan oleh Arkas malam itu.
Waktu terus berlalu, namun Arkas tak kunjung bangun dari tidurnya.
Mungkin karena laki-laki itu sangat lelah dan belum terbiasa bekerja berat sebagai Asisten dari seorang Direktur.
“Suan, terima kasih!” ucap Aria ketika tugas Arkas telah selesai dikerjakan oleh mereka.
“Hm,” Suan tersenyum pahit, malam itu ia merasa sangat sakit hati karena Aria sampai mengucapkan kata terima kasih hanya untuk laki-laki lain, “Sekarang kita pulang!” Ucap Suan sembari meraih tangan Aria dan menggenggamnya erat lalu membawa wanita itu meninggalkan Arkas yang masih tertidur di ruangan tersebut.
“Besok, kau bisa mulai bekerja, jadi kau tidak boleh mengerjakan tugas Arkas lagi, kau paham?” Ucap Suan berusaha keras menahan rasa sakit di dalam hatinya.
“Benarkah?” Tanya Aria begitu girang sembari terus melangkah mengikuti Suan menuju tempat parkir mobil tanpa datang kembali ke ruang kerjanya.
Mungkin karena laki-laki itu sedang sangat emosi saat itu.
“Hm,” Suan menjawab pertanyaan Aria sembari memasuki lift dan menuju lantai bawah.
**********
Tiiiitttt..
Taaaaakkk..
Pintu Apartemen terbuka, lalu ditutup setelah Suan dan Aria masuk ke dalam.
Takkk...
Kontak lampu dinyalakan.
Ruang tamu mulai terang.
Suan yang masih menggenggam tangan Aria dan tidak melepaskan tangan wanita tersebut sejak dari kantor, membawanya menuju ke lobi.
Wuuuzzzz...
Lalu angin malam berhembus kencang menerpa tubuh mereka berdua setelah pintu kaca dibuka.
“Suan, ada apa denganmu?” tanya Aria saat Suan telah menghentikan langkah lalu melepaskan tangan Aria dan bersandar pada pagar pembatas lobi di sana.
“Huh,” Suan menghela nafas berat, “aku hanya ingin menenangkan diri.” Ucap Suan sembari tersenyum lembut tetapi ia paksakan pada Aria yang tampak merasa bersalah.
“Kau pasti sangat marah padaku, bukan?” tanya Aria sembari menundukan kepala, ia terlihat takut untuk mendekati Suan saat itu.
“Katakan padaku, benarkah seperti ini rasanya?”
Tanya Suan membingungkan Aria yang langsung mengangkat kepala memandang tatapan sedih dari laki-laki yang ia cintai.
“Suan, apa maksudmu?”
“Rasanya sangat sakit bukan, ketika kau melihat wanita lain mendekatiku?,” tanya Suan merasa bersalah pada Aria karena perbuatannya di masa lalu.
“Hm,” angguk Aria dengan mata berkaca-kaca, “ sakit sekali hingga aku sangat ingin menghancurkan semua wanita yang dekat denganmu.” Lanjut Aria sedikit mengejutkan Suan saat itu.
“Begitulah yang kurasakan saat ini, kau,” Suan memandang Aria lekat tanpa mengedipkan mata satu kalipun, “.... tidak ingin aku menghancurkan Arkas, bukan?”
“Hmm..” Aria mulai tersenyum, dia memahami perkataan Suan saat itu, “aku sedikitpun tidak menyukai Arkas, percayalah padaku!”
“Aku juga sedikitpun tidak menyukai wanita yang mendekatiku di masa lalu.” Jawab Suan cepat, memaksa Aria untuk menjauhi Arkas saat ini.
“Tapi tidak dengan mereka, kau yang salah Suan,” kali ini nada bicara Aria tiba-tiba berbeda, terdengar sangat dingin dan penuh emosi.
“Maksudmu?”
“Berbeda dengan wanita yang mendekatimu," jawab Aria tanpa takut lagi memandang tatapan Suan, “Arkas tidak pernah menyukaiku, begitupula sebaliknya, aku tidak pernah menyukainya. kau memang tidak menyukai mereka, tetapi mereka sangat menyukaimu. Kau tahu, kadang kau ini sangat tidak adil, kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri tapi tidak pernah memikirkan perasaanku, ahh benar,” Aria mulai tersenyum pahit lalu menundukan kepala, “aku memang selalu memaksamu tapi kau harus tahu, itu semua kulakukan karena hanya kaulah yang bisa memenuhi kekosongan dalam hatiku. Aku salah, aku minta maaf Suan, “ air mata Aria mulai menetes lalu dengan segera ia hapus kemudian berbalik serta berlalu dari hadapan Suan yang tampak mengernyitkan dahi karena berpikir keras saat itu.
“Sebenarnya siapa yang dia salahkan?, aku atau dirinya sendiri?” tanya Suan sangat kebingungan malam itu.