Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Hitam



Setelah bertemu ibunya di ruang tunggu perusahaan keluarga Harry, sore itu, seperti biasa ia berada di ruang kerja Suan.


Hidupnya terasa bosan ketika Suan tidak ada di sana.


Ia tidak ingin makan apapun, ia tidak berniat menggunakan ponsel ataupun bermain game, dia pikir, hidupnya mulai terasa hampa dan kosong kembali.


Meskipun Michelle sempat mengajak Aria pergi berbelanja dan juga traveling, wanita itu benar-benar enggan untuk menerima ajakan temannya tersebut, dia selalu berkata : “ Melelahkan.” Baginya tidak ada yang lebih menyenangkan dan menarik kecuali bersama dengan Suan.


Wanita itu mulai terbaring miring di sofa, ia sempat memainkan ponsel namun mulai bosan lalu meletakan benda tersebut di atas meja.


Tidak ada Suan, karena mungkin laki-laki tersebut sedang bertemu rekan kerja atau mungkin juga sedang mengadakan pertemuan penting.


Aria mulai duduk lalu menoleh ke arah pintu dan melihat Sekretaris baru Suan.


Wanita itu berdiri namun kemudian duduk kembali.


Awalnya ia berniat mengobrol tetapi entah mengapa niatnya tiba-tiba hilang karenanya rasa hampa mulai memasuki hatinya kembali, namun demikian ia tetap enggan untuk bertemu dengan siapapun kecuali hanya Suan saja.


“Kirimkan padaku sampelnya dan juga beberapa contoh produk keluaran terbaru!” Suara Suan mulai terdengar bersamaan dengan beberapa langkah kaki yang mulai memasuki ruang kerjanya.


“Bagaimana dengan desain yang diajukan kemarin, Direktur?” tanya suara seorang laki-laki yang mungkin adalah salah satu karyawan dari perusahaan tersebut.


“Tidak masalah, itu saja sudah sangat baik. “ Jawab Suan yang telah duduk di kursi kerjanya sembari menerima sebuah laptop dari tangan seorang laki-laki yang berdiri di depannya bersama dengan seorang laki-laki lain. “Hanya pantau saja perkembangan desain terbaru dari ponsel terlaris akhir-akhir ini, dan jangan lupa cari tahu kebutuhan ponsel masyarakat sekarang!” Lanjut Suan memberi perintah sembari mencolokan sebuah Flashdisk ke dalam Port USB CPU komputer.


“Baiklah Direktur.” Ucap kedua karyawan tersebut, “kami undur diri,” kemudian segera berlalu dari sana dengan melirik sekilas ke arah Aria yang telah berdiri dan mendekati Suan.


Suan yang telah mengenakan kacamata dan bersiap untuk memainkan jari-jari tangan ke atas keyboard komputer sontak dibuat bingung dengan kedatangan Aria di sisinya.


“Kau membutuhkan sesuatu?” tanya Suan, menoleh kepala ke arah Aria di sampingnya.


“Aku ingin bekerja,” ucap Aria memberitahukan keinginannya.


Suan mengetahui bagaimana sifat Aria, wanita yang memiliki sifat pembosan itu bahkan telah sering mengacaukan pekerjaannya di masa lalu.


“Bisakah kau tetap berada di ruanganku?, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu jadi kau tidak perlu lagi bekerja.” Tolak Suan cepat lalu memfokuskan diri di depan layar komputer yang telah menyala dan mulai menekan tombol-tombol keyboard.


“Aku ingin bekerja.” Ucap ulang Aria, ia terlihat sangat menginginkannya.


“Aku akan bilang pada ayahmu untuk menempatkanmu di posisi terbaik di perusahaannya.” Jawab Suan tanpa menoleh ke arah Aria.


Aria mulai kecewa, hati yang tadinya mulai berwarna saat itu telah kembali hampa. “Tidak menyenangkan, “


“Apa maksudmu, Aria?” tanya Suan dengan santai, masih dengan memandang komputer yang telah terisi beberapa data dan lembaran-lembaran dokumen di layarnya.


“Sama sekali tidak menyenangkan bekerja bersama orang-orang yang berpura-pura baik di depanku.” Jawab Aria yang telah melangkah mendekati sofa kembali, “Aku ingin bekerja di sini Suan,” lalu mengemukakan keinginannya lagi.


“Aria, kau tahu perusahaan ini milik Harry, bukan?, harusnya kau mengerti...”


“Aku mengerti, aku tahu kau tidak akan mungkin percaya padaku.” Ucap Aria yang telah berdiri lalu melangkah pergi dari ruangan tersebut.


“Kau ingin kemana?”


“Aku bosan, aku ingin keluar sebentar.” Jawab Aria dari kejauhan sembari menoleh ke arah Sekretaris Suan yang tampak memberi hormat untuknya.


“Kau mau kemana?” Suara Elbram terdengar dari kejauhan, mungkin laki-laki tersebut sedang bertanya pada Aria.


Suara jawaban Aria yang telah masuk ke dalam lift tidak terdengar lagi di telinga Suan. Suan hanya tetap melanjutkan pekerjaannya namun berhenti ketika Elbram datang dan masuk sembari membawa sebuah map amplop besar berwarna coklat.


“Kau mendapatkan informasinya?” tanya Suan yang telah melepaskan kacamata, menunggu Elbram mendekati.


“Sulit sekali, tapi tenang saja, aku mendapatkannya.” Elbram yang telah datang lalu menarik kursi mendekati Suan kemudian memberikan jawaban yang memuaskan hati, “ Sindrome aneh,” dan mengeluarkan beberapa lembaran kertas yang telah dibubuhi tanda tangan serta stempel.


“Sindrome?”


“Lihat ini!” Elbram menunjukan sebuah tulisan dalam lembaran kertas pada Suan, “sebelum meninggal, Orion memiliki seorang Psikiater pribadi dan setelah kucari tahu, ternyata dia sering sekali merasa ketakutan dan gelisah hingga untuk menghilangkan perasaannya itu, Orion menghancurkan perusahaan saingannya di kota ini, bahkan usaha kecil yang baru saja memulai bisnis mereka.” Jelas Elbram sembari mengeluarkan satu persatu lembaran bukti yang ia temukan.


“Maksudmu, mungkinkah sindromenya menurun pada Aria?” detak jantung Suan mulai terpacu kencang, keringatnya bahkan mulai mengalir keluar dari dahi meskipun di ruangan tersebut telah terpasangkan AC.


“Benar, Aria tidak pernah melakukannya tapi yang selama ini dia lakukan,” Suan tertegun lalu mengernyitkan dahi, “...menyingkirkan semua wanita yang mendekatiku bahkan dia sampai tidak menyenangi jika aku terlalu dekat dengan ibuku.” Lanjut Suan tampak berpikir keras hingga ia mulai memijat dahi pada pertengahan kedua alis matanya.


“Mungkinkah Sindrome gelisah dan ketakutan itu menurun padanya?” pertanyaan Elbram membuat Suan tertegun dan tampak cemas. Wajah Suan bahkan sampai pucat karena mendengar hal tersebut.


Matanya juga memerah, ia sedikit takut jika terjadi masalah dengan Aria.


“Tapi kenapa dia tidak ingin bertemu denganku waktu itu?, jika memang dia gelisah dan khawatir aku pergi, mana mungkin dia nekad membatalkan pernikahan kami?” Tebak Suan mulai mengeluarkan pendapatnya hingga ia yang sangat lelah memikirkan keadaan Aria, menghempaskan punggung di sandaran kursi dan memejamkan mata.


“Aria, sebenarnya apa yang terjadi padamu?” gumam Suan pelan dengan kegelisahan yang memenuhi hatinya.


*********


Aria terus melangkahkan kemanapun kakinya ingin melangkah.


Sesekali ia ke arah Pantry, sesekali ia menuju ke ruangan Michelle namun tidak menemukan temannya di sana.


Lalu sekarang, ia tampak berada di atap bangunan yang tinggi.


Wuuuzzz... dan berdiri merasakan hembusan angin di sore hari.


Sayup-sayup angin menggerakan rambut panjang yang ia urai.


Helaian rambut yang menutupi wajah mulai ia singkap ke belakang telinga.


Wanita itu mulai bertanya-tanya di dalam hati, ‘bagaimana rasanya bekerja?, bagaimana rasanya menjadi orang lain yang tidak memiliki hati kosong dan hampa?’


Dia juga bertanya pada dirinya sendiri, ‘mengapa dia tidak bisa menikmati rasanya hidup jika jauh dari Suan?, mengapa semua yang ia lakukan terasa melelahkan?, mengapa dia tidak menyenangi semua hal yang disenangi oleh orang lain?’


“Ah,” desahnya mulai merasa lelah lagi.


Saat itu, dia ingin bertemu Suan saja dan mengejar cinta laki-laki tersebut hingga hidupnya akan berwarna kembali.


Wanita itu mulai berbalik,


Lalu terkejut dan bergumam, “benar”, dirinya pernah merasakan hidup berwarna kembali meskipun warna tersebut sangatlah hitam tetapi setidaknya hatinya tidak lagi hampa dan dia merasakan sakit dibatinnya.


“Lucu sekali,” lanjut Aria bergumam sembari tersenyum pahit lalu memandang seorang laki-laki terlihat sedang tertidur di atas pintu atap.


Untuk kedua kalinya, Aria mengenal warna hidup selain dari bertemu dengan Suan, yaitu mengenal Arkas.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Aria pada Arkas ketika ia telah mendekati pintu atap dan berdiri di sisi dinding pintu.


"Huh, itu kau?” Arkas yang mendengar pertanyaan Aria sontak terbangun dari tidurnya lalu mulai duduk, “kau ini mengganggu sekali.” Ucap Arkas begitu ketus, namun entah mengapa Aria menyenanginya.


“Berwarna?”


“Apa?” tanya Arkas merasa aneh dengan gumaman yang diucapkan Aria saat itu.


“Tidak, hanya saja rasanya sakit sekali mendengarmu menghinaku, hingga ingin sekali aku marah padamu.” Ucap Aria yang mulai menyenangi hidupnya.


“Marahlah, lalu setelah itu, pergilah dari hidupku!” ucap Arkas lalu melompati atap pintu dan kini telah berdiri di depan pintu atap bangunan.” Yang jauh, kalau bisa sejauh mungkin, kau itu sungguh menjengkelkan.”


“Jadi begitu ya?”


“Benar, jadi sadar dirilah!” Hina Arkas lalu masuk ke dalam bangunan dan menuruni anak tangga.


“Rasanya sangat sakit, aku ingin memukulmu.”


Ucap Aria yang telah berjalan di belakang Arkas lalu menghentikan kaki mengikuti Arkas yang telah terlebih dahulu menghentikan langkahnya.


“Ehm, pukulah!” Arkas segera berbalik, “pukul sampai puas.” Lalu menunjukan pipinya pada Aria yang saat itu tampak menahan diri.


“Kalau aku pukul, aku akan puas, kalau aku puas, maka hatiku kembali kosong.” Ucap Aria lalu melangkah menuruni tangga, melewati Arkas, “Aku akan membiarkan rasa sakit ini, lalu ketika hatiku terasa hampa, aku akan melihatmu dan saat itu, hatiku akan kembali berwarna,” lanjut Aria yang telah turun menjauh, “ warna hitam karena aku dendam padamu.” Lanjut wanita tersebut mulai menghilang dari pandangan Arkas.


“Dia benar-benar gila, ya?” gumam Arkas pada dirinya sendiri tampak kebingungan dengan ucapan yang dilontarkan Aria.