
‘Berhentilah berbohong!’
Entah mengapa, ucapan Suan terus-menerus memenuhi ingatannya hari itu.
Setelah Suan berlalu dari Apartemennya dan meninggalkan Aria sendirian di sana, kini wanita itu harus menerima kesendirian yang menyiksa kembali.
Memang, sekretaris Suan sempat datang dan membawa pelayan untuk membersihkan Apartemen tersebut, tapi itu tidak berlangsung lama dan kini mereka telah pergi dari sana.
Telah seharian berlalu, rasa bosan menyelimuti hati. Ia tertidur ketika masih bermain dengan ponselnya, lalu terbangun dan melihat jam di layar ponsel telah menunjukan angka 9 malam.
Sifat pembosan Aria memang tidaklah mudah di atasi, meskipun memiliki Ponsel yang dapat digunakan untuk menjelajahi dunia, tetapi dia yang lebih suka mengejar cinta Suan di masa lalu, terlalu enggan untuk menghabiskan waktu dengan benda tersebut.
Wanita itu berdiri, merasakan ketenangan dan kesepian malam.
Ia mulai melangkah ke luar kamar Suan dan melihat menu makanan yang telah dipersiapkan di ruang makan melalui pintu terbuka di sana, entah siapa yang meletakannya dan kapan itu terjadi, yang pasti, itu semua adalah perintah dari Suan.
Malam itu, tidak sedikitpun ia memiliki selera untuk makan, matanya berkaca-kaca merindukan rumah mewah dan keramaian para pelayan yang sering menyiapkan makan malam untuk keluarga mereka serta merindukan dapur ramai di rumahnya, juga merindukan halaman rumah yang terdapat tukang kebun, lagi dan lagi yang paling ia rindukan adalah kedua orang tuanya.
“Hiksss.. hiksss..”
Angin malam berhembus kencang menerpa tubuh ketika Aria telah berdiri di lobi apartemen dan bersandar pada pagar pembatas.
Angin juga turut membawa air mata wanita itu bersama.
Ia menangis, menghadap ke arah kota yang dipenuhi dengan gedung-gedung menjulang tinggi,” sampai kapan?, sampai kapan aku seperti ini?” teriaknya keras lalu suaranya menghilang dengan sekejap mata karena terbawa hembusan angin kencang.
“Aku ingin pulang, aku ingin bertemu ibuku, aku rindu hikss hikss... ayah, haa.” Wanita itu sedikit terkejut ketika mengingat seseorang, “ aku merindukanmu kakek,” ucap wanita itu kini mulai memperpelankan suara, mengingat hari-hari bersama kakeknya yang telah tiada.
“Haaa hikkss hikss, maaf kakek haaa hikss maafkan aku...” ucapnya mulai berjongkok dan menyembunyikan wajah di kedua lipatan kaki.
“Haa..”
“Maaf karena aku pulang lama.” Wanita itu begitu terkejut hingga detak jantungnya terpacu sangat kencang ketika Suan menarik lengannya dan ia berdiri, memutar tubuh lalu jatuh ke pelukan Suan di malam hari itu.
“Ahhh.. hiks.. " Tangisan Aria semakin pecah, wanita itu menggenggam erat kemeja depan Suan dengan kedua tangan dan menangis di dada laki-laki tersebut sepuasnya. “Haaa hikss hikss..”
“Kau ingin pulang?”
“ Hm,” geleng Aria menolak, ia benar-benar tidak ingin mencelakai kedua orang tuanya.
“Kalau begitu maka berhentilah menangis atau aku akan membawa pulang ke rumah paman!” Suan melepaskan pelukannya lalu membungkuk sedikit dan meraih sapu tangan di kantung kemeja kemudian membersihkan air mata Aria yang menundukan kepala dan menganggukannya, tanda ia akan menghentikan tangisannya malam itu.
“Waahh beruntung sekali kau, Aria.”
Suara seseorang sontak mengejutkan Aria dan membuat wanita itu terperanjat hingga membalikan tubuh ke arah gedung-gedung kota kembali.
“Kau berisik sekali, “ Suan melemparkan sapu tangan yang ia pegang kepada temannya yang bertubuh gemuk itu, “Bawa ke laundry!” lalu memberikan perintah kepadanya.
“ Heee.. benda sekecil ini dibawa ke laundry, buang saja!”
“Kau tidak dengar ya?” Ucap Suan dengan nada penuh tekanan, hingga temannya tersebut mau tidak mau segera melangkah pergi dari sana.
“Baiklah, baiklah,"
“Kau tidak perlu kembali lagi.” Teriak Suan dari kejauhan sembari mulai meraih tangan Aria dan menggenggamnya.
“Tapi pekerjaanmu bagaimana?” tanya temannya yang telah berdiri di depan pintu Apartemen dan akan menarik gagang pintu.
“Aku akan menyelesaikannya nanti.” Baaakkk, jawab Suan bersamaan dengan suara pintu Apartemen yang telah di tutup dan laki-laki itu kini melangkah lalu menutup pintu kaca dan membawa Aria bersama menuju ke arah kamarnya.
“Suan!”
“Hm,” mereka terus melangkah melewati sofa dan memasuki ruang lainnya, “kau belum makan?”
“Kau akan kerja lagi malam ini?”
Tanya kedua orang tersebut bersamaan sembari menghentikan langkah mereka masing-masing dan saling memandang satu sama lain.
“Aku tidak ingin makan.” Jawab Aria menundukan kepala dan enggan untuk dipaksa.
Suan mengerti, dia memahami karena mereka telah bersama selama 18 tahun lamanya dan ia sangat mengenal wanita di hadapannya yang kini tiba-tiba mulai berubah.
“Hm,” angguk Suan lalu menarik tangan Aria kembali, “aku tidak akan memaksamu.”
“Tapi aku akan memaksamu untuk tidak bekerja lagi malam ini.” Ucap cepat Aria sembari menghentikan langkah dan terus menundukan kepala, membuat Suan tersenyum lucu dengan perubahan aneh wanita yang dulunya sering marah.
“Haaa.. kita akan tidur bersama?” tanya Aria sontak mengangkat kepala dan memandang wajah Suan yang mampu menyihir hatinya hingga ia membuang wajah yang telah memerah, untuk tidak lagi memandang wajah Suan tersebut.
“Hm,” angguk Suan lalu tersenyum senang dan membalikan tubuh dengan cepat serta melangkah, untuk menyembunyikan senyumannya tersebut karena melihat tingkah aneh dari wanita di hadapannya yang ia anggap begitu lucu dan dia menyukainya.
**********
Dia menggulung rambutnya, gaun mekar selutut kaki menambah wajah cantik dan kulit putih alaminya.
Setelah menyelesaikan sarapan dengan Suan yang duduk di hadapannya. Wanita itu kini mulai berdiri dan hanya memandang kepergian Suan serta temannya yang tampak membawa semua barang-barang laki-laki itu dari jauh.
Terkadang beberapa orang pelayan, berjalan silih berganti mengutipi piring kotor di atas meja, terkadang mereka juga melewati Aria untuk membersihkan tempat tersebut.
Taaakkk..
Pintu tertutup, kesunyian hati masuk kembali ke dalam jiwa ketika tubuh Suan telah menghilang dari pandangan mata.
Wanita itu berlari, ia masih ingin melihat laki-laki yang ia cintai.
“Nona,”
Panggilan pelayan ia abaikan,
Taaakkk..
Ia membuka lalu menutup pintu, tetapi sayang, ia tidak lagi menemukan Suan di koridor sana.
“Suan!” panggilnya pelan tapi, degggg....
“Akkhhh,,” deguppp.. degupp.. deguppp..degupp... perasaan aneh itu muncul kembali hingga membuat Aria masuk ke dalam Apartemen dan meraih salah satu kunci mobil di laci ruangan kerja pemilik Apartemen.
************
Baakkkk..
Dia menutup pintu mobil.
Matanya sayu memandang keadaan perumahan yang pernah ia tinggali beberapa hari yang lalu.
Bukkkk...
Ngikkkk...
“Hiks hiks rumahku.” Tangisan seorang warga wanita yang ia kenali Kemarin pagi terdengar begitu menyiksa.
TANAH MILIK PT. ANDERSTON MANUFAKTUR INDONESIA.
Sebuah papan pemberitahuan berada di depan mata.
“kenapa?, kenapa tiba-tiba tanah ini menjadi tanah sengketa selama bertahun-tahun lamanya kami tinggal di sini.” Matanya memerah, Ngikk bakkkk.. begitupula dengan mata Aria.
“Nona, bukankah nona adalah putri pemilik perusahaan Anderston?, benarkan?” Seorang warga datang mendekati Aria yang berdiri dengan tubuh gemetaran lalu mempelihatkan foto Aria di dalam sebuah majalah ternama di kota mereka, “ kenapa nona harus mengambil rumah kami hanya karena kami tidak menyelamatkan nona waktu itu, haa..hikk..?” warga itu jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu di depan Aria yang juga telah menitihkan air mata, merasakan piluh di dalam hati dan menundukan kepala sembari menggenggam erat kedua tangan, menahan rasa sedih yang menyelimuti. “Meskipun telah dibayar sesuai harga, tapi tetap saja, kami menghabiskan banyak kenangan di tempat ini, tolong kembalikan rumah saya nona, haaa hikss..”
“Sudahlah, ayo kita pergi saja.” Seorang warga lain tampak memeluk punggung wanita itu, mengajaknya untuk meninggalkan Aria yang masih berdiri di depan seorang laki-laki dengan koper di tangan dan tas ransel di punggungnya.
“Sedikit saja, pernahkah hatimu merasakan sakit ketika mengganggu hidup orang lain, walau sedikit saja?” laki-laki itu menggenggam erat gagang koper miliknya. “pernahkah kau memiliki kenangan dalam hidup yang ingin kau jaga dan kau lindungi?, aku tahu kau sangat kaya, dan bahkan ayahmu merupakan orang terkaya di kota ini, tetapi bukankah ini keterlaluan?, bagaimana mungkin perumahan sekecil dan bahkan tanahnya tidak terlalu luas, harus dijadikan sasaran kemarahanmu?, tolong, gunakanlah hatimu?” Ucap Arkas lalu bergerak mendekati sebuah mobil pick up yang membawa perkakas rumah, dan memasukinya.
NGgiikkkk Baaammmm..
Aria melihatnya, tiga buah Ekskavator menghancurkan bangunan-bangunan rumah di depannya.
Dia menunduk lalu menangis.
“Haaa..” sejak kapan rasa menyakitkan itu tiba-tiba muncul, pikir wanita itu.
Menurutnya selama ia hidup, ia tidak sedikitpun pernah merasa sesedih itu ketika melihat tangisan dan permohonan orang lain. “Haaa hikss., ayah, kenapa kau melakukannya?” dia terus menangis menundukan kepala dan masih tetap berdiri, meskipun mobil pick up yang membawa Arkas telah melewatinya.
Hatinya terasa berat, ia hanya harus memastikan bahwa Arkas tidak dalam bahaya lalu masuk ke dalam mobil dan mengikuti mobil laki-laki tersebut sembari membawa rasa pahit di dalam hatinya.
Perasaan aneh itu merubah perasaannya, perasaan aneh itu mampu menyadarkannya pada kesalahan di masa lalu, perasaan aneh itu juga menyakiti, menghilangkan kehampaan dan menggantinya dengan penderitaan.
Hampa dan kosong yang dulunya sering ia rasakan, kini telah dipenuhi dengan rasa sakit yang luar biasa.
Yang mana, dari kedua perasaan itu, akan ia rasakan di masa depannya nanti?