Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Bukan berniat membantu.



Marcedes-Benz berwarna hitam terlihat memasuki gerbang perkantoran.


Di belakangnya, mobil-mobil mewah lain turut mengikuti masuk ke dalam.


Ada lumayan banyak mobil yang berhenti di depan pintu masuk utama gedung perusahaan, pemilik mobil-mobil tersebut sepertinya sedang menunggu kedatangan mobil Marcedes-Benz milik Suan.


Bakkk...


Bakkkk..


Bakkkkk...


Satu persatu anggota dewan direksi keluar dari mobil mereka ketika mobil Suan telah berhenti di depan pintu masuk utama.


Seorang anggota dewan direksi terlihat berjalan sembari mengancingkan jas kerjanya mendekati mobil Suan dan berkenaan untuk membukakan pintunya.


Ia yang telah membukakan pintu sontak dibuat terkejut dengan adanya Aria di dalam mobil tersebut.


“Kau ingin keluar?” tanya Suan yang telah keluar dari mobil dan membungkukan tubuh kepada Aria.


“Hm,” Aria menggeleng, dia menolaknya, “aku akan masuk lewat pintu lain saja.” Lanjut wanita tersebut yang langsung dipahami oleh Suan, Baaakkk, dan pintu mobilpun tertutup.


Aria melihat, betapa pentingnya ternyata Suan bagi kalangan pengusaha di kota mereka.


Suan bahkan tampak lebih disambut hormat oleh para dewan direksi yang mungkin akan mengadakan rapat penting pagi hari itu, dibanding dengan ayah Suan yang hanya mengobrol dan melangkah dengan seorang dewan direksi saja.


Semua dewan direksi tampak disambut hormat oleh para karyawan yang berdiri berjejer di depan pintu masuk utama. Lalu Suan yang merupakan Direktur utama saat itu memimpin langkah para eksekutif perusahaan menuju ruang rapat sebelum menghilang dari pandangan mata Aria.


“Aria..” Bakkk..


Pintu tertutup ketika Michelle masuk ke dalam mobil Suan sesukanya, namun sepertinya Aria tidak mempermasalahkan hal itu.


“Kau tidak ikut rapat?” tanya Aria sembari menoleh ke arah temannya yang tampak sedang bercermin dan mengoleskan bedak ke wajah.


“Ayahku sudah hadir, untuk apa lagi aku mengikutinya. Aku hanya perlu menanyakan hasil rapat saja nanti di rumah.” Takkk... Jawab Michelle yang telah menutup kotak bedak mewahnya dan meletakan barang tersebut ke dalam tas kulit elegan dan berkualitas asli yang ia letakan di samping.


Mobil yang dikemudikan seorang Supir perlahan-lahan mulai melaju, “aku ingin pergi ke suatu tempat, kau ingin ikut denganku, ya?” tanya Aria lagi, “antarkan aku ke Bobies Pub!” kemudian memberitahukan Supir tujuan perginya pagi itu.


“Apa yang ingin kau lakukan di Pub pagi hari seperti ini, Aria?” tanya Michelle sedikit terkejut sembari memperbaiki kancing belakang dari gaun yang ia kenakan saat itu.


“Aku ingin menemui seseorang.” Jawab Aria bersamaan dengan mobil yang telah memasuki jalanan kota.


**********


Mobil berwarna hitam mengkilat memasuki sebuah perkarangan bangunan yang hanya bertingkat dua tetapi memiliki ukuran yang cukup luas.


Setelah mobil tersebut berhenti, Aria segera turun dari sana diikuti oleh temannya.


“Aria, bukankah Pub ini sudah tutup?” tanya Michelle berlarian kecil mengejar langkah cepat Aria saat itu, namun Aria tidak menjawabnya. Wanita itu masih tetap melangkah menuju pintu kaca yang tertutupi lembaran spanduk dan iklan minuman beralkohol.


Prannnkkkk..


Suara pecahan kaca terdengar,


Aria yang telah masuk karena pintu tidak terkunci dibuat terkejut ketika melihat sesosok wanita yang ia kenali jatuh ke lantai dengan luka di tangan yang berdarah akibat pecahan kaca botol minuman.


“Nona Aria, “ seorang laki-laki yang mungkin adalah bertender terkejut dengan kedatangan Aria lalu sontak bergegas melangkah menuju tangga untuk memanggil pemilik Pub tersebut.


“Kau kira itu cukup untuk membayarkan minumannya, Haa..” bentak seorang wanita keras, wajah wanita tersebut terlihat sedikit aneh karena dipenuhi dengan tindik dihidung dan mulut serta kelompak mata, “beri uang lagi, sini,” dia mulai berjongkok dan menarik kemeja depan seorang wanita yang tak lain adalah Rena dengan disaksikan oleh teman-temannya yang mungkin adalah sekelompok komunitas.


Tempat itu sangatlah aneh, meskipun terjadi keributan namun sebagian pengunjung yang masih berada di sana tampak biasa saja melihat keributan tersebut.


Beberapa orang yang berkumpul bahkan terlihat duduk santai sembari sesekali meneguk minuman keras dari botol, sebagian lain tampak menari-nari sempoyongan menggenggam botol minuman keras di tangan.


“Aku tidak lagi punya uang, aku akan mengusahakannya lagi nanti malam.” Ucap Rena yang telah berdiri sembari berusaha keras untuk melepaskan kemejanya yang tergenggam erat hingga naik ke atas dan memperlihatkan sebagian kulit tubuhnya.


“Maka keluarlah dari komunitas kami!" paaaakkkk..


Wanita itu menampar Rena lagi hingga Rena terjatuh ke lantai dan kulit lengannya mengenai kaca lalu terluka.


“Kalau aku keluar, lalu aku akan tinggal dimana?, hanya di tempat kalianlah aku bisa hidup.” Ucap rena mulai merangkak dan mendekati wanita di hadapannya kemudian memeluk kaki wanita itu,


BAakkk.. namun sayang, ia ditendang, “kau pikir kami akan memberikanmu tempat tinggal gratis secara cuma-cuma, kami juga butuh uang, uang,” Ucap wanita tersebut menolak lalu memerintahkan teman-temannya untuk mengangkat tubuh Rena hingga tubuh Rena kini telah berdiri. Paaakkkk... “ Salahkan dirimu sendiri yang kehilangan kepercayaan dari tuan besar kami, “ paaakkk..” kau bahkan tidak bisa melayani satu pelanggan dengan baik, bagaimana mungkin bisa mendapatkan uang, “ Wuuuzz... “haa..”


Belum sempat tangan wanita tersebut menampar wajah Rena kembali, tiba-tiba dia dibuat terkejut dengan tatapan tajam Aria yang telah menahan tangannya.


“Nona Aria!” panggil kaget pemilik Pub yang melihat Aria tengah menggenggam tangan wanita berwajah penuh tindik di sana.


“Hm,” Aria tersenyum senang, Paaaakkk... lalu menampar wajah wanita di hadapannya hingga berdarah.


“Berani sekali, kau...”


Belum sempat ia membalas tamparan, tangannya kembali ditahan oleh Michelle dan hal tersebut sontak mengejutkan para penghuni bangunan yang menyaksikannya.


PAaaakkkk..


“Tanganmu kotor,” ucap Michelle setelah menampar wanita tersebut hingga dia jatuh di atas lantai sembari menepuk-nepuk kedua tangannya.


“2 juta, bagi siapapun yang berhasil menyiksa wanita ini, aku akan memberikan 2 juta untuknya.” Ucap Michelle yang telah mengerti Aria karena mereka telah berteman sejak SMA.


Semua mata semakin dibuat terkejut ketika Michelle mengeluarkan dua tumpukan lembaran uang ratusan ribu dari tasnya, hingga mata semua orang mulai berbinar-binar namun setelahnya berubah menjadi bringasan.


“2 juta akan jadi milikku, nona.” Ucap seorang laki-laki lalu berjalan sempoyongan mendekati wanita yang tampak duduk ketakutan melihat banyaknya orang yang mulai mendekatinya.


Senyuman kemenangan tampak menghiasi bibir Aria, wanita itu terlihat sedang menunggu saat-saat yang akan menyenangkan hati.


Mata tajam berubah menjadi remeh, wanita yang duduk di lantai bahkan dibuat menggigil melihat raut kepuasan dari wajah Aria.


“Aku mohon, nona, aku mohon ampunilah temanku.” Ucap Rena yang telah melepaskan diri dari penahanan para komunitasnya lalu memeluk kaki Aria dan mengejutkan wanita tersebut.


“Dia benar-benar gila, Aria. Harusnya kau tidak membuang-buang waktumu untuk membantunya?”


Ucap Michelle merasa dirugikan dengan sikap wanita yang tampak sangat memohon pada Aria pagi hari itu.


“Aku akan mengabulkan permohonanmu,” ucap Aria lalu menarik dua tumpukan uang dari tangan Michelle dan membuka tali pengikat di pertengahan uang tersebut, “... hanya dengan syarat tertentu,” lanjut Aria bersamaan dengan orang-orang bringasan yang mulai mendekati wanita bertindik.


“Tolong, tolong, tolong..” dan mulai merobek pakaian wanita tersebut.


“Aku akan menurutinya, akan aku penuhi syaratnya.” Teriak Rena dengan cepat dengan tubuh gemetaran.


Berrrrrrrrr... lalu menengadah ketika lembaran uang terlihat berterbangan ke udara dan para orang-orang bringasan bergerak cepat meraih lembaran uang tersebut hingga sebagian dari mereka berkelahi memperebutkannya.


“Kalau begitu, ikutlah denganku!” perintah Aria kepada Rena lalu melangkah sembari memandang ke arah seorang laki-laki, “temui aku di tempat biasa jam 8 nanti!” lalu memberikan perintah kepada laki-laki yang mungkin adalah pemilik Pub tersebut.


Michelle turut melangkah mengikuti Aria, begitupula dengan Rena yang tampak sedang menahan rasa sakit luka pada lengannya.


**********


Tuk tuk tukk...


Sore itu, setelah menyelesaikan urusannya, Aria kembali datang ke perusahaan milik keluarga Harry.


Langkah sepatu haknya di lantai koridor, terdengar menggema hingga Sekretaris Suan yang dibawa dari perusahaan Dikintama menundukan kepala.


Sepertinya wanita itu memang sangat mengenal Aria, namun karena seruan Aria untuk tidak membuka identitasnya, wanita tersebut tidak pernah membicarakan hal tentang Aria kepada karyawan lain di perusahaan tersebut.


“Suan dimana?” tanya Aria pada Sekretaris yang masih berdiri dan menundukan kepala.


“Direktur sedang mengadakan pertemuan dengan Klien penting di Hotel YSM, nona.” Jawab Sekretaris Suan tersebut terlihat takut untuk memandang Aria saat itu.


“Hm, jadi begitu ya,” ucap Aria merasa sedih karena dirinya saat itu, sangat merindukan laki-laki tersebut.


“Baiklah, aku akan menunggunya kembali saja.” Lanjut Aria mulai melangkahkan kaki kembali, memasuki ruangan kerja Suan dan enggan menghubungi laki-laki tersebut seperti biasanya karena dia sangat yakin bahwa panggilannya mungkin tidak akan diterima.


Drrrrttttt...


Belum sempat wanita tersebut duduk di atas sofa, ia merasakan ponselnya bergetar melalui tas kecil yang ia bawa.


“Suan,” sebutnya terkejut dan merasa tidak menyangka bahwa laki-laki yang ia cintai tersebut, kini menghubunginya.


“Kau bisa menungguku?” tanya Suan ketika Aria menerima panggilannya, “jam 8 malam ini aku akan kembali ke kantor, masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan di sana jadi aku belum bisa kembali ke Apartemen.” Lanjut Suan menunggu jawaban dari Aria.


“Hm, baiklah, aku akan menunggumu.” Ucap Aria sembari tersenyum senang dengan perhatian Suan yang menurutnya sangat tidak biasa akhir-akhir ini.


Setelah memutuskan panggilan, wanita itu melihat ke arah jam tangannya, lalu tersenyum, “ masih tersisa 3 jam lagi.” Gumamnya sembari melangkah keluar pintu ruangan, berniat untuk melihat keadaan Arkas sore itu.


Dia tidak ingin hatinya gelisah dan khawatir maka dari itu, dia hanya perlu memastikan saja.