Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Di Perusahaan Keluarga Harry



“Huh,” Admin wanita itu terlihat menghela nafas berat setelah menutup panggilan telepon kantornya. “Direktur kami sedang sibuk, nona.” Begitu geram ia menjelaskan hingga gigi-giginya gemeretakan, terlihat ketika ia berbicara. “ Sekretarisnya bahkan tidak bisa dihubungi, jadi saya mohon nona, pergilah dari sini!” Ucap wanita  yang tampak berdiri di meja kerjanya, dengan seorang Admin lain yang tampak menyapa seorang tamu lain.


“Michelle, katakan padanya Aria ingin bertemu!” Lanjut Aria begitu kesal karena sangat sulit baginya untuk menemui pemimpin perusahaan tersebut.


“Nona mengenal Wakil Direktur Michelle Larry, bukan?”


“Hm, iya,” angguk Aria mengiyakan pertanyaan wanita di hadapannya yang tampak semakin kesal.


“Nona, jika anda mengenalnya, harusnya anda tahu bahwa Wakil Direktur adalah orang yang paling sulit untuk diganggu di perusahaan ini, anda ingin saya dikeluarkan dari perusahaan ya?, huh,” wanita itu menghela nafas berat, ia bahkan mulai duduk di kursinya sembari meneguk sebotol air mineral, hanya untuk menahan emosi.


“Aku akan memberimu uang 5 juta jika kau berhasil memanggilnya,” Aria tidak tahan lagi, ia kini bahkan mulai memberikan penawaran kepada wanita di hadapannya.


“Tunjukan dulu uangnya!” Wanita di hadapan Aria mengulurkan tangan, meminta bukti keyakinan karena ia sudah tidak dapat lagi menahan kekesalan kepada Aria yang tampak tersenyum kecut melihat ke arahnya.


“Hm,” Aria menunduk lalu mengembangkan senyuman remehnya, “Panggil dia dan katakan bahwa wanita selingkuhan Harry datang mencarinya!” ucap Aria berbohong hingga membuat kedua Admin di sana terkejut dan seorang dari mereka sampai menutup mulut. “Panggil saja!, atau aku akan meminta Harry untuk memecat kalian berdua.” Ancam Aria dengan tatapan tajam karena telah sangat kesal.


“Baiklah Nona,” Angguk wanita di hadapannya lalu dengan cepat mengangkat telepon dan menghubungi Sekretaris Wakil Direktur Perusahaan tersebut.


**********


“Yang benar saja, dia pikir dia siapa berani menantangku?” teriakan keras terdengar menggema di lantai pertama bangunan tersebut.


Seorang wanita berambut pendek, mengenakan Blouse coklat dan rok pendek hitam tampak berjalan cepat dengan penuh emosi menggebu-gebu keluar dari pintu lift.


“Tenanglah Wakil Direktur, mana mungkin Direktur Harry berani berselingkuh di belakang anda.” Sekretaris wanita itu berusaha keras menenangkan sembari terus berjalan beriringan dengannya menuju ke meja Admin.


“Wakil Direktur!"


“Wakil Direktur!"


Sapa hormat beberapa karyawan yang ia lewati begitupula dengan kedua Admin tersebut, mereka berdua terlihat menunduk takut melihat atasan mereka datang mendekat.


Baaakkk..


“Dimana dia?” Wanita itu menggebrak meja keras sembari bertanya sosok wanita yang berani menyebut dirinya sebagai selingkuhan tunangannya.


“I.. i.. itu, “ Salah seorang Admin terbata-bata menunjukan ke arah Aria yang sedang duduk di ruang tunggu perusahaan sembari memandang ke arah dinding kaca dengan tatapan mata sedih.


“Itu?” tanya ulang wanita tersebut, meminta keyakinan yang langsung dianggukan cepat oleh kedua karyawannya. “Bodoh sekali kalian ini, pasti kalian berdua tidak mengizinkannya masuk menemuiku maka dari itu dia berbohong, Bukan?”Takkk taaakkk.. kedua kepala karyawan di depannya ia pukul, setelahnya ia berlarian kecil menuju ke ruang tunggu. “ Aria!” sapa wanita itu penuh kegirangan, mengejutkan kedua Admin di sana.


“Kalian tidak mengenal wanita itu?” Sekretaris Wakil Direktur perusahaan tersebut bahkan sampai menggelengkan kepala melihat kebodohan kedua karyawan perusahaannya.


“Tidak bu!” jawab seorang dari mereka sembari menggelengkan kepala.


“Dia tidak memberitahukan apapun kepada kalian selain namanya ya?” Tebak wanita yang tampak memasuki usia tua tersebut kembali.


“Hm, iya bu.” Jawab seorang dari mereka menganggukan kepala.


“Lebih baik kalian tidak tahu.” Ucap wanita itu lalu bergegas menghampiri Aria dan temannya yang telah keluar dari ruang tunggu, “Ahh nona Aria, lama tidak bertemu.” Lalu menyapa Aria dengan begitu ramah.


“Dia siapa?” tanya Aria yang telah berjalan beriringan dengan temannya, kebingungan.


“Haha, saya hanya penggemar anda saja, nona.”


“Sudahlah lupakan saja dia, ayo cepat kita ke ruanganku!, di sini sangat kotor.” Ucap teman Aria sembari bergelayut manja, memeluk lengan wanita yang mulai menghentikan langkah.


“Ah benar,”


“Apa lagi?” tanya teman Aria yang ikut menghentikan langkah saat itu.


“Berikan kepadanya 5 juta, aku telah menjanjikan uang itu untuknya. Kau, mau memberikan uang yang tidak seberapa itu untukku, bukan?” pinta Aria dengan senyuman licik. Sepertinya dia memang berniat melakukan hal tersebut agar dapat lebih mudah keluar masuk ke perusahaan itu.


“Ahaha..” Teman Aria tertawa pahit, “ tentu saja,” ia bahkan terlihat terpaksa memenuhi permintaan Aria saat itu. “Berikan 5 juta untuknya!” lalu memberikan perintah kepada Sekretarisnya yang langsung melaksanakannya saat itu juga.


***********


Kraaakkkk..


“Kau di sini?” 


Laki-laki tinggi dengan wajah yang sangat manis dan sebuah lesung pipit ketika berbicara, tampak berdiri ketika Aria dan tunangannya masuk ke ruangan kerja.


Rambutnya terpotong pendek dan rapi, dadanya bidang terlihat jelas karena ia tidak mengenakan dasi di kemejanya yang terbuka beberapa kancing.


Mata laki-laki itu sedikit sipit, alisnya tidak terlalu tipis namun juga tidak tebal, bibirnya sangat kecil dan hidungnya juga mancung.


Kulit berwarna kuning langsat, membuatnya terlihat sangat manis.


Laki-laki itu adalah Harry, teman sekelas Aria dan Suan ketika berada di SMA sebelum kedua orang tersebut pindah sekolah ke luar negeri.


“Kenapa sulit sekali menghubungimu?” ucap kesal tunangan laki-laki tersebut yang telah duduk di sofa.


“Beri aku minuman!” Pinta Aria yang juga telah ikut duduk di sana.


“Kau ingin minum apa?” tanya teman wanita Aria begitu antusias untuk melayani wanita tersebut.


“Air mineral saja, Hmmm tidak,” saat itu Aria mulai terpikirkan bahwa dirinya bukan lagi calon istri bagi Suan, maka dari itu, ia tidak perlu memaksakan diri untuk meminum air putih hanya karena untuk menjaga kesehatan dan juga kecantikannya, “lemon!” jawabnya mulai memikirkan ulang pilihan lain.


“Lemon!” perintah Harry yang sedang menekan tombol telepon kepada Sekretarisnya.


“Aku ingin sup iga,” lanjut Aria meminta, mengejutkan kedua temannya yang tidak biasa karena mendengar permintaan Aria tersebut.


“Belikan sup iga!” tidak ingin banyak tanya, Harry memberikan perintah kembali untuk sekretarisnya.


“Aku ingin Caviar.” Lanjut Aria semakin mengejutkan kedua temannya, dan salah seorang dari mereka mulai terpancing emosi.


“Kau keluar dari rumahmu?”


“Apa kau gila?, kau kira pendapatan perusahaanku sebesar pendapatan perusahaan ayahmu, bagaimana mungkin aku bisa menghabiskan puluhan juta hanya untuk sekali makan?” Ucap keras Harry merasa kesal dengan sikap Aria saat itu.


Ucapannya sontak mengejutkan tunangannya tetapi tidak dengan Aria yang mulai terbiasa dengan kemarahan orang lain setelah bertemu Arkas.


“Harry, pelanku suaramu!” Ucap tunangan laki-laki tersebut berusaha mengelus punggung  Aria agar wanita itu tidak marah seperti yang ia kenal biasanya.


“Baiklah, berikan saja sup iga untukku!" Ucapan Aria sontak mengejutkan kedua temannya, bahkan Harry yang telah siap menerima makian hari itu tampak tercengang mendengar jawaban dari Aria yang terlihat mengalah.


“benarkah kau Aria?”


***********


Aria kini telah melangkah menuju ke ruangan kerja Arkas yang baru ia ketahui dari salah seorang karyawan Harry.


“Aria, kau tidak perlu mengganti uangku.” Ucap wanita itu ketika Aria telah menghubungi Assisten ayahnya untuk mengganti uang yang Aria pakai tadinya.


“Hm, aku hanya mengganti dengan nilai yang sama, tidak lebih dan tidak kurang.” Jawab Aria sembari memasuki sebuah ruangan namun tidak menemukan Arkas di sana.


“Aria, kau pelit sekali.” Ucap teman Aria menggerutu. “Kalian tahu dimana Arkas?” lalu bertanya kepada karyawan yang berdiri, menyambut kedatangan atasan mereka.


Seorang karyawan laki-laki mulai datang menghampiri Aria dan temannya yang telah berhenti di depan pintu.


“Hari ini jadwal Arkas bekerja di lapangan, bu.” Lalu menjawab dengan begitu sopan


“Hm, jadi begitu ya?”


“Kau mau aku mengantarkanmu ke sana?” Teman Aria tampak berantusias menawarkan bantuan, hal itu sontak membuat Aria yang ingin memastikan bahwa keadaan Arkas baik-baik saja, menganggukan kepala.


Dengan manjanya wanita itu memeluk lengan Aria kembali, mengikuti langkahnya menuju lift untuk turun ke bawah sembari menghubungi Supir pribadinya untuk menjemput mereka di depan pintu masuk utama bangunan tersebut.


Tiiiit....


Pintu lift terbuka,


“Astaga, benarkah?”


“Aku tidak salah melihat ini, iyakan?”


Suara keributan terdengar ketika mereka telah melangkah keluar pintu lift.


Semua mata terbelalak ketika melihat seorang laki-laki dengan langkah lebar masuk ke dalam pintu utama setelah membanting keras pintu mobil yang diletakan sesukanya di depan pintu namun tidak seorangpun yang berani melarangnya.


“Dia.. diaa benar-benar Direktur Suan?” seru seorang karyawan wanita terlihat berdiri dengan mata berbinar-binar ketika melihat Suan masuk ke dalam bangunan tersebut.


“Su.. su.. Aria.. itu Suan?” teman Aria bahkan tak kalah ikut terkagum-kagum melihat Suan yang telah berjalan menghampirinya.


“Hm,” jawab Aria yang sontak mengejutkan temannya.


“Aria kau dimana?” tanya wanita yang tidak lagi menemukan Aria di sampingnya.


“Aku di sini,” 


Aria yang tadinya berjongkok dan bersembunyi di belakang wanita tersebut, saat itu terpaksa berdiri ketika tangannya diraih oleh tangan Suan yang telah mendekati  dan membawa Aria pergi dari sana tanpa berucap sepatah katapun.


“Wanita itu siapa?”


“Mungkinkah dia wanita yang menghancurkan pertunangan Direktur Suan dengan nona Anderston?”


“Benarkah?”


“Aku dengar Nona Anderston membatalkan pernikahan, tapi belum tahu jelas alasan dia melakukannya?”


“Ah mungkin saja karena wanita itu?”


Suara para karyawan yang berbisik terdengar menggema, namun bisikan mereka terlihat tidak disadari oleh teman Aria yang terlihat masih berdiri terkejut karena melihat Aria tetap diam dan tampak patuh dengan paksaan Suan, padahal di masa lalu, Suan selalu menghindari Aria dan Aria selalu memarahi laki-laki tersebut, ingatnya kembali.


Baaakkk..


Suara pintu mobil tertutup, terdengar.


Mobil Suan dengan cepat berlalu dari sana setelah membawa Aria pergi.


***********


Aria mulai turun dari mobil Suan,


Sepanjang jalan mereka berdua hanya terdiam.


Aria juga tidak berani untuk mengeluarkan suara karena dirinya tidak ingin mendengar kemarahan Suan kembali.


Langkah mereka mulai memasuki pintu masuk utama bangunan Apartemen Suan, terus berjalan lalu memasuki lift hingga naik ke lantai 15.


Supir Suan dan kedua pelayan Aria tampak telah menunggu di depan pintu yang terbuka,


“Akhhh,” Suan menghempaskan tubuh Aria, hingga wanita itu jatuh ke atas sofa.


“Sadarlah kau siapa?” bentak Suan marah dengan mata memerah, namun Aria hanya bisa duduk dan menundukan kepala, “Begitu banyak musuh ayahmu di luar sana, kau tidak bisa mengerti ya?,” lanjut Suan lagi membentak sembari merenggangkan dasinya. “Kalau kau ingin terus bebas, maka kembalilah ke rumah ayahmu agar dia sendiri yang menjagamu!"


“Kalau begitu biarkan saja aku berada di luar!"


Aria mulai membuka Suara, namun ia masih menundukan kepala.


“Kau tahu, berapa banyak orang yang hampir mati karena menjagamu?, beruntungnya kau tidak terlalu suka keliling dunia. pernahkah terpikirkan olehmu satu kali saja, rasanya lelah menjaga wanita manja sepertimu?, Kau bahkan tidak pernah merasakan rasa lelah, lalu sekarang ingin tinggal di luar, apa kau ingin mati?”


Deg.. degupp...deguppp.. degupp... 


Wajah Aria mulai pucat, entah mengapa ketika Suan mempertanyakan tentang kematian, jantungnya mulai berdetak kencang. Ia merasa ketakutan dan tubuhnya menggigil kencang.


“Maa... maaf!" ucap Aria gugup dengan keringat yang tampak jatuh melewati pipi.


Hal itu sontak mengejutkan Suan.


Laki-laki itu tidak menyangka bahwa kemarahannya tersebut mampu membuat Aria menjadi sangat ketakutan.


“Kau kenapa?” tanya Suan yang mulai merasa bersalah lalu berjongkok, memandang wajah Aria yang menunduk, “kau baik-baik saja?” lanjutnya bertanya lalu semakin terkejut ketika Aria yang gemetaran memeluk tubuhnya.


“Maaf!"


Ucap Aria menambahkan lagi keterkejutan di hati Suan yang kini telah merasakan gigilan tubuh wanita.


“Aku lelah, sekarang kita istirahat saja.” Suan melepaskan tangan Aria lalu memberikan punggung untuk wanita itu, “aku akan membawamu ke kamar.” Laki-laki itu mulai berdiri ketika Aria telah memeluk lehernya dan bersandar di punggungnya, lalu melangkah menuju kamar.


Suan terlihat bertanya-tanya pada diri sendiri.


Ia mengernyitkan dahi dan mengingat kembali tingkah dan perilaku aneh Aria akhir-akhir ini. Bahkan Aria yang telah terbiasa menerima kemarahan sampai meminta maaf padahal ia belum menyerukan wanita itu untuk melakukannya.


Setelah masuk ke dalam kamar, ia meletakan Aria di tepian kasur, “ bergeserlah, aku ingin istirahat!” perintah Suan segera dilaksanakan Aria, lalu keduanya kini telah terbaring di sana,  “maaf!” ucap Suan yang telah terbaring miring sembari memegang pipi Aria.


“Iya,” Jawab Aria dengan senyuman manis lalu menggerakan tubuhnya mendekati Suan yang langsung disambut dengan memberikan lengan tangan.


Suan masih terus berpikir, sepertinya saat itu ia sangat ingin mencari tahu tentang perubahan sikap Aria yang kini telah menutup mata.