
Dia duduk dengan begitu santai.
Dia tidak mempedulikan bahwa hari itu, sebuah rapat penting sedang dilaksanakan.
Dia tidak ingin berada di ruangan Suan, karena baginya ruangan tersebut sangat sepi dan perasaan hampanya akan muncul kembali.
Memang, koridor lantai atas hanya diperuntukkan khusus bagi para dewan direksi yang bekerja sehingga tempat tersebut lumayan sepi dan tidak terlalu ramai.
Bagi Aria, yang terpenting dalam hidupnya saat ini adalah tidak sendirian lagi.
Dia takut mati karena dia takut sendirian.
Mimpi yang mengganggu jiwa, membuat wanita itu merasa resah.
Lebih baik untuknya kini berada di keramaian meskipun sebenarnya ia merasa sedikit tidak nyaman.
Tukk.. tukk.. tukk..
Langkah cepat beberapa kaki terdengar masuk ke dalam ruangan kerja.
Dua orang wanita tampak berwajah merah, mendekati Aria.
Baaaakkk..
Baaaakkk..
Dua buah dokumen penting berbentuk folio bewarna jingga terlihat telah berada di atas meja.
Bantingan suara benda tersebut terdengar keras tetapi tidak mengejutkan Aria yang tadinya sedang membaca.
“Kenapa?” Aria memutar kursi roda yang ia gunakan ke arah samping, menghadap dua orang wanita yang mendekatinya.
“Kenapa kau tidak ikut rapat?” wajah seorang dari wanita yang datang terlihat begitu marah, matanya bahkan begitu besar, memelototi Aria yang masih duduk dengan tenang dan menutup buku lalu meletakan di atas meja, di sampingnya.
Aria mulai tersenyum licik, ia meletakan salah satu siku tangan di atas meja, dan menyatukan pipi dengan kepalan tangan lalu membalas tatapan wanita yang marah, “bukankah kalian sendiri kemarin mengatakan, bahwa Direktur Suan tidak akan berlaku adil jika aku mengikuti rapat?, lalu sekarang, ketika aku tidak ikut rapat hari ini dan membiarkan kalian menuangkan ide-ide hebat kalian, kenapa kalian mempermasalahkannya dan merasa terdzholimi?, astaga, konyol sekali, kalian seperti orang bodoh.”
Mulutnya benar-benar sangat ahli dalam menghina.
Aria yang tidak ingin lagi berada di ruangan tersebut segera berdiri dan melangkah kaki pergi.
“Brengsek, wanita simpanan ini!” suara seorang wanita lain terdengar, wanita itu tadinya sedang duduk dan hanya memperhatikan kedua rekan kerjanya saja mendekati Aria, “kau tahu?, karena kami mengira bahwa idemu akan diterima oleh direktur Suan maka dari itu, tidak seorangpun dari kami yang mempersiapkan ide apapun hari ini." Wanita itu segera berdiri dan datang menghampiri Aria dalam keadaan marah.
"Lucu sekali, jadi kau menyalahkanku?"
Aria menghentikan langkah lalu menghadap ke arah wanita yang mendatanginya.
"Tentu saja," salah seorang wanita lain yang pertama kali mendekati Aria dengan cepat menjawab pertanyaan wanita tersebut, "bukankah kau adalah wanita simpanan Direktur Suan?, kenapa kau harus bersusah payah bekerja di perusahaan ini?, Direktur Suan juga sangat kaya. Kau tahu?, bahkan biaya perawatan kulit mulusmu ini saja tidak sebanding dengan gaji kami di perusahaan ini, maka dari itu, harusnya kau tidak perlu bekerja dan menyusahkan kami." Maki wanita tersebut hingga menciptakan keramaian dari luar ruangan.
"Haaa.. kenapa aku jadi menyusahkan kalian?, bukankah aku sudah berbaik hati membiarkan kalian menuangkan ide-ide hebat kalian?" Aria benar-benar tidak dapat menahan kemarahan dari para karyawati di sana, "mungkinkah kalian ini sangat bodoh karena otak kalian tidak bisa berpikir waras?"
Lagi-lagi ucapan Aria memancing emosi para wanita yang mendekatinya.
"Wah, kau masih belum paham juga, ya?, asal kau tahu, karena kau divisi kami dipermalukan oleh divisi-divisi lainnya, harusnya kau sadar diri, divisi kami ini bukan tempat menyembunyikan wanita simpanan seorang Direktur, kau tahu, tidak? Kami semua malu karena kau berada di ruangan in..."
Paaaakkk..
Suara tamparan wajah terdengar begitu keras, "rasakan!" Aria tersenyum puas setelah melayangkan pukulan pada wanita yang tadinya berbicara.
"Brengsek, berani sekali kau memukulku!" Wanita yang ia pukul dengan begitu sigap menarik rambut Aria hingga tubuh Aria membungkuk.
"Jadi beginikah rasanya dibuli!" Bentak Aria keras hingga keramaian semakin bertambah, dan dengan sigap pula, dia menarik rambut wanita yang telah menarik rambutnya terlebih dahulu.
"Berhentilah bertengkar!" Seorang wanita yang awalnya mendekati Aria tampak berusaha untuk menghentikan pertengkaran.
"Jadi kau juga ikut membuliku!" Aria yang salah paham karena begitu emosi menendang wanita yang berusaha meleraikan mereka hingga ia jatuh dan menabrak meja.
"Apa?, membuli kau bilang, jaga bicaramu!" wanita yang jatuh segera berdiri dan dia telah terpancing emosi, "kau dulu yang menendangku, wanita sialan!" lalu memaki marah dan menarik rambut Aria yang tersisa.
"Brengsek!" karenanya tangan Aria yang masih tersisa membalas dengan cepat, menarik rambut wanita tersebut dan kini dia tampak menarik rambut dua orang wanita sekaligus.
"Akh,"
"Tenagamu kuat sekali."
"Maka dari itu, lepas bodoh!" Maki Aria semakin mengeratkan genggaman tangannya dan menarik rambut kedua wanita di depannya hingga mereka jatuh terduduk ke bawah.
"Seru sekali melihat wanita bertengkar, hiyakkk.. hahaha," seorang karyawan laki-laki terlihat menikmati pertengkaran hebat yang terjadi.
"Lepas!"
"Kalian berdua dulu yang lepas!" Aria benar-benar tidak ingin mengalah.
"Wah,, wanita kalau bertengkar seru sekali." Seorang karyawan laki-laki lain yang berada di luar ruang divisi terdengar begitu ceria.
"Kau yang memukulku dulu, maka kau dulu yang harus melepaskannya!" Wanita yang menerima tamparan begitu tidak kuasa untuk menahan tarikan tangan Aria yang menyakiti kepala.
Baakkk," rasakan!, kau kira aku akan melepaskannya?" Aria memukulkan kepala wanita yang ia tampar ke atas lantai.
"Akkhh," hingga ia mengerang kesakitan.
"Akkh, sakit sekali," dan menendang wajah wanita lain dengan ujung kakinya hingga tangan wanita tersebut terlepas dari rambut Aria.
"Rasakan ini, rasakan, sakit bukan?"
Paaakkk..
Paaaakkkk...
Dua kali suara tamparan terdengar.
Kedua wanita yang bertengkar dengan Arialah yang menerimanya.
Ketiga rambut wanita di ruangan tersebut terlihat begitu acak-acakan, mereka berdiri berbaris di depan seorang wanita lain yang mungkin adalah manajer dari divisi tersebut.
"Perbuatan semacam apa yang telah kalian lakukan?" bentak marah manajer wanita tersebut, dia begitu emosi.
"Kenapa kau hanya memukul kami saja dan tidak dengannya?" Seorang dari kedua wanita yang tadinya bertengkar dengan Aria merasa tidak terima.
Sementara dengan begitu santai Aria berdiri dan dia tersenyum kecut memandang wanita yang baru saja berbicara.
"Pukul saja!" perintah Aria pada manajer yang terlihat begitu ragu untuk menerima perintah, "kau tidak ingin melakukannya, ya?" lalu tatapan Aria membuat wanita itu terpaksa menuruti perintah.
Paaakk..
"Kenapa kau memukulnya pelan?" Seorang dari wanita yang tadinya bertengkar tidak dapat menerima perlakuan sebelah pihak dari manajernya.
"Aku sudah dipukul, kenapa kau berisik sekali?" Aria mulai terpancing emosi hingga membuat manajer di hadapannya menahan tubuh Aria untuk mendekati wanita yang berbicara.
"Nona, kumohon, jangan lakukan itu!"
Mereka masih terus menjadi pusat perhatian hingga para karyawan yang berkumpul perlahan-lahan segera bergeser ketika Michelle datang dan memasuki ruangan berdinding kaca tersebut.
"Kau mau mengajak bertengkar lagi, ya?" seorang karyawan yang tadinya bertengkar dengan Aria terlihat bersiap-siap untuk kembali menyerang.
"Karena kau terlalu berisik, aku benar-benar ingin memukul mulutmu." Maki Aria masih meronta-ronta di dalam pelukan manajer divisi.
"Kau baik-baik saja?" suara seseorang menghentikan gerakan meronta Aria yang langsung diam dan menundukan kepala.
Manajer wanita segera melepaskan tubuh Aria dan bergeser menjauh.
"Aria, kau baik-baik saja?" suara itu terdengar semakin mendekat, dan pemilik suara adalah Suan Dikintama.
Aria segera menghapus air mata yang tak sengaja keluar lalu mengangkat kepala dan memandang Suan di hadapannya, "mereka bahkan,.." ragu-ragu wanita itu berbicara, "mereka bahkan berani main keroyokan, hiks hiks," lalu memeluk Suan dengan erat dan menangis dipelukannya.
Suan tersenyum geli, "jadi bagaimana rasanya dikeroyok?" lalu membalas pelukan Aria dan diperhatikan begitu banyak karyawan di sana.
"Hiks, aku tidak mau bekerja lagi, Suan, sakit sekali!" wanita itu mengeluh sembari melepaskan pelukannya untuk Suan.
"Berhentilah menangis!, ada banyak orang yang melihatmu." Suan segera menggenggam salah satu tangan Aria dan menariknya pergi dari ruangan tersebut.
Para karyawan yang tadinya berkumpul mulai berpergian menjauh karena beberapa orang penjaga keamanan telah datang dan menertibkan keadaan.
"Kalian, Astaga!" Michelle terlihat kesal, ia benar-benar merasa serba salah saat itu, " kalian benar-benar tidak mengenal wanita itu, ya?" wanita itu berusaha keras untuk mengendalikan emosi.
"Kenal bu," seorang yang tadinya turut bertengkar, menjawab pertanyaan, " dia itu kan wanita simpanan direktur Suan." Matanya memerah penuh dengan emosi.
"Dia itu calon istri Suan, kalian harus tahu itu..."
"Tidak pantas bu, sedikitpun dia tidak pantas untuk direktur Suan," sela cepat seorang wanita lain , yang tadinya juga bertengkar, "dia itu hanyalah orang yang mencuri pasangan orang lain."
"Mencuri apa? Dia itulah Aria Anderston, bodoh!" Michelle tidak dapat lagi menahan amarah, dia bahkan sampai membentak dan ucapannya tersebut mengejutkan kedua orang wanita di hadapannya.
"Apa?"
"Yang benar, bu?"
"Dan kalian pikir Suan bisa begitu mudah berselingkuh dengan wanita biasa, begitu?" Lanjut Michelle membentak lagi, " sudahlah, mulai besok kalian tidak usah lagi bekerja di sini, sekarang kemas barang kalian lalu pergilah!"
Michelle tersenyum kecut, dia mulai melangkah pergi karena merasakan pusing pada kepalanya.
"Bu, maafkan kami, tolonglah bu!"
"Bu, kami kan tidak tahu!"
"Urus mereka!, berisik sekali, semakin sakit kepalaku." Michelle menghentikan langkah ketika Elbram masuk ke ruangan tersebut.
"Biarkan saja mereka, jangan ada yang dipecat!" Laki-laki itu memberikan perintah yang mengejutkan Michelle.
"Haa, kenapa begitu?" hingga Michelle bergerak cepat setelah Elbram kembali melangkah keluar ruangan.
"Aria sendiri yang meminta."
" Aria memintanya?" Michelle semakin terkejut hingga ia menghentikan langkah kaki.
"Iya,"
"Aria, yang memintanya?"dia bertanya lagi karena masih belum yakin.
"Hm," hal itu membuat Elbram berhenti lalu memandangnya kesal, "iya, masih belum jelas ya?"
"Astaga, sejak kapan Aria berubah?"
Michelle kembali melangkah kaki, mengikuti Elbram dengan cepat.
"Entahlah."