
Suan memasukan kancing di lengan kemeja ke dalam lubangnya.
Laki-laki itu terlihat berdiri memandang Aria yang duduk di tepian kasur melalui cermin di hadapannya.
Sesekali ia tersenyum pahit, menelan rasa sakit akan kesalahannya sendiri, sesekali ia menghela nafas berat, memandang wajah wanita yang ia cintai.
Suan mulai berbalik.
“Benarkah kau akan selalu di sampingku?, aku tidak mau sendirian.”
Aria menengadah, ia mengangkat tangan untuk meraih uluran tangan Suan lalu berdiri dan melangkah mengikuti laki-laki itu.
“Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu dan lagi, acaranya juga tidak formal.” Suan menggenggam erat tangan Aria seolah-olah dia tidak ingin melepaskan tangan tersebut dari tangannya.
Derap langkah kaki mereka, telah keluar dari ruang kamar.
Gaun berlengan sesiku tangan, berwarna biru cerah dan mengembang pada bagian bawah, telah Aria kenakan malam itu.
Taaaakkk...
Suan sedikit tersentak ketika melihat Elbram telah masuk ke dalam apartemennya lalu ia menghela nafas ketika Elbram mendekat dan membisikan sesuatu ke telinganya.
“Tunggu aku di sana!”
Suan menghadapkan diri ke arah Aria dan melepaskan tangan wanita itu.
“Kau mau kemana?”
Aria meraih lengan Suan dan menggenggamnya. Ia mulai ragu untuk pergi jika tanpa Suan bersamanya.
“Ada urusan yang harus kuselesaikan sebentar saja, Elbram akan membawamu ke sana.”
Suan melepaskan tangan Aria dari lengannya. Ia memandang mata wanita itu dengan tatapan penuh kesedihan.
“Tenang saja Aria, Suan tidak akan lama.”
Elbram berusaha meyakinkan, laki-laki itu terlihat berdiri di samping Suan sembari memandang wajah Aria yang khawatir.
Dia mengetahui, Aria mungkin tidak akan senang jika pergi bersamanya, namun dia juga tidak memiliki pilihan lain untuk membawanya agar Suan bisa bergerak bebas saat itu.
“Tunggu aku, bisakah kau mengabulkan permintaanku?”
Suan tak kalah ikut berusaha meyakinkan, sebenarnya ia sedikit ragu jika Aria akan menuruti permintaannya menimbang bahwa selama ini wanita tersebut selalu keras kepala.
Aria tertegun, wajahnya tampak mulai layu.
Rasa malas menyelimuti hati, malam itu ia merasa lelah dan tidak ingin mengikuti Suan ke acara perayaan kesuksesan perusahaan Dikintama.
“Aku di rumah saja.”
Aria mulai berbalik, mengecewakan hati Suan yang sangat ingin wanita itu bergabung bersama para karyawannya untuk memeriahkan acara.
“Arkas ada di sana.”
“Benarkah?”
Lagi,
Pertanyaan antusias Aria menyakiti hati Suan. Laki-laki itu merasa bahwa hati Aria telah terisi oleh laki-laki lain selain dirinya.
Aria yang telah berbalik, kembali menghadap pintu lalu melangkah mendekati benda tersebut, “ ayo Elbram!”
Dia meninggalkan Suan yang masih berdiri memandang punggungnya dari jauh.
“Ah,”
Aria yang belum sempat keluar aparteman, berbalik melangkah menuju ke arah Suan yang masih berdiri, memandangnya piluh. “Jangan terlalu lama, aku tidak tahan jika jauh darimu.” Aria mencium pipi Suan lalu melangkah kembali mengikuti Elbram yang telah menunggunya di koridor depan pintu.
Suan hanya bisa menggertakan gigi-giginya, matanya memerah dan dia terlihat berusaha keras untuk menahan perasaan kacau di dalam hati.
**********
Mobil yang dikemudi Elbram, melaju pelan perlahan-lahan. Mobil tersebut memasuki ke sebuah Area parkir di depan beberapa bangunan berlantai empat yang cukup luas.
Bangunan-bangunan tersebut terlihat saling berhimpitan. Tidak ada satupun dari toko-toko pada bangunan-bangunan tersebut yang tampak terbuka.
Alunan musik pop terdengar menggema ke telinga. Suara nyanyian orang tak kalah turut ikut terdengar.
Lampu-lampu hias berwarna-warni masuk, menembus jendela kaca mobil yang dikemudi oleh Elbram lalu ketika mobil tersebut terhenti, Aria membelalak mata dan terkejut dengan pemandangan yang ia lihat.
Sebuah panggung terlihat diisi oleh beberapa orang yang sedang bernyanyi.
Di bawah panggung terdapat begitu banyak tenda-tenda yang berjejer rapi dan saling berhadapan.
Seluruh tenda tampak hanya menyajikan berbagai jenis makanan saja.
“Ini dimana?” tanya Aria mengingat sesuatu. Matanya mulai memerah dan berkaca-kaca.
Benar,
Tempat yang ia lihat tersebut sama persis dengan tempat yang pernah ia lihat di dalam mimpinya.
“Festival makanan,” Elbram menoleh ke arah Aria dengan wajah Sumringah. Laki-laki itu terlihat begitu bersemangat dengan Ide acara perayaan yang dikemukan oleh Suan.
Hatinya riang dan penuh kegembiraan.
Dia mulai menoleh ke segala penjuru arah sebelum keluar dari mobil sembari memandang satu persatu para karyawan perusahaan Dikintama yang datang silih berganti.
“Tidak bisa,” tubuh Aria mulai gemetaran, “Aku mau pulang saja.” Lalu ia memeluk tubuhnya sendiri. Wajahnya tampak pucat dan matanya mulai memerah.
“Aria, kau kenapa?”
Elbram mulai menyadari keanehan Aria, Ia yang tadinya senang, saat itu berubah menjadi khawatir.
“Aku tidak bisa berada di sini, dimana Suan?, tolong panggilkan dia!” getaran tubuh Aria semakin terlihat kencang. Hal itu membuat Elbram semakin panik, terlebih lagi dengan keringat tubuh Aria yang tampak bercucuran jatuh.
“Baiklah, kita pergi dari sini.”
Elbram memutar kunci, ia menyalakan mobil kembali lalu mengemudikannya meninggalkan Festival Makanan.
Mobil telah menjauhi acara perayaan, “kenapa kau tidak ingin berada di sana?” Elbram yang penasaran, mempertanyakan sikap Aria.
“Aku akan kelaparan di sana, bahkan punya uang sekalipun, aku tidak bisa membeli satupun makanan di sana.”
Elbram menghela nafas berat, ia benar-benar kebingungan mengartikan maksud yang diucapkan oleh Aria saat itu. “Aku tidak ingin merasakan kelaparan yang menyiksa lagi.” Lanjutan kalimat Aria semakin membingungkan Elbram yang mulai meraih ponsel dan mengangkat panggilan.
“Kau dimana?” tanya seseorang dari balik ponsel yang digenggam oleh Elbram.
“Aria bicara aneh.”
“Apa?” mendengar ucapan Elbram, Aria sontak menoleh ke arahnya dengan wajah marah.
“Aish,” Elbram serba salah, ia mengarahkan mobil ke pinggir jalanan kota lalu menghentikannya.
“Aria, bukankah kau ini sangat aneh?”
“Kau dimana?”
Tanya ulang suara seseorang yang berada di balik ponsel milik Elbram.
“Aku akan mengirimkan peta lokasi kami saat ini.” Elbram segera memutuskan panggilan lalu mengirim pesan lokasi.
“Kenapa kau bilang aku aneh?, bukankah aku sudah menjelaskan padamu masalahku?”
Aria mengertakan giginya geram, ia mulai meraih handle pintu untuk membuka mobil namun tidak bisa.
“Buka!”
“Aria, kau ini kenapa?” Elbram benar-benar semakin dibuat panik, “Bukankah itu aneh bila kau merasa kelaparan di tempat yang penuh dengan makanan?, kau bahkan tidak perlu membelinya lagi karena Suan akan membayarkan semua makanan untuk kita.”
Elbram berusaha menjelaskan dengan memberanikan diri untuk membalas tatapan marah Aria saat itu.
“Haa..” Aria membuang wajah, ia menghapus cepat air mata yang jatuh ke atas pipi, “aku pernah ke tempat itu sebelumnya dan aku merasakan sendiri rasanya lapar yang menyiksa.”
“Kapan kau ke tempat itu?, apa kau yakin memang itu tempatnya?”
Elbram memfokuskan tangan ke arah ponselnya, jari-jari tangannya terlihat mengetik sesuatu lalu ia kirimkan pesan kepada nomor kontak Suan.
“Beberapa hari yang lalu, di dalam mimpi dan aku sangat yakin bahwa itu tempatnya.”
“Aria, Astaga.” Elbram dibuat geram hingga gigi-gigi putihnya terlihat jelas dan laki-laki itu memegangi dahinya yang pusing. “Kenapa kau masih percaya pada mimpi?” Suara laki-laki itu mulai mengeras, ia benar-benar merasa tidak tahan lagi berada di samping Aria.
“Tapi aku merasakan sendiri bagaimana menyakitkannya lambungku saat itu.”
Aria berusaha keras untuk membuktikan kebenaran mimpi yang ia alami.
Tok tok..
Hingga wanita itu menoleh ke arah Elbram kembali ketika suara ketukan jendela kaca berbunyi.
Elbram menurunkan kaca jendela, “Aria, kau baik-baik saja?” Dia mulai membuka pintu yang terkunci dan membiarkan Harry berjalan ke arah pintu samping Aria dan membukanya.
“Aria, kau baik-baik saja?” tanya ulang Harry begitu tampak khawatir dengan keadaan Aria yang berwajah pucat malam itu.
“Kau bawa makanan?” tanya Elbram tampak sangat emosi.
“Makanan?” Harry yang kebingungan hanya bisa menahan rasa penasarannya untuk sementara waktu, “ Arkas, kau bawa makanan?” lalu ia berteriak pada Arkas yang berada di dalam mobil, bagian belakang mobil yang dikemudikan Elbram.
Harry menarik lengan Aria, ia mengeluarkan wanita yang masih menggigil itu keluar mobil dan membiarkan Elbram meredakan emosinya terlebih dahulu.
“ini,” Arkas datang dengan membawa sepotong donat yang telah terbagi, “tapi ini sisa dariku.”
Harry yang kebingungan mulai memandang Elbram yang masih duduk di dalam mobil.
“Berikan saja padanya!” ucap keras Elbram hingga membuat Aria hanya menundukan kepala.
“Aria, kau mau ini?” ragu-ragu Arkas mengulurkan tangan, memberikan donat pada Aria yang sangat ingin menangis malam itu.
“Makan dan buktikan sendiri bahwa kau tidak akan kelaparan malam ini!” Perintah Elbram membentak, laki-laki itu memang sudah sangat emosi dengan sikap Aria yang dia anggap seperti seorang anak kecil.
“Aku pulang saja.” Aria mulai melangkah mendekati mobil Harry, “ Harry, tolong antarkan aku pulang!” pinta Aria sembari terus berjalan.
“Elbram, sebenarnya apa yang terjadi?”
Harry benar-benar kalut dalam kebingungan, ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia perbuat malam itu.
“Dia hanya pernah mimpi datang ke festival makanan dan ketakutan tidak mendasar lalu mengatakan bahwa dia akan mati kelaparan jika dia berada di sana.”
Jelas Elbram sangat marah hingga ucapannya terdengar membabi buta malam itu.
“Mimpi itu adalah sebaliknya,”
“apa?” Aria menghentikan langkah, mendengar ucapan Arkas.
“Mimpi itu tidak nyata Aria, percayalah!”
Arkas melangkah mendekati Aria lalu menekan kedua pipi wanita itu hingga mulutnya terbuka lalu ia memasukan donat ke dalam mulutnya. “Bagaimana?”
“Haa hikss hiks,” Aria menghapus air matanya, “aku takut sekali,” Ucap wanita itu sembari mengunyah perlahan-lahan donat di dalam mulut dan mengusap air mata di pipi berkali-kali.
“Kadang mimpiku kebalikan dari dunia nyata yang aku alami, kadang mimpiku hanya bunga tidur sesaat dan tidak ada arti jadi jangan terlalu memikirkan tentang mimpi.”
Aria menganggukan kepala berkali-kali lalu terkejut ketika lengannya tiba-tiba diraih oleh seseorang dan dia berbalik arah menghadap ke arahnya.
“Haa, Suan.”
“Kau baik-baik saja?”
Suan menggenggam telapak tangan Aria lalu membawa wanita itu mengikutinya menuju mobil yang terparkir di belakang Harry.
“Dia itu aneh sekali.”
Ucap keras Elbram yang telah keluar dari mobilnya.
“Diamlah kau brengsek.”
Mata Suan memerah karena sangat marah, ia menghentikan langkah dan memandang tajam ke arah Elbram yang langsung tertegun dan membuang wajah lalu mulai berjalan kembali, membawa Aria yang sesekali memandang ke arah Elbram dengan rasa bersalah lalu tubuhnya mulai masuk ke dalam mobil Suan dan wanita itu hanya bisa memandang Elbram yang masih berdiri dengan Harry yang menghampiri.