Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Mengusahakan yang terbaik untuknya



Tatapan mereka saling beradu. Seorang terlihat sangat marah, seorang lainnya terlihat sangat sedih.


Kedipan mata Aria menandakan ketidakpercayaan, ia menoleh kepala lalu bergegas pergi dari sana.


“Bagaimana,” tetapi sayang, langkahnya terhenti ketika Suan menggenggam salah satu lengan atas wanita tersebut dan mengembalikannya ke posisi semula, “.. bagaimana caranya agar kau yakin bahwa aku tidak pernah berselingkuh?”


“Suan!”


Aria tertegun, dia menghela nafas berat sembari menengadah ke arah Suan dan disaksikan para penghuni ruangan yang hampir semuanya merasa gelisah.


Suan memberikan dokumen-dokumen di tangan pada teman dokternya lalu mengangkat kepala Aria yang tadinya akan menunduk untuk terus menengadah memandangnya, “Aku akan mengatakan bahwa aku mencintaimu setiap hari agar hatimu tenang, lalu akan kubuktikan setiap waktu bahwa aku benar-benar sangat mencintaimu agar kau percaya padaku dan tidak meragukanku lagi.”


“Begitukah yang dikatakan buku itu padamu?”


Aria masih tidak meyakini, dia begitu percaya pada perasaan di dalam hatinya hingga bersikeras untuk menolak ungkapan yang dilontarkan Suan padanya.


“Begitulah yang dikatakan hatiku padamu, aku jarang memperhatikanmu hingga kau ragu, bukan?, agar jarang mengatakan cintaku hingga kau mengira bahwa aku tidak pernah mencintaimu, bukan?, aku,” Suan menatap lekat mata Aria lalu menunduk dan tertegun, “... akan membuktikannya Aria, jadi percayalah aku tidak sedang berselingkuh maka dari itu aku mempertemukanmu dengannya yang akan membantuku.”


Aria melepaskan tangan Suan dari kedua pipinya namun ia masih menengadah, “membantu apa?” lalu bertanya dengan gertakan gigi-gigi geram. “ Kau ingin dia melakukan apa untukmu?”


“Meyakinkan pada ayah dan ibumu bahwa semua yang kau alami itu benar Aria. Aku percaya padamu, sekalipun kau berbohong, aku tetap akan percaya padamu.”


“Jadi kau kira aku sedang berbohong?”


Suara Aria mulai diperkeras, ia mulai enggan berada di sana dan melangkah kaki untuk pergi.


“Tidak,” Suan menarik tangan Aria kembali hingga tubuh yang tadinya bergerak, kini menghadap ke arah Suan kembali, “kau berbohong saja aku percaya, maka dari aku yakin kau pasti tidak akan pernah berbohong padaku, jadi kita akan buktikan bahwa Ariaku yang dibentuk sempurna bukanlah pembohong. Aria, benar-benar wanita yang sempurna untukku.”


Suan berusaha untuk mengembangkan senyuman lembutnya.


Ia menggenggam erat tangan Aria dan sangat berharap wanita itu akan mempercayainya.


“Ck,” Aria berdecik, ia menundukan kepala lalu tersenyum malu, ”jadi sekarang kau sedang menggodaku?”


“Hm, bisa jadi.” Suan tidak menyia-nyiakan waktu lagi, ia mulai membawa Aria untuk duduk tepat di hadapan dokter wanita yang telah duduk ke posisinya kembali, lalu laki-laki tersebut mulai duduk di samping Aria dan masih terus menggenggam tangan wanita itu.


“Suan, kau..”


“Cepatlah buktikan bahwa wanitaku ini tidak berbohong!” Perintah Suan berpura-pura dingin sembari tersenyum lembut ke arah Aria yang langsung menundukan kepala karena sangat malu saat itu.


Suan melepaskan tangan Aria lalu memeluk bahu wanita tersebut hingga membuat Aria semakin merasa serba salah.


Lembaran foto mulai diletakan tertutup di atas meja, hal itu membuat Aria sedikit kebingungan saat itu.


“Nona, anda menciptakan kebohongan untuk menyembunyikan kesalahan anda dari tuan Suan, bukan?”


Dokter itu mulai membuka suara hingga Aria yang menunduk sontak mengangkat kepala dan melihatnya dengan tatapan benci.


“Apa maksudmu?” Aria menggertak giginya geram, ia tersenyum kecut ketika melihat tatapan serta senyuman lembut wanita di hadapannya.


Suasana di ruangan tersebut sangat menegangkan, ibu Aria terlihat duduk sembari berkali-kali menggenggam kedua tangan begitu khawatir.


Sementara itu, ayah Aria terlihat duduk, memandang tubuh samping Aria, dan dokter lain terlihat mengeluarkan lembaran foto terakhir dan menelungkupkannya di atas meja, di pertengahan kedua wanita yang saling berhadapan saat itu.


“Anda berbohong bahwa anda mengetahui kesialan tuan Arkas, padahal selama ini anda memerintahkan laki-laki ini,” dokter wanita tersebut meraih satu foto lalu menunjukannya pada Aria.


Foto itu adalah foto laki-laki pemilik Pub yang pernah Aria kunjungi bersama Michelle. “...untuk mengikutinya, bukan?”


“Hm, konyol,” Aria melipat kedua kaki dan tangannya, “Buktikan padaku kalau kau benar?”


“Jika anda tidak menciptakan kebohongan, anda akan ketakutan kembali, bukan?” Dokter wanita meletakan foto yang ia pegang kembali ke atas meja, “.. anda tidak mau jika tuan Suan mengetahui perbuatan anda yang telah melukai wanita ini, wanita yang anda anggap sebagai kekasih tuan Suan, iyakan nona?” lalu menunjukan foto lain hingga membuat pandangan mata Aria sontak teralih karena ia benar-benar tidak ingin melihat wajah seorang wanita di dalam foto tersebut.


“Brengsek, kau ini bicara ap..”


Suan menahan tubuh Aria agar tidak berdiri dan menyerang wanita di hadapan mereka, “Aku tidak memiliki wanita lain selain Aria?, aku percaya pada Aria dan tidak percaya padamu.” Ucap Suan berusaha menenangkan Aria.


“Hm, hm, hahaha,” Aria tertawa lebar, lalu dia tersenyum lucu, “ Apapun perkataanmu, kau tidak akan pernah dipercaya.”


“Benar, aku akan selalu percaya pada Aria sekalipun dia berbohong, meskipun itu sangat menyakiti hatiku dan aku akan menjadi gila karenannya, Aku tetap tidak peduli.”


“Suan, aku tidak berbohong.” Aria bergerak menghadap ke arah Suan yang menganggukan kepala dengan mata memerah, memandang Aria penuh dengan rasa sakit. “Aku,” Aria tertegun, lalu menundukan kepala, “ Aku mengetahui bahwa Arkas akan dipukuli para penagih hutang, dan jika aku tidak menolongnya, hatiku terasa sangat sakit Suan.”


“Itu karena anda telah menerima pesan dari laki-laki ini,” Dokter wanita tersebut mulai berdiri dan berjongkok ke hadapan Aria lalu memperlihatkan kembali foto laki-laki pemilik Pub di bawah Kepala Aria yang menunduk, “... tapi anda tidak mempedulikannya seperti anda yang telah terbiasa tidak peduli dengan perselingkuhan ibu anda, seperti anda yang juga tidak peduli dengan kematian orang-orang di sekitar anda karena ulah kakek anda, seperti anda yang tidak peduli dengan sindiran teman-teman anda. Anda hanya berpura-pura tidak peduli maka dari itu rasa bersalah di dalam hati anda semakin melebar dan anda kesakitan karena menahan keinginan hati untuk menolong tuan Arkas padahal anda tahu bahwa dia sedang berada dalam bahaya dari laki-laki ini.”


“Tidak,” Aria mulai panik, tubuhnya menggigil dan itu membuat Suan serta dokter wanita di depannya berusaha untuk menenangkannya dengan menggenggam tangan wanita tersebut, “aku bisa mati jika aku tidak menolong Arkas, aku akan mati, aku akan mati, aku akan mati...”


“Haa,” Aria mulai tenang tetapi gigilan di tubuhnya masih terlihat jelas, Ayah Aria segera bergerak pergi menuju salah satu ruang kamar di Apartemen tersebut untuk mengambil selimut. “Aku tidak tahu kenapa aku masih hidup. Haa benar, aku tahu Arkas akan tertabrak bus kota karena...”


“Karena anda tidak mendapatkan kabar buruk tentang tuan Arkas dari laki-laki ini maka dari itu anda selalu mengira bahwa tuan Arkas akan tertabrak bus kota, bukan?, nona, anda hanya ketakutan jika tidak memastikan keadaan tuan Arkas baik-baik saja setiap hari.”


Tangan dokter tersebut dihempaskan oleh Aria yang telah mengangkat kedua kaki ke atas kursi lalu memeluknya erat dengan satu tangan sementara tangan lain masih ia biarkan berada digenggaman tangan Suan.


Ayah Aria segera datang lalu memberikan selimut pada Suan yang langsung menutupi tubuh Aria menggunakan benda tersebut.


Teman dokter Suan dengan cepat mematikan AC ruangan karena dia tahu bahwa saat itu Aria sedang menggigil ketakutan, dan juga mengetahui bahwa Aria sedang merasakan dingin yang menyelimuti tubuh.


“Aku bahkan tahu bahwa Arkas akan bunuh diri.”


“Anda meminta laki-laki ini untuk tidak menolong tuan Arkas waktu itu, bukan?, tapi anda juga menahan diri untuk tidak menolongnya dan memilih untuk terus melanjutkan pergi ke Klub malam, Tuan Harry yang memberitahukan bahwa anda terburu-buru pergi waktu itu karena merasakan kesakitan, iya kan nona?”


Dokter itu kembali menggenggam tangan Aria, sementara itu, Suan tampak sedang menahan tubuh Aria agar tidak berlalu dari sana.


Berkali-laki Aria berusaha untuk berdiri namun kedua orang di dekatnya menahan tubuh Aria untuk tetap berada di tempat.


“Tidak, Haaa. “ Aliran air mata Aria jatuh menetes, “lalu bagaimana aku tahu bahwa ibu Arkas sudah tidak ada?” bentak Aria marah lalu terkejut ketika wanita yang berjongkok di hadapannya memperlihatkan foto lain.


“Nona, selama ini anda telah memerintahkan dokter ini untuk merawat ibu tuan Arkas secara diam-diam tanpa sepengetahuan Tuan Arkas, bukan?, anda meminta tukang kunci untuk membuat kunci yang sama dengan kunci pintu rumah tuan Arkas lalu menutup mulut tetangga di sekitar rumah tuan Arkas dan memberikan kunci rumah tersebut pada dokter ini untuk merawat ibu tuan Arkas lalu ketika nyawa ibu tuan Arkas tidak dapat diselamatkan lagi, anda meminta Dokter ini untuk pergi dari sana, dan membiarkan begitu saja kematian ibu Tuan Arkas, iyakan nona?, maka dari itu anda panik dan merasa sangat kesakitan karena merasa bersalah, membiarkan tubuh orang mati begitu saja.”


“Konyol mana mungkin...”


“Lalu bagaimana anda bisa kembali ke rumah tuan Arkas padahal saat itu kalian berdua berada dijembatan yang sangat jauh?”


Pertanyaan Dokter wanita tersebut membuat panik Aria,


Aria yang telah berselimut masih terus menggigil bahkan keringat dingin telah jatuh bercucuran membasahi tubuh.


“Kami menumpang...”


“Di tempat sepi itu tidak ada mobil dan Tuan Arkas mengatakan bahwa anda terluka di lutut kaki dan datang ke jembatan tanpa membawa kendaraan apapun, “


“Lalu bagaimana kami bisa kembali ke rumah Arkas?” bentak Aria keras ditengah-tengah kepanikannya, ia mulai berusaha untuk melepaskan diri tetapi Suan tetap menahannya di tempat.


“Anda kembali ke rumah Tuan Arkas dengan bantuan laki-laki ini, bukan?, hari itu dia berpura-pura menjadi pengendara yang lewat padahal anda memang memintanya untuk melakukan itu.”


Aria semakin panik, ia mulai memegangi dadanya yang terasa sakit.


“Ahh, aku harus bertemu Arkas.”


Ucap wanita itu mulai membungkuk dan sembari memukuli dadanya yang sakit.


“Kenapa anda harus bertemu tuan Arkas, nona?” dokter wanita itu segera membersihkan air yang bercucuran jatuh dari wajah Aria.


“Arkas akan tertabrak bus kota, haaa hikks,”


Aria bergerak cepat, namun Suan terus menahannya untuk tidak pergi, hingga wanita itu mulai meronta-ronta.


“Itulah yang anda rasakan setiap hari, padahal Tuan Arkas ada di sini.”


“Aku di sini, Aria.”


Suara Arkas yang terdengar membuat Aria berhenti memegangi dadanya lalu berbalik melihat ke arah sumber suara.


“Arkas,” dan melihat Arkas sedang berdiri di depan pintu bersama Harry, memandang keadaan menyedihkan Aria dan wajah wanita itu yang basah karena guyuran keringat.


********


Hallo terima kasih sudah setia membaca.


baca juga y karya terbaru Author.


judulnya : Ya Boss, Kupatuhi perintahmu!


Dapatkan hadiah poin senilai 2000 untuk 3 orang pemenang.



poin bisa digunakan untuk menjadi VIP agar membaca lebih nyaman tanpa iklan