
Lagi.
“Haaa."
Dia berada di tempat yang sama seperti mimpi sebelumnya.
Ruangan hampa dan kosong yang hanya berwarna putih saja.
Matanya terlihat sayu, tubuhnya melayang di udara dan tidak dapat disentuh.
“Sekarang apa lagi?” tanya Aria yang mulai terbiasa dengan kejadian aneh yang akhir-akhir ini menimpanya.
Wuuuuuzzzzz..
Tubuhnya mendadak menghilang, lalu muncul kembali di dalam sebuah kamar.
Aria yang tadinya berusaha untuk tetap tenang, saat itu membuka mulutnya dan membelalak mata begitu lebar karena terkejut.
Segera ia mengalihkan pandangan merasa piluh, enggan untuk melihat tubuhnya yang telah terbaring dipenuhi lumuran darah dari sayatan pisau di pergelangan tangan. Tidak cukup dengan itu saja, di dalam mulutnya juga terlihat busa berbui dan di sampingnya terdapat tempat bekas racun yang mematikan.
“Jadi sekarang aku sudah mati ya?” gumam Aria ingin menangis tetapi ia telah lelah menangis,
Wuuuuzzzzz..
Lalu ia menghilang dan muncul kembali di sebuah ruangan yang ia kenali.
“Hikks.” Aliran air matanya jatuh dengan cepat tanpa mampu ia bendung lagi ketika ia melihat tidak ada dirinya bersama dengan ayah dan ibunya di dalam foto pada dinding ruangan.
Di dinding yang sebelumnya terdapat banyak fotonya, saat itu hanya diisi oleh foto-foto ayah dan ibunya serta keluarga Anderston lain dan juga teman-teman orang tuanya saja.
“Ayah pulang, Caca.”
“Caca!” gumam Aria terkejut lalu menghapus air mata.
“Ayah, ayah,” segera Aria bergerak mendekat namun langkahnya terhenti ketika seorang gadis kecil datang dan menghampiri ayahnya.
“Ayah!” begitu terlihat kebahagiaan menyelimuti mereka berdua di pandangan mata Aria.
“Ibu dimana?” ayah Aria mengangkat gadis kecil yang usianya mungkin masih di bawah 10 tahun itu lalu membawanya masuk ke dalam ruangan lain.
“Ayah!” dan Aria mengikuti mereka dengan segera.
“Ibu!” setelah turun, gadis kecil itu berlari mendekati seorang wanita yang berdiri di dalam kamarnya lalu memeluk wanita itu.
“Itu ibuku,” Aria perlahan-lahan mendekat,”ibu, aku Aria, ibu, ibu, jangan ambil ibuku!” Bentak Aria marah bercampur sedih lalu mempercepat langkah kaki, “ibu!”
“Kau siapa?”
“Ayah!”
Ayah Aria menghalangi langkahnya mendekati ibu Aria yang telah berdiri takut memeluk gadis kecil di hadapannya.
“Kau siapa?, kenapa kau bisa ada di sini?” Ayah Aria mulai mengeraskan suara, meskipun nadanya masih terdengar tenang.
“Ayah, aku Aria, aku Aria.”
“Ibu, aku Aria.”
“Aku tidak kenal denganmu,” jawab ibu Aria semakin membuat wanita itu menderita.
“ibu, aku Aria hikss..” Ia bahkan menunduk kepala, tak kuasa menahan kesedihan yang terus-menerus muncul tiada henti.
“Pergi!” Ayah Aria menarik tangan wanita itu dan saat itu, ia bisa disentuh, “siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku?, pergi!”
“Ibu, ibu, ibu, ayah, aku Aria, aku Aria, Ahhh jangan lupakan aku, hikkss Ibu!” panggil Aria sangat berharap ibunya menghalangi ayahnya untuk membawa ia keluar dari sana, “ Ibu!”
"Aria, Aria!” Semua orang di dalam ruangan terkejut ketika mendengarkan teriakan Aria di dalam tidurnya, hingga infus yang digunakan wanita itu terlepas karena tubuhnya terlihat meronta-ronta berada di pelukan ayahnya.
"Aria, Aria tenanglah sayang," Ibu Aria juga tak kalah panik melihat keadaan putrinya saat itu.
“Dimana Dokter?, Dokter!” Teriak Ayah Suan yang juga berada di dalam ruangan tersebut begitu mengkhawatirkan keadaan putri dari temannya. “Dokter, panggil dokter cepat!.” Bentaknya lagi marah karena perawat yang datang tidak bersama seorang Dokter yang menyertainya.
“Hiks hiks, “ di ruangan yang penuh dengan ketegangan, perlahan-lahan mata Aria terbuka. Samar-samar wanita itu melihat wajah risau dan panik ayahnya, “ayah hiks hiks ayah.” Tubuhnya yang gemetaran hebat segera memeluk ayahnya.
Dokter segera datang memasuki tempat.
“Dia kenapa?, cepat periksa!” Suara ibu Aria terdengar begitu khawatir, wanita tersebut berdiri di samping Ayah Aria yang sedang duduk membalas pelukan putrinya.
Aria melepaskan pelukan dari ayahnya lalu dengan cepat berdiri dan memeluk ibunya, “ibu, hiks hikss ibu jangan lupakan aku!"
“Kau ini bicara apa?, mana mungkin aku melupakanmu.” Ibu Aria membalas pelukan untuk putrinya.
Terus memeluk erat hingga dokter yang datang sedikit kebingungan untuk memeriksa tubuh Aria, “ayah!” lalu ketika tubuh Aria terlepas dari pelukan ibunya dan dokter tersebut bersiap-siap untuk memeriksa, “Ayah, aku tidak ingin menikah dengan Suan lagi,”
“Kau bilang apa barusan?” nada keras suara ayah Aria yang terdengar, menghentikan kembali niat dokter itu untuk memeriksa pasiennya yang terlihat telah membaik dan dokter tersebut memilih untuk tetap berdiri, menunggu perintah saja.
“Aku tidak mau menikah dengan Suan lagi ayah, hiks hikss tolonglah ayah.” Aria menyandarkan dahinya di dada ayahnya, “tolonglah hiks hiks aku tidak ingin mati,” gumam Aria menangis sesenggukkan.
“Aria, ada apa denganmu?, Suan sudah mengakui kesalahannya jadi tidak perlu lagi membatalkan pernikahan kalian.” Ibu Suan yang berada di ruangan tersebut berusaha untuk merayu Aria agar tidak membuat keputusan tersebut.
“Ayah tolonglah, ayah.” Aria tidak mempedulikannya, wanita itu hanya terus menangis meminta, kali ini sembari menengadah dan memandang wajah ayahnya dari bawah. Ayah wanita itu terlihat tidak sanggup untuk menolak permintaan putrinya.
“Aria!”
“Jangan mendekat!” bentak Aria keras ketika ibu Suan hendak mendekati wanita itu.
Mendengar seruan, wanita yang tadinya akan mendekat terkejut dan terpaksa menghentikan langkah.
“Kau!, berani sekali kau membentak ibuku,” Suan yang berada di ruangan tersebut marah. Ia bahkan tidak mempedulikan lagi perintah keluarganya untuk berbuat baik kepada Aria.
“Tenanglah!” bentak ayah Suan marah dengan sikap putranya saat itu, “ Aria, kau tidak perlu takut lagi, Suan pasti tidak akan pernah menyakitimu...”
“Aku tidak membutuhkannya, aku sudah tidak mau mengejar Suan lagi, aku tidak mau lagi masuk ke dalam keluarga kalian, sekarang pergilah, aku hanya ingin bersama ayah dan ibuku saja saat ini.” Dengan nada lemah, Aria membuang wajahnya untuk tidak melihat ke arah wajah Ayah Suan.
“Tenangkanlah dirimu dulu!, saat ini perasaanmu masih kacau jadi keputusan yang kau ambil juga masih belum matang.”Ayah Aria mengelus kepala atas wanita itu lalu mendudukan Aria ke atas kasurnya.
“Ayah!"
“Istirahatlah!, kita bahas itu nanti saja.” Kemudian memaksa Aria untuk terbaring di sana dan mengisyaratkan kepada semua orang untuk keluar dari ruangan tersebut kecuali ibu Aria untuk tetap tinggal di sana.