Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Suan Dikintama



Suan melangkah keluar dari kamar mandi dengan sangat cepat hingga ia telah mendekati pintu apartemen lalu membukanya kemudian keluar dari sana.


Dia sangat gugup. Saking gugupnya bahkan tubuhnya terlihat gemetaran.


Dia tidak ingin Aria melihat keadaan memalukan dirinya yang masih belum berani menyentuh lebih dalam tubuh wanita yang ia cintai tersebut. Karenanya, dia terpaksa mengatakan kebohongan dan bersikap dingin meskipun ia tahu bahwa Aria akan terluka.


Dengan menyandarkan dahi di dinding dan memegangi dadanya yang berdegup kencang, Suan bergumam, “Huh, aku bisa gila, kenapa bisa segugup ini?” lalu melihat telapak tangannya yang gemetaran.


“Mungkinkah dia akan membenciku setelah ini?” tanya Suan pada dirinya sendiri, merasa sangat bersalah karena telah menolak permintaan Aria.


Dia tidak dapat menahan diri, namun dirinya sungguh masih belum berani untuk menyatukan tubuh mereka bersama.


Menurutnya, ia masih belum pantas karena dirinya menyadari bahwa di masa lalu, Suan merupakan pelayan yang harus melindungi Aria.


“Huh..” Suan menghela nafas lalu mulai mengangkat dahi dari dinding dan berniat untuk masuk ke dalam Apartemen kembali.


Tapi niatnya terhenti ketika ia melihat seseorang keluar dari pintu lift dan dia sangat mengenalinya.


“Suan!”


“Hm, “ Suan tersenyum remeh, “.. tidak biasanya Haron Dikintama datang menemui putranya tanpa permintaan dari Aria.” Sindir Suan yang telah menegakan tubuh dengan baik dan menatap tajam ke arah seorang laki-laki yang hampir memasuki usia tua di koridor apartemennya.


*********


Seorang wanita tampak berdiri di depan sebuah rumah mewah dengan membawa dua orang anak di masing-masing sisinya.


Seorang dari mereka adalah anak laki-laki, dan seorang lagi adalah anak perempuan.


Pintu rumah yang tadinya tertutup saat itu mulai terbuka, seorang pelayan tampak keluar dari sana lalu menutup pintu rumah tersebut kembali, seolah-olah ia takut bahwa wanita di depan pintu itu akan masuk ke rumah itu hingga ia menutupnya kembali dengan rapat.


“Tuan besar hanya mengakui seorang anak perempuan saja, keluarga Dikintama tidak menginginkan anak laki-laki lagi.” Ucap pelayan tersebut mengejutkan wanita yang telah memberikan bukti tes DNA pada pemilik rumah mewah di depannya.


“Ibu!” panggil anak laki-laki yang tak lain adalah Suan kecil. Hari itu, dirinya benar-benar takut jika ibunya akan meninggalkannya.


Ibu Suan berusaha menenangkan hati Suan dengan mengelus rambutnya, sementara anak perempuan di sisi lain wanita tersebut mulai bergerak menuju ke arah Suan kecil, “ibu, jangan pisahkan kami berdua!” pinta anak perempuan itu bersamaan dengan Pintu rumah yang telah terbuka dan seorang laki-laki tua tampak berdiri di depan seorang laki-laki dewasa, mereka berdua memandang hina terhadap wanita tersebut.


“Haron!” panggil wanita tersebut pada laki-laki dewasa yang berdiri di belakang laki-laki tua, “aku benar-benar tidak memiliki apapun lagi, aku mohon, setidaknya jaga mereka untukku sampai aku bisa membeli tempat tinggal kembali.” Pinta wanita itu dengan aliran mata yang membasahi pipi.


“Keluarga Dikintama tidak memerlukan anak laki-laki lagi, dan saat ini yang dibutuhkan ayahku hanyalah anak perempuan.” Laki-laki dewasa itu mulai bergerak lalu menarik tangan anak perempuan yang menggenggam lengan Suan kecil.


“Kakak!,


“Cecil,” tangan Suan kecil yang akan menarik tangan adiknya ditahan oleh ibunya ,” ibu, Cecil mau dibawa kemana?” tanya Suan kecil berusaha mengejar anak perempuan yang tampak telah masuk ke dalam rumah namun tubuh Suan kecil ditahan oleh ibunya, “ Cecil, Ibu tolong Cecil.”


“Kau pasti akan menggunakan Cecil untuk keuntungan perusahaanmu, bukan?” tebak ibu Suan sembari memeluk tubuh Suan kecil yang meronta-ronta, berusaha untuk melepaskan diri dan mengejar adiknya.


“kalau begitu, berikan pada kami uang untuk bertahan hidup!” Dengan begitu berani, wanita tersebut memandang tatapan tajam laki-laki tua di depannya.


**********


Suan kecil berdiri dengan aliran mata deras membasahi seluruh wajah, saat itu usianya masih 6 tahun tetapi dia telah ditinggalkan sendiri di panti asuhan oleh ibunya.


Dia memandang punggung ibunya dari jauh sembari menggenggam beberapa lembaran uang lima puluh ribu di tangan.


“Ibu,” teriak Suan kecil sembari terus menangis, di belakang anak laki-laki tersebut terlihat anak-anak lain turut ikut menangis. “ Ibu, jangan tinggalkan aku!” pinta Suan begitu sedih dan terus berteriak, namun ia tidak bisa mengejar, karena dirinya hanya berdiri di dalam ruangan dan melihat kepergian ibunya melalui jendela kaca.


Seorang wanita dewasa tampak berdiri di samping Suan kecil, dia mengelus rambut Suan lalu berjongkok, memeluknya, “tenang saja, ibumu pasti akan datang nanti.”


“Hikss..hikss... benarkan bibi?, bibi tidak membohongiku, iyakan?, ibuku pasti akan datang, benarkan?”


“Hm, tentu saja, dia akan datang dengan membawa banyak uang,” ucap wanita itu sembari mengambil uang dari genggaman tangan Suan.


“Ini uangku.”


“Bibi akan menyimpannya untukmu.”


Ucap wanita itu lalu berdiri.


“Tapi aku bisa menyimpannya sendiri.” Ucap Suan menengadah kepala, namun wanita itu telah berlalu pergi dari sana.


“Itu uangku, kembalikan uangku!”


Saat Suan ingin mengejar, langkahnya terhenti karena beberapa anak menghalanginya.


Seorang dari mereka mulai memegang kedua bahu Suan, “Lebih baik berikan saja padanya agar kau bisa tenang tinggal di sini.”


Ucap seorang anak laki-laki yang mungkin usianya jauh lebih tua daripada Suan.


“Tidak masalah tidak ada uang, yang penting kita masih bisa makan.” Ucap seorang anak laki-laki lain berusaha untuk menenangkan hati Suan saat itu.


**********


Suan kecil keluar dari ruang latihannya.


Wajahnya penuh lebam, tatapannya juga tampak kosong dan menyedihkan.


Ia terus melangkah mengikuti seorang pelayan memasuki sebuah ruangan di dalam rumah besar yang terletak di atas bukit pinggiran hutan.


Rumah itu, merupakan kediaman tuan besar, pemilik perusahaan Anderston.


Langkah Suan terhenti ketika telah berdiri di depan beberapa orang yang duduk di ruangan tersebut.


Mungkin, itu adalah ruangan tamu, meskipun letaknya berada di sudut rumah yang biasanya digunakan sebagai ruang istirahat.


Dinding kaca memperlihatkan pucuk pepohonan hutan yang agak jauh. Lalu menghilang, ketika seorang pelayan menarik gorden dan menutupi ruangan tersebut hingga hanya cahaya lampu saja yang menerangi.


Seorang laki-laki tua mulai masuk ke dalam ruangan lalu berdiri tepat di samping Suan dan menggenggam erat bahu anak kecil yang mungkin usianya telah memasuki angka 9 tahun.


“Tuan besar,” seorang laki-laki yang dikenali Suan mulai turun dari atas sofa diikuti oleh seorang wanita yang sangat disayangi Suan.


“Benarkah mereka orang tuamu?” tanya laki-laki tua pada Suan yang hanya terdiam dan enggan untuk mengakui mereka berdua.


“Suan, ibu sudah kembali, kemarilah!” Wanita itu memang benar ibu Suan, ia berlutut dan meminta Suan untuk datang ke pelukannya.


Suan sangat menyayanginya, dia tahu bahwa wanita tersebut pernah menjaganya selama 5 tahun lamanya.


“Benar kakek,”


Jawab Suan, “Suan!” bersamaan dengan Aria kecil yang telah masuk bersama ayahnya ke dalam ruangan tersebut.


“kalian pikir bisa mengambil Suan dariku?” bentak Aria kecil marah lalu mulai melangkah mendekati kedua orang tua Suan di sana namun tertahankan oleh ayahnya.


“Ayah lepas!” pinta Aria dengan nada dingin pada ayahnya.


“Kakek, jangan pisahkan aku dengan Suan, haaa.. hikss hikk!” lalu menangis ketika ayahnya tak kunjung menuruti permintaannya.


“Haaa.. mana mungkin kakekmu ini memisahkan Aria dengan Suan.” Ucap laki-laki tua mulai menghampiri Aria kecil hingga ayah Aria terpaksa melepaskan putrinya yang saat itu telah naik ke atas tubuh laki-laki tua yang menggendongnya.


“Kakek, bunuh saja mereka untukku, aku tidak ingin dipisahkan oleh Suan.” Ucap Aria mengejutkan Suan kecil yang langsung jatuh berlutut.


“Mereka orang tuaku, Aria. Jangan lukai mereka, aku mohon!” Pinta Suan begitu memelas saat itu bersamaan dengan kedua orang tuanya yang juga tampak ketakutan.


“Aria, mereka tidak akan memisahkan Suan denganmu, mereka hanya ingin Suan merasakan kasih sayang orang tuanya saja.”


Ucap Ayah Aria berusaha keras untuk meyakinkan Aria kecil agar ayahnya yang selalu menuruti permintaan putrinya, tidak bertindak kejam hari itu.


“Haa,, benar begitu ya, kakek?”


“Hahaha, mana mungkin, Suan tidak memiliki orang tua, sebagai pelayan, dia tidak seharusnya disayang.”


Ucap laki-laki tua semakin menambah ketakutan pada para penghuni ruangan tersebut.


“Kakek, aku sayang Suan, jadi berikan saja dia pada orang tuannya, dan jadikan orang tuanya pelayan untukku.” Ucap Aria dengan nada dingin hari itu,


“Hahahaha,” hingga laki-laki tua di sana tertawa menggelega dalam jangka waktu yang cukup lama.


**********


“Suan!”


Ayah Suan tampak sangat marah, matanya juga memerah, ia bahkan mengepalkan geram kedua tangannya.


“Hm,” Senyuman remeh Suan semakin melebar, laki-laki itu tampak mengikat ulang tali di jubah handuknya, “Kenapa?” Suan mengangkat alisnya, ia memandang wajah ayahnya dengan tatapan begitu puas.


“Kenapa kau menipuku?” bentak ayahnya mulai marah lalu bergerak cepat ke arah Suan dan mengangkat tangan,


Baakkkk...


Tapi sayang, Suan berhasil menahannya lalu memukul balik wajah ayahnya, “Kau memang seharusnya ditendang keluar dari perusahaan Dikintama,” Ucap Suan begitu santai padahal ia baru saja memukul wajah ayahnya hingga berdarah.


“Suan,”


“Bukankah awalnya Perusahaan Dikintama sudah hancur, hm,” Senyuman kecut berubah menjadi pahit, “.. andai saja bukan karena aku berada digenggaman keluarga Anderston, kau kira perusahaanmu akan bertahan waktu itu?” Suan memandang mata ayahnya yang telah berdiri tegak kembali, “Akulah pemilik perusahaan Dikintama yang sebenarnya.”