
Aria melangkah cepat memasuki sebuah ruangan. Dia melihat ayah dan ibunya terlihat sedang duduk di samping seorang laki-laki tua.
Langkahnya ia hentikan, ia berdiri melipat kedua tangan ke dada sembari menyandarkan punggung di dinding.
“Kenapa lama sekali kau datang?”
Ibu Aria menoleh ke arah putrinya, ia memandang Aria dengan tatapan penuh kemarahan.
Sementara itu, laki-laki tua yang terbaring di atas kasur terlihat sedang kesulitan bernafas dan seorang dokter tampak sedang berdiri memeriksa kondisi tubuhnya.
“Kenapa aku harus datang?, kalau bukan karena Suan, aku juga tidak akan datang. Biarkan saja dia mati agar tidak ada lagi yang menyakiti Suanku.”
“Aria!”
Bentak Ayah Aria marah. Dia mulai berdiri dan menghampiri putrinya yang masih terlihat santai bersandar.
“Apa?” Aria melawannya, ia membalas tatapan ayahnya dengan tatapan tidak menyenangi. “Biarkan saja dia mati, aku sudah muak melihat banyak orang mati di Villanya.”
“Jadi kau datang kemari hanya karena Suan?”
“Benar,” Aria menegakkan tubuh, ia kini telah berdiri di hadapan ayahnya, “aku tidak butuh siapapun di dunia ini kecuali hanya Suan saja.”
Ayah Aria menggertakan gigi-giginya geram, “kau pikir Suan akan terus bersamamu?, percayalah dia pasti akan meninggalkanmu.”
Aria tersenyum kecut, ia meremehkan tatapan mata ayahnya lalu mulai berjalan mendekati laki-laki tua yang terbaring lemah di atas kasur.
“Suan telah berjanji pada kakek, dia akan terus menjaga dan melindungiku, iya kan kakek?” Laki-laki tua yang mengenakan tabung nafas tampak memandang wajah cucunya dengan tatapan sayu, dia yang tidak bisa berbicara hanya bisa mengembangkan senyuman tipis sembari merasakan sakit pada tubuhnya.
“Maka dari itu Suan pasti tidak akan pernah pergi dariku.” Aria memandang ibunya dengan tatapan tidak menyenangi.
“Aria!” ibunya bahkan sampai tertegun melihat tatapan putrinya yang begitu menusuk, memandang remeh ke arahnya.
“Haalaaahh, jangan panggil aku begitu, aku tidak menyukaimu, sedikitpun tidak menyukaimu.” Aria mengalihkan pandangan kembali ke arah kakeknya.
“Dan kau pikir aku menyukaimu?”
Ibu Aria yang duduk mulai berdiri, ia mengalihkan pandangan untuk tidak melihat putrinya kembali.
“Kita tidak saling menyukai, jadi mulai sekarang, berhentilah memanggil namaku, suara panggilanmu itu sangat memuakan.”
Aria memperhatikan dengan seksama wajah laki-laki tua, setelahnya ia melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
“Aria, kau mau kemana?, kau tidak lihat kakekmu kesakitan ya?”
Suara bentakan ayah Aria terdengar menggema namun Aria tetap terus berjalan tanpa mempedulikannya.
“Rasakan, itulah balasan bagi dia yang suka menyakiti Suan.”
***********
“.... Seluruh Pabrik Bolbola Food diberikan untuk Aria Anderston, Seluruh Pabrik Anderston Tekstil Ciumera diberikan untuk Aria Anderston, Area perkantoran Wels de’Ville diberikan untuk Aria Anderston, Seluruh Pabrik Mur Legenz Anderston diberikan untuk Aria, Butik Sheiria dan nemoira diberikan untuk Aria Anderston, kompleks Ruko Alianz diberikan untuk Aria Anderston, 320 hektar bidang tanah di seluruh wilayah negara di berikan untuk Aria Anderston , dengan ini, PT. ANDERSTON MANUFAKTUR INDONESIA seluruhnya telah diberikan untuk nona Aria Anderston.”
Hampir saja, dia dibuat tertawa mendengar ucapan pengacara kakeknya yang telah menyebutkan pembagian hak waris malam itu.
Tidak cukup sampai di sana saja, Aria bahkan tidak lagi kuat menahan wajah terkejut ayah dan ibunya serta keponakan dan juga saudara-saudara kakek wanita tersebut yang berada di ruangan yang sama.
“Hm, hm, Hahaahaha, Ayah, kau berada hampir 24 jam di kantor, tapi kakek tidak memberikan sedikitpun hak waris untukmu, hm hahahaha... kasihan sekali yang datang jauh-jauh namun tidak mendapatkan hasil sama sekali, hahaha, sakit sekali perutku, hahaha.”
Aria memandangi satu persatu orang-orang di ruangan tersebut dengan tatapan penuh kepuasan.
“Aria!”
Wanita di samping Aria tak kalah ikut sedih saat itu, dia adalah ibu Aria yang telah melihat putrinya berdiri dan mulai menghampiri pengacara kakeknya.
“Kau juga tidak mendapatkan apapun sebagai menantu, bukan?, kasihaaaann.. aku turut bersedih atas usaha sia-siamu memasuki keluarga Anderston namun tidak membuahkan hasil sama sekali, waaahhh... memalukan.” Aria menerima semua dokumen dari tangan pengacara kakeknya, ia melihat satu persatu lembaran tersebut dengan seksama.
“Bagaimana dengan Villa Derian dan rumah ini?”
Ayah Aria yang tadinya hanya diam saja karena menahan rasa sakit di dalam hati saat itu mulai membuka suara.
“Rumah besar keluarga Anderston diberikan untuk Aria Anderston, dan Villa Derian diberikan untuk Suan Dikintama.”
“Suan?”
“Kenapa Suan mendapatkan hak waris?”
“Suan Dikintama telah terdaftar masuk menjadi bagian keluarga Anderston. Tuan Orion sendirilah yang mendaftarkannya.”
Pengacara kakek Aria mulai berjalan setelah membisikan kepada wanita tersebut tempat penyimpanan Surat-surat kuasa penting milik kakeknya.
“Brengsek, aku sedikitpun tidak mendapatkan apapun, kenapa harus bersusah payah datang kemari?”
Seorang laki-laki tua yang mungkin adalah adik dari kakek Aria mulai berdiri dengan memegang tongkat di tangan, “kalau tahu ini yang terjadi, harusnya aku lebih berpihak pada Aria daripada kau di masa lalu, Arson.”
“Tidak tidak, aku juga tidak ingin kau memihak ke arahku,” Senyuman kemenangan menghiasi penuh bibir Aria, wanita itu menatap remeh laki-laki yang telah memandang kesal ke arahnya, “tundukan kepalamu, atau aku akan menghancurkanmu sekarang juga!” wanita itu bahkan sempat memberikan ancaman hingga laki-laki tua itu hanya bisa tertegun lalu membuang wajahnya.
“Segeralah pergi!, memuakan sekali melihat orang yang tidak tahu diri berada di sini.”
Aria benar-benar berada pada puncak kemenangannya. Ia mengibas rambut lalu memandangi kepergian seluruh saudara kakeknya keluar dari ruangan tersebut.
“Nona, mengapa anda menghentikan saya?”
Pengacara kakek Aria bertanya karena lengannya terlihat sedang digenggam oleh Aria.
Setelah memastikan seluruh saudara-saudara kakeknya pergi, Aria menyerukan padanya untuk menutup rapat pintu dan menguncinya.
Laki-laki paruh baya itu mematuhi perintah Aria bersamaan dengan Aria yang telah membalas tatapan ayah dan ibunya.
“Aria, bukankah kau masih SMA?”
“Justru karena aku masih SMA maka dari itu hak waris bisa kapan saja kuserahkan pada siapapun orang yang aku mau, Bagaimana kalau Suan?” Aria tersenyum senang, “tidak, dia juga masih SMA, masalahnya kakek telah membuat keputusan bahwa aku bebas menggunakan hak warisku meskipun usiaku masih belum 18 tahun. Itu karena apa ayah?” tatapan kesenangan memenuhi kelopak matanya. Aria mengangkat satu alis naik ke atas lalu bergerak cepat, berdiri di hadapan ayah dan ibunya yang tetap menatap wanita itu dengan penuh kengerian. “Itu karena kakek percaya padaku. Uwaahhh..”
“Nona,”
“Duduklah, aku akan membuat keputusan untuk ayah dan juga ibuku.” Pengacara kakek Suan mendorong sofa kecil ke belakang tubuh Aria.
Aria yang mengetahui hal tersebut segera duduk sembari melipat kaki dan sesekali melihat kuku-kuku di jari jemari tangannya.
“Aria!”
“Ayah, bagaimana jika teman-temanmu mengetahui bahwa kau sedikitpun tidak mendapatkan hak waris?, atau bagaimana jika saingan dan musuhmu mengetahui itu semua?, Malu, hahahahahha.” Tawa Aria menggema kembali mengisi kesunyian di ruangan tersebut, kedua orang tuanya menganggap putrinya sangat mirip dengan ayah mereka, “Ahh benar, Aku akan meminta Ayah Suan untuk menjadi Direktur utama saja.”
“Aria!”
Ayah Aria menggebrak meja, ia mulai marah lalu berdiri dengan tatapan emosi serta matanya yang memerah, “Bukan kau sudah sangat keter...”
“Aku akan mengusirmu dari rumah ini jika kau tidak duduk,” Ancaman Aria membuat laki-laki tersebut semakin marah.
“Baiklah, kau kira aku tida...”
“Semua Deposit, Kartu Kredit dan uang milik kakekku yang berada ditangannya, tarik semua untukku!”
Perintah Aria pada pengacara yang tertegun dengan perintah wanita muda tersebut.
“Baiklah nona,”
“Ahh aku juga akan mengumumkan pada publik bahwa ayahku telah keluar dari rumah dan jatuh miskin, iyaaa... Miskin ya, hm hahahaha.” Aria memegangi perutnya yang sakit, ibu wanita itu bahkan sampai tertegun berkali-kali melihat kengerian perilaku putrinya. “Aku pasti, akan memerintahkan seluruh bawahan kakekku yang setia untuk mengejarmu dimanapun kau pergi, Ayah.”
Ayah Aria yang tadinya hendak pergi, tertegun memandangi Aria, ia duduk kembali dan mencoba untuk menahan emosi, “Aria, apa yang kau inginkan?”
“Aku akan memberikan sebagian hak waris itu padamu, asalkan kau mematuhi seluruh perintahku, bagaimana?, aahh benar,”
Aria mulai memandang ke arah ibunya yang terlihat sedang ketakutan menatap mata Aria, “Aku akan membuat ibumu ditendang dari negara Singapura yang ketat aturan itu, dan kupastikan, hidup kalian berdua akan tersiksa di pinggir jalanan kota.”
“Aria,.. Aria..” Suara ibu Aria bahkan terdengar bergetar dengan ancaman putrinya yang tidak dapat diremehkan, “ Aria, apa yang kau inginkan dariku?, aku bahkan tidak mengerti kenapa kau bisa sebenci ini padaku.”
“Berpura-puralah.”
“Apa?” Ibu dan Ayah Aria terlihat terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan Aria. Mereka merasa aneh ketika melihat tatapan menyedihkan dari putri mereka.
“Berpura-puralah menyayangiku dan tetap berada di sisiku, lalu aku akan memberikan kedua hasil butik padamu selama kau melakukannya.” Aria mulai berdiri dan memerintahkan Pengacaranya untuk ikut bersama meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya bisa memandang punggung Aria dengan tatapan penuh luka.
***********
“Jadi karena itu kau membohongiku, paman?”
Suan masih berdiri pada posisinya. Ia terus memandang punggung ayah Aria dengan tatapan penuh kekecewaan, “hanya karena Villa itu diberikan padaku lalu kau memisahkanku dengan Aria...”
“Karena kau akan membalas dendam atas perbuatan Aria terhadapmu.” Ayah Aria menundukan kepala, ia terlihat menyeka air mata di pipi, “aku tahu, Aria akan memberikan apapun yang dimilikinya untukmu, maka dari..”
“Pernahkah kau melihatku membalas dendam?, karena kau tidak mengenalku maka jangan seenaknya saja kau berbicara.” Suara Suan mulai terdengar menggema keras marah, “benar, itulah mengapa Orion tidak memberikan hak waris padamu, karena kau memang tidak pantas untuk dipercaya.” Suan menggertak gigi-giginya geram, “kau takut hartamu habis, kau takut aku merebut semuanya darimu maka dari itu kau menjauhkan aku dari Aria dan memintaku untuk berusaha sendiri agar aku tidak memanfaatkan Harta Aria, bukan?”
“Kalau kau sudah paham, maka aku tidak perlu menjelaskannya kembali.” Ayah Aria mulai melangkah mendekati meja lalu menekan salah satu tombol telepon yang berada di atasnya, “Ambil data pentingku!” pinta laki-laki paruh baya tersebut pada Sekretarisnya.
“Konyol sekali kau ini paman, kau benar-benar membuatku muak,” Suan mengenggam erat kedua tangannya, ia ingin sekali memukul laki-laki di hadapannya namun masih tetap ia tahankan saat itu. “Katakan saja padaku apa yang terjadi pada Aria?, aku, aku benar-benar tidak akan meminta sedikitpun harta darimu jadi kau tidak perlu khawatir.”
Seorang wanita memasuki ruangan tersebut dengan membawa beberapa buah map plastik di tangannya.
“Berikan padanya!”
Sekretaris tersebut mematuhi perintah, ia memberikan semua benda di tangan pada Suan.
Detak jantung Suan mulai berdegup kencang, seakan-akan ia merasa telah berlari sekian kilometer jauhnya.
“Apa ini?” lalu bertanya dengan air mata yang tiba-tiba jatuh ketika telah melihat satu persatu lembaran kertas di dalam map di sana, “ Apa ini paman?” bentak Suan dengan tangannya yang gemetaran.
“Itulah yang terjadi pada Aria.”