
Tatapannya yang kosong bagaikan sebuah boneka hidup.
Aria kecil terlihat berdiri di depan panti asuhan bersama ayahnya.
“Kau ingin masuk?” tanya ayah gadis kecil itu sembari menggenggam erat tangan putrinya yang tampak tidak memiliki semangat hidup.
“Tidak, pulang saja, aku bosan.”
Aria kecil melepaskan genggaman tangan ayahnya lalu mulai berbalik masuk ke mobil, tetapi belum sempat ia masuk ke dalam, mata gadis kecil itu tiba-tiba berbinar, tatapan yang tadinya kosong juga mulai dipenuhi dengan warna.
Di balik kaca mobil, ia melihat sosok anak laki-laki kecil yang terlihat sedang berdiri bersama temannya melihat-lihat mobil milik ayahnya.
“Wah mobilnya mewah sekali.”
Ucap anak laki-laki yang tak lain adalah Suan kecil kepada temannya sembari mulai melangkah kaki.
“Kau tidak akan mampu membelinya.” Ejek temannya yang mulai memeluk bahu Suan kecil saat itu.
“Aku bisa membelinya jika ibuku datang nanti.” Jawab Suan kecil melepaskan tangan temannya dari bahu.
“Ayah, aku ingin masuk,” Aria kecil mulai berbalik lalu tersenyum senang hingga mengejutkan ayahnya dan membuat laki-laki itu menitihkan air mata.
“Aria, kau tersenyum?” ayah Aria mulai memeluk tubuh putrinya, hari itu dia benar-benar bahagia.
“Ayah, aku ingin masuk.” Laki-laki itu terus memeluk sembari meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
“Hm, kita akan masuk.” Jawab ayah Aria yang telah menggendong putrinya dan terus memeluknya begitu senang.
“Hallo Ayah, Aria mulai tersenyum, dia benar-benar tersenyum ayah hikkss..” Laporkannya pada seseorang yang telah menerima panggilan darinya.
***********
“Tuan besar, Suan telah datang.”
Kreeeekkkk...
Pertengahan pintu terbuka,
Pintu yang mungkin terbuat dari baja itu sangatlah besar.
Bagian pintu mulai ditutup oleh seorang pelayan laki-laki dan bagian pintu yang lain juga demikian namun bagian pintu itu ditutup oleh seorang pelayan yang berbeda ketika seorang anak kecil memasuki ruangan tersebut.
Dia, Suan kecil.
Dirinya perlahan-lahan melangkahkan kaki di karpet merah yang lebar.
Menuju ke arah seorang laki-laki tua yang duduk tegak melipat kaki dan meletakan kedua tangan di gagang kursi sembari menatap tajam ke arahnya.
Tubuh Suan kecil gemetaran, anak laki-laki itu merasa berada di dalam ruangan yang penuh tekanan.
“Kau Suan, bukan?” tanya laki-laki tua dengan nada dingin hingga anak laki-laki itu mulai mengigil dan jatuh menunduk hanya karena sangat takut dengan laki-laki tua di hadapannya.
“Be.. be.. benar,” jawab Suan yang tampak terbata-bata. Laki-laki kecil itu tampak terduduk menopang tubuh dengan kedua lipatan kaki dan memeluk tubuhnya yang menggigil dengan kedua tangan.
“Cucuku menginginkanmu maka dari itu mulai dari sekarang kau adalah pelayannya. Berjanjilah padaku bahwa kau akan melindunginya sampai akhir nafasmu!” pinta laki-laki tua itu memaksa, hingga mau tidak mau, Suan kecil yang sangat takut, menganggukan kepala.
*******
“Kakek, dimana Suan?”
Aria kecil berlarian masuk ke dalam ruangan pribadi laki-laki tua yang begitu besar dan berlantaikan karpet merah.
Wajahnya yang begitu ceria sontak membuat laki-laki tua yang tadinya duduk mulai berdiri dan berjalan menghampiri lalu menggendongnya.
“Suan sedang berlatih.” Jawab laki-laki tua itu sembari membalas senyuman ceria cucunya.
“Berlatih?, aku ingin melihatnya kakek, melihat Suan.” Gadis kecil yang tadinya ceria mulai berubah menjadi dingin, ia bahkan berani memandang laki-laki tua di hadapannya dengan tatapan tajam.
Laki-laki tua tersenyum, “hahahaha...” lalu tertawa begitu kegirangan melihat perubahan cucunya. “Bawa dia kemari!” kemudian memberi perintah kepada salah seorang pelayan di depan pintu.
“Baiklah tuan,” pelayan tersebut segera pergi lalu setelah beberapa saat ia membawa Suan kecil masuk ke dalam ruangan besar itu.
“Suan,” Aria segera melompat dari tubuh kakeknya, “Kenapa wajahnya penuh luka seperti ini?” tanya Aria dengan nada keras, gadis itu terlihat sangat marah pada kakeknya.
“Dia berlatih untukmu, Aria.” Laki-laki tua mulai berjongkok lalu mengelus kepala cucu yang sangat ia sayangi. “Benarkan?” kemudian ia mengalihkan pembicaraan kepada Suan dengan nada menekan, hingga Suan yang tadinya menunduk mulai mengangkat kepala.
“Aku sedang berlatih untuk menjadi kuat agar bisa melindungimu, Aria.” Jawab Suan kecil dengan mengepalkan tangan, karena memang ia sedang dilatih begitu keras dan begitu menyakitkan hingga ingin sekali ia menangis namun terpaksa ia tahan.
“Benarkah?” mata Aria yang berbinar-binar semakin menganggumi Suan kecil saat itu. “ Kakek, aku juga ingin berlatih.” Setelah melihat anggukan Suan kecil, Aria menoleh kepala ke arah kakeknya.
“Berlatih?”
“Suan, aku akan berlatih untuk menjadi istri yang sempurna bagimu, aku janji jadi tunggu aku ya.” Ucap Aria begitu kegirangan lalu berlari keluar pintu ruang tersebut, “ Ibu, jadikan aku wanita cantik.” Lalu berteriak mencari ibunya.
*********
Suan berdiri memandang punggung seorang laki-laki.
Tangannya ia kepalkan begitu geram.
Di depan Suan, terlihat beberapa foto dan sebuah surat laporan bukti nyata.
“Kau sudah melihatnya?” Laki-laki itu berbalik, dia adalah ayah Aria.
“Jadi benar ya?” Hati Suan begitu sakit, tubuhnya bahkan terlihat gemetaran melihat benda-benda di atas meja sana.
Ingin sekali dia marah, dia juga ingin menangis namun tetap ia tahan saat itu.
“Benar, Aria sendiri yang telah memilih Harry untuk menghabiskan malam pertamanya, dan itu bukan dirimu.”
Ayah Aria mulai melangkah mendekati Suan yang sangat marah dan merasa terkhianati lalu memegang kedua bahunya. “Jangan katakan ini pada Aria. walaubagaimanapun, dia sangat mencintaimu dan mungkin akan gila jika ia menyadari bahwa dirinya bukan lagi istri yang sempurna untukmu.”
“Tapi bukankah dia sengaja melakukannya?”
**********
Langkahnya lunglai,
Malam itu hujan deras mengguyur tubuhnya yang telah berada di atas atap bangunan.
Suan yang tak lagi kuat menahan amarah mulai jatuh terduduk.
“Aaaahhh, brengsekk..” makinya keras sembari memandang ke arah langit. “Bukankah dia telah berjanji padaku?, aku yang melindunginya, aku yang berjuang untuknya, aku kehilangan teman-temanku demi dia, aku bahkan ...” Suan mulai meneteskan air mata lalu menundukan kepala, “.. aku bahkan hanya menghabiskan waktu untuk belajar agar bisa setara dengannya, ibuku juga menderita karena terus menerima pukulan ayahku hanya demi dia .. hikkss.., kenapa Aria mengkhianatiku?, kenapa dia melakukannya?, dan bahkan sekarang, setelah semua yang kulakukan, mereka dengan mudah melepaskanku begitu saja. hikkss.. aku membencimu, Aria...”
Hatinya malam itu benar-benar hancur, ia terus berada di bawah guyuran hujan dan bersandar pada dinding pembatas, mengingat satu persatu kenangan pahit yang selalu dia terima hanya untuk bertahan bersama wanita yang sangat ia cintai.
*********
Suan membuka mata,
Di sampingnya, ia melihat Aria tampak tertidur nyenyak dan menutup mata.
Rasa benci memasuki hatinya kembali, ia mulai membuang wajah, namun tidak lama, wajahnya ia arahkan kembali pada Aria, lalu memeluk wanita itu.
“Aku membencimu tapi tidak bisa melepaskanmu.” Ucap Suan sembari mencium ujung rambut Aria yang tampak membalas pelukan laki-laki tersebut hari itu.
“Suan!” Suara Aria terdengar hingga membuat Suan melepaskan pelukannya. “Kenapa matamu memerah?” tanya wanita yang telah mengangkat kepala, memandang wajah Suan dari bawah, “mungkinkah kau masih marah padaku?” lanjut wanita itu memberikan pertanyaan lalu menundukan kepala merasa bersalah.
“Hm, aku sangat marah, benar-benar marah padamu Aria.” Jawab Suan yang telah memeluk tubuh Aria kembali dengan sangat erat hingga membuat wanita itu terkejut namun tersenyum bahagia.
***********
Ayah Aria tampak duduk di depan meja kerjanya.
Ia terlihat mengingat sesuatu sebelum mengambil keputusan hari itu.
Ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu ketika ia melihat Suan berada di depan pintu rumahnya.
Ia yang benar-benar membutuhkan kehadiran Suan hari itu, segera memeluk laki-laki tersebut.
“kenapa kau kembali?” tanya laki-laki yang telah memeluk tubuh Suan tersebut dengan menangis sesenggukan.
“Paman, kudengar Aria sakit?, ayah bilang Aria sangat merindukanku.” Suan melepaskan pelukan ayah Aria lalu mulai menoleh ke arah rumah, berharap diizinkan masuk ke sana.
“Kenapa?” Ayah Aria yang tadinya terduduk, mulai tersenyum kembali, “kenapa kau datang untuk menyiksa dirimu kembali, Suan?” tanyanya pada Suan yang tidak ada di ruangannya sembari menandatangani sebuah dokumen penting.
**********
Kraaakkk..
Aria membuka pintu Apartemen.
Belum sempat ia melangkah kaki, dirinya dibuat tersenyum ketika melihat dua orang bertubuh besar tampak berdiri di depan pintu.
Dia sudah mengira bahwa Suanlah yang menjadi penyebab satu-satunya kedua laki-laki tersebut berada di sana.
Apalagi kalau bukan untuk menjaganya tetap di dalam Apartemen dan tidak pergi menemui Arkas.
“Silahkan masuk kembali, nona!” pinta salah seorang penjaga sembari meraih gagang pintu lalu menutupnya tanpa mempedulikan Aria yang tadinya akan berbicara.
Tiiiittt...
Pintu tertutup,
Hal tersebut sontak membuat Aria tersenyum kecut lalu kembali ke kursi sofa.
Pagi itu dia tidak menemukan kedua pelayannya, mungkin mereka telah dikembalikan ke rumah ayah wanita itu.
Karenanya, Aria benar-benar tidak memiliki uang sedikitpun untuk pergi menemui Arkas dan melihat keadaan laki-laki tersebut agar hatinya tenang dan dia tidak lagi gelisah.
Namun tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu, segera ia menghubungi Asisten ayahnya untuk menanyakan nomor ponsel Michelle yang pernah ia gunakan ketika berada di perusahaan Harry.
Tidak lama setelah mendapatkan nomor tersebut, ia segera menghubungi Michelle dan meminta wanita itu untuk menjemputnya lalu ia beranjak dari duduknya menuju ke lobi Apartemen, menarik gorden emas, kemudian mengikat ujung dengan ujung ke sebuah tiang pagar pembatas hingga gorden memanjang jatuh ke dinding Apartemen bagian luar, dan Aria nekad turun menggunakan benda tersebut.
Huppp..
Takkk..
Wanita itu berhasil mendarat di atas lantai lobi Apartemen bawahnya.
Tok tok..
Pemilik Apartemen dibuat terkejut ketika Aria mengetuk pintu kacanya.
“Would you help me?” ucap Aria kepada Seorang laki-laki kewarnanegaraan lain yang langsung membuka pintu untuk wanita itu dengan mata terkagum-kagum.
“Of Course,”
Setelah ia membuka pintu kaca, Aria segera masuk dan melihat wanita kewarganegaraan asing keluar dari kamar mandi.
“Edward, Who is that woman?, How can you...”
“Husshh,” Aria segera menutup mulut wanita, “ Don’t you look that?”
“What is it?” tanya wanita yang telah melepaskan tangan Aria dari mulutnya ketika ia melihat gorden panjang di dinding luar Apartemen.
“I..” Aria mulai berbisik, “...escape away.”
“Oh,my..” wanita asing itu sontak terkejut lalu menutup mulut dengan kedua tangannya bersamaan Aria yang telah melangkah kaki keluar pintu kamarnya.
“What’s she doing?”
Pertanyaan teman satu kamarnya tidak ia jawab, wanita asing itu mulai melangkah mengejar Aria.