Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Dia dan masalahnya



Suan memandang lekat wajah Aria yang telah terlelap. Hatinya perih seperti luka yang terus-menerus tergores sayatan pisau yang sangat tajam.


Mata Suan kalut dalam kesedihan dan sedikitpun tidak ingin terlepas dari wajah Aria.


Suan tertegun lalu menghela nafas begitu berat.


Perlahan-lahan ia melangkah dengan sesekali memandang tubuh Aria yang terbaring di atas kasur dan berselimut.


Sesungguhnya ia tidak ingin meninggalkan wanita itu meskipun hanya ke ruangan lain di dalam apartemen yang sama hari itu, tetapi ia juga harus memastikan kebenaran yang diungkapkan oleh ayah Aria.


Langkahnya lemah, matanya sayu.


Ia memasuki ruangan tanpa memandang seorangpun yang berkumpul di sana.


Harry dan Elbram hanya bisa duduk menundukan kepala, sementara itu, Arkas terlihat menjawab satu persatu pertanyaan dari kedua dokter di ruangan tersebut.


Suan mulai duduk, berada di samping depan dokter wanita yang merupakan Dokter ahli kejiwaan atau sering disebut dengan seorang Psikiater.


Tatapannya kosong memandang ke arah depan, ia terlihat menunggu wanita itu membuka suara.


“Dia tidak gila,” Jawaban itu sungguh membuat hati Suan lega hingga aliran matanya jatuh membasahi pipi saking takutnya ia dengan jawaban yang ia perkirakan benar tadinya.


Suan menundukan kepala sejenak, ia menggenggam kedua tangan yang menyatu di pertengahan kedua kaki yang dia buka lebar dan bersiap untuk mendengarkan kelanjutan ucapan wanita di dekatnya tersebut. “ PTSD, Post-traumatic stress disorder, sepertinya telah Aria alami sejak bertahun-tahun lamanya.”


“Apa?” Suan mengangkat kepala, kali ini ia menoleh ke arah wanita di sampingnya dengan begitu banyak pertanyaan di dalam hati.


“Kalau tidak ia alami, mana mungkin dia hanya bergantung hanya pada dua orang saja di dunia ini. Dia menyembunyikan ketakutannya dengan sangat baik sampai tidak ada seorangpun yang bisa mengetahuinya.”


Suan memijat dahi kepala, ia berusaha menghapus air mata dengan menundukan kepala bersamaan dengan Psikiater yang telah memberikan lembaran kertas ke meja tepat di hadapan Suan.


“Laporan ini menjelaskan bahwa ketika mengalami gangguan kejiwaan, nona Aria hanya memanggil namamu dan juga kakeknya saja, itu artinya hanya kalian berdua sajalah yang bisa meredakan dia dari ketakutannya.”


“Apa kau yakin dia mengalami trauma?”


Suan mengangkat kepala lalu meraih lembaran kertas di atas meja dan membacanya.


“Benar, saya sangat yakin bahwa nona Aria pernah mengalami trauma tapi dia berhasil menyembunyikannya atau mungkin bisa dikatakan, dia tidak sanggup untuk mengatakan ketakutannya dan lebih memilih untuk menyembunyikannya saja lalu bergantung pada tuan dan juga kakeknya ketika ia sedang berada di dalam ketakutannya itu.”


Suan tertegun, ia benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya yang selalu dekat dengan Aria tidak mampu mengetahui hal tersebut. Berkali-kali laki-laki tersebut tampak menggertakan gigi-giginya karena sangat marah pada dirinya sendiri.


“Tapi aku tidak pernah melihatnya ketakutan di masa lalu?”


“Karena dia sangat pandai dalam menyembunyikan rasa takutnya.” Dokter tersebut meraih lembaran kertas lain, lalu memberikannya pada Suan, “bahkan dia sampai menciptakan kebohongan untuk menyembunyikan kesalahannya sendiri hingga keadaannya semakin parah dan dia mengalami gangguan kejiwaan lain sebelum sembuh dari gangguan trauma yang ia alami.”


Semua orang dibuat terkejut dengan pernyataan wanita tersebut, hingga Suan tidak lagi mampu menahan diri lalu ia membiarkan aliran air mata yang tadinya terus ia tahankan untuk jatuh sesuka hati.


“Gangguan Psikotik, gangguan kejiwaan ini jauh lebih parah dari trauma yang ia alami, mereka yang mengalami gangguan ini mempercayai hal yang sebenarnya tidak terjadi, dan bahkan bisa mendengar, melihat, dan merasakan hal yang sebenarnya tidak nyata, itulah alasannya mengapa wanita tidak harus menyembunyikan perasaan mereka agar gangguan kejiwaan tidak terjadi sampai separah ini.”


Suan berdiri, dia tidak lagi sanggup untuk berada di sana, “Aku akan membayar berapapun biayanya, jadi tolong sembuhkan dia untukku.” Suan mulai melangkah, dia tidak peduli dengan jawaban dokter tersebut lagi. Yang ia inginkan saat itu ialah hanya melihat Aria saja.


Langkahnya tertatih memasuki kamar, ia memandang Aria dari kejauhan dan tak ingin melepaskan pandangannya tersebut.


“Jadi kau selama ini bergantung padaku, kenapa aku baru tahu Aria?, kenapa kau tidak pernah mengatakan masalahmu padaku?, bukan, akulah yang bodoh karena kurang memperhatikanmu, Maafkan aku, Aria.”


Suan mulai berbaring di samping Aria, ia meraih kepala wanita itu dan meletakannya di lengan lalu memeluknya sangat erat kemudian menangis, menahan rasa perih yang tak kunjung berhenti menyiksa.


***********


“Too.. tolong.”


Mata Aria kecil kosong memandang ke arah depan.


Ia menatap seorang laki-laki tua terlihat begitu kesenangan memandang kematian seorang laki-laki di depan mata.


Aria kecil melihatnya bukan untuk yang pertama kali. Dia tahu bahwa kakeknya memang sering membeli seorang kriminal pembunuh secara ilegal lalu menyiksa mereka untuk memenuhi kepuasaan hati dari laki-laki tua itu.


“Kenapa kau membunuhnya, kakek?”


“Dia adalah pembunuh maka pembunuh memang pantas untuk dibunuh.” Aria kecil mulai melangkah menapaki karpet merah, mendekati kakeknya yang duduk di atas kursi antik melewati seorang laki-laki yang sedang sekarat dalam kematiannya.


“Kakek, kenapa kau kejam sekali?”


Aria kecil terangkat naik ke atas pangkuan kakeknya, ia memandang laki-laki yang hampir mati itu dibawa pergi menjauh oleh beberapa orang pelayan yang baru saja tiba.


“Kalau kau kejam dan tega, kau tidak akan tersakiti, kalau kau lemah dan baik hati, kau akan mudah tersakiti. Menyakiti atau disakiti, Aria, kau akan pilih yang mana?”


Laki-laki tua mencium ujung rambut cucunya dengan begitu lembut saat itu, ia terlihat begitu menyayanginya.


“Aku akan lebih memilih disakiti,”


“Hahahaha..” laki-laki tua itu tertawa lebar dan menggema, “ kenapa kau memilihnya?”


“Karena rasanya hampa dan membosankan jika terus menyakiti. Hatiku mati, kakek, aku tidak bisa merasakan apapun kecuali hanya ......”


“Kenapa tidak kau lanjutkan?”


Laki-laki tua menunduk kepala memandang cucunya yang telah diam menghentikan kata.


Aria memandang ke arah depan sungguh tak bersemangat, “kau pasti merasakannya, kenapa harus bertanya padaku, kakek?”


**********


“Rasa takut dan kegelisahan karena merasa sangat bersalah. Rasa itu sangat menyakitkan hingga dia ingin sekali meminta maaf dan melakukan kebaikan pada orang yang dia sakit, tetapi masalahnya,” Dokter wanita itu terlihat duduk di hadapan Suan dan ayah Aria, “.. orang yang dia sakiti telah tiada, maka dari itu Aria mengalami Gangguan Psikotik dan menganggap Arkas yang telah ia tabrak sebagai orang yang telah tiada itu.”


“Jadi aku harus menemukan wanita itu dan meyakinkan pada Aria bahwa dia baik-baik saja?”


Tanya ayah Aria begitu khawatir saat itu, berkali-kali ia tertegun karena hatinya yang sangat gelisah.


“Tidak perlu karena Aria telah menganggap wanita itu adalah Arkas. Yang perlu kita lakukan saat ini hanyalah membiasakan Aria untuk tidak bertemu dengan Arkas lagi dan meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia alami itu sebenarnya tidak nyata.”


“Suan!”


Suan mulai berdiri ketika mendengar suara panggilan Aria.


“Aku akan membawa bukti-buktinya dan berusaha untuk membantumu meyakinkan Aria.”


Suan melangkah setelah mengucapkan kata tersebut untuk menemui Aria yang telah terdengar derap langkahnya.


“Suan, kau dimana?”


Aria menghela nafas lega ketika telah melihat Suan. “Huh, ku kira kau akan pergi meninggalkanku.”


Ucapan Aria sedikit menyenangkan hati Suan yang langsung tersenyum lembut di dalam keperihannya.


“Hm, konyol, mana mungkin aku meninggalkan wanita secantik dirimu.”


Suan melangkah cepat mendekati Aria yang telah menghentikan langkah tepat di depan pintu.


“Haaalaaahh, jadi kau sedang menggodaku.”


Aria menggenggam tangan Suan dan mengikuti langkah laki-laki tersebut menuju ke ruang kerjanya.


“Aku mengatakan setulus hati. Ahh, sebenarnya itu semua kupelajari dari buku romantisme,”


“Astaga Suan,” Aria menghentikan langkah hingga Suan juga turut menghentikan langkah kakinya, “kau benar-benar belajar hal konyol seperti itu.”


“Bukankah kau belajar hal itu juga ketika merayuku waktu itu?”


Suan tersenyum lucu, ia menundukan kepala, memandang Aria di bawahnya.


“Iya, aku belajar hal itu dari buku novel, Suan, novel percintaan drama romantis, aku bahkan belum menemukan buku romantisme yang kau sebutkan tadi.”


Aria melangkah kembali ketika Suan menarik tangannya hingga kini mereka berada di ruangan kerja dan Suan berdiri di depan sebuah lemari yang diisi begitu banyak buku dan dokumen-dokumen penting lainnya.


“Itu adalah buku romantisme rahasia para lelaki, dan kau tidak boleh mengetahuinya.” Suan melepaskan tangan Aria yang ia genggam lalu membuka pintu lemari kaca di hadapannya kemudian meraih beberapa map coklat dari sana.


“Haa, kenapa kau pelit sekali?, cepat beritahukan padaku bukunya!”


“Bagaimana kalau aku memberitahukan isinya saja?” Suan yang masih meraih dokumen di rak paling atas, menurunkan kepala, memandang Aria yang terlihat menengadah dengan tatapan penuh semangat.


“Hm,” Aria menganggukan kepala, menunggu Suan untuk memberitahukan sesuatu padanya.


Suan tersenyum lembut sembari memegang dokumen di tangan, “Ehm,” kemudian ia mendehem, “ Kau bagai bidadari yang turun dari langit, kau adalah matahari yang menyinari relung hatiku yang terdalam..”


“Astaga Suan!”


Aria menutup mulut sembari menggelengkan kepala.


“Kenapa?”


“Kau menjijikan sekali.”


Hina Aria sembari membuka mulut, “ hahaha,” dan tertawa.


Sementara itu, Suan meraih bahu Aria lalu memeluknya dengan satu tangan.


“Kau bilang apa barusan?, kau meremehkan keromantisanku ya.”


“Hahaha, tapi kau benar-benar menjijikan Suan.”


Hatinya yang kalut dalam kesedihan sedikit berkurang, Suan terus melangkah dengan membawa Aria bersama menuju ke arah ruang tempat dimana Psikater dan juga ayah Aria berada bersamaan dengan kedatangan Dokter yang terbiasa merawat Aria dan juga ibu wanita itu.


“Kenapa dia ada di sini?”


Tanya Aria memandang dokter wanita tersebut dengan tatapan tidak suka.


“Dia datang hanya untuk membantuku Aria.”


Suan mulai meraih tangan Aria, namun Aria menolak untuk melangkah, sementara itu dokter wanita tersebut tampak berdiri dan tersenyum pada Aria.


“Kau,” Aria menengadah, memandang Suan dari bawah, “Kau selingkuh padanya, bukan?”


Tatapan mata Aria begitu tajam, ia terlihat begitu marah pada Suan saat itu.


“Aku, “ Suan tertegun, “ sangat mencintaimu dan tidak terpikirkan olehku sedikitpun untuk mengkhianatimu, Aria.”